Most Popular

header ads

ALBUM SIAP RILIS DIBULAN SEPTEMBER 2026

12.09 Neolith - Inbir 

12.09 Hanging Garden - Dream Death  

Hanging Garden muncul dengan formula Progresif death metal yang sulit dimasukkan ke dalam satu kotak. Digagas oleh gitaris Dylan Cruz, yang juga dikenal melalui band seperti Noxis, Scumbag, dan Dissonance, proyek ini membangun musik yang menggabungkan technical dan progressive death metal dengan lapisan melodi transendental serta sentuhan blackened yang pekat. Alih-alih mengandalkan brutalitas sebagai satu-satunya senjata, Hanging Garden justru memperlakukan death metal seperti labirin. Riff teknikal yang tajam dapat berubah secara cepat menjadi bagian melodis yang atmosferik, kemudian kembali dihantam struktur ekstrem yang lebih kompleks. Pergantian dimensinya berlangsung begitu cepat dan konstan sehingga pendengar yang tidak benar-benar memperhatikan berisiko melewatkan detail-detail kecil yang justru menjadi kekuatan utama musik mereka. Di sinilah daya tarik Hanging Garden bekerja. Kompleksitas mereka bukan sekadar parade teknik atau ajang mempertontonkan kemampuan instrumental, melainkan sebuah usaha menciptakan komposisi yang berlapis, dinamis, dan terus bergerak. Sentuhan black metal memberikan atmosfer yang lebih gelap, sementara elemen progresif dan teknikal menjaga musik tetap tidak terduga. Dalam lanskap death metal yang sering terjebak antara mengejar kecepatan, breakdown, atau produksi sebesar mungkin, pendekatan Hanging Garden terasa menyegarkan. Musik mereka tidak meminta pendengar sekadar mengangguk mengikuti ketukan; ia menuntut perhatian, kemudian membayarnya dengan variasi yang semakin terbuka setiap kali diputar ulang. Bagi mereka yang tumbuh dengan warisan Death, atmosfer melankolis early Sentenced, keganasan Goreworm, kompleksitas Xenosis, progresivitas Opeth, hingga eksperimentasi gelap Krallice, Hanging Garden menawarkan sebuah persilangan yang layak diselami. Death metal, tetapi tanpa kewajiban untuk berjalan lurus. Hanging Garden justru menemukan identitasnya dengan terus membelok.

13.09 Inquisition - For The Burning Of All Holiness 
13.09 Vûlom - Love's Lament  
14.09 Mittags-Abgrund - Mittags-Abgrund 
14.09 The Well - ...And Flames Ran Like Living Animals 
14.09 Titan Blood - When The Tide Subsides 
16.09 Patristic - Live In Poland MMXXVI 
18.09 Asenblut - Urgewalt 

18.09 Anthrax - Cursum Perficio 

10 tahun setelah " For All Kings ", Anthrax akhirnya kembali dengan album studio ke-12, " Cursum Perficio ", yang dijadwalkan rilis pada 18 September 2026 melalui Nuclear Blast Records di Eropa dan Megaforce Records di Amerika Utara. Rekaman ini menjadi salah satu comeback paling dinanti dari raksasa thrash metal New York tersebut, terlebih karena For All Kings sebelumnya berhasil menembus Top 10 Billboard 200. Album ini direkam di Studio 606 milik Dave Grohl di Los Angeles dan diproduseri Jay Ruston bersama Anthrax. Formasi yang mengerjakannya tetap terdiri dari Scott Ian, Charlie Benante, Frank Bello, Joey Belladonna, dan Jonathan Donais, sebuah konfigurasi yang memberi bobot tersendiri bagi album yang lahir setelah penantian panjang. Judul " Cursum Perficio " sendiri berarti " I complete my journey " dalam bahasa Latin. Meski terdengar seperti epitaf, Anthrax tidak menyatakan album ini sebagai akhir perjalanan mereka. Justru frasa tersebut terasa seperti penanda sebuah pencapaian: setelah melewati pandemi, jeda panjang, dan proses rekaman yang dimulai serius pada 2022, mereka akhirnya memiliki sebuah karya yang ingin mereka letakkan sebagai representasi penting fase terbaru band. Tiga single yang telah dilepas memperlihatkan Anthrax tidak mengejar perubahan identitas secara drastis. " It’s For The Kids " tampil dengan riff tajam dan energi thrash yang familiar, sementara " The Edge Of Perfection " memperluas dinamika melalui intro gitar bersih sebelum meledak menjadi serangan yang lebih keras. Kemudian " Everybody’s Got A Plan " membawa warna berbeda dengan riff besar dan ayunan hard-rock yang lebih mid-tempo. Video lagunya bahkan merekam perjalanan Anthrax ketika tampil sebagai pendukung Iron Maiden di Lisbon, memperlihatkan bahwa materi baru tersebut telah diuji langsung di hadapan penonton dalam skala besar. Dengan 11 lagu, " Cursum Perficio " membentang dari “Persistence of Memory” hingga " My Victory”, memperlihatkan bahwa Anthrax lebih memilih mempertegas kekuatan yang selama ini membentuk mereka daripada melakukan eksperimen demi mengejar relevansi sesaat. Dan justru di situlah daya tarik album ini. Setelah 45 tahun menjadi salah satu fondasi Big Four thrash metal bersama Metallica, Slayer, dan Megadeth, Anthrax tidak membutuhkan reinvensi untuk membuktikan bahwa mereka masih relevan. Mereka hanya perlu riff yang tepat, permainan Charlie Benante yang tetap eksplosif, vokal Joey Belladonna, dan chemistry lama yang kembali bekerja dalam satu ruangan. " Cursum Perficio " bukan tanda titik. Ia lebih terdengar seperti tanda seru setelah perjalanan panjang Anthrax masih berjalan, tetapi kali ini dengan langkah yang jauh lebih pasti.

18.09 Suffering Quota - Sisyphean Life 

Selama 15 tahun, Suffering Quota menjadikan tekanan, kebisingan, dan repetisi sebagai bahasa untuk menggambarkan kehidupan yang terasa seperti hukuman tanpa akhir. Berasal dari skena ekstrem Eropa, band ini dikenal lewat pertunjukan langsung yang brutal, menghantam panggung dengan intensitas hingga atmosfer konser terasa seperti ikut dihancurkan bersama musiknya. Kini Suffering Quota kembali dengan album penuh keempat, " Sisyphean Life " sebuah karya yang menjadikan mitos Sisyphus sebagai metafora utama tentang kehidupan modern: terus mendorong batu ke atas, hanya untuk melihatnya kembali menggelinding ke bawah. Secara musikal, album ini dibangun dari density, repetisi, volume, dan tekanan. Setiap riff terasa seperti beban yang dipaksa menyeret dirinya sendiri mendaki bukit. Lagu-lagunya tidak menawarkan pelepasan yang mudah; ketika sebuah komposisi runtuh, ia tidak benar-benar berakhir, melainkan seperti mengatur ulang siklus untuk kembali menghantam titik tekanan yang sama. Di situlah " Sisyphean Life " menemukan kekuatannya. Suffering Quota tidak mencoba menjadikan penderitaan sebagai drama heroik. Mereka justru membongkar rutinitas yang lebih banal dan mengerikan: hari-hari yang terus berulang, pekerjaan yang menguras, kebosanan, depresi, pencarian kebahagiaan sesaat, lalu kembali ke titik awal. Tidak ada kemenangan. Tidak ada pencerahan mendadak. Tidak ada klimaks yang tiba-tiba mengubah semuanya menjadi lebih baik. Yang tersisa hanyalah dorongan untuk terus berjalan meski mengetahui bahwa jalan tersebut tidak memiliki garis finis. Melalui " Sisyphean Life ", Suffering Quota mengubah kebisingan menjadi cermin. Musik mereka terasa berat bukan semata karena distorsi dan volume, tetapi karena gagasan yang dibawanya begitu dekat dengan realitas: manusia terus bergerak, terus mengejar sedikit kebebasan dan kebahagiaan, sementara kehampaan tetap menunggu di belakang. Sisyphus tidak pernah benar-benar sampai. Begitu pula kehidupan yang digambarkan Suffering Quota batu itu jatuh, hari berganti, dan semuanya dimulai lagi.

18.09 Emma Ruth Rundle - These Killing Times 
18.09 Hansen - Born With A Hammer 
18.09 Villagers Of Ioannina City - Venceremos 
18.09 The Eternal - Obscured Horizons 

18.09 The Bleeding - Godless Communion 

The Bleeding kembali mengibarkan bendera death metal Inggris dengan " Godless Communion ", album yang menjadi salah satu pernyataan paling brutal sekaligus penting dalam perjalanan mereka. Dibentuk di London pada 2010, band ini kini memasuki fase baru setelah menunjuk vokalis death metal Inggris Craig Land sebagai frontman anyar, menggantikan Germ yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu wajah utama The Bleeding. Namun pergantian tersebut tidak berarti memutus masa lalu. Kehadiran Germ masih terasa melalui sejumlah penampilan tamu, membuat Godless Communion terdengar seperti pertemuan dua era: menghormati fondasi lama sembari mendorong The Bleeding menuju wilayah yang semakin gelap dan ganas. Secara musikal, The Bleeding tetap berpijak pada death metal agresif dengan fondasi riff yang berat, aura horor, dan energi thrash yang menyengat. Dari " Rites of Absolution ", " Morbid Prophecy ", hingga " Monokrator " (2023), evolusi mereka menunjukkan konsistensi sebagai salah satu mesin penghancur underground Inggris. Godless Communion kembali menaikkan intensitas tersebut. Craig Land memberikan warna vokal yang lebih mengancam kasar, dominan, dan penuh racun yang menyatu dengan permainan gitar The Bleeding yang barbar tanpa kehilangan karakter death metal klasik. Formula mereka tidak membutuhkan kosmetik berlebihan: riff, distorsi, agresi, dan kebencian menjadi bahan bakar utamanya. Menariknya, album ini juga berfungsi sebagai semacam perayaan terhadap sejarah The Bleeding dan jaringan underground death metal yang membesarkan mereka. Legenda Belanda Adrie Kloosterwaard dari Sinister hadir sebagai vokalis tamu di " Bestial Bloodlust ", sementara Ryan Howes dari Sodomized Cadaver muncul dalam bonus cover " Born in a Casket " milik Cannibal Corpse. Mantan vokalis The Bleeding, Themis K., juga kembali melalui kontribusi vokal pada " Death Eternal ". Dengan demikian, Godless Communion bukan sekadar album transisi. Ia merupakan rekaman yang mempertemukan warisan dan regenerasi dalam satu tubuh yang sama masa lalu masih menggeram, tetapi masa depan terdengar jauh lebih buas. The Bleeding tidak sedang mencari cara untuk menjadi lebih ramah. Mereka justru membuka babak baru dengan mempertebal permusuhan.

18.09 Kissin' Dynamite - Kissin' Dynamite 
18.09 Bees Made Honey In The Vein Tree - In Between Strides 
18.09 Playgrounded - A Flower To Water 
18.09 Nonpoint - The Last Word


18.09 The Noctambulant - Revival
Bagaimana jadinya jika " Red Right Hand ", lagu klasik milik Nick Cave, diseret masuk ke lorong gelap black metal? The Noctambulant punya jawabannya. Unit black metal asal Florida tersebut menghadirkan interpretasi paling berat dari anthem goth rock ini sebagai lagu penutup album mendatang mereka, " Revival ", yang dijadwalkan terbit pada 18 September. Alih-alih sekadar memainkan ulang lagu ikonik tersebut dengan distorsi lebih tebal, The Noctambulant menjadikannya sebagai pernyataan tentang salah satu akar musikal mereka: goth rock, post-punk, dan deathrock. Formula itu bahkan tidak berhenti pada " Red Right Hand ", karena pengaruh tersebut turut menyusup ke keseluruhan materi " Revival ". Menariknya, The Noctambulant tidak membangun musik dari black metal yang semata-mata mengejar kekasaran. Pendekatan mereka cenderung melodic black metal yang relatif bersih, tetapi kemudian diperkaya synthesizer, efek atmosferik, dan tekstur gelap yang memberikan kesan menghantui. Hasil akhirnya berada di wilayah yang aneh namun menarik: dingin dan melodis, tetapi tetap menyimpan agresi khas black metal. " Red Right Hand " akhirnya berfungsi sebagai titik temu paling jelas antara dua dunia tersebut. Struktur dan aura gothic milik Nick Cave dipertahankan sebagai fondasi, lalu The Noctambulant menambahkan lapisan distorsi, atmosfer, serta intensitas black metal hingga lagu tersebut terasa seperti berjalan keluar dari klub goth dan masuk ke sebuah ritual tengah malam. Dengan " Revival ", The Noctambulant tampaknya tidak tertarik memilih antara black metal dan goth. Mereka justru menjadikan keduanya sebagai dua sisi dari atmosfer yang sama muram, teatrikal, misterius, dan sesekali brutal. " Red Right Hand " kali ini bukan sekadar tangan kanan berwarna merah. Ia datang membawa bayangan, kabut, dan suara yang jauh lebih gelap.

18.09 Miasmes - Violence, Blasphème Et Pourriture 
18.09 Submasq - Spirit Animal 
18.09 Game Over - When Darkness Falls 

18.09 Revel In Flesh - Flesh For The Kult Of Death 

Revel In Flesh siap membuka babak baru lewat album terbaru mereka, " Flesh for the Kult of Death ", yang dijadwalkan rilis pada 18 September 2026. Menariknya, fase baru ini justru membawa band kembali ke sumber energi yang membentuk identitas mereka sejak awal: death metal klasik dengan akar kuat pada sound Swedia. Terinspirasi spirit rilisan awal seperti Manifested Darkness dan Death Kult Legions, album ini menjanjikan kombinasi gitar bergerigi, riff berat, melodi muram, serta atmosfer kematian yang pekat. Namun Revel In Flesh tidak sekadar memutar ulang masa lalu. Pengalaman bertahun-tahun mereka diterjemahkan ke dalam songwriting yang lebih matang tanpa mengorbankan agresi mentah era awal. Secara tematis, " Flesh for the Kult of Death " kembali menyelami wilayah kematian, kultus, kehancuran, dan pembusukan tema yang memang menjadi DNA Revel In Flesh. Hasilnya adalah sebuah pernyataan yang terdengar seperti sumpah setia terhadap tradisi death metal: raw, gelap, melodis, dan tanpa kompromi. Bagi pengikut era awal maupun penikmat Swedish death metal klasik, album ini berpotensi menjadi salah satu kembalinya Revel In Flesh yang paling meyakinkan. Bukan nostalgia yang dipoles agar terlihat baru, melainkan sebuah pengingat bahwa riff tua masih mampu menggigit ketika dimainkan dengan keyakinan.

18.09 Blackment - Pandemonium Portrait 
18.09 Taskforce Toxicator - Countdown To Death 
18.09 Uncle Acid & The Deadbeats - Shapes Of Midnight 

18.09 Krallice - Scour Order 

Sejak muncul pada 2007, Krallice perlahan meninggalkan definisi black metal konvensional dan membangun wilayahnya sendiri: panjang, abstrak, eksperimental, progresif, sekaligus sulit ditebak. Berawal dari format dua gitar, proyek yang kemudian berkembang menjadi band penuh ini lebih memilih menghabiskan energi untuk bereksperimen, menyusun komposisi, dan merekam ketimbang mengejar rutinitas tur. Pendekatan tersebut kembali terasa pada " Scour Order ", materi yang mempertemukan intensitas black metal dengan struktur musik yang jauh lebih rumit. Ada bayangan atmosferik dan avant-garde seperti Blut Aus Nord maupun The Ruins of Beverast, tetapi Krallice menambahkan lapisan bass yang aktif, pola drum membingungkan, harmoni gitar yang ganjil, serta perubahan birama yang membuat musik terus bergerak. Menariknya, instrumen tidak selalu tunduk pada formula black metal. Krallice pernah menggeser konfigurasi dua gitar menjadi gitar dan synthesizer, bahkan menghasilkan komposisi yang menempatkan synth sebagai pusat tanpa gitar. Eksperimen tersebut membuat musik mereka terasa sekaligus padat dan luas seolah setiap instrumen memiliki ruang sendiri untuk berbicara, bertabrakan, lalu membentuk struktur baru. " Scour Order " memperlihatkan metode tersebut secara agresif. " Agonal Shining " dibuka dengan riff yang kasar sebelum berkembang menjadi tumpukan harmoni, suara elektronik, dan drum yang semakin kompleks. Blast beat dapat mendadak runtuh menjadi tempo lebih lambat, lalu disusul perubahan birama, bass berliku, dan gitar yang kembali menyusup ke dalam kekacauan. Perubahan ritme menjadi salah satu senjata utama Krallice. Mereka dapat menambahkan ketukan ekstra dalam satu bagian, membangun atmosfer secara perlahan, atau melakukan perubahan mendadak tanpa memberi kesempatan pendengar untuk merasa terlalu nyaman. Anehnya, seluruh ketidakstabilan tersebut justru dipersatukan oleh produksi lo-fi yang sederhana. Di situlah paradoks " Scour Order " bekerja: musiknya semakin kompleks, tetapi presentasinya tetap kasar dan tidak berlebihan. Krallice tidak mencoba membuat eksperimen mereka terdengar aman atau mudah dicerna. Mereka justru mempertahankan rasa tidak pasti sebagai bagian dari identitas. " Scour Order " bukan sekadar black metal yang dibuat lebih rumit. Ini adalah Krallice yang terus menguji seberapa jauh genre tersebut dapat dibengkokkan sebelum akhirnya kehilangan bentuk dan tampaknya mereka belum menemukan batasnya.

18.09 Novae Militiae - Apocryphon Of The Unborn Light 
18.09 Plush - Mass Hysteria
18.09 Timo Rautiainen & Trio Niskalaukaus - Elämän Ja Kuoleman Kysymyksiä
18.09 Ch'ahom - Anthropic Rites Of Sublimation 
18.09 Profeci - Troska 
18.09 Early Moods - Ready For The Grave 
18.09 The Forest Forgets - Godweight 
18.09 Remote Viewing - State Violence 

18.09 Fallen Sanctuary - The Gathering Of Dreams 

Tidak semua pertemuan antarmusisi berakhir sebagai proyek baru. Namun bagi Georg Neuhauser, vokalis Serenity, dan Marco Pastorino, gitaris Temperance, sebuah tur bersama pada 2018 justru menjadi awal lahirnya Fallen Sanctuary. Keduanya segera menemukan kesamaan selera, mulai dari idola musikal hingga cara memandang songwriting. Percakapan panjang di bus tur akhirnya berkembang menjadi gagasan untuk suatu hari membuat album bersama. " Suatu hari " itu akhirnya tiba melalui " Terranova ", debut Fallen Sanctuary yang menghadirkan melodic metal cepat, berlapis, dan penuh energi. Album tersebut diperkuat oleh rhythm section permanen Alfonso Mocerino pada drum dan Gabriele Gozzi pada bass, yang juga diproyeksikan mendampingi Fallen Sanctuary dalam pertunjukan langsung. Secara musikal, Terranova tidak menyembunyikan akar pengaruhnya. Helloween, Angra, dan Rhapsody menjadi referensi penting, tetapi Neuhauser dan Pastorino mencoba menghindari jebakan menjadi sekadar band nostalgia power metal. Mereka memasukkan elemen AOR dan progressive metal ke dalam formula melodic metal, menciptakan materi yang tetap catchy tetapi memiliki ruang untuk berkembang. Single " Broken Dreams " memperlihatkan dinamika tersebut melalui chorus yang mudah melekat, sementara " Terranova " dan " Destiny " membawa kecepatan serta energi yang mengingatkan pada era awal Sonata Arctica dan Edguy. Di sisi lain, " To The Top " memperlihatkan sentuhan yang lebih modern dengan aroma Eclipse dan H.E.A.T., sedangkan “Now And Forever” bergerak lebih progresif. Namun Terranova tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis. Liriknya membawa isu yang lebih serius, mulai dari kecanduan narkoba, kerusakan lingkungan, perang, hingga kekerasan. " Rise Against The World ", " Now And Forever ", dan " No Rebirth " menjadi kritik terhadap kehancuran planet, sementara " To The Top " membawa gagasan tentang dunia tanpa perang dan penderitaan. Di titik ini, Fallen Sanctuary memiliki modal yang cukup lengkap: komposisi melodis, permainan instrumental virtuoso, chorus yang kuat, serta lirik yang tidak sekadar menjadi dekorasi. Dan tampaknya proyek ini memang tidak dirancang sebagai eksperimen sekali jalan. Neuhauser bahkan mengungkapkan bahwa materi untuk album kedua sudah siap direkam. Fallen Sanctuary mungkin lahir dari percakapan di bus tur, tetapi " Terranova " menunjukkan bahwa chemistry mereka jauh lebih besar daripada sekadar kesamaan selera.

18.09 Mourning Wood - Rise & Shine 
18.09 Inner Child - Inner Child


18.09 Coroner - Ex Nucleo (The Remastered Extraction) EP
Legenda technical thrash metal Swiss, Coroner, kembali menggali arsip mereka. Kali ini mereka menghadirkan versi remaster dari " The Favorite Game ", materi dari era pertengahan 1990-an yang kini memperoleh sentuhan sonik baru melalui proses remastering oleh Tony Lindgren, engineer yang juga pernah menangani rilisan dari Sepultura dan Opeth. Bersamaan dengan peluncuran versi terbaru tersebut, Coroner juga merilis video musik baru yang memperkenalkan kembali lagu itu dalam kemasan yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter eksperimental dan teknikal khas mereka. " The Favorite Game " akan menjadi bagian dari EP mendatang berjudul " Ex Nucleo: The Remastered Extraction ", yang dijadwalkan rilis pada 18 September 2026. Proyek ini menjadi kesempatan bagi Coroner untuk mengekstraksi kembali materi lawas mereka dan memberikan kehidupan baru pada rekaman yang menjadi bagian penting dari perjalanan musikal mereka. Bagi Coroner, remaster bukan sekadar memperbesar suara lama. Band ini dikenal karena perpaduan thrash metal, struktur progresif, teknik gitar kompleks, dan atmosfer yang tidak lazim, sehingga material mereka memang memiliki ruang besar untuk kembali dieksplorasi melalui teknologi produksi masa kini. Dengan Ex Nucleo: The Remastered Extraction, masa lalu Coroner kembali masuk ke meja bedah bukan untuk diubah menjadi sesuatu yang asing, tetapi untuk memperlihatkan detail-detail yang mungkin selama ini terkubur di balik produksi zamannya. Coroner menggali arsip. Teknologi memperjelas luka lama. " The Favorite Game " kembali dimainkan dengan suara yang lebih tajam.

22.09 Hail Conjurer - Abyss & Ekstasis
22.09 Sacred Blade - Hammerhead Demoz + Battleaxe Echoez 
23.09 Kongh - Dissolved In Time 
23.09 Test / Goatburner - Goatest [Collaboration] 
23.09 Violet Eternal - Azure Stardust 
24.09 Linkin Park - Unshatter Film Soundtrack - Live In São Paulo

25.09 Europe - Come This Madness

Europe kembali menunjukkan bahwa usia panjang tidak harus berarti hidup dari katalog lama. Band rock Swedia tersebut baru saja merilis " Scandinavian Eyes ", single terbaru sekaligus preview berikutnya dari album studio baru mereka, " Come This Madness ", yang dijadwalkan tiba pada 25 September melalui Silver Lining Music. Dibangun di atas riff yang menghentak, chorus berukuran stadion, serta susunan melodi vokal dan gitar yang berlapis, " Scandinavian Eyes " membawa Europe ke aransemen yang lebih luas tanpa meninggalkan fondasi hard rock melodis yang telah menjadi identitas mereka selama puluhan tahun. Frontman Joey Tempest bahkan menyebutnya sebagai salah satu lagu Europe favoritnya dalam beberapa tahun terakhir. Lagu tersebut hadir bersama performance video garapan Patric Ullaeus, yang memilih menempatkan band sebagai pusat perhatian ketimbang membangun narasi visual yang rumit. Pendekatan ini justru memberi ruang bagi riff, vokal, dan dinamika lagu untuk berbicara sendiri. " Scandinavian Eyes " mengikuti materi yang sebelumnya telah diperkenalkan dari " Come This Madness ", termasuk " One on One ", " The Cult of Ignorance ", dan lagu utama album. Rangkaian single tersebut mulai memperlihatkan karakter rekaman yang bergerak di antara ketegangan, ketidakpastian zaman, serta persoalan personal, tetapi tetap berpijak pada bahasa melodic rock Europe. Proses rekamannya berlangsung di RMV Studio, Stockholm, fasilitas yang didirikan Benny Andersson dan Ludvig Andersson. Europe menggandeng produser Tom Dalgety, yang dikenal melalui pekerjaannya bersama Ghost, Rammstein, Pixies, The Cult, dan Opeth. Setelah sesi rekaman rampung, proses mixing dipercayakan kepada Mike Fraser, sosok di balik sejumlah album dari AC/DC, Metallica, Van Halen, dan The Cult. Album ini juga memiliki koneksi menarik dengan generasi baru rock dan metal Swedia melalui kontribusi backing vocal dari Tobias Forge (Ghost) dan Mikael Åkerfeldt (Opeth). Namun ada paradoks menarik dalam kalender Europe tahun ini. Come This Madness datang hanya beberapa hari sebelum mereka memulai " The Final Countdown 40th Anniversary Tour " pada 30 September di Glasgow. Artinya, Europe tidak sekadar menengok masa lalu ketika merayakan salah satu lagu paling menentukan dalam karier mereka mereka datang dengan materi baru untuk berdiri sejajar dengannya. Empat dekade setelah " The Final Countdown ", Europe masih punya sesuatu untuk dikatakan. Dan " Scandinavian Eyes " terdengar seperti bukti bahwa masa depan mereka belum selesai.

25.09 Metalite - Discovery 
25.09 The Ocean - Solaris 
25.09 Wednesday 13 - Un-Alive At Pol'and'Rock 2025 
25.09 Sicksense - Funerals EP

25.09 Stryper - Throne Of Thorns 

Stryper kembali mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu pionir Christian metal melalui album terbaru, " Throne Of Thorns ", yang dijadwalkan dirilis September melalui Frontiers Records. Setelah puluhan tahun berkarier, band ini masih menunjukkan bahwa usia tidak otomatis mengubah musik menjadi sekadar pajangan nostalgia. " Throne Of Thorns " dibangun di atas kekuatan yang sejak lama menjadi identitas Stryper: riff metal klasik, harmoni gitar yang megah, ritme menghantam, dan chorus antemik yang dirancang untuk diteriakkan bersama. Namun materi baru ini tidak terdengar seperti upaya mengulang masa lalu secara mekanis. Aransemen dibuat lebih luas dan detail, sementara energi serta melodinya tetap dikendalikan dengan disiplin khas mereka. Di pusat semuanya berdiri Michael Sweet. Suara khas sang vokalis masih menjadi senjata utama Stryper tinggi, kuat, emosional, dan langsung dikenali bahkan sebelum lagu berkembang terlalu jauh. Pada " Throne Of Thorns ", Sweet kembali memperlihatkan kemampuan berpindah dari nada-nada tinggi yang heroik menuju ekspresi vokal yang lebih emosional tanpa kehilangan daya hantam. Yang membuat proyek ini menarik adalah bagaimana Stryper mempertahankan identitas sekaligus mencoba memperbarui energinya. Mereka tetap berpijak pada bahasa classic heavy metal, tetapi tidak terdengar terperangkap di dalam museum genre tersebut. " Throne Of Thorns " pada akhirnya hadir sebagai kombinasi antara warisan dan pembaruan: cukup akrab untuk penggemar lama, tetapi tetap memiliki tenaga untuk memperkenalkan Stryper kepada pendengar generasi baru. Empat dekade perjalanan tidak membuat Stryper kehilangan taring. Mereka hanya semakin tahu bagaimana menggunakannya.

25.09 Zealot Cult - Psalms Of Filth 

Delapan tahun setelah " Spiritual Sickness ", kekuatan death metal asal Limerick, Irlandia, Zealot Cult, akhirnya kembali dengan album penuh kedua mereka, " Psalms of Filth ", yang akan dirilis pada 25 September melalui Awakening Records. Kepindahan ini sekaligus membuka babak baru bagi kuartet yang selama bertahun-tahun membangun reputasi sebagai salah satu nama paling konsisten di kancah underground Irlandia. " Spiritual Sickness " memang meninggalkan standar tinggi, sehingga Zealot Cult memilih tidak tergesa-gesa membuat sekuelnya. Materi " Psalms of Filth " mulai ditulis sejak 2020, ketika lockdown Covid-19 dimulai, memberi mereka ruang untuk mengolah sejumlah besar ide hingga akhirnya disaring menjadi delapan lagu yang dianggap paling mewakili wajah terbaru band. Secara musikal, Zealot Cult tetap berdiri di atas fondasi old-school death metal, tetapi album baru ini memperlebar dimensinya. Ledakan blast beat, riff brutal, dan presisi teknikal berjalan berdampingan dengan atmosfer yang lebih gelap, nuansa doom, garis gitar melodis, bagian akustik, dan aransemen yang lebih luas. Mereka tidak sedang membongkar identitas lama, melainkan mempertebalnya. Energi klasik death metal Floridian berpadu dengan atmosfer suram Eropa awal, menghasilkan musik yang terdengar lebih matang tanpa kehilangan sifat ganas yang menjadi ciri Zealot Cult. Artwork kembali dipercayakan kepada seniman Italia Paolo Girardi, yang sebelumnya menangani Spiritual Sickness. Sosok fanatik religius pada sampul " Psalms of Filth " menjadi kelanjutan visual dari album debut seorang " Zealot " yang menyebarkan kematian melalui perang salib spiritual yang telah menyimpang menjadi kegilaan. Sejak terbentuk pada 2008 dari eks-personel The Swarm dan Victim-X, Zealot Cult bergerak konsisten dari demo self-titled yang terjual habis hingga EP Karmenian Crypt dan debut Spiritual Sickness. Mereka juga telah berbagi panggung dengan nama seperti Napalm Death, Possessed, Atheist, dan Pestilence, sekaligus menjadi bagian penting dari Siege of Limerick. Kini, " Psalms of Filth " datang bukan sebagai album yang sekadar memenuhi janji lama. Delapan tahun penantian diterjemahkan menjadi karya yang lebih gelap, lebih dinamis, lebih berat, dan lebih percaya diri. Zealot Cult tidak terburu-buru kembali. Mereka menunggu sampai racunnya benar-benar matang.

25.09 ADX - 13ème Choc 
25.09 Krolok - Hričov - Súľov - Lietava 
25.09 Meurtrier - Messe De Fer 
25.09 Gåte - Sigil 
25.09 Midnight Prey - Jenseitsritt 
25.09 Ludgar - Violent Visions 
25.09 Skumstrike - Flawless Intrigue From Hell 
25.09 Aborym - Metachaos 
25.09 Axetasy - A Paranormal Duet 

25.09 Crown Magnetar - The Hollowing Of Godflesh 

Crown Magnetar siap menggebrak kembali lanskap deathcore brutal dengan album penuh ketiga mereka, " The Hollowing Of Godflesh ", yang akan dirilis pada 25 September 2026 melalui Unique Leader Records. Sebagai pemanasan, unit asal Colorado tersebut telah melepas single " Godkiller ", sebuah serangan tanpa rem yang oleh vokalis Dan Tucker digambarkan layaknya " mengemudikan buldoser ke dalam neraka. " Namun album ini bukan sekadar peningkatan volume. Crown Magnetar sengaja mendorong identitas mereka ke arah yang lebih dekat dengan akar brutal death metal, memadukan kekejaman deathcore dengan keganasan riff yang mengingatkan pada warisan Suffocation dan Dying Fetus. Hasilnya adalah formula yang lebih padat, teknikal, atmosferik, tetapi tetap tidak kehilangan naluri untuk menghancurkan lewat breakdown. " The Hollowing Of Godflesh " juga menandai debut rekaman gitaris baru Rob Maramonte, musisi yang sebelumnya memperkuat The Zenith Passage dan Fallujah, serta pernah tampil live bersama Thy Art Is Murder dan All Shall Perish. Latar belakangnya menghadirkan sentuhan technical death metal yang semakin menajamkan permainan gitar Crown Magnetar. Tucker menyebut album ini sebagai representasi paling lengkap dari band sepanjang karier mereka. Atmosfer diperlebar, momen-momen besar diperkuat, dan agresi didorong lebih jauh tanpa mengorbankan karakter mentah yang menjadi identitas Crown Magnetar. Pengaruh brutal death metal juga semakin terang melalui referensi Tucker terhadap Putridity, Brodequin, dan Defeated Sanity, berdampingan dengan fondasi deathcore dari The Red Shore, I Declare War, serta Thy Art Is Murder. " Godkiller ", " Sculptures Of Suffering ", dan lagu utama album menjadi contoh utama peningkatan intensitas tersebut, sementara " Dead Crown " menutup album dengan salah satu breakdown paling menghantam dalam katalog mereka. Dengan Michael Sahm kembali menangani produksi dan bass, serta drummer Matt Kilner yang dikenal dari Nithing dan Iniquitous Deeds, Crown Magnetar memasuki fase paling agresif dalam perjalanan mereka. Album ini juga datang setelah peningkatan profil mereka melalui tur bersama nama-nama seperti Dying Fetus, Archspire, Chelsea Grin, Aborted, Spite, hingga Lorna Shore. Setelah " The Hollowing Of Godflesh " keluar, mereka akan membawa kekejaman tersebut ke jalan lewat tur co-headlining bersama To The Grave, sebelum melanjutkan perjalanan Eropa bersama Archspire. Crown Magnetar tidak sedang menghidupkan kembali deathcore lama. Mereka sedang mengembalikan bagian “death”-nya ke tempat yang jauh lebih brutal.

25.09 Brat - Manslayer

BRAT kembali dengan wajah yang lebih gelap dan agresif. Unit deathgrind asal Louisiana tersebut akan merilis album penuh kedua mereka, " Manslayer ", pada 25 September 2026 melalui Prosthetic Records. Mengikuti debut " Social Grace " (2024), rilisan baru ini menawarkan 17 lagu yang mengawinkan death metal, grindcore, dan sludge dalam formula yang tetap liar tetapi kini lebih berbahaya. Perubahan paling menarik justru terjadi di balik lirik. Untuk pertama kalinya, vokalis Liz Selfish mengambil alih penulisan lirik secara penuh. Berawal dari satu lagu yang ia tulis untuk album ini, Selfish mengaku segera menemukan kenikmatan dalam proses tersebut hingga akhirnya menyelesaikan seluruh materi lirik " Manslayer ". Langkah tersebut ikut mengubah arah artistik BRAT. Menurut Selfish, band ini ingin mengembangkan konsep " Bimboviolence " dan estetika campy mereka menuju sesuatu yang lebih gelap dan lebih terang-terangan brutal, tanpa membuang unsur kesenangan yang selama ini menjadi ciri khas. Secara tematik, pendekatan baru tersebut juga memberi ruang pada perspektif yang jarang muncul dalam death metal. Selfish tertarik mengeksplorasi aspek storytelling dan tema kekerasan melalui sudut pandang yang berbeda, sekaligus memanfaatkan posisi uniknya sebagai perempuan di ruang ekstrem yang masih sangat didominasi laki-laki. Sebagai pengiring pengumuman album, BRAT telah melepas single terbaru " Manslayer (Hell Hath No Fury) ", yang menjadi gambaran awal tentang arah baru mereka: lebih gelap, lebih ganas, tetapi belum kehilangan karakter nyeleneh yang membuat BRAT menonjol. Dengan " Manslayer ", BRAT tampaknya tidak berniat melakukan perubahan total. Mereka hanya mengambil formula lama, mematikan lampu, lalu menambahkan lebih banyak darah ke dalamnya.

25.09 Cloven Hoof - Never A Prophet In Your Own Land 
25.09 Pure Reason Revolution - Terrifying Angels 
25.09 Apocalypse (UK) - Last Man Standing
25.09 Noctule - Extinguish Thy Flame 
25.09 Night Laser - Rats In The Cradle 
25.09 Watcher - Mistress Of Our Time
25.09 Critical Defiance - Rivers Of Blood 
25.09 Nail By Nail - Internal Inferno 
25.09 Wharflurch - Mycodeath And Rebirth In The Outer Clusters 
25.09 Sons Of Cult - Revenge 
25.09 Flame - Ignis Draconis Daemonicus 
25.09 Theosophy - Line Before The Event Horizon 
25.09 Lacrimas Profundere - Lay Me Down O Silent Fear 
25.09 Windswept - A Sign Of The Cloven Hoof 

25.09 Iskald - Curse Of The Mind 

Veteran melodic black metal Norwegia, Iskald, kembali dengan album penuh keenam mereka, " Curse of the Mind ", yang akan dirilis pada 25 September melalui Dusktone. Setelah " Innhøstinga " (2018), rilisan baru ini sekaligus menjadi tonggak penting karena merupakan album konsep pertama sepanjang perjalanan band. Lebih dari dua dekade berdiri di garis depan black metal melodis Norwegia, Iskald kini tampil sebagai formasi lima personel dan memperluas karakter suara utara mereka ke wilayah yang lebih atmosferik, ambisius, dan imersif. Album ini direkam pada musim panas 2025 di Strand Studio, Beiarn, kemudian dimixing dan dimaster oleh Hallstein Sandvin, dengan artwork ditangani SG7 Graphics. " Curse of the Mind " dibangun sebagai perjalanan konseptual melalui empat bab yang saling terhubung, dipertautkan oleh invokasi ritualistik yang membawa pendengar ke sebuah dunia terinspirasi mitologi Norse. Namun di balik bingkai Helheim tersebut, Iskald justru membidik sesuatu yang jauh lebih dekat: pikiran manusia dan perang melawan kegelapan di dalam diri sendiri. Tema album bergerak dari siksaan psikologis, konflik batin, harapan yang rapuh, hingga pengorbanan terakhir. Helheim dalam narasi Iskald bukan sekadar alam kematian, melainkan metafora bagi kondisi mental ketika seseorang terperangkap di dalam kegelapannya sendiri. Dengan pendekatan tersebut, " Curse of the Mind " berpotensi menjadi salah satu karya paling ekspansif Iskald tetap berakar pada melodic black metal Norwegia, tetapi kini dibingkai oleh narasi yang membuat setiap bagian musik terasa seperti potongan dari satu perjalanan yang sama. Di Iskald, neraka bukan tempat yang harus dicari. Ia berada di dalam kepala dan medan perangnya adalah pikiran itu sendiri.

25.09 Forsaken Eternity - Shades Of Existence EP

Empat tahun setelah " A Kingdom of Ice ", Forsaken Eternity kembali membuka gerbang menuju dunia dingin tempat symphonic metal, melodic black/death metal, dan presisi teknikal bertabrakan dalam atmosfer fantasi yang membeku. Kali ini mereka menghadirkan EP baru berjudul “Shades of Existence”, sebuah rilisan ringkas berisi empat lagu yang mempertahankan kecenderungan atmosferik dan simfonik mereka, tetapi dikemas jauh lebih padat dan agresif. Pembuka " Adrift in a Twisted Ethereal " langsung menarik pelatuk. Riff dan drum bergerak dalam satu hentakan, cepat dan rapat, sementara elemen simfoni ditempatkan sebagai lapisan atmosfer, bukan penguasa komposisi. Efeknya seperti sumbu pendek: terbakar cepat, tetapi meninggalkan ledakan yang sulit diabaikan. " Whispers from the Moon " sedikit menurunkan tempo, meski hanya untuk memberi paru-paru kesempatan bekerja. Presisi teknikal tetap menjadi pusat perhatian, terutama permainan drum yang melesat pada kecepatan nyaris tidak masuk akal sebelum memberi ruang singkat untuk bernapas. Pada " Celestial Witch ", Forsaken Eternity kembali menyerang melalui riff kompleks dan drum berkecepatan tinggi. Vokal yang kasar dan menggores mempertebal sisi gelap lagu, sementara instrumen orkestra tetap muncul secara proporsional—cukup jelas untuk memperkaya atmosfer tanpa menenggelamkan agresi gitar. Kemudian hadir lagu penutup sekaligus title track, " Shades of Existence ". Nuansanya terasa lebih luas dan kontemplatif, seperti menatap langit malam yang begitu penuh bintang hingga sulit dihitung. Bagian spoken word memberikan kesan profetik sekaligus mengancam, meninggalkan pesan bahwa cerita yang dibangun Forsaken Eternity belum menemukan titik akhir. Hanya empat lagu, tetapi " Shades of Existence " tidak memberi banyak kesempatan untuk bersantai. EP ini bergerak lurus dari awal hingga akhir dengan intensitas yang nyaris tidak pernah dilepaskan. Setiap komposisi dirancang sebagai serangan singkat namun penuh muatan, memperlihatkan kemampuan teknis band tanpa membiarkan teknik itu berubah menjadi sekadar pamer kemampuan. Forsaken Eternity tidak memperpanjang cerita. Mereka memadatkannya menjadi empat ledakan cepat, dingin, megah, dan brutal.

25.09 Victims Of Contagion - Egregore 

Victims of Contagion siap kembali menghantam underground technical death metal lewat album terbaru, " Egregore ". Berasal dari Pittsburgh, Pennsylvania, band yang terbentuk pada 2007 ini membawa formula mereka ke tingkat yang lebih ekstrem melalui kombinasi aransemen neoklasikal berkecepatan tinggi, struktur progresif, poliritmik kompleks, dan agresi old-school death metal. Setelah bertahun-tahun mengasah kemampuan di jalur tur underground dan merilis sejumlah demo secara independen, Victims of Contagion akhirnya memperkenalkan EP " Parasitic Unborn " pada 2014, disusul album penuh perdana " Lamentations of the Flesh Bound " pada 2019. " Egregore " kini menjadi langkah berikutnya dalam evolusi mereka. Materi baru ini dibangun dengan tempo hiper-akselerasi, blackened tremolo, atmosfer megah, serta groove yang menghantam keras. Alih-alih memilih antara teknik dan kebrutalan, Victims of Contagion justru menabrakkan keduanya dalam satu konstruksi yang padat dan penuh detail. Setiap riff terasa dirancang untuk menguji batas ketepatan permainan, sementara perubahan ritme dan poliritme membuat komposisi terus bergerak tanpa kehilangan daya hancur. Sentuhan atmosferik memberi ruang pada musik untuk berkembang sebelum kembali terjun ke bagian yang lebih brutal. Yang menonjol dari " Egregore " adalah perhatian ekstrem terhadap detail. Setiap nada, permainan instrumen, hingga proses rekaman dikerjakan dengan presisi tinggi, tetapi tidak menghilangkan sisi gelap dan liar yang menjadi fondasi musik mereka. Victims of Contagion  tidak sekadar membuat TDM lebih cepat. Mereka sedang merancang ulang bagaimana presisi, atmosfer, dan kekejaman dapat hidup dalam satu tubuh.

25.09 Till Lindemann - Live In Kraków 
25.09 Tombstalker - Chaos Monolith 

25.09 Autumnfall - The Archaic Sins 

Autumnfall kembali membuka lemari arsip masa lalu. Dibentuk di Finlandia pada 2019 oleh Jussi Hänninen, sosok yang dikenal sebagai penulis lagu utama Fall of the Leafe pada periode 1996–2007, proyek ini sejak awal menjadi wadah untuk menghidupkan kembali sensibilitas musikal era awal band tersebut dengan bentuk yang lebih segar. Bersama vokalis Tero Ruohonen, Hänninen melanjutkan perjalanan itu melalui rangkaian rilisan seperti Ghosts of Light (2021), Bleak (2022), dan The Archaic Shadows (2024). Kini hadir " The Archaic Sins ", album yang justru menoleh lebih jauh ke belakang: hanya satu lagu yang benar-benar baru, sementara sebagian besar materinya berasal dari komposisi yang ditulis antara 1998 hingga 2001. Namun ini bukan sekadar proyek nostalgia. Lagu-lagu lama tersebut mendapatkan aransemen, permainan, dan bentuk produksi baru, membuat material berusia lebih dari dua dekade terdengar seolah memang ditulis untuk zaman sekarang. Secara musikal, Autumnfall menawarkan melodic black metal yang mengutamakan aliran melodi, atmosfer, dan keseimbangan komposisi ketimbang aksi demonstratif. Gitar dan ritme saling mengunci secara natural, sementara perubahan nuansa bergerak dari rasa takjub menuju kepahitan tanpa merusak alur. Kekuatan " The Archaic Sins " justru terletak pada kedewasaan penulisannya. Struktur ritme dibuat cukup kokoh untuk menopang komposisi, tetapi tetap memberi ruang bagi melodi untuk bernapas dan berkembang secara organik. Tidak ada kebutuhan untuk memaksakan klimaks besar; Autumnfall tahu bahwa sebuah ide yang bagus terkadang justru lebih kuat ketika dibiarkan berbicara sendiri. Album ini akhirnya menjadi semacam pertemuan antara masa lalu dan masa kini musik yang lahir dari era berbeda, tetapi tidak terdengar seperti artefak yang dipaksa hidup kembali. Autumnfall tidak menjual nostalgia. Mereka membuktikan bahwa lagu lama bisa kembali bernyawa ketika disentuh oleh pengalaman yang cukup panjang untuk memahami kapan harus bermain dan kapan harus diam.
 

25.09 Godflesh - Decay 

Setelah hampir empat dekade menghantam fondasi musik ekstrem, Godflesh memasuki babak terakhir. Duo Justin Broadrick dan Ben Green akan merilis album penuh kesepuluh sekaligus album kedua dari terakhir, " Decay ", pada 25 September 2026 melalui Relapse Records. Bagi Broadrick, musik pada dasarnya tidak pernah benar-benar selesai. Namun ada satu titik ketika seorang musisi harus berhenti, menerima bahwa sebuah gagasan telah mencapai bentuk akhirnya, lalu membiarkannya pergi. Ironisnya, prinsip tersebut kini terasa seperti metafora paling tepat untuk Godflesh sendiri. Sejak lahir pada 1988, Godflesh tidak sekadar ikut membentuk extreme metal mereka merusak cetak birunya. " Streetcleaner " datang seperti asteroid yang menghantam lanskap heavy music, membuka jalan bagi industrial metal dan berbagai bentuk musik ekstrem yang kemudian belajar bagaimana memanfaatkan riff, mesin drum, sampling, serta repetisi sebagai alat untuk menciptakan tekanan psikologis. Dari " Pure ", " Hymns ", hingga EP seperti " Slavestate " dan " Messiah ", Godflesh membangun bahasa yang sangat personal: mekanis, dingin, repetitif, namun memiliki bobot filosofis dan emosional yang nyaris fisik. Bahkan ketika band berhenti selama sembilan tahun, ketiadaan tersebut tidak menghapus pengaruhnya. Kembalinya mereka melalui Decline & Fall, kemudian " A World Lit Only By Fire " dan " Post Self ", justru membuktikan bahwa suara Godflesh masih mampu terdengar seperti ancaman. " Decay " lahir dari sumber yang sama dengan " Purge ". Menurut Broadrick, kedua album tersebut awalnya berasal dari satu kumpulan besar lagu sebelum dipisahkan menjadi dua karya berbeda. Materi yang tersisa kemudian dikembangkan kembali, mengalami perubahan aransemen, dan akhirnya menemukan rumah baru di Relapse. Hasilnya dijanjikan sebagai Godflesh yang semakin kelam, keras, dan tanpa kompromi. Enam lagu dalam Decay membawa kembali formula khas mereka dentuman industrial, gitar berat, repetisi hipnotik, dan vokal yang terdengar seperti ekspresi langsung dari rasa sakit tetapi kini dengan kesadaran bahwa waktu mereka sebagai Godflesh aktif sedang mendekati garis akhir. Ada ironi lain yang sulit diabaikan. Awal tahun ini Broadrick menjalani operasi besar akibat masalah hernia yang diperparah selama bertahun-tahun oleh aktivitas vokalnya dan penampilan Godflesh. Sebagian proses mixing album bahkan berlangsung ketika tubuhnya masih dalam masa pemulihan. Bagi Broadrick, sakit fisik tersebut terasa seperti perpanjangan dari bahasa yang selama ini digunakan Godflesh untuk mengekspresikan penderitaan mental, filosofis, dan eksistensial. Namun kali ini tubuh akhirnya memberikan batas yang tidak bisa dinegosiasikan. Dan mungkin memang di situlah Decay mendapatkan maknanya yang paling kuat. Godflesh tidak bubar karena kehilangan ide. Mereka berhenti karena sebuah tubuh akhirnya menuntut batas, sementara Broadrick sendiri ingin membawa heavy music-nya menuju wilayah baru. " Decay " bukan sekadar suara kehancuran. Ia adalah suara sebuah era yang perlahan membusuk, mengetahui bahwa akhirnya telah tiba dan justru karena itu memilih meninggalkan luka terakhir yang paling dalam.

25.09 Girlschool - Nothin' To Lose In Reading 1981 
25.09 Hænesy - Esentia     

25.09 Nuclearhammer - XAOS 333 EP


Trio bestial black metal asal Toronto, Nuclearhammer, kembali menggali sisi paling liar dari katalog mereka melalui EP terbaru, " XAOS 333 ", yang akan dirilis pada 25 September 2026 lewat Iron Bonehead Productions. Berisi tiga lagu dengan durasi sekitar 17 menit, rilisan ini akan tersedia dalam format CD dan vinyl 12 inci. Menariknya, materi " XAOS 333 " sebenarnya telah direkam pada 2018, menjadikannya rekaman terbaru Nuclearhammer yang akhirnya muncul setelah demo " Xaos Tenewas - Demo MMXXIII " pada 2023. Sebagai pembuka, lagu " Sabbatic Wine & the Devil’s Graal " kini telah tersedia untuk diperdengarkan. Selama lebih dari dua dekade, Nuclearhammer konsisten mengolah bestial black metal sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kekerasan sonik. Agresi berulang, atmosfer ritual, dan repetisi hipnotik menjadi perangkat utama untuk menciptakan musik yang terasa seperti serangan sekaligus transisi menuju kondisi kesadaran lain. Pada " XAOS 333 ", karakter tersebut kembali dipertajam. Unsur power electronics yang sempat menonjol dalam " Serpentine Hermetic Lucifer " (2014) kini lebih terkikis, tetapi keganjilan dan kemampuan band untuk mengubah persepsi pendengar tetap utuh. Sepanjang EP, black metal brutal bertemu pulsa bergema, tekstur gitar yang dipanjangkan, serta bagian-bagian atmosferik yang nyaris etereal. Suara tidak sekadar datang dan pergi; ia seperti larut, membusuk, kemudian dibentuk kembali menjadi sesuatu yang asing. Reverb memainkan peranan besar dalam konstruksi tersebut. Ia bukan dekorasi untuk membuat musik terdengar besar, melainkan bagian aktif dari komposisi memperluas serangan mentah trio menjadi ruang sonik yang terasa seperti sebuah kamar ritual tanpa dinding. Struktur singkat rilisan ini juga tidak mengurangi ambisinya. Setelah hantaman awal " Sabbatic Wine & the Devil’s Graal ", Nuclearhammer membawa pendengar menuju pusat EP melalui hampir sepuluh menit " Mother of Poisons ", sebelum mengakhirinya dengan " Vocus Magicae ". " XAOS 333 " pada akhirnya terasa seperti konsentrat dari seluruh kegilaan Nuclearhammer: keras, repetitif, mistikal, membingungkan, dan sengaja tidak nyaman. Hanya 17 menit, tetapi cukup lama untuk membuat kekacauan terdengar seperti sebuah ritual.

25.09 Death. Void. Terror. - To The Great Monolith III: Rifts
25.09 Bloodmother - Militant Black Magic 
25.09 Maple Cross - Prospectus Mund 
25.09 Sadism - From The Perpetual Demos 
25.09 Lunage - Time Of Sword And Sorcery Part I 
25.09 Rorcal - Mahre 
25.09 Spiders - Crystal Eyes 
26.09 Nordicwinter - A Hopeless Dawn 
26.09 Joe Hasselvander - Armor Plating 
28.09 Eternal (GRE) - Conspiracy Of Warhead 
28.09 Tårfödd - En Känsla Av Hopplöshet
30.09 Methane - Demolate

Posting Komentar

0 Komentar