Most Popular

header ads

ANTHRAX UMUMKAN ALBUM BARU MENDATANG " CURSUM PERFICIO " DAN BAGIKAN SINGLE " IT'S FOR THE KIDS "

ANTHRAX UMUMKAN ALBUM BARU MENDATANG " CURSUM PERFICIO " DAN BAGIKAN SINGLE " IT'S FOR THE KIDS "

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah band thrash metal yang namanya sudah tertulis dengan huruf baja di tembok sejarah musik ekstrem. Dalam dunia yang sekarang dipenuhi band instan, fans karbitan yang baru kenal thrash dari playlist gym, dan media yang lebih sibuk membahas drama ketimbang riff, penantian album baru dari Anthrax terasa seperti menunggu tank tua kembali dihidupkan setelah sekian lama diparkir di gudang perang. Banyak yang mulai bertanya-tanya, apakah mereka masih relevan? Apakah mereka masih punya taring? Atau jangan-jangan mereka hanya hidup dari nostalgia " Among The Living " sambil menjual kaos vintage ke generasi yang bahkan belum lahir saat thrash metal membakar dunia? Lalu bersiaplah untuk materi paling ditunggu dari Anthrax " Cursum Perficio ".

Dan sialnya, album ini tidak terdengar seperti band tua yang sedang mencoba terdengar muda. Ini justru terdengar seperti lima veteran perang yang sadar mereka tidak perlu lagi membuktikan apa pun kepada siapa pun, lalu memutuskan menghajar semuanya sekaligus demi kesenangan pribadi. Itu jauh lebih berbahaya. Judulnya sendiri sudah terdengar seperti epitaf yang ditulis dengan darah dan abu. " Cursum Perficio ", frasa Latin yang berarti " Perjalananku telah selesai " atau " Aku menyelesaikan perjalananku ", langsung memancing spekulasi liar. Tentu saja internet bereaksi seperti biasa: panik, sok tahu, lalu membangun teori konspirasi murahan tentang album terakhir Anthrax. Padahal Drummer Charlie Benante sudah menjelaskan bahwa ini bukan pengumuman pensiun. Ini lebih seperti penanda bahwa perjalanan panjang mereka akhirnya mencapai bentuk paling utuh. Semacam titik klimaks setelah empat dekade hidup dalam kebisingan, lineup berantakan, perubahan era musik, perang ego industri, dan pandemi yang membuat hampir semua band kehilangan arah. Pandemi itu terasa jelas membekas di album ini.

Scott Ian bahkan secara terang-terangan bilang bahwa proses rekaman album ini seperti kelahiran ulang. Bayangkan saja: sebuah band legendaris yang seharusnya mulai mengerjakan album sejak 2020 malah dipaksa diam karena dunia tiba-tiba berubah jadi film distopia murahan. Ketika akhirnya mereka kembali berkumpul di Studio 606 milik Dave Grohl di Los Angeles, energi itu meledak begitu saja ke dalam musik. Tidak ada kesan formalitas. Tidak ada aura " album kontrak ". Yang terdengar justru kemarahan, rasa lapar, dan kegembiraan lima orang yang sadar mereka masih hidup dan masih bisa membuat musik keras yang menghancurkan leher. Single pertama, " It’s For The Kids ", langsung menjadi bukti bahwa Anthrax belum kehilangan naluri jalanannya. Lagu ini seperti mesin diesel tua yang dinyalakan kembali setelah bertahun-tahun, lalu tiba-tiba melindas trotoar kota sambil menertawakan semua band thrash modern yang terlalu steril dan terlalu sibuk terdengar “technical”. Riff Scott Ian masih seperti gergaji mesin yang dilempar ke wajah, Charlie Benante tetap menjadi monster ritmik yang tidak pernah benar-benar mendapat penghargaan setimpal dalam sejarah metal, dan Joey Belladonna masih terdengar seperti orang yang bisa menyanyikan kerusuhan jalanan dengan nada anthem stadion sekaligus.

Yang menarik, mereka tidak mencoba menjadi muda. Tidak ada desperation menyedihkan ala band veteran yang tiba-tiba memasukkan elemen metalcore, djent, atau synthwave demi terlihat relevan di Spotify. Anthrax justru melakukan hal paling berbahaya: menjadi diri mereka sendiri sepenuhnya. Dan itu cukup untuk menghancurkan banyak band generasi baru. " It’s For The Kids " jelas dirancang sebagai surat cinta untuk fans lama, tapi bukan tipe surat cinta murahan penuh nostalgia kosong. Ini lebih seperti ajakan perang. Lagu thrash empat menit yang padat, agresif, dan tanpa basa-basi. Scott Ian sendiri menyebut lagu ini sebagai representasi semua elemen terbaik Anthrax dalam satu paket. Dan memang terasa begitu. Ada spirit era " Madhouse ", ada groove khas " Persistence Of Time ", ada agresi modern dari " For All Kings ", tapi semuanya dipadatkan tanpa terdengar seperti daur ulang nostalgia. Video klipnya bahkan dengan sengaja menggemakan nuansa " Madhouse ", seolah mereka sedang berkata: " Kami tahu dari mana kami berasal, dan kami belum selesai. "

Hal yang paling menarik dari " Cursum Perficio " sebenarnya bukan soal teknis atau produksi super bersihnya. Itu sudah standar untuk band sekelas mereka. Yang lebih penting adalah bagaimana album ini terdengar sangat hidup. Banyak band veteran membuat album reuni seperti tugas kantor. Profesional, rapi, lalu selesai. Anthrax justru terdengar seperti band yang masih menikmati kebisingan itu. Frank Bello terdengar lapar. Jonathan Donais memberi warna modern tanpa menghapus identitas klasik band. Charlie Benante bermain seperti pria yang masih ingin membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu drummer thrash terbaik yang pernah hidup. Dan Joey Belladonna? Entah bagaimana manusia ini masih bisa terdengar penuh tenaga tanpa kehilangan karakter melodis uniknya. Ini bukan album yang mencoba menjadi " Among The Living #2 ". Syukurlah. Dunia tidak butuh museum berjalan yang hanya hidup dari masa lalu. Yang dibutuhkan adalah band veteran yang masih punya nyali untuk terdengar ganas tanpa kehilangan identitas. Dan di situlah " Cursum Perficio " menang telak.

Ironisnya, justru setelah sepuluh tahun diam, Anthrax terdengar lebih yakin dibanding banyak band yang merilis album tiap dua tahun sekali hanya demi menjaga engagement media sosial. Ada rasa percaya diri yang lahir dari pengalaman panjang, bukan dari validasi internet. Mereka tidak terdengar putus asa mencari relevansi. Mereka terdengar seperti band yang sadar bahwa mereka membantu membangun fondasi thrash metal itu sendiri. Dan mari jujur saja, tanpa Anthrax, thrash tidak akan terdengar seperti sekarang. Karena di tengah semua omong kosong tentang “evolusi metal”, " Algoritma streaming ", " branding ", " content engagement ", dan istilah industri sok modern lainnya, Anthrax datang membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih mematikan: riff, energi, dan attitude. Kadang memang itu saja yang dibutuhkan. " Cursum Perficio " bukan sekadar album comeback. Ini adalah pengingat kasar bahwa para veteran tua ini masih bisa menendang pintu masuk dan membuat sebagian besar scene modern terdengar jinak. Dan mungkin itu yang paling menyakitkan bagi banyak orang. Setelah empat dekade, setelah segala drama, pergantian era, perubahan industri, dan generasi baru yang datang silih berganti, Anthrax masih berdiri sambil berkata: " Kami belum selesai menghancurkan segalanya. "

" Cursum Perficio " akan tersedia sebagai CD standar; CD eksklusif Target dengan patch kain dari cover album; LP Double hitam standar dengan pop-up gatefold; LP Double eksklusif Target, Zoetrope merah dengan pop-up gatefold; LP Double eksklusif Amazon, LP zoetrope ungu dengan pop-up gatefold; LP Double vinyl lilac eksklusif merch dengan pop-up gatefold; LP Double vinyl putih eksklusif Metal Injection dengan pop-up gatefold; LP double vinil ripple merah eksklusif Talk Shop Live yang ditandatangani dengan pop-up gatefold; LP double vinyl merah, oranye, kuning eksklusif Indie dengan pop-up gatefold. memang engga maen-maen rilisan baru Anthrax ini via Nuclear Blast Records pada 18 September 2026, Gassss !!!

" Cursum Perficio " track listing 

01. Persistence of Memory 01:07      
02. The Long Goodbyes 05:34      
03. It's for the Kids 04:20     
04. Everybody's Got a Plan 04:36      
05. The Edge of Perfection 06:46      
06. Infectious 05:16      
07. NYC 93 04:48      
08. Cursum Perficio 06:08      
09. Target on My Back 04:31      
10. Watch It Go 05:43      
11. My Victory 04:54 

 

Posting Komentar

0 Komentar