Most Popular

header ads

MALEFIC THRONE RILIS VIDEO BARU SINGLE " WHEN OUR SHADOWS ALIGN " DARI ALBUM 2025 LALU



MALEFIC THRONE RILIS VIDEO BARU SINGLE " WHEN OUR SHADOWS ALIGN " DARI ALBUM 2025 LALU

" Brutal ", " Gelap ", " Menghancurkan ", dan sederet kata sifat lain yang sudah kehilangan makna karena terlalu sering digunakan, kemunculan Malefic Throne terasa seperti tamparan keras yang mengingatkan bahwa masih ada perbedaan besar antara sekadar memainkan death metal dan benar-benar menghidupkan spirit destruktifnya. Tidak mengherankan jika proyek ini langsung menarik perhatian. Bagaimana mungkin tidak? Di dalamnya berkumpul tiga nama yang reputasinya telah lama terukir dengan darah dan karat dalam sejarah death metal ekstrem: Gene Palubicki (Demonized, Hexorcist, Perdition Temple, ex-Angelcorpse, ex-Apocalypse Command, ex-Blasphemic Cruelty, ex-Impiety, ex-Anal Blast), Steve Tucker (Arise from Worms, Morbid Angel, ex-Merciless Onslaught, ex-Warfather, ex-Ceremony, ex-Nader Sadek, ex-Internecine, ex-UnderCurrent) serta John Longstreth (Dim Mak, Hate Eternal, Krokmitën, Neurectomy, Nordjevel, Origin, Philippe Drouin Obvurt, ex-Malicious Intent, ex-Possession, ex-Crator, ex-Gorguts, ex-Skinless, ex-The Red Chord, ex-Unmerciful, ex-Angelcorpse), mesin penghancur ritmis yang dikenal melalui Origin, Hate Eternal, dan juga Angel Corpse. Banyak supergroup lahir hanya untuk menjadi catatan kaki yang mengecewakan. Nama besar dikumpulkan, ekspektasi dibangun setinggi langit, lalu hasil akhirnya terdengar seperti sesi jamming mahal yang kehilangan arah. Untungnya, Malefic Throne tampaknya berdiri di sisi yang berlawanan. Mereka bukan proyek nostalgia, bukan pula reuni terselubung. Mereka adalah manifestasi dari tiga musisi yang masih memiliki hasrat untuk menciptakan death metal yang ganas, relevan, dan mematikan. Pertemuan yang Membutuhkan Hampir Tiga Dekade untuk Meledak Akar kisah Malefic Throne sebenarnya berawal jauh sebelum nama band ini diumumkan.

Pertengahan dekade 1990-an merupakan masa ketika Death Metal Amrik masih menjadi kekuatan yang sangat menakutkan. Saat itulah Gene Palubicki dan Steve Tucker pertama kali bertemu di lingkungan legendaris Morrisound Recording Studio, tempat yang secara praktis menjadi laboratorium penciptaan banyak album death metal klasik. Ketika Angel Corpse dan Morbid Angel sedang mengerjakan karya mereka masing-masing, benih-benih koneksi itu mulai terbentuk. Namun seperti banyak kisah dalam musik ekstrem, ide tersebut tidak langsung berkembang menjadi band. Waktu berjalan. Tahun berganti dekade. Musisi berpindah proyek. Band lahir dan mati. Lalu datang tahun 2020. Palubicki memutuskan untuk mewujudkan sesuatu yang telah lama mengendap. Hasilnya adalah Malefic Throne, sebuah entitas yang tidak dibangun di atas nostalgia masa lalu, melainkan atas fondasi pengalaman puluhan tahun dalam peperangan death metal. John Longstreth menggambarkan proses itu dengan sangat tepat. Menurutnya, percakapan dan pertemuan yang dimulai sejak era Morrisound akhirnya berkembang menjadi perayaan sejati dari death metal infernal yang membara. Dan memang itulah yang terdengar dari musik mereka.

Kesalahan terbesar yang mungkin dilakukan pendengar adalah menganggap Malefic Throne sebagai gabungan sederhana dari band-band asal para personelnya. Logikanya memang menggoda, Ada Gene Palubicki, ada Steve Tucker dan John Longstreth. Maka pasti terdengar seperti perpaduan antara Morbid Angel, Angel Corpse, dan Origin. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Justru salah satu kekuatan terbesar Malefic Throne adalah kemampuan mereka menciptakan identitas tersendiri. Jejak musikal dari masing-masing anggota memang terasa jelas. Riff-riff Palubicki masih membawa aura perang apokaliptik khas Angel Corpse. Vokal Tucker tetap terdengar seperti suara nabi kematian yang berkhotbah di atas reruntuhan peradaban. Longstreth masih menjadi monster teknis yang mampu mengubah drum menjadi artileri berat. Namun ketika ketiganya bersatu, yang muncul bukanlah tiruan dari masa lalu mereka. Yang muncul adalah monster baru. Palubicki sendiri menegaskan bahwa karakter Malefic Throne lahir dari sintesis ketiga anggota tersebut. Setiap lagu membawa jejak mereka semua, menciptakan dinamika yang membuat band ini berdiri sebagai entitas independen, bukan sekadar proyek sampingan para veteran. Dan itulah yang membuat " The Conquering Darkness " terasa hidup. Death Metal Nuklir yang Tidak Mengenal Belas Kasihan John Longstreth menggambarkan album ini sebagai " Death metal nuklir yang brutal dan infernal. " Untuk sekali ini, istilah bombastis itu tidak terasa berlebihan.

" The Conquering Darkness " bergerak seperti badai api yang menyapu kota tanpa meninggalkan saksi. Musiknya padat, agresif, dan menolak memberi ruang bernapas terlalu lama kepada pendengar. Riff-riff Palubicki menyerang dengan karakter gelap dan militan. Tidak ada upaya untuk terdengar modern secara artifisial. Tidak ada eksperimen yang dipaksakan demi relevansi. Yang ada hanyalah serangan death metal murni yang dipertajam oleh pengalaman puluhan tahun. Di atas fondasi itu, Steve Tucker menyuntikkan vokal yang terdengar penuh otoritas. Ia tidak perlu terdengar seperti monster kartun atau mencoba mencapai register ekstrem demi sensasi. Kehadirannya sendiri sudah cukup mengintimidasi. Kemudian Longstreth melakukan apa yang selalu ia lakukan dengan sangat baik: menghancurkan segalanya. Permainan drumnya tidak hanya cepat. Banyak drummer cepat di luar sana. Longstreth memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: presisi. Blast beat-nya tidak terdengar kacau. Justru terasa seperti rentetan misil yang diarahkan dengan akurasi militer. Hasil akhirnya adalah death metal yang brutal tanpa kehilangan fokus komposisi. 

" When Our Shadows Align " : Manifesto Pertama dari Tahta Kegelapan Perilisan video musik untuk " When Our Shadows Align " rilis tahun 2025 menjadi perkenalan visual pertama yang tepat bagi Malefic Throne. Lagu ini menangkap hampir seluruh esensi album. Atmosfer gelap, riff yang menggigit, ritme yang menghancurkan, dan aura ancaman konstan yang menggantung di setiap detiknya. Tidak ada gimmick, tidak ada upaya mengejar tren, Hanya death metal : Murni, kejam, dan tanpa kompromi. Di zaman ketika banyak band ekstrem lebih sibuk membangun algoritma dibanding membangun lagu, pendekatan seperti ini terasa menyegarkan sekaligus mengancam. Produksi yang Memperkuat Ledakan Untuk urusan produksi, Malefic Throne memilih tempat yang tepat. " The Conquering Darkness " direkam, di-mixing, dan di-mastering di Menegroth The Thousand Caves bersama Colin Marston. Nama Marston sudah lama menjadi jaminan kualitas dalam dunia metal ekstrem. Ia memahami bagaimana membuat musik brutal terdengar masif tanpa kehilangan detail. Setiap instrumen mendapatkan ruang yang cukup untuk bernapas, namun tetap menyatu dalam dinding suara yang menghancurkan. Gitar terdengar tajam, bass memiliki bobot yang nyata, drum menggelegar tanpa menjadi berantakan, sementara vokal Tucker berdiri kokoh di tengah kekacauan tersebut. Visual album pun tidak kalah impresif. Daniele Valeriani, artworker yang dikenal melalui karya-karyanya untuk Dark Funeral dan Mayhem, menciptakan sampul yang menangkap nuansa kegelapan epik yang diusung musiknya. Sementara logo Malefic Throne didesign oleh Christophe Szpajdel, nama legendaris yang telah menjadi institusi tersendiri dalam estetika black dan death metal. Semuanya menunjukkan satu hal: proyek ini dibangun dengan keseriusan penuh.

Veteran yang Masih Mampu Mengajarkan Cara Membuat Death Metal Ada ironi yang cukup lucu dalam dunia metal modern. Semakin banyak teknologi tersedia, semakin banyak pula band yang terdengar steril. Sementara itu, tiga veteran yang telah menghabiskan sebagian besar hidup mereka bermain musik ekstrem justru datang dan mengingatkan bagaimana death metal seharusnya terdengar: berbahaya, gelap, agresif, dan penuh karakter. The Conquering Darkness bukan sekadar debut sebuah Supergroup. Album ini adalah deklarasi bahwa pengalaman masih memiliki nilai. Bahwa kemarahan tidak selalu memudar seiring usia. Dan bahwa death metal terbaik sering kali lahir dari musisi yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dibuktikan, selain menghancurkan segalanya sekali lagi. Malefic Throne tidak datang untuk mengikuti tren. Mereka datang untuk membangun singgasana di atas puing-puingnya. Dan jika " When Our Shadows Align " menjadi indikasi yang akurat, maka tahta kegelapan itu sudah mulai berdiri kokoh, dikelilingi oleh asap mesiu, reruntuhan, dan gema kematian yang tak kunjung padam.

Sebelum tenggelam menjadi catatan kaki yang terlupakan, Malefic Throne muncul dengan pendekatan yang jauh lebih berbahaya. Mereka tidak dibentuk untuk menjual nostalgia. Mereka tidak dibangun sebagai museum berjalan bagi penggemar Morbid Angel, Angel Corpse, atau Origin. Sebaliknya, proyek ini lahir dari ambisi yang jauh lebih sulit diwujudkan: menciptakan identitas baru tanpa membunuh DNA yang membuat para anggotanya menjadi legenda dalam death metal ekstrem. Dalam wawancara bersama Bardo Methodology pada tahun 2022, Gene Palubicki menjelaskan dengan sangat jelas filosofi di balik Malefic Throne. Sebuah filosofi yang terdengar sederhana di atas kertas, tetapi dalam praktiknya jauh lebih kompleks daripada sekadar mencampur tiga nama besar menjadi satu wadah, menurut Gene, tujuannya bukanlah menciptakan monster Frankenstein yang menjahit bagian-bagian terbaik dari Angel Corpse, Morbid Angel, dan Origin menjadi satu paket. Justru sebaliknya. Ia ingin membangun sesuatu yang mampu mencerminkan latar belakang musikal seluruh anggota tanpa menjadikan Malefic Throne sebagai prototype dari proyek-proyek lama mereka. Dan di sinilah letak perbedaan antara musisi yang benar-benar memahami seni penciptaan dan mereka yang hanya memahami rumus.

Terlalu banyak band veteran terjebak dalam lingkaran aman. Mereka menemukan formula yang berhasil dua puluh tahun lalu lalu mengulanginya sampai pendengar bisa menebak riff berikutnya bahkan sebelum lagu dimulai. Gene tampaknya sangat sadar akan jebakan itu. Ia tidak ingin Malefic Throne terdengar seperti Perdition Temple yang diberi vokal Steve Tucker dan permainan drum John Longstreth. Itu akan terlalu mudah. Terlalu malas. Dan yang paling penting, terlalu membosankan. Sebaliknya, ia mencoba membangun kerangka komposisi yang memungkinkan seluruh karakter musikal para anggota berinteraksi secara alami. Pendekatan ini terdengar sangat teknis, tetapi hasilnya memiliki implikasi besar terhadap musik yang dihasilkan. Alih-alih memaksakan identitas tertentu sejak awal, Gene memilih membangun struktur lagu yang lebih organik. Riff-riff tidak hanya berfungsi sebagai alat penghancur semata, tetapi juga sebagai jalur yang menghubungkan berbagai karakter musikal dalam band. Ada ruang untuk agresi karakter khas Angel Corpse, tetapi juga terdapat nuansa spiritual dan atmosfer gelap yang sering diasosiasikan dengan Morbid Angel era Steve Tucker. Pada saat yang sama, kompleksitas ritmis dan presisi brutal yang menjadi ciri permainan John Longstreth ikut mengalir ke dalam fondasi musik tanpa harus mendominasi keseluruhan identitas band. Hasilnya bukan kolase. Hasilnya adalah sintesis. Dan sintesis adalah sesuatu yang jauh lebih sulit dicapai dibanding sekadar kolaborasi. Banyak supergroup gagal karena setiap anggota terdengar seperti sedang memainkan lagu dari band lamanya masing-masing secara bersamaan. Malefic Throne tampaknya berusaha menghindari jebakan tersebut dengan menciptakan ruang baru di mana setiap karakter dapat hidup tanpa saling menelan.

Pendekatan Gene terhadap penulisan riff juga menjadi faktor penting. Ia secara terbuka mengakui bahwa beberapa ide dalam Malefic Throne mungkin tidak akan pernah cocok jika dimasukkan ke dalam Perdition Temple. Pernyataan ini sebenarnya sangat signifikan. Itu berarti ia sengaja keluar dari zona kreatif yang selama bertahun-tahun menjadi wilayah nyamannya. Dalam dunia death metal ekstrem, langkah seperti itu bukan tanpa risiko. Penggemar fanatik biasanya menginginkan lebih banyak dari hal yang sama. Mereka ingin mendengar formula yang sudah dikenal. Mereka ingin kepastian. Mereka ingin kenyamanan dalam bentuk kebrutalan Namun seni yang benar-benar hidup tidak pernah tumbuh dari kenyamanan. Seni tumbuh dari ketidakpastian. Dari keberanian untuk mengambil elemen-elemen yang sudah dikenal lalu menempatkannya dalam konteks baru. Dan itulah yang tampaknya menjadi fondasi utama Malefic Throne. Band ini bukan eksperimen avant-garde yang mencoba menjadi aneh demi terlihat intelektual. Mereka tetap berakar kuat pada death metal yang brutal, gelap, dan destruktif. Namun di balik ledakan blast beat, pusaran riff, dan vokal yang terdengar seperti deklarasi perang dari dunia bawah, terdapat proses kreatif yang jauh lebih matang daripada sekadar " Ayo gabungkan member dari band terkenal. " Jika diperhatikan lebih dalam, pernyataan Gene sebenarnya mengungkap sesuatu yang sangat menarik tentang evolusi musisi veteran. Setelah puluhan tahun bermain dalam berbagai proyek ekstrem, tantangan terbesar bukan lagi menjadi lebih cepat, lebih berat, atau lebih brutal.

Tantangan terbesar adalah menemukan cara baru untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas. Dan Malefic Throne tampaknya dibangun tepat di atas prinsip tersebut. Kedengarannya sederhana. Namun dalam dunia metal modern yang penuh band kloningan, algoritma nostalgia, dan proyek sampingan yang sering terasa seperti latihan pemasaran berkedok kreativitas, usaha untuk benar-benar menciptakan identitas baru justru menjadi tindakan paling radikal yang bisa dilakukan. Pada akhirnya, filosofi Gene Palubicki menunjukkan bahwa Malefic Throne bukan sekadar pertemuan tiga nama besar death metal Amerika. Ini adalah upaya sadar untuk membangun bahasa musikal baru dari puing-puing pengalaman puluhan tahun di medan perang ekstrem metal. Dan jika " The Conquering Darkness " menjadi indikator awal, maka proyek ini bukanlah monumen masa lalu. Ini adalah deklarasi bahwa para veteran tersebut masih memiliki cukup amunisi untuk menghancurkan masa kini.

" The Conquering Darkness " Track listing:

01. Blasphémait Desecration
02. The Voice Of My Ghost
03. Athirst For Dissonance
04. Born Of Plague
05. Divine Tragedy
06. Carnage Of The Forgotten
07. When Our Shadows Align
08. Forged In Stone

Posting Komentar

0 Komentar