SEMUA TENTANG LOSTINCHAOS MEDIAZINE PROJECT !!!
Ditulis oleh Herry SIC
Tidak ada yang benar-benar tahu kapan kegilaan ini dimulai lewat satu Kendaraan Utama " LOSTINCHAOS Mediazine ". Tidak ada tanggal suci, tidak ada manifesto besar, tidak ada petir menyambar lalu tiba-tiba semua orang memakai kaos band hitam sambil growling di gang sempit. Yang jelas, ini bukan sekadar " Fase musik keras " anak muda yang bosan hidup normal. Ini lebih mirip wabah, pelan, liar, dan menginfeksi kepala orang-orang yang terlalu keras kepala untuk hidup biasa. Di Blitar, embrio itu mulai terasa sekitar tahun 1994. Masa ketika extreme metal bukan gaya hidup instan yang tinggal dipilih lewat algoritma media sosial, tapi sesuatu yang harus dicari, diperjuangkan, bahkan kadang dipertaruhkan. Kaset susah dicari, informasi terbatas, dan koneksi antarscene berjalan lewat surat, fotokopi zine, atau kabar dari mulut ke mulut. Romantis? Tidak juga. Lebih tepat disebut keras kepala kolektif. Dan dari situ, lahirlah obsesi. Scene mulai berkembang. Nama-nama baru bermunculan. Ada yang benar-benar datang karena cinta pada musik ekstrem, ada juga yang sekadar ikut arus karena merasa underground terdengar keren. Fenomena klasik yang selalu terjadi di setiap generasi. Tapi seperti biasa, waktu bekerja lebih brutal daripada gatekeeper mana pun. Seleksi alam berjalan ! Yang cuma numpang gaya akhirnya hilang sendiri dan Yang benar-benar terinfeksi? Tetap tinggal.
Karena untuk menjadi " Penjahat Metal nomor satu " bukan soal paling brutal di panggung atau paling banyak koleksi patch. Itu soal hidup yang sudah terlalu terkait dengan rantai underground ini sampai sulit dipisahkan dari identitas diri sendiri. Dan di tengah kekacauan itu, lahirlah media. Bukan media besar dengan sponsor dan clickbait murahan. Tapi media sebagai alat komunikasi, alat dokumentasi, sekaligus senjata kecil untuk menjaga scene tetap hidup. Sebuah partner diam-diam yang bekerja di belakang panggung ekstrem metal. Karena tanpa informasi, scene cuma jadi kerumunan orang berisik tanpa arah. Di titik ini, muncul satu hal yang sering dilupakan banyak orang: Musik metal tidak cukup hanya dirasakan, musik metal juga harus dipahami. Banyak orang terlalu sibuk menghitung teknikalitas riff dan blast beat, tapi tidak pernah benar-benar tahu kenapa musik ini lahir sejak awal. Padahal teori, sejarah, filosofi, jaringan komunikasi, semuanya bagian dari darah scene itu sendiri. Menikmati hasil akhirnya tanpa memahami prosesnya ibarat mabuk tanpa tahu apa yang diminum. Dan di sinilah LOSTINCHAOS Mediazine menjadi penting. Bukan sekadar media iseng, tapi refleksi hidup kedua. Sebuah ruang yang lahir dari konflik antara idealisme dan kehidupan nyata. Kadang ada. Kadang menghilang. Kadang aktif brutal, kadang mati suri tanpa penjelasan. Karena realitas pribadi selalu berbenturan dengan semangat underground yang tidak pernah benar-benar menghasilkan " keamanan hidup ". Semua itu berdarah-darah. Waktu habis. Energi habis. Kadang relasi pribadi ikut rusak. Tapi anehnya, tetap tidak bisa ditinggalkan. Karena bagi sebagian orang, extreme metal bukan hiburan. Ia sudah berubah menjadi sistem kehidupan kedua. Dan mungkin itu yang paling sulit dipahami orang luar: scene ini bertahan bukan karena uang, bukan karena tren, tapi karena ada orang-orang keras kepala yang menolak membiarkannya mati. Termasuk mereka yang tetap menjaga nama seperti LOSTINCHAOS Mediazine tetap hidup, meski dunia nyata terus mencoba menyeret mereka menjauh dari semua kegilaan ini.
Di era ketika semua orang berlomba menjadi " Content Creator ", mengejar algoritma, monetisasi, engagement, insight, analytic, dan segala penyakit digital modern lainnya, masih ada manusia-manusia aneh yang bekerja seperti mesin tua tanpa berharap tepuk tangan. Mereka tidak viral, tidak menjual sensasi murahan, bahkan kadang bekerja dalam senyap seperti operator bawah tanah yang lupa cara hidup santai. Dan itu terdengar seperti semacam kutukan. Menjadi seorang introvert rupanya tidak selalu identik dengan diam total. Ada jenis manusia yang secara sosial terlihat tenang, rumahan, bahkan malas muncul di keramaian, tapi isi kepalanya seperti generator korslet yang tidak pernah berhenti memproduksi ide. Tubuhnya duduk diam di rumah, tapi otaknya keliling dunia membawa nama underground, extreme metal, arsip, komunitas, jaringan, dan obsesi yang tidak pernah benar-benar tidur. Begitulah fondasi sebuah media independen kecil yang mulai digagas sejak 1994. Bukan perusahaan, Bukan startup dan bukan media profesional dengan investor sok visioner. Hanya entitas independen yang lahir dari kecintaan terhadap musik metal dan kebutuhan untuk terus mendokumentasikan denyut scene yang sering diabaikan dunia luar. Lucunya, meskipun banyak kontributor datang dan pergi, semuanya tetap terasa lebih nyaman dikerjakan sendiri. Bukan anti-team. Bukan merasa paling hebat. Tapi karena kepala terlalu cepat berlari dibanding ritme orang lain. Ide muncul sebelum orang lain selesai memahami ide sebelumnya. Dan itu melelahkan. Sebagian orang sibuk mencari cara mendapat cuan dari internet. Sebagian lainnya malah sibuk menghabiskan uang, tenaga, waktu, dan hidupnya demi menjaga underground tetap punya ruang bernapas. Dan itu jelas bukan keputusan yang sehat secara finansial. Di Blitar sendiri, aktivitas seperti BLITAR UNDERGROUND COMMUNITY, jaringan komunitas, band-band lokal, proyek media, hingga aktivitas digital berjalan seperti rantai yang tidak pernah benar-benar putus. Satu selesai, muncul lagi yang baru. Belum lagi proyek-proyek tambahan yang bahkan mungkin tidak dipahami orang lain kenapa harus dikerjakan. Karena dari luar, semua ini terlihat seperti kesibukan tanpa arah. Dan memang benar : Tidak ada target kaya, Tidak ada mimpi jadi influencer metal dan tidak ada obsesi menjadi tokoh penting scene. Yang ada cuma satu hal sederhana: hiburan pribadi dan berbagi informasi.
Sebuah " Proyek amal " digital yang ironisnya terus memakan energi, waktu, pikiran, bahkan biaya pribadi. Semua dilakukan hanya karena merasa informasi, arsip, opini, dan dokumentasi underground layak tetap hidup di tengah arus globalisasi digital yang makin cepat, makin dangkal, dan makin kehilangan roh. Karena sekarang semuanya instan. Orang lebih suka potongan video 15 detik dibanding membaca sejarah scene, lebih tertarik drama dibanding diskusi musik dan lebih hafal algoritma daripada nama band lokal. Dan di tengah kekacauan itu, masih ada orang yang memilih bertahan membuat media independen tanpa profit. Itu bukan bisnis. Itu idealisme yang terlalu keras kepala untuk mati. Mungkin terdengar bodoh bagi sebagian orang. Tapi justru orang-orang " bodoh " seperti inilah yang diam-diam menjaga dokumentasi underground tetap ada ketika semua orang lain sibuk mengejar angka dan validasi digital. Karena pada akhirnya, tidak semua hal harus menghasilkan uang agar punya nilai. Kadang sesuatu tetap layak dilakukan hanya karena itu membuat hidup terasa lebih hidup. Yuk w kasih Tau semua LOSTINCHAOS Project yang w kerjakan selama ini sekarang ...
#LOSTINCHAOS BLOGNEWS
https://www.blog.lostinchaos.com
Ada masa-nya sendiri ketika sebuah zine cetak underground/Extreme music metal terasa lebih sakral daripada feed media sosial hari ini. Bau tinta fotokopian, halaman yang mulai kusut, layout berantakan hasil begadang semalaman, hingga proses distribusi manual dari tangan ke tangan semuanya punya nyawa. Dan LOSTINCHAOS Mediazine lahir dari era " keras kepala " seperti itu. Sebelum semuanya berubah menjadi scroll tanpa makna dan algoritma yang lebih sibuk menjual joget dibanding informasi musik, LOSTINCHAOS Mediazine sudah lebih dulu bergerak sebagai media printed/cetak yang fokus mendokumentasikan denyut extreme metal lokal maupun internasional. Sebuah media independen yang dibangun bukan karena modal besar, tapi karena obsesi yang terlalu bandel untuk dihentikan. Namun seperti banyak kisah underground lain, idealisme sering kalah oleh realitas waktu dan tenaga. Issue #30 pada tahun 2015 menjadi titik nadir ketika versi cetak akhirnya w dengan berat hati sekali w hentikan. Bukan karena kehilangan semangat, tapi karena kehidupan nyata mulai menagih perhatian lebih brutal daripada deadline layout zine. Waktu yang dulu bisa dipakai menyusun artikel, hunting informasi, mengedit materi, hingga mengurus cetakan perlahan habis dimakan aktivitas lain yang tidak bisa dihindari. Dan ironisnya, justru ketika versi cetak dihentikan, permintaan malah semakin banyak berdatangan. Manusia sering baru sadar sesuatu berharga setelah benda itu berhenti ada. Tapi masalahnya bukan cuma soal waktu. Dunia juga berubah terlalu cepat. Internet datang seperti bulldozer digital yang menghancurkan romantisme media cetak underground sedikit demi sedikit. Informasi menjadi instan. Orang tidak lagi sabar menunggu rilisan zine bulanan ketika semuanya bisa diakses dalam hitungan detik lewat layar ponsel. Lalu datanglah fase yang lebih "Gila " lagi, : Artificial Intelligence alias AI ! selain semakin membuat perkembangan yang sangat cepat, beberapa metalhead juga menggunakannya untuk mempermudah aktifitasnya. Teknologi AI membuat arus informasi semakin brutal, semakin cepat, sekaligus semakin dangkal. Semua orang bisa menulis, semua orang bisa membuat konten, semua orang bisa terlihat pintar hanya dengan beberapa klik. Akibatnya, eksklusivitas media underground pelan-pelan terkikis oleh budaya instan. Kertas dianggap kuno, Cetak dianggap ribet dan arsip fisik dianggap tidak praktis. Bla bla bla… alasan modern klasik yang terdengar efisien tapi diam-diam membunuh romantisme dokumentasi. Dan mau tidak mau, LOSTINCHAOS Mediazine akhirnya ikut bermigrasi ke dunia online. Awalnya sederhana, memakai hosting gratisan dengan alamat URL yang berpindah-pindah dan berganti-ganti seperti band demo underground yang belum punya markas tetap. Tapi setidaknya satu hal tetap dipertahankan: semangatnya. Hingga akhirnya media ini memiliki domain dot com sendiri dan bisa diakses lebih stabil sampai sekarang. Isinya? Tetap sama Update-nya. Berisi update an informasi band-band lokal maupun internasional yang masuk radar pengamatan pribadi sebagai pemerhati extreme metal. Bukan copy-paste media besar. Bukan artikel steril tanpa karakter. Tapi diterjemahkan ulang ke dalam bahasa Indonesia dengan gaya khas media sendiri, keras, sarkastik, komunikatif, dan kadang terlalu jujur untuk ukuran internet modern yang penuh basa-basi. Karena pada akhirnya, LOSTINCHAOS bukan sekadar blog informasi. Ia adalah arsip hidup dari perjalanan panjang seseorang melawan perubahan zaman sambil tetap mempertahankan idealisme underground-nya. Dan di era ketika kebanyakan orang hanya mengejar traffic, engagement, dan monetisasi, keberadaan media seperti ini terasa seperti pengingat keras bahwa masih ada orang yang menjalankan media bukan demi profit tetapi demi menjaga nyala scene tetap hidup !
#LOSTINCHAOS REVIEW
https://www.review.lostinchaos.com
Kadang w sendiri tidak sadar kapan semua ini berubah dari sekadar " hobi nulis receh soal metal " menjadi lautan arsip yang nyaris tidak terkendali. Awalnya cuma beberapa review, beberapa opini, beberapa rilisan yang kebetulan mampir ke meja dan telinga w. Tapi lama-lama, tanpa terasa, konten di LOSTINCHAOS Mediazine tumbuh seperti monster rakus yang terus meminta ruang baru untuk bernapas. Dan akhirnya w terpaksa memisahkannya. Bukan karena sok profesional. Bukan karena mau terlihat seperti media besar yang punya banyak kanal. Tapi karena materinya sudah terlalu padat dan kalau semuanya dijejalkan dalam satu halaman, pembaca bisa pusing sendiri melihat tumpukan review yang saat ini sudah hampir menembus count Review 2000 ulasan. Ya, dua ribu. Angka yang bahkan w sendiri tidak pernah rencanakan. di zaman orang makin malas membaca panjang, w malah sibuk menimbun tulisan sampai ribuan. Dan semua itu lahir dari satu hal sederhana: kejujuran ! w tidak pernah menulis demi menyenangkan band, label, atau pembaca tertentu. Gaya bahasa w mungkin kasar, terlalu blak-blakan, kadang terdengar sinis, tapi memang begitulah cara w menikmati dan membedah rilisan. w punya bahasa sendiri. Punya sudut pandang sendiri. Dan anehnya, justru itu yang kemudian membuat beberapa band dan label tertarik mengetahui bagaimana tanggapan versi w terhadap karya mereka. Karena mereka tahu satu hal penting: " Bagus ya bagus dan Jelek ya jelek. " sesimple dengan Kejujuran pribadi w. Tidak ada drama pencitraan, tidak ada review pesanan yang dipoles manis demi menjaga relasi dan tidak ada kebohongan sok diplomatis. Kalau sebuah materi terasa kuat, w bilang kuat. Kalau hambar, ya w bilang hambar, simple kan? namun masih ada yang ga terima dengan review w dan menyerang dengan tangan orang segala hahaha ... Dan justru dari situ, beberapa band maupun label bisa menjadikannya bahan introspeksi agar rilisan berikutnya lebih matang. Bahkan tidak sedikit kolektor yang akhirnya membeli rilisan fisik setelah membaca ulasan di sini. Alhamdulillah, berarti ocehan panjang ini masih ada gunanya juga selain memenuhi server hosting. Yang menarik, w tetap mempertahankan satu aturan yang mungkin dianggap " Aneh " di era digital sekarang ! Review tetap GRATIS ! Tapi kirim materinya harus fisik, Ya, secara fisik. Bukan file ZIP, Bukan link streaming atau bahkan bukan attachment random di inbox. Karena bagi w, rilisan fisik masih punya roh yang tidak bisa digantikan digital sepenuhnya. Dari artwork, layout booklet, kredits, foto, teks lirik, hingga detail-detail kecil yang sering hilang dalam format digital, semuanya membantu menggali identitas asli sebuah rilisan. Sebuah CD, kaset, atau vinyl itu bukan cuma media pemutar lagu. Itu dokumen budaya. Dan mungkin itulah kenapa koleksi w sekarang sudah berserakan seperti gudang arsip perang. Rak penuh. Kardus numpuk. Sudut ruangan mulai kehilangan fungsi normalnya karena digantikan tumpukan rilisan underground dari berbagai era dan negara. Kacau? Jelas. Tapi dari kekacauan itulah semua tulisan ini lahir. Karena pada akhirnya, LOSTINCHAOS Mediazine bukan sekadar tempat review musik. Ini adalah museum kecil yang dibangun dari obsesi, kelelahan, kejujuran, dan cinta yang terlalu keras kepala terhadap extreme metal. " Bikin Video Reaction?? ", " Bagi w itu Sebuah Kemunduran di era Digitalisasi, Kalian pasti banyak bohong-nya untuk memperhankan Rating sendiri kan?? ", Damned MotherFucker !!!
#LOSTINCHAOS INTERVIEW
http://www.interview.lostinchaos.com
Sama seperti sesi review yang akhirnya harus w dipisahkan ke subdomain sendiri karena terlalu padat, sesi interview di LOSTINCHAOS Mediazine juga pernah menjadi salah satu " ruang perang " paling sibuk dalam perjalanan media ini. Dan lucunya, dulu interview underground itu bukan sekadar tanya-jawab receh demi konten harian seperti sekarang. Ada proses, ada penantian, ada kesabaran, bahkan kadang ada frustrasi kolektif ketika balasan tidak kunjung datang berminggu-minggu. Era interview by email, surat fisik, sampai inbox message pernah menjadi denyut komunikasi utama scene underground internasional. Band-band luar negeri cukup antusias ketika wawancara mereka dimuat secara online selain versi printed/cetak. Karena pada masa itu, sebuah interview di zine underground masih punya nilai dokumentasi dan arsip yang terasa " hidup ", bukan sekadar konten lewat yang tenggelam dalam timeline 24 jam. Tapi zaman berubah terlalu cepat. Dulu orang membaca interview untuk memahami isi kepala musisi. Sekarang banyak orang lebih sibuk melihat siapa paling lucu saat podcast. Kehadiran podcast, Zoom interview, live streaming, reaction content, hingga media sosial yang bergerak per detik membuat metode interview klasik perlahan terlihat seperti fosil digital. Informasi berubah terlalu cepat. Hari ini sebuah berita panas, besok sudah dianggap basi. Dan pola komunikasi yang dulu terasa eksklusif kini kalah cepat dengan siaran live spontan dari kamar tidur musisi sendiri. Akibatnya, metode yang dulu w jalani mulai terasa " ketinggalan zaman ". Bukan karena kualitasnya jelek. Justru sebaliknya, interview model lama kadang jauh lebih mendalam karena pertanyaannya dipikirkan matang dan jawabannya tidak dipotong algoritma durasi pendek. Tapi dunia internet modern tidak lagi sabar menikmati proses seperti itu. Semuanya ingin cepat, Instan dan hangat beberapa menit lalu dibuang. Dan di titik itulah w akhirnya memutuskan mengurangi bahkan menghentikan aktivitas sesi interview tersebut. Alasannya sederhana: waktu ! Karena interview bukan pekerjaan ringan. Menyusun pertanyaan, menunggu balasan, mengedit materi, menerjemahkan konteks, menyusun layout, hingga memastikan substansi tetap menarik, semuanya memakan energi yang tidak sedikit. Sementara kehidupan nyata terus berjalan dan menuntut perhatian lebih besar dibanding era awal ketika semua masih terasa lebih longgar. Jadi bukan berarti semangatnya mati. Hanya saja, dunia sudah berubah terlalu jauh. Dan mungkin itu ironi terbesar dunia media underground hari ini: ketika akses komunikasi makin mudah, kedalaman komunikasi justru makin menipis. Namun setidaknya, arsip-arsip interview lama itu tetap menjadi bukti bahwa LOSTINCHAOS Mediazine pernah menjadi salah satu ruang dokumentasi penting bagi band-band underground lokal maupun internasional di masa ketika kata-kata masih lebih penting daripada sekadar potongan viral berdurasi satu menit.
#BREAKDOWN EXPLORER
https://breakdownexplorer.blogspot.com
Yang satu ini memang agak berbeda dari konten lain di LOSTINCHAOS Mediazine, Kalau biasanya w membahas extreme metal secara luas dari berbagai sudut, kali ini fokusnya lebih spesifik, lebih brutal, tapi justru lebih " hidup ": dunia New York Death Metal atau yang saat ini lebih gampang disebut sebagai NYDM ! Kenapa NYDM? Karena jujur saja, death metal itu kadang bisa sangat membosankan kalau cuma mengandalkan kecepatan tanpa groove, tanpa ayunan, tanpa rasa ajojing yang bikin kepala dan badan otomatis bergerak liar. Banyak band ekstrem modern terlalu sibuk terdengar teknis, steril, atau brutal demi validasi internet, sampai lupa bahwa musik keras juga harus punya rasa menghantam yang FUN. Dan di situlah scene New York datang seperti preman mabuk yang merusak aturan main. Dipelopori oleh nama-nama monster seperti Suffocation dan Internal Bleeding, dalam perjalanannya karakter NYDM berkembang menjadi kombinasi unik antara death metal cepat, groove yang menghancurkan, serta breakdown ala metallic hardcore yang waktu itu masih terasa liar dan natural, belum berubah menjadi formula generik metalcore modern yang sekarang kadang terdengar seperti produk pabrik algoritma. Lalu datang generasi berikutnya seperti Dying Fetus, Misery Index, dan gerombolan sejenisnya yang membuat formula ini makin brutal sekaligus makin hidup. Mereka bukan sekadar cepat. Mereka punya bounce. Punya groove. Punya part-part slam yang membuat moshpit terasa seperti kerusuhan massal, bukan sekadar orang berdiri sambil merekam pakai HP. Dulu breakdown dibuat untuk menghancurkan venue. Sekarang breakdown sering dibuat supaya viral di TikTok. Dan di titik itulah istilah " Slamming " mulai terasa runyam. Awalnya slam adalah bagian groove kotor yang menjadi aksen brutal dalam death metal. Tapi lama-lama banyak band merusaknya menjadi identitas tunggal yang kehilangan konteks. Semua dibuat serba lambat, serba breakdown, serba pamer guttural, sampai akhirnya terasa seperti karikatur dari dirinya sendiri. Akibatnya? Esensi liar dan groovy ala NYDM mulai terkikis oleh ulah segerombolan oknum dalam 1 circle yang mempengaruhi lainnya dengan informasi ala dirinya sendiri. Padahal kekuatan utama scene New York dulu justru ada pada keseimbangan: cepat tapi tetap menghentak, brutal tapi tetap catchy, teknis tapi masih punya rasa jalanan. Musik yang bukan cuma mengajak headbang, tapi juga memancing chaos hidup di pit. Berangkat dari kecintaan pada karakter itulah akhirnya w membuat ruang khusus untuk membahas band-band dengan gaya khas NYDM. Mulai dari profil band, review rilisan, interview, sampai artikel sejarah dan opini yang semuanya berputar di sekitar kultur death metal New York dan turunannya. Memang update-nya tidak selalu rutin. Kadang muncul brutal, kadang hilang seperti demo tape underground tahun 90-an. Tapi justru itu bagian dari denyut underground sendiri: tidak steril, tidak terjadwal sempurna, tapi tetap hidup. Karena bagi penggemar maniak New York Death Metal sejati, musik ini bukan cuma soal berat atau cepat. Ini soal groove, chaos, dan energi jalanan yang membuat death metal terasa lebih manusiawi meskipun sound-nya terdengar seperti soundtrack penghancuran dunia.
#REPRISAL PROMOTIONS
http://www.reprisalpromotions.com
Di antara semua kegilaan yang pernah saya bikin di jalur underground, mungkin REPRISAL PROMOTIONS adalah proyek paling absurd, paling menyita umur, tenaga, isi dompet, sekaligus paling bikin waras w dipertanyakan. Ini bukan sekadar halaman iseng tempelan logo biar terlihat " underground banget " sambil berharap dianggap bos label rekaman. Tidak sesederhana itu, kawan. Dan justru karena tidak sederhana itulah proyek ini jadi semacam monster yang w pelihara sendiri. Awalnya? Ya, jujur saja, berangkat dari kebosanan setelah menghentikan aktivitas versi cetak LOSTINCHAOS Mediazine. Ketika media cetak mulai digilas internet, algoritma, dan manusia modern yang daya bacanya kalah cepat dibanding scroll TikTok tiga detik, w sadar satu hal: kalau terus diam, otak saya bakal meledak sendiri. Akhirnya lahirlah nama " REPRISAL PROMOTIONS ". Lucunya, banyak orang mengira ini label rekaman besar dengan kantor gelap penuh asap rokok, rak CD langka, dan staff sibuk pakai headset. Padahal kenyataannya? Hampir semuanya w kerjakan sendiri. Nama " Records " atau " Promotions " itu lebih ke simbol obsesi terhadap produksi suara keras dan hasrat lama yang tertunda untuk benar-benar terjun mengolah musik extreme metal secara langsung. orang lain bikin startup cari investor, w malah bikin proyek death metal cari cara bayar mastering. Dan anehnya w menikmati kekacauan itu. REPRISAL PROMOTIONS bukan label dalam pengertian industri formal yang sibuk menghitung market, engagement, algoritma Spotify, atau strategi viral. Ini lebih seperti laboratorium kegilaan pribadi. Tempat di mana ide-ide death metal, black metal, grindcore, metallic hardcore sampai crusty grind yang terlalu liar untuk dipendam akhirnya direkam, ditulis, dimainkan, dan dipublikasikan sendiri. Ya, sendiri dengan Equipment yang w kumpulkan dan miliki seadanya, jauh dari ekspetasi kalian dah kayaknya hahaha. Mulai dari menulis riff, membuat komposisi, recording, mengurus artwork, konsep, sampai distribusi digital dan fisik, semuanya dikerjakan dengan sistem " satu orang jadi satu batalyon ". Jadi kalau ada yang bertanya kenapa jadwal rilisan sering tidak jelas, jawabannya sederhana: karena manusia bukan mesin produksi algoritma. w TIDAK MAU menjual janji palsu seperti: " album segera rilis! ", " coming soon! " atau " big announcement! " Padahal lagu belum selesai setengah, itu bagi w NORAK ! Beban terbesar dalam dunia underground justru kadang bukan produksi musiknya, tapi mulut sendiri yang terlalu banyak janji. Makanya REPRISAL PROMOTIONS berjalan berdasarkan momentum, tenaga, waktu luang, isi kepala, dan tentu saja kondisi finansial. Kalau ada kesempatan, rilisan muncul. Kalau keadaan sedang kacau, ya sunyi dulu. Tidak ada investor. Tidak ada sponsor minuman energi. Tidak ada tim marketing sok sangar. Yang ada cuma obsesi keras kepala untuk terus berkarya. Dan justru di situ nilai proyek ini berada. Karena REPRISAL PROMOTIONS lahir bukan dari mimpi jadi terkenal, tapi dari kebutuhan untuk tetap hidup secara kreatif di tengah scene yang makin penuh kemasan kosong. Banyak orang gampang nyinyir karena mereka hanya melihat hasil akhirnya tanpa tahu proses berdarah-darah di belakang layar. Mereka pikir semua ini cuma omong kosong internet. Padahal bukti fisik dan digitalnya sudah bertebaran: rilisan ada, lagu ada, proyek ada, hanya saja tidak dipoles seperti industri modern yang lebih sibuk menjual pencitraan dibanding karya. Ironis memang. Di era semua orang ingin cepat viral, proyek seperti ini justru memilih tumbuh lambat, berisik, berantakan, tapi nyata. Dan sampai hari ini, REPRISAL PROMOTIONS masih berdiri sebagai semacam induk inang dari semua kekacauan musikal yang saya ciptakan sendiri. Sebuah rumah kecil bagi rilisan-rilisan underground yang mungkin tidak akan pernah kaya, tapi setidaknya masih punya jiwa dan melalui proses natural dari seleksi alam yang lambat laun bisa membuktikannya. Kalau masih ada yang menganggap ini sekadar halu tingkat dewa, ya silahkan saja. Tinggal buka halaman resminya, dengarkan sendiri rilisannya, lalu putuskan sendiri apakah ini cuma omongan kosong atau memang sebuah obsesi yang keburu hidup terlalu jauh.
#MDM-HIVES
https://mdm-hives.blogspot.com
Di luar LOSTINCHAOS Mediazine yang sudah keburu menjadi " penjara seumur hidup " bagi otak w dalam membedah extreme metal, ternyata masih ada satu penyakit lain yang tumbuh diam-diam dan makin lama makin menggerogoti waktu, pikiran, dan rasa penasaran w: Melodic Death Metal yang w asumsikan dalam istilah yang sederhana di proyek ini : MDN Hives ! Apa itu? Sederhananya, ini adalah sarang obsesif pribadi terhadap perkembangan dunia Melodic Death Metal. Sebuah tempat di mana w mencoba mengumpulkan, mengarsipkan, membedah, dan menghubungkan potongan-potongan sejarah genre yang sampai hari ini masih menjadi bahan debat paling melelahkan di scene metal. Karena lucunya, sampai detik ini, orang-orang masih sibuk ribut soal: " Ini death metal bukan? ", " Ini terlalu melodi! ", " Ini metalcore berkedok death metal! " atau " Ini bukan extreme metal! ". Dan perdebatan itu kadang terdengar seperti sekumpulan profesor gagal yang lebih sibuk menjaga ego dibanding menikmati musik. Padahal masalah terbesarnya sederhana: banyak orang berdebat tentang Melodic Death Metal tanpa pernah benar-benar mampu mendefinisikan fondasinya secara utuh. Ada yang bilang MDM bukan death metal, Ada yang bilang MDM ya death metal plus melodi Dan lucunya? Dua-duanya bisa benar tergantung dari sudut pandang mana kalian melihat evolusi genre itu sendiri. Jadi menurut w? Sudahlah. Persetan dengan debat yang muter-muter kayak kaset rusak. Musik itu seni, bukan sidang pengadilan. Yang lebih penting justru memahami bagaimana genre itu tumbuh, berubah, bercabang, lalu dipelintir industri sampai kadang kehilangan identitas awalnya sendiri. Dan kalau bicara akar paling populer dari MDM modern, tentu semua jalan akhirnya menuju Gothenburg. Kota dingin yang tanpa sadar melahirkan cetak biru paling berpengaruh dalam sejarah melodic death metal. Nama-nama seperti In Flames, Dark Tranquillity, dan At the Gates akhirnya menjadi " trinitas suci " Gothenburg sound. Tapi banyak orang lupa bahwa semua itu tidak muncul tiba-tiba dari langit. Ada akar yang lebih liar. Grotesque misalnya, adalah salah satu embrio paling ekstrim yang membawa aura death metal bercampur kultur black metal awal Swedia yang masih sangat KVLT, mentah, teatrikal, dan gelap. Dari puing-puing band seperti inilah benih MDM mulai tumbuh sebelum akhirnya menjadi lebih melodis dan terstruktur. Lalu ada Ceremonial Oath, proyek awal yang mempertemukan nama-nama penting seperti Jesper Strömblad dan koneksi lingkaran Tomas Lindberg sebelum akhirnya membentuk sejarah baru melalui In Flames dan proyek-proyek berikutnya. Artinya? MDM tidak pernah lahir sebagai genre steril. Ia lahir dari persilangan liar antara death metal, thrash metal, black metal awal, heavy metal klasik, bahkan atmosfer melankolis khas Skandinavia. Makanya genre ini terus berubah dan sulit dikunci definisinya sampai sekarang. Dan di situlah fungsi MDM Hives sebenarnya. Bukan untuk merasa paling tahu, Bukan untuk sok jadi ensiklopedia metal berjalan atau bukan juga untuk menjadi buzzer genre tertentu. Tapi menjadi tempat berbagi informasi, mengarsipkan band-band lama maupun baru, termasuk nama-nama yang justru tenggelam karena kalah promosi, kalah algoritma, atau kalah " circle marketing " yang hari ini lebih sibuk menciptakan hype dibanding menghargai warisan musik itu sendiri. Karena realitanya pahit: banyak band hebat hilang bukan karena musik mereka jelek, tetapi karena tidak punya mesin promosi dan gerombolan buzzer. Sementara band medioker bisa mendadak dianggap legenda hanya karena didorong narasi internet berulang-ulang. MDM Hives mencoba melawan pola itu dengan cara sederhana: menggali ulang potongan sejarah yang tercecer, menyatukan informasi yang nyaris hilang, dan membuka ruang diskusi bagi siapa pun yang benar-benar menikmati Melodic Death Metal bukan sekadar ikut tren. Karena pada akhirnya, sejarah musik ekstrem tidak pernah ditulis sepenuhnya oleh media besar. Kadang justru dibangun oleh orang-orang keras kepala yang terlalu cinta pada musiknya sampai rela menghabiskan hidup hanya untuk mengarsipkan kebisingan yang dianggap tidak penting oleh dunia luar.
# BLITAR UNDERGROUND COMMUNITY
https://www.blitarundergroundcommunity.com
Kalau proyek-proyek sebelumnya masih bicara soal review, rilisan, obsesi genre, atau eksperimen musikal pribadi, maka yang satu ini jauh lebih berat bebannya. Bukan sekadar media. Bukan sekadar arsip. Tapi semacam " Museum hidup” untuk sejarah panjang komunitas musik keras tempat w dilahirkan dan tumbuh: BLITAR ! Dan percayalah, menjaga sejarah komunitas underground itu kadang lebih melelahkan daripada main di panggung extreme metal selama satu jam penuh. Karena masalah terbesar scene bukan kurang band, Bukan kurang event dan Bukan kurang kaos hitam. Tapi terlalu banyak ego yang merasa dirinya pusat tata surya. Ironis memang. Musik yang seharusnya menjadi ruang kebebasan dan kebersamaan justru sering berubah menjadi arena perang kecil antarkelompok, antarselera, antargenerasi, bahkan antarorang yang sebenarnya nongkrong di tempat yang sama sejak dulu. Padahal sesederhana ini kenyataannya: mau kalian dari kota atau kabupaten, mau black metal, death metal, punk, grindcore, hardcore, mau oldschool atau modern, identitas akhirnya tetap satu: BLITAR UNDERGROUND COMMUNITY ! Dan itu yang perlahan mulai dilupakan banyak orang. Makanya proyek arsip komunitas ini w bangun bukan untuk mencari legitimasi sok paling senior, bukan untuk membuka luka lama, bukan juga untuk menciptakan kubu baru dengan jargon paling underground sedunia. Justru sebaliknya. Ini adalah usaha mengumpulkan kembali serpihan sejarah yang tercecer sebelum semuanya benar-benar hilang dimakan waktu, konflik pribadi, dan kerasnya perubahan zaman digital. Karena scene underground itu lucu. Saat masih aktif, semua sibuk ribut soal siapa paling benar. Begitu waktu lewat 20 tahun, semua mendadak sibuk mencari dokumentasi yang ternyata sudah hilang. Foto gigs pertama lenyap. Flyer fotokopian habis dimakan rayap, Kaset demo rusak dan Cerita-cerita lama berubah jadi mitos tongkrongan. Dan akhirnya sejarah komunitas cuma tinggal: " katanya dulu pernah ada ". Nah, w muak kalau semuanya cuma berhenti di " katanya ". Makanya bersama beberapa teman, w mencoba membangun ruang arsip yang mengumpulkan ulang jejak BLITAR UNDERGROUND COMMUNITY Mulai dari dokumentasi gigs lawas, foto panggung kecil yang dulu penuh lumpur dan kabel semrawut, sejarah band-band lokal, rilisan demo, sampai cerita pahit-manis konflik internal yang dulu sempat membuat scene pecah berkeping-keping. Karena suka atau tidak, konflik juga bagian dari sejarah. Tidak perlu dimaniskan. Tidak perlu dipoles jadi dongeng harmonis. Komunitas underground selalu keras, emosional, dan penuh benturan karakter. Tapi justru karena pernah retak, kita jadi tahu betapa berharganya persaudaraan yang dulu sempat ada. w dan teman-teman tidak datang membawa bendera " Kami paling benar ". Kami cuma mencoba membuka ruang dialog lagi. Menyambungkan nama-nama lama yang sempat hilang kontak. Menghidupkan kembali ingatan tentang masa ketika scene ini dibangun bukan dengan algoritma media sosial, tapi dengan fotokopian zine, surat, kaset dubbing, dan mulut ke mulut. Dan jujur saja, ini pekerjaan gila. Karena hampir semuanya w kerjakan sendiri sebagai webmaster, admin, pengarsip, penulis, pengunggah data, tukang edit, sampai penjaga server dadakan. Kadang w sendiri heran kenapa masih mau menjalani semua ini tanpa pamrih jelas. Jawabannya mungkin sederhana: karena w terlalu mencintai scene ini untuk membiarkannya hilang begitu saja. Disadari atau tidak, setiap daerah punya potensinya sendiri. Tapi kalau terus sibuk membandingkan kota vs kabupaten, scene lama vs scene baru, genre ini vs genre itu, maka tidak akan pernah ada titik temu. Semua daerah punya masalah. Semua komunitas pernah retak. Semua scene pernah jatuh bangun. Dan mungkin justru karena itu arsip seperti ini penting. Bukan cuma untuk nostalgia tua bangka. Tapi sebagai pengingat bahwa di balik semua kebisingan, kita pernah berdiri di tempat yang sama membawa nama yang sama: BLITAR !
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin w ini memang termasuk spesies langka yang otaknya terlalu berisik untuk diam. Setelah LOSTINCHAOS Mediazine dengan segala turunan proyeknya, REPRISAL PROMOTIONS, BREAKDOWN EXPLORER, MDM Hives sampai arsip Komunitas BLITAR UNDERGROUND COMMUNITY , ternyata masih ada lagi proyek-proyek lain yang pernah w bikin. Ada yang masih hidup terseok-seok, ada yang hilang ditelan domain expired, ada juga yang mungkin cuma tinggal nama di mesin pencari internet yang nasibnya lebih tragis dari demo tape underground tanpa cover fotokopian. Dan dua nama yang mungkin masih sempat muncul adalah DISCORDIA Zine ( https://discordiazine.blogspot.com ) dan BOMBCORE ( https://bombcore.blogspot.com ) walaupun update-nya tidak sebrutal proyek utama lain, setidaknya dua tempat itu masih menjadi bukti bahwa w memang seperti manusia yang tidak pernah kehabisan ide, meski energi, waktu, dan umur mulai protes diam-diam hahahaha. orang normal kalau capek biasanya istirahat, w malah bikin subdomain baru. Kadang w sendiri heran kenapa bisa sampai separah ini. Tapi mungkin memang begitulah kalau musik underground sudah berubah menjadi bagian dari sistem hidup. Bukan lagi sekadar hobi tempelan atau pelarian akhir pekan, tapi sudah menjadi semacam " penyakit permanen " yang bikin otak terus mencari ruang baru untuk menuangkan isi kepala. Semua itu lahir bukan karena strategi bisnis, bukan karena target monetisasi, dan jelas bukan demi jadi influencer metal sok gelap yang sibuk jual image. Sebagian besar proyek ini lahir dari satu hal sederhana: w terlalu menikmati proses menciptakan sesuatu. Masalahnya cuma satu : waktu ! Dulu mungkin tenaga masih cukup untuk begadang sambil ngetik review, upload artikel, desain cover, editing audio, sampai membalas surat atau inbox band luar negeri tanpa merasa tubuh mau copot. Sekarang? Kehidupan nyata mulai ikut menagih perhatian. Umur juga diam-diam mulai mengingatkan bahwa manusia punya batas energi. Dan itu bagian paling ironisnya. Ide masih liar ke mana-mana, tapi waktu berjalan makin sempit. Makanya banyak proyek akhirnya berjalan tidak seintens dulu. Ada yang vakum, ada yang hanya update sesekali, ada yang bahkan lenyap bersama server murah yang lupa diperpanjang. Tapi semua itu tetap bagian dari perjalanan panjang yang w bangun sedikit demi sedikit selama puluhan tahun hidup di jalur underground. Karena bagi w, internet bukan cuma tempat numpang eksis. Ia sudah menjadi arsip kehidupan kedua. Dan meskipun proyek-proyek itu kadang terlupakan publik, setidaknya w tahu mereka pernah hidup. Pernah menjadi ruang untuk menyimpan ide, keresahan, dokumentasi, dan kecintaan terhadap musik keras yang terlalu sering dianggap " berisik " oleh dunia luar. Lucunya lagi, proyek-proyek itulah yang justru w perjuangkan mati-matian agar tidak hilang, sementara w sendiri kadang perlahan dilupakan hahahaha ... Tapi mungkin memang begitu nasib orang yang sibuk mengarsipkan sejarah: namanya pelan-pelan tenggelam, sementara karya dan jejak yang ditinggalkan terus berjalan sendiri.














0 Komentar