PIONER BLACK METAL KLASIK JEPANG, SIGH ! SIAP RILIS ALBUM " GOH-KA " VIA PEACEVILLE RECORDS
Ketika sebagian besar band veteran sibuk mengulang kejayaan masa lalu demi algoritma streaming dan nostalgia yang dijual per kilogram, Sigh justru kembali melakukan apa yang selalu mereka kuasai: menghancurkan ekspektasi. Mereka tidak pernah tertarik menjadi band black metal yang aman, mudah dicerna, atau sekadar memoles formula lama dengan kemasan baru. Sejak lahir di Jepang pada penghujung 1989, SIGH memilih jalur yang jauh lebih berbahaya menjadikan ekstremitas sebagai laboratorium seni, bukan sekadar kompetisi siapa paling cepat atau paling brutal. album terbaru mereka, " Goh-ka ", bukan sekadar kelanjutan dari " Shiki " (2022), melainkan manifestasi paling personal dari visi Mirai Kawashima hingga hari ini. Bila mayoritas band ekstrem masih sibuk mengejar citra neraka melalui blast beat dan corpsepaint, Sigh justru mengajak pendengarnya menatap sesuatu yang jauh lebih mengerikan: kenyataan bahwa setiap tubuh, secantik apa pun, akan berakhir menjadi daging yang membusuk.
Di sinilah konsep " Kuso-zu " menjadi jantung filosofis album. Tradisi Buddhis kuno yang menggambarkan sembilan fase pembusukan jasad manusia diterjemahkan menjadi pengalaman musikal yang sama mengganggunya dengan visualnya. Bukan demi sensasi murahan, melainkan sebagai pengingat brutal bahwa keindahan hanyalah ilusi sementara, sedangkan kematian adalah satu-satunya kepastian yang tidak pernah gagal menepati janji. Sampul album hingga ilustrasi buklet menghidupkan kembali narasi tersebut, menjadikan Goh-ka bukan hanya album, tetapi sebuah meditasi tentang kefanaan. Judul " Goh-ka " sendiri mengandung tiga lapis makna: api neraka yang membakar para pendosa, kobaran api kiamat yang melahap dunia, serta karma sebagai konsekuensi mutlak dari setiap tindakan manusia. Sebuah konsep yang terasa sangat Sigh, rumit, simbolis, sekaligus tanpa kompromi.
Secara musikal, Mirai bahkan menggambarkan resep album ini dengan kejujuran yang nyaris provokatif: bayangkan Celtic Frost, Voivod, Black Sabbath, film horor klasik, dan estetika Jepang dilempar ke dalam satu kuali raksasa, lalu dibumbui rock psikedelik, progressive rock, hingga komposisi musik klasik. Hasilnya bukan kekacauan, melainkan mosaik avant-garde yang terus bergerak tanpa pernah kehilangan identitas. Hampir satu jam durasi album terasa seperti perjalanan melewati kuil tua, rumah sakit terbengkalai, mimpi buruk surealis, hingga altar pemujaan yang dipenuhi aroma dupa dan darah. Formasi kali ini juga memperlihatkan betapa seriusnya ambisi tersebut. Bersama Mirai Kawashima, Dr. Mikannibal, dan gitaris Nozomu Wakai, hadir Frédéric Leclercq (Kreator, Dragonforce) yang menyuntikkan permainan bass penuh presisi, sementara Mike Heller menghadirkan permainan drum yang mampu berganti wajah dari ledakan teknikal menjadi ritme ritualistik dalam hitungan detik. Sebagai kejutan istimewa, Mikael Åkerfeldt dari Opeth turut menyumbangkan solo gitar pada lagu "Unputenpu", menghadirkan nuansa melankolis yang justru mempertegas atmosfer ganjil album ini.
Seluruh materi direkam di beberapa studio sebelum akhirnya dipoles oleh Lasse Lammert di LSD Studio, Jerman. Hasil akhirnya terdengar megah, padat, tetapi tetap menyisakan ruang bagi setiap instrumen untuk bernapas sebuah pencapaian penting mengingat kompleksitas komposisi yang nyaris tak mengenal batas genre. lebih dari tiga dekade sejak " Scorn Defeat " mengguncang fondasi black metal pada 1993, Sigh tetap menjadi anomali yang tak berhasil dijinakkan industri. Mereka bukan sekadar pionir avant-garde black metal Asia, melainkan bukti hidup bahwa kreativitas tidak pernah lahir dari rasa nyaman. Setelah merayakan ulang tahun ke-35 melalui reinterpretasi " Hangman's Hymn " dalam " I Saw The World's End: Hangman's Hymn MMXXV ", kini " Goh-ka " datang bukan untuk mengulang sejarah, tetapi untuk kembali mengingatkan bahwa seni ekstrem terbaik selalu lahir dari keberanian menolak menjadi biasa. Karena ketika banyak band berlomba terdengar semakin modern, Sigh justru memilih menggali kuburan kebudayaan, filsafat, dan spiritualitas, lalu mengubahnya menjadi simfoni yang tidak hanya menghantam telinga, tetapi juga merobek ego pendengarnya. Dan itulah alasan mengapa mereka tetap berdiri sebagai salah satu entitas paling visioner, paling eksentrik, dan paling tak tergantikan dalam sejarah musik ekstrem dunia.
" Goh-ka " track listing:
01. Kuso-shi 1, 2, and 3 (09:11)
02. Jigoku-Zoshi 1: Unkamusho (03:55)
03. Anzenshokon (06:24)
04. Kuso-shi 4, 5, and 6 (07:21)
05. Shoso (00:56)
06. Unputenpu (05:41)
07. Jinmenjushin (06:14)
08. Jigoku-Zoshi 2: Tokatsujigoku (03:06)
09. Kushukankyo (01:47)
10. Kuso-shi 7 (01:56)
11. Kuso-shi 8 and 9 / Mettaijakujo (11:23)







0 Komentar