SCORDATURA RILIS SINGLE CLIP BARU " WHEN THE RED MOON HANGS LOW " DARI MATERI ALBUM BARUNYA NANTI " LED INTO OBLIVEON "
Di tengah dunia death metal modern yang makin sesak oleh band copy-paste, logo sulit dibaca, produksi klinis tanpa jiwa, dan musisi yang lebih sibuk mengatur feed Instagram ketimbang menulis riff mematikan, Scordatura muncul seperti truk penuh bangkai yang remnya blong di jalan menurun. Tidak sopan, tidak elegan, tidak mencoba terdengar " Avant-garde intelektual ", tapi sangat efektif menghancurkan apa pun yang berdiri di depannya. Dan setelah hampir dua dekade menebar kekacauan dari Glasgow, Skotlandia, mereka bersiap kembali lewat album keempat " Led Into Oblivion ", yang akan dirilis 19 Juni 2026 melalui Everlasting Spew Records. Judulnya sendiri sudah terdengar seperti vonis akhir bagi gendang telinga yang lemah. Bagi yang baru kenal, SCORDATURA bukan band yang lahir kemarin sore karena tren brutal death metal. Mereka terbentuk sejak 2007 dan sejak awal sudah menempatkan diri di jalur yang jelas: death metal brutal yang teknikal, agresif, dan cukup cerdas untuk tidak berubah menjadi sekadar kontes blast beat kosong. Mereka memang bermain ekstrem, tapi masih paham bahwa lagu harus punya struktur, atmosfer, dan identitas, bukan cuma tumpukan breakdown serta trigger drum yang terdengar seperti printer kantor rusak. Line-up mereka sekarang digawangi oleh vokalis Daryl Boyce, yang juga dikenal lewat Party Cannon dan eks Repulsive Vision, bersama gitaris Owen McKendrick, bassist Liam McCafferty, dan drummer Tam Moran. Kombinasi ini terdengar seperti laboratorium kegilaan sonik yang akhirnya menemukan formula stabil setelah bertahun-tahun mengasah senjata. Dan ya, mereka benar-benar terdengar matang sekarang.
Single " When the Red Moon Hangs Low " sudah memberi gambaran jelas bahwa " Led Into Oblivion " bukan sekadar lanjutan asal jadi setelah " Mass Failure ". Ini adalah peningkatan. Lebih fokus. Lebih dinamis. Lebih percaya diri. Kalau " Mass Failure " adalah serangan brutal membabi buta yang tetap punya arah, maka " Led Into Oblivion " terdengar seperti pembantaian terorganisir oleh orang-orang yang sangat tahu cara memanfaatkan kekacauan. Yang menarik dari SCORDATURA adalah bagaimana mereka memainkan brutal death metal tanpa jatuh menjadi karikatur genre. Banyak band brutal death modern terdengar seperti sedang berlomba siapa paling cepat, paling rendah tuning gitarnya, atau paling banyak memakai pig squeal sampai lupa membuat musik yang benar-benar memorable. SCORDATURA justru mengambil akar death metal klasik lalu menyuntiknya dengan agresi modern dan teknikalitas progresif tanpa kehilangan unsur lagu. Itu penting. Karena ekstremitas tanpa arah hanya jadi kebisingan sementara.
Saya masih ingat saat pertama kali mendengar " Self-Created Abyss " tahun 2017. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan karena mereka menciptakan genre baru atau mencoba menjadi alien musikal seperti banyak band tech-death sok kosmik masa kini, tapi karena mereka terdengar hidup. Dinamis. Ada rasa ancaman nyata di balik riff-riff mereka. Tidak terasa seperti musik hasil render komputer. Lalu datang " Mass Failure " tahun 2020. Dan sialnya, album itu seperti pukulan palu godam ke wajah scene brutal death metal yang mulai stagnan. Di saat banyak band terdengar terlalu steril atau terlalu sibuk meniru Origin tanpa memahami chaos organik mereka, SCORDATURA justru berhasil menyatukan brutalitas teknikal dengan groove dan dinamika yang benar-benar menggigit. Mereka mengambil elemen dari Cannibal Corpse, Aborted, Deeds of Flesh, sampai Aeon, tapi tidak terdengar seperti band penghormatan murahan. Sebaliknya, mereka membangun alam kataklismik mereka sendiri. Daryl Boyce sendiri menjadi salah satu kekuatan terbesar band ini. Range vokalnya absurd. Dari scream tinggi penuh histeria, guttural rendah seperti monster tenggelam di rawa, sampai desisan yang terdengar seperti manusia kehilangan paru-paru, semuanya dieksekusi dengan kontrol luar biasa. Banyak vokalis brutal death hanya terdengar seperti toilet mampet diberi mikrofon murah. Daryl justru paham ritme, artikulasi, dan bagaimana vokal menjadi instrumen penghancur atmosfer.
Sementara itu, permainan gitar SCORDATURA adalah titik di mana teknikalitas bertemu insting membunuh. Mereka tidak asal pamer sweep picking demi konten YouTube. Riff-riff mereka punya arah dan tekanan emosional. Drum Tam Moran juga pantas mendapat perhatian besar. Permainannya brutal, sangat cepat, tapi tetap terasa manusiawi. Tidak terdengar seperti software drum yang dipaksa memainkan 900 BPM demi impress anak forum internet. Produksi “Mass Failure” juga menjadi alasan album itu menonjol. Bersih, tajam, tapi tidak steril. Dan dari informasi awal, “Led Into Oblivion” tampaknya akan melangkah lebih jauh lagi. Dengan Malcolm Abbou menangani mixing dan Korentin Mens pada mastering, sound mereka kini terdengar jauh lebih matang tanpa kehilangan karakter ganasnya. Yang paling menarik, SCORDATURA sebenarnya mewujudkan spirit death metal Amerika lebih baik daripada banyak band Amerika modern sendiri. Ironis memang. Band Skotlandia ini justru memahami bagaimana membuat brutal death metal terdengar mengancam, liar, dan penuh adrenalin, sementara sebagian band lain malah sibuk terdengar “sempurna” sampai kehilangan rasa bahaya. Dan rasa bahaya itu penting dalam death metal. Karena genre ini tidak lahir untuk jadi musik latar workout influencer.
" Led Into Oblivion " terasa seperti titik di mana semua eksperimen, kekacauan, dan kekuatan SCORDATURA mulai menemukan bentuk paling solidnya. Komposisinya lebih matang, transisinya lebih licin, dan agresinya lebih terarah. Mereka masih brutal, masih menghancurkan, tapi kini terdengar lebih sadar bagaimana mengendalikan badai mereka sendiri. Di scene yang jenuh oleh band yang terdengar identik satu sama lain, SCORDATURA justru semakin memperjelas identitas mereka. Tidak revolusioner mungkin. Tapi sangat efektif. Dan kadang itu jauh lebih penting. Karena pada akhirnya, death metal terbaik bukan selalu yang paling rumit atau paling “progresif”. Kadang yang paling membekas justru yang mampu membuat kalian merasa seperti baru saja dilempar ke dalam mesin penghancur industri selama empat puluh menit tanpa kesempatan bernapas. Dan SCORDATURA tampaknya sangat memahami seni itu.
" Led into Oblivion " Track-List
01. Doomed to Fate 00:40
02. Led into Oblivion 02:57
03. Existential Termination 02:45
04. Echoes of a Fractured Mind 03:30
05. Oppressed/Repressed 03:07
06. A Manic Indoctrination 03:41
07. Retali(h)ate 02:54
08. When the Red Moon Hangs Low 02:33
09. Maw of the Void 02:51
10. Begging to Die 03:16







0 Komentar