Most Popular

header ads

XANDRIA SIAP RILIS ALBUM BARU " Eclipse " 7 AGUSTUS 2026 VIA NAPALM RECORDS

XANDRIA SIAP RILIS ALBUM BARU " Eclipse " 7 AGUSTUS 2026 VIA NAPALM RECORDS

Ada masa ketika banyak band symphonic metal terdengar seperti kompetisi siapa yang bisa menambahkan lebih banyak layer keyboard tanpa benar-benar punya lagu yang kuat. Untungnya, XANDRIA tampaknya sadar bahwa megah saja tidak cukup. Untuk album terbaru mereka, " Eclipse ", mereka memilih jalur yang lebih ambisius: membuat setiap lagu terasa berbeda tanpa kehilangan identitas utama band. Dan itu jelas bukan pekerjaan mudah. Karena dalam dunia symphonic metal sering kali cuma berarti menambahkan intro orkestra lebih panjang lalu selesai. Tapi dari apa yang mulai diperlihatkan XANDRIA, album ini tampaknya benar-benar mencoba memperluas lanskap musikal mereka tanpa berubah jadi kekacauan identitas. Di satu sisi, ada riff metal klasik bernapas era 80-an, heroik, melodis, dan penuh aura nostalgia. Di sisi lain, mereka memasukkan gitar modern dengan tuning rendah yang memberi bobot lebih gelap dan berat pada materi baru ini. Dan tentu saja, karena ini XANDRIA, semuanya masih dibalut lapisan orkestra sinematik besar yang nyaris terasa seperti soundtrack film fantasi mahal. Namun yang cukup mengejutkan adalah keberanian mereka menyisipkan elemen-elemen yang biasanya hanya jadi dekorasi kecil di band sejenis. Pengaruh folk Celtic muncul bukan sekadar tempelan estetika, sementara sentuhan elektronik gelap memberi nuansa yang lebih modern tanpa jatuh ke jebakan industrial murahan. 

Lalu ada detail yang paling menarik: beberapa solo gitar disebut lebih terinspirasi oleh Pink Floyd dibanding metal itu sendiri. Dan jujur saja, itu keputusan yang jauh lebih menarik daripada sekadar solo shredding tanpa jiwa. Karena pendekatan seperti itu menunjukkan bahwa XANDRIA tidak hanya berpikir soal " lebih cepat " atau " lebih megah ", tapi juga tentang atmosfer dan emosi. Sesuatu yang sering hilang di banyak rilisan Symphonic metal modern yang terlalu sibuk terdengar bombastis sampai lupa bagaimana membangun kedekatan dengan pendengar. Single sekaligus video clip " The Shannon's Home " menjadi contoh paling jelas dari arah baru itu. Lagu ini bergerak seperti mimpi setengah sadar, melodi lembut, folk yang samar, kemewahan sinematik, lalu perlahan meledak menjadi sesuatu yang terasa intim sekaligus epik. Dan di tengah semuanya, Ambre Vourvahis tampil sebagai pusat gravitasi utama. Vokalnya bukan sekadar " cantik " seperti standar generik symphonic metal. Ada tenaga, kontrol, dan ekspresi yang membuat lagu ini terasa hidup, bukan sekadar soundtrack cosplay medieval berkualitas tinggi. Banyak band symphonic metal modern terdengar seperti mereka lebih sibuk mendekorasi lagu daripada menulis lagu. XANDRIA kali ini justru tampak mencoba memastikan isi rumahnya masih kokoh sebelum menambahkan ornamen. Apakah " Eclipse " akan menjadi mahakarya besar? Masih terlalu dini untuk memastikan. Tapi setidaknya mereka menunjukkan sesuatu yang mulai langka di genre ini: keinginan untuk berkembang tanpa kehilangan wajah sendiri.



Di tengah industri symphonic metal yang makin sibuk mengejar kemewahan artifisial string orkestra, choir digital, dan estetika fantasi yang kadang terdengar lebih cocok jadi backsound trailer game murah, XANDRIA justru mencoba mengingatkan bahwa atmosfer tidak selalu harus kehilangan jiwa. Dan penjelasan dari frontman Marco Heubaum soal single " The Shannon's Home " memperjelas arah itu. Menurut Marco, lagu ini adalah dongeng indah dengan sedikit nuansa gelap, analogi tentang kehidupan yang diibaratkan sebagai Sungai Shannon, mengalir dari sumber menuju lautan. Sebuah metafora yang sebenarnya cukup sederhana, tapi dibungkus dengan pendekatan emosional yang terasa lebih tulus dibanding mayoritas lirik symphonic metal modern yang terlalu sibuk berbicara tentang naga, kerajaan runtuh, dan takdir kosmik seolah semua pendengarnya hidup di novel fantasi. Dan justru karena itu lagu ini terasa lebih manusiawi. Marco juga menyebut bahwa " The Shannon’s Home " adalah lagu pertama yang mereka tulis untuk album Eclipse, dan sejak awal mereka sudah merasa ada “keajaiban misterius” di dalamnya. Kalimat yang terdengar sangat puitis, nyaris klise kalau jatuh ke tangan band lain, tapi untungnya XANDRIA masih punya kemampuan untuk menerjemahkan kata-kata seperti itu menjadi musik yang benar-benar hidup. Karena pada akhirnya, kekuatan lagu ini bukan hanya pada kemegahan sinematiknya. Bukan juga pada folk Celtic atau lapisan orkestranya. Tapi pada atmosfernya. Ada rasa hangat, melankolis, dan misterius yang berjalan bersamaan tanpa saling menghancurkan. 

Lagu ini tidak terdengar seperti produk yang dipaksa " epik " demi algoritma streaming metal modern. Ia mengalir perlahan, membangun emosi sedikit demi sedikit seperti sungai yang dijadikan metafora dalam liriknya sendiri. Dan di tengah semua itu, Ambre Vourvahis tetap menjadi pusat daya tarik utama. Vokalnya membawa keseimbangan antara kelembutan dan kekuatan, cukup intim untuk menyampaikan sisi emosional lagu, tapi tetap mampu mengangkat bagian-bagian besar menjadi megah tanpa terdengar teatrikal murahan. Banyak band symphonic metal sekarang terdengar seperti mereka lebih fokus membangun dunia fantasi daripada menulis lagu yang benar-benar menyentuh manusia nyata. XANDRIA, setidaknya kali ini, tampaknya masih ingat bahwa musik megah tetap membutuhkan hati di balik orkestrasi mahalnya. Dan kalau " The Shannon’s Home " memang menjadi pintu pembuka menuju “Eclipse”, maka album ini bisa saja menjadi perjalanan paling matang mereka sejauh ini bukan karena paling bombastis, tapi karena akhirnya mereka tampak memahami kapan harus terdengar besar dan kapan cukup membiarkan emosi berbicara sendiri., "Eclipse" menandai album XANDRIA yang paling blak-blakan dan sinematik sejauh ini: sebuah pernyataan gelap, berwarna, dan menantang untuk alasan, empati, dan demokrasi di saat ketiganya diserang, dihidupkan oleh sebuah band yang dipenuhi energi baru, ambisi baru, dan arah artistik yang jelas, yang bercita-cita lebih tinggi dari sebelumnya dan tidak melihat ke belakang.

Sementara materi " The Wonders Still Awaiting " (2023) telah menandai kelahiran kembali XANDRIA dengan lineup baru, sebuah album yang membuka pintu ke era baru " Eclipse " melangkah lebih jauh. Ini lebih fokus dan langsung, liriknya lebih terbuka, hampir sepenuhnya membahas apa yang terjadi pada peradaban kita saat ini. Kontrasnya lebih kuat, dan warna musik serta vokal yang berbeda terasa lebih terintegrasi secara alami ke dalam lagu-lagu. Sebagai satu-satunya komposer XANDRIA, Marco Heubaum secara musikal menarik inspirasi dari semua aspek di sekitarnya: musik, cerita, dan emosi yang telah membentuknya sejak kecil. Tidak ada rahasia bahwa skor film selalu menjadi pengaruh besar lainnya, terutama komposer seperti Hans Zimmer dan John Williams.

Sebagai tamu, XANDRIA menyambut pemain biola Subway to Sally, Ally Storch, yang dapat didengar di " Lore ", sementara teman lama band ini, McAlbi, ditampilkan di empat lagu dengan seruling tin dan seruling rendah Celtic-nya (" The Shannon's Home ", " Northstar ", " Masquerade " dan " Lore ". "Lagu Terakhir" menampilkan paduan suara anak-anak dan piano yang dimainkan oleh Richard Z. Wang, seorang pianis Hollywood yang pernah bekerja di studio Hans Zimmer. Selain itu, band ini sekali lagi berkolaborasi dengan Sofia Session Orchestra & Choir, yang dikenal karena karya mereka pada berbagai skor film dan televisi, termasuk " His Dark Materials ". Semua lagu diorkestrasi oleh dua komposer skor film yang bekerja di Hollywood: Lukas Geppert, yang mengerjakan skor untuk " Nobody 2 " dan " Final Destination " terbaru, serta Ishaan Tyagi, yang telah berkontribusi pada produksi seperti " Wuthering Heights ".

" Eclipse " Tracklist

01. Syzygy          
02. Eclipse          
03. Colours          
04. The Shannon's Home         
05. The Grand Delusion          
06. Waves of Tanis          
07. Northstar          
08. Masquerade          
09. The Last Generation          
10. The Poetry of the Real World          
11. Lore 


Posting Komentar

0 Komentar