ALBUM ' PANAS ' SIAP RILIS DIBULAN OKTOBER 2026
Oktober 2026 datang bukan dengan satu-dua rilisan penting, tetapi membawa segerobak materi baru yang berpotensi membuat dompet kolektor kembali menipis. Kalender rilisan bulan ini dipenuhi album, reissue, edisi terbatas, hingga sejumlah nama yang sudah lama menjadi incaran para pemburu musik ekstrem. Seperti biasa, sejumlah rilisan dari label-label favorit telah masuk daftar dan siap menjadi perhatian. Tidak semuanya akan dibedah secara detail di sini bukan karena tidak penting, melainkan karena derasnya arus informasi membuat tidak mungkin setiap judul dicatat dengan kedalaman yang sama. Informasi, seperti ingatan manusia, punya batas; sementara industri musik terus memproduksi tanpa mengenal rem. Bagi kolektor, persoalannya tentu bukan sekadar “apa yang baru?”, tetapi juga mana yang harus diamankan lebih dahulu. Edisi vinyl terbatas, pressing khusus, reissue album klasik, sampai rilisan debut band baru dapat muncul dalam rentang waktu yang berdekatan. Menunda terlalu lama kadang berarti harus berburu kembali dengan harga yang jauh lebih tidak bersahabat. Oktober juga menjadi pengingat bahwa budaya mengoleksi musik tidak berhenti pada algoritma streaming dan tombol play. Ada sejarah, artwork, format fisik, label, tahun produksi, hingga cerita di balik sebuah rekaman yang membuat sebuah rilisan memiliki nilai lebih dari sekadar isi audio. Karena itu, jangan hanya membaca daftar rilisan lalu melupakannya. Catat judul, band, label, format, dan tanggal rilis yang menurut Anda penting. Gunakan daftar ini sebagai semacam peta sebelum masuk lebih jauh ke lubang hitam bernama record collecting dan tentu saja, tidak semua rilisan harus dibeli. Kolektor yang waras tetap membutuhkan prioritas karena Oktober hanya berlangsung satu bulan, tetapi tagihan kartu kredit bisa tinggal lebih lama. Selamat berburu. Dompet boleh menjerit, tetapi arsip harus tetap hidup.
_________________________________________________________________________________________________________________________
01.10 Asomvel - Set The World On Fire
01.10 Sorcery - The Immaculate Sin
Sorcery Rayakan 40 Tahun dengan " The Immaculate Sin ", Tetap Setia pada Akar Swedish Death Metal, Empat dekade setelah dibentuk di Sandviken, Swedia, Sorcery memasuki usia ke-40 dengan merilis album studio kelima mereka, " The Immaculate Sin ". Dibentuk pada 1986, band ini merupakan salah satu nama awal yang ikut membangun fondasi generasi pertama Swedish Death Metal jauh sebelum istilah tersebut berubah menjadi formula yang berulang di tangan banyak band setelahnya. " The Immaculate Sin " berisi sepuluh komposisi dengan durasi sekitar 46 menit. Materinya mempertahankan karakter Sorcery yang gelap, agresif dan langsung menghantam, dengan produksi yang terdengar kuat namun tetap menyisakan karakter organik permainan band. Secara musikal, Sorcery tidak mencoba memperumit Death Metal mereka secara artifisial. Riff tajam dan berat menjadi tulang punggung, diselingi ledakan tempo cepat, blast beat, bagian mid-tempo yang menghukum, serta melodi gelap yang menjaga atmosfer tetap hidup. Dua gitar, Paul Johansson dan Johan Vikholm, bergerak antara riffing abrasif dan melodi khas Swedia tanpa terlalu bergantung pada klise yang sudah berkali-kali digunakan dalam genre tersebut. Vokal Ola Malmström, salah satu personel pendiri, menjadi elemen penting yang mempertahankan identitas Sorcery. Karakter suaranya memberi tekstur tersendiri pada materi, sementara fondasi ritmis Mikael Carlsson pada bass dan Tommy Holmer di belakang drum membuat keseluruhan album tetap terasa padat dan beringas. Formasi Sorcery saat ini menampilkan dua anggota pendiri, Malmström dan Johansson, bersama Vikholm, Carlsson dan Holmer. Kehadiran mereka menegaskan bahwa " The Immaculate Sin " bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan kelanjutan dari bahasa musikal yang telah mereka bangun selama empat dekade. Yang menarik, Sorcery tidak terdengar seperti band yang sedang berusaha membuktikan bahwa mereka masih relevan. Mereka hanya memainkan Death Metal sebagaimana yang mereka pahami sejak awal: gelap, kasar, agresif dan tanpa banyak basa-basi. Di tengah genre yang semakin sering terjebak dalam reproduksi nostalgia, The Immaculate Sin justru menunjukkan bahwa mempertahankan identitas bisa lebih berarti daripada mengejar tren. Dengan akar yang beririsan dengan tradisi Dismember, Unleashed, Entombed, Centinex, Nominon dan Epitaph, album ini ditujukan bagi pendengar yang mencari Swedish Death Metal dengan karakter klasik tetapi tidak sekadar menjadi salinan masa lalu. 40 tahun berlalu, Sorcery masih membawa suara yang sama-sama tua dan berbahaya. " The Immaculate Sin " adalah bukti bahwa waktu dapat mengubah banyak hal tetapi tidak selalu berhasil mengikis dosa lama.
02.10 Souls Of Diotima - Arcade
Souls of Diotima memasuki babak baru dalam perjalanan mereka. Band metal asal Italia yang dikenal dengan konsep “Scenematic Exhilaration Metal™” tersebut akan memperkenalkan arah musikal terbaru melalui single " Run Away ", yang dijadwalkan rilis pada Jumat, 5 Juni 2026. " Run Away " menjadi materi pembuka menuju album studio kelima mereka, Arcade, yang akan dirilis secara global pada 2 Oktober 2026 melalui Diotima Records. Band menyebut album ini sebagai awal dari sebuah " era baru ", sekaligus menandai perubahan arah yang telah mereka kembangkan dan sempurnakan selama beberapa bulan terakhir. Alih-alih mengungkap seluruh konsep musikal Arcade sejak awal, Souls of Diotima memilih menyimpan sebagian besar detail transformasi tersebut hingga musiknya berbicara sendiri. Pendekatan ini membuat " Run Away " berfungsi bukan sekadar sebagai single baru, tetapi sebagai pintu masuk menuju identitas baru yang sedang mereka bangun. Untuk merealisasikan visi tersebut, proses produksi album dilakukan di Studio Bohus, Kungälv, Swedia, salah satu studio legendaris yang memiliki sejarah panjang dalam produksi musik. Arcade sepenuhnya diproduksi oleh Oscar Nilsson, Thomas " Plec " Johansson, dan Mikko Viitala. Selain musik, Souls of Diotima juga menyiapkan identitas visual baru untuk Arcade. Artwork sampul digarap oleh Rhett Pader dan diperkenalkan bersamaan dengan pengungkapan daftar lagu album. Setelah empat album studio, Arcade menjadi titik penting bagi Souls of Diotima untuk memperluas batas musikal mereka. Namun seberapa jauh perubahan tersebut bergerak masih sengaja dirahasiakan. Jawabannya akan mulai terbuka ketika " Run Away " menjadi sound pertama dari era baru tersebut.
02.10 Zornheym - Descending Into Madness
Sweden Symphonic/Melodic Black/Death Metal, Zornheim kembali membuka pintu menuju dunia gelap Zornheim Asylum melalui " The Funeral March ", single ketiga dari album studio terbaru mereka, Descending Into Madness. Album tersebut dijadwalkan terbit pada 2 Oktober 2026 melalui Noble Demon. Mengambil inspirasi dari komposisi klasik Frédéric Chopin, " Funeral March ", Zornheym mengolah atmosfer pemakaman tersebut ke dalam bahasa symphonic extreme metal mereka. Riff berat, orkestrasi sinematik, paduan suara, serta sentuhan folk Skandinavia berpadu membentuk salah satu bagian paling dramatis dalam album ini. Secara naratif, lagu ini menempati posisi penting dalam kisah Dr. Bettelheim. Paduan suara digambarkan sebagai para pelayat dan pembawa peti mati yang mengiringi perjalanan terakhir istri sang dokter. Kematian tersebut menjadi titik balik ketika kesedihan, rasa bersalah, dan keputusasaan mulai mengambil alih dirinya, mendorongnya semakin jauh ke dalam kegilaan. " Descending Into Madness " melanjutkan tradisi Zornheym dalam membangun album sebagai bagian dari satu semesta cerita, bukan sekadar kumpulan lagu. Album ini memuat sepuluh lagu utama, dengan versi CD menambahkan "The Foreboding " dan " None for All " sebagai bonus. " The Funeral March " sendiri tercatat sebagai trek kedelapan dengan durasi sekitar empat menit. Konsep tersebut berakar sejak album debut " Where Hatred Dwells and Darkness Reigns " (2017), kemudian diperluas melalui " The Zornheim Sleep Experiment " (2021) dan EP akustik " The Forgotten Inmates " (2023). Di tangan Zornheym, rumah sakit jiwa fiktif itu bukan sekadar latar belakang, melainkan ruang naratif yang terus berkembang dari satu rilisan ke rilisan berikutnya. Didirikan di Stockholm oleh multi-instrumentalis dan penulis lagu Zorn, yang sebelumnya dikenal melalui Dark Funeral, Zornheym sejak awal membangun identitas melalui perpaduan musik ekstrem, orkestrasi dan storytelling visual. Descending Into Madness menjadi kelanjutan berikutnya dari eksperimen tersebut dan " The Funeral March " memperlihatkan bahwa di dunia Zornheim, kematian bukanlah akhir cerita. Ia justru pintu masuk menuju kegilaan.
02.10 Crystal Throne - Chantry Of Sacrifice
02.10 Frozen Crown - The Legend Of The Six Kings
02.10 Dragonfly - Laberinto
02.10 Catalyst Crime - Acquired Immunity
Band cinematic symphonic metal Catalyst Crime memasuki fase baru melalui single terbaru, “Acquired Immunity”, yang kini tersedia di berbagai platform digital melalui Massacre Records. Bersamaan dengan perilisan tersebut, band mengumumkan bahwa album terbaru mereka akan dirilis pada 2 Oktober 2026. “Acquired Immunity” memperlihatkan sisi Catalyst Crime yang lebih agresif dan berani mengeksplorasi batas genre dibandingkan single sebelumnya, “Cursebreaker”. Jika lagu terdahulu dibangun dari narasi personal yang terinspirasi kisah nyata seorang pejuang perlawanan di balik Tirai Besi, materi terbaru ini bergerak ke wilayah melodic death metal, symphonic metal, dan progressive metal dengan pendekatan yang lebih kompleks. Komposisinya dibangun melalui kolaborasi gitaris Kaelen Sarakinis dan keyboardis sekaligus komposer Jonah Weingarten. Bagian verse mengandalkan dorongan melodic death metal yang lebih keras, kemudian diperluas melalui orkestrasi sinematik dan vokal bernada tinggi dari Zoe Marie Federoff. Dimensi instrumental lagu semakin menonjol melalui kontribusi solo gitar dari Marek “Ashok” Šmerda, mantan gitaris Cradle of Filth, yang memberikan klimaks lebih megah pada komposisi tersebut. Federoff menyebut “Acquired Immunity” sebagai titik penting dalam perkembangan musikal Catalyst Crime. Lagu ini, menurutnya, mendorong band menuju struktur yang lebih kompleks tanpa meninggalkan karakter sinematik yang sejak awal menjadi fondasi mereka. Catalyst Crime dibentuk pada 2017 sebagai proyek antara drummer Gerit Lamm dari Xandria dan vokalis Amerika Zoe Marie Federoff. Formasi kemudian berkembang dengan bergabungnya Weingarten, gitaris Chena Roxx dan Sarakinis, serta bassist Matt Federoff. Mereka mengembangkan perpaduan antara orkestrasi symphonic metal, intensitas death metal dan eksplorasi progressive metal. Perjalanan tersebut mendapat dukungan penting dari produser Alexander Krull dikenal melalui pekerjaannya bersama Leaves’ Eyes dan Atrocity yang bergabung setelah mendengar materi Catalyst Crime. Proses rekaman berlangsung di Mastersound Studios, Stuttgart, Jerman, studio yang kembali digunakan ketika band mengerjakan album kedua mereka pada 2023. Album debut Catalyst Crime dirilis pada Oktober 2021 dan mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Setelah sempat mengalami penundaan, album kedua akhirnya memiliki jadwal resmi: 2 Oktober 2026. Dengan “Acquired Immunity”, Catalyst Crime memberikan sinyal bahwa album berikutnya tidak sekadar meneruskan formula debut. Mereka justru memperlebar spektrum suara lebih berat, lebih kompleks, dan tetap mempertahankan ambisi sinematik yang menjadi identitas utama band.
02.10 Xasthur - Open To Misinterpretation
02.10 Brymir - What We Leave Behind
02.10 Valley Of The Sun - The Blacklight Sessions
02.10 To The Grave - Liberation Front
To The Grave kembali mengibarkan bendera ekstremitas melalui " Liberation Front ", rilisan yang menegaskan kembali karakter brutal band deathcore asal Sydney, Australia tersebut. Alih-alih mengejar pendekatan yang lebih mudah dicerna, kuintet ini justru memperkeras formula mereka dengan deathcore yang gelap, sesak dan agresif. Sejak pembuka “Meat the Humans”, " Liberation Front " langsung menyerang melalui rangkaian breakdown berat, riff bernuansa death metal dan vokal yang terdengar seperti luapan amarah tanpa rem. Jika sejumlah rilisan sebelumnya lebih banyak memasukkan elemen hardcore, album ini kembali mengarahkan To The Grave pada sisi deathcore mereka yang paling ekstrem. Single “Eyestalk Ablations” menjadi salah satu representasi paling keras dari pendekatan tersebut. Lagu ini tidak hanya mengandalkan intensitas musikal, tetapi juga membawa tema yang menjadi bagian penting dari identitas To The Grave: kritik terhadap kekejaman terhadap hewan dan kerusakan lingkungan. Video musiknya turut menerjemahkan pendekatan tersebut melalui visual yang sengaja dibuat mengganggu dan konfrontatif. Bagi To The Grave, ekstremitas bukan sekadar persoalan seberapa berat breakdown dapat dihantam. Musik mereka digunakan sebagai medium untuk menyampaikan pandangan tentang isu yang mereka anggap mendesak. Posisi tersebut membuat Liberation Front berfungsi sekaligus sebagai album deathcore dan pernyataan ideologis yang menempatkan veganisme, hak hewan, serta persoalan lingkungan di pusat narasinya. Selama hampir 15 tahun, To The Grave telah berkembang menjadi salah satu nama yang menonjol dalam gelombang deathcore ekstrem Australia. Mereka pernah berbagi panggung dengan Thy Art Is Murder serta tampil bersama nama internasional seperti Lorna Shore, sekaligus membangun basis pendengar melalui tur di Eropa dan Amerika Utara. Pada musim gugur 2026, To The Grave kembali membawa materi mereka ke Amerika Utara dan Eropa dalam rangkaian tur bersama Crown Magnetar. " Liberation Front " pada akhirnya bukan musik yang dirancang untuk menjadi nyaman. To The Grave memilih jalur yang lebih kasar: deathcore sebagai alat untuk menggedor, mengganggu, sekaligus memaksa pendengar berhadapan dengan persoalan yang mereka anggap nyata. Brutal secara musikal, konfrontatif secara lirik, dan sengaja tidak menawarkan jalan keluar yang mudah.
02.10 Miss May I - No Place For Me
Miss May I memasuki fase baru dalam perjalanan mereka dengan merilis “Sanctuary”, single terbaru yang menjadi pembuka menuju album studio " No Place For Me ". Album tersebut dijadwalkan dirilis pada 2 Oktober 2026 melalui Solid State Records. “Sanctuary” membawa tema yang sangat personal. Vokalis Levi Benton menggambarkan lagu tersebut sebagai refleksi tentang keinginan untuk merasa aman, sekaligus menyadari bahwa dirinya sendiri justru menjadi penghalang untuk mencapai kondisi tersebut. Tema introspektif ini menjadi bagian dari pendekatan lirik yang lebih terbuka dalam album mendatang. Materi " No Place For Me " lahir melalui proses panjang sekitar dua tahun. Penundaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jadwal para personel, tetapi juga perubahan besar dalam formasi dan proses kreatif band. Setelah gitaris pendiri B.J. Stead dan Justin Aufdemkampe meninggalkan Miss May I pada 2024, posisi gitar kemudian diisi Elisha Mullins, yang sebelumnya telah bekerja sebagai pengisi sementara sebelum menjadi anggota tetap. Perubahan tersebut turut memengaruhi cara Miss May I menulis musik. Tanpa dua gitaris pendiri yang selama bertahun-tahun menjadi penggerak utama komposisi, band harus membangun kembali metode penulisan mereka bersama Mullins. Benton sebelumnya menjelaskan bahwa proses tersebut sempat membuat mereka kehilangan arah, tetapi akhirnya membuka kemungkinan baru, termasuk penggunaan soundscape dan tekstur elektronik yang sebelumnya tidak menjadi bagian signifikan dari karakter Miss May I. Formasi Miss May I saat ini terdiri dari Levi Benton (vokal), Jerod Boyd (drum), Ryan Neff (bass) dan Elisha Mullins (gitar). Perubahan tersebut membuat " No Place For Me " menjadi album pertama mereka yang sepenuhnya lahir dari konfigurasi empat personel ini. Album ini juga meneruskan rangkaian single yang telah diperkenalkan sepanjang 2026, termasuk “Hand Me A Halo”, “Death Threat” dan “Highbrow Thieves”. “Highbrow Thieves”, misalnya, mengangkat persoalan hilangnya waktu akibat tekanan dan tuntutan kehidupan, memperlihatkan konsistensi album dalam mengeksplorasi konflik internal. Bagi Miss May I, " No Place For Me " bukan sekadar kelanjutan " Curse Of Existence " (2022). Album ini menjadi dokumentasi dari sebuah periode transisi ketika formasi berubah, metode penulisan harus dibangun ulang, dan pengalaman personal para personel diterjemahkan menjadi materi metalcore yang lebih eksperimental. Dengan sepuluh lagu, termasuk “Sanctuary”, “Pray For Silence”, “Death Threat”, “Bury Me Down” dan “Highbrow Thieves”, " No Place For Me " akan menjadi rilisan penting berikutnya dalam katalog Miss May I. Setelah hampir dua dekade membangun identitas melalui riff berat, groove hardcore dan melodi yang mudah dikenali, Miss May I kini menghadapi tantangan berbeda: mempertahankan DNA lama tanpa terus hidup di dalam bayang-bayang formasi yang telah membentuk sebagian besar sejarah mereka.
02.10 Razorvoid - Into The Void
02.10 Firtan - Helios
02.10 Servant - Lux Ex Inferis
02.10 Amon Amarth - The Allfather Awakens
Amon Amarth akan merilis album studio ke-13 mereka, " The Allfather Awakens ", pada 2 Oktober 2026 melalui Metal Blade Records. Album ini kembali mengambil inspirasi dari Oden, figur sentral dalam mitologi Nordik yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari identitas lirik dan visual band asal Swedia tersebut. Namun, Johan Hegg menegaskan bahwa album ini bukan concept album, melainkan kumpulan kisah epik yang terinspirasi mitologi Nordik dan sejarah Viking. Dalam wawancara dengan TalkShopLive, Hegg dan bassist Ted Lundström mengungkap bahwa proses kreatif album kali ini berbeda dari kebiasaan mereka. Karena jadwal tur berlangsung lebih panjang, gitaris Olavi Mikkonen dan Johan Söderberg mulai mengembangkan riff dan gagasan lagu ketika masih berada di perjalanan. Band bahkan memanfaatkan ruang pemanasan dengan drum digital dan amplifier kecil untuk mengembangkan materi sebelum masuk studio. Metode tersebut kemudian diterapkan dalam proses rekaman bersama produser Denmark Jacob Hansen, yang untuk pertama kalinya menangani album Amon Amarth. Alih-alih merekam seluruh bagian drum, bass, gitar dan vokal secara terpisah untuk semua lagu, band memilih menyelesaikan satu lagu secara utuh sebelum beralih ke lagu berikutnya. Rekaman dibagi menjadi dua sesi, sehingga setiap komposisi dapat mendapat perhatian penuh dan masih memungkinkan perubahan setelah seluruh bagian lagu terdengar sebagai satu kesatuan. Pendekatan itu menghasilkan sepuluh lagu, termasuk “Gjallarhorn”, “Eight Legs Of Thunder”, “Kvasir's Blood”, “We Rule The Waves”, “Die With A War Cry” dan “The Allfather Awakes”. Lagu terakhir menjadi sumber judul album sekaligus komposisi terakhir yang ditulis. Dari sisi gitar, Amon Amarth juga memilih pendekatan yang sedikit kurang modern dengan kembali menggunakan Marshall, setelah sebelumnya mengandalkan amplifier 5150. Meski Oden menjadi benang merah album, tema The Allfather Awakens tidak berhenti pada mitologi. Materinya juga menyentuh motif sejarah Viking, konflik dan pengorbanan. Bagi Hegg, ketertarikannya terhadap budaya Viking bahkan telah tumbuh sejak masa kanak-kanak dan kemudian menjadi bagian dari identitas Amon Amarth ketika band mulai membangun musik mereka pada awal 1990-an. Album ini menjadi kelanjutan dari perjalanan Amon Amarth sejak terbentuk pada 1992. Setelah lebih dari tiga dekade, mereka kini membawa The Allfather Awakens ke panggung melalui produksi konser baru yang terinspirasi Golden Hall milik Oden. Rangkaian tur Eropa mereka dijadwalkan dimulai pada Oktober 2026, tidak lama setelah album resmi beredar. " The Allfather Awakens " dengan demikian bukan sekadar pengulangan formula Viking metal yang telah melekat pada nama Amon Amarth. Proses penulisannya menunjukkan upaya untuk mengubah cara lama mereka bekerja: menulis di tengah perjalanan, merekam lagu secara utuh, dan memberi ruang untuk mengembangkan setiap komposisi sampai dianggap selesai.
02.10 Imminence - Axis Mundi
02.10 TEMIC - Ceiba
TEMIC resmi mengumumkan album studio kedua mereka, " Ceiba ", yang akan dirilis pada 2 Oktober 2026 melalui Season of Mist. Bersamaan dengan pengumuman tersebut, supergroup progressive metal internasional ini memperkenalkan single utama “Ceased To Be” melalui video musik yang menggabungkan musik progresif, hard rock, pop, dan elemen elektronik. Berbeda dari debut mereka, " Ceiba " dibangun sebagai concept album mengenai kehilangan dalam berbagai bentuk. TEMIC mengatakan materi baru ini lebih progresif dibandingkan album pertama, tetapi tetap menjadikan emosi dan kejujuran sebagai pusat komposisi. “Ceased To Be” menggambarkan seseorang yang berada di ambang kematian, dikelilingi orang-orang terdekatnya, dengan kematian dipandang bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebagai perjalanan menuju fase berikutnya. Konsep album mengambil simbol " Ceiba ", pohon sakral dalam tradisi Maya yang dipandang sebagai axis mundi penghubung antara dunia manusia, surga dan dunia bawah. Gagasan tersebut menjadi metafora utama bagi TEMIC dalam membicarakan kehilangan, kematian, transformasi dan penerimaan. Secara musikal, “Ceased To Be” memperlihatkan ambisi baru TEMIC. Riff gitar Eric Gillette yang berat berpadu dengan lanskap elektronik dan orkestrasi keyboard Diego Tejeida, sementara vokalis Fredrik Klemp membawa chorus yang melodis dan emosional. Bassist Miguel Pereira dan drummer Simen Sandnes mengunci komposisi melalui perubahan tempo yang kompleks sebelum lagu mencapai klimaks dengan permainan keyboard dan solo gitar. Video “Ceased To Be” disutradarai Cesar Mendiburu dan direkam di Semenanjung Yucatán, Meksiko, termasuk di bawah pohon " Ceiba " dan sebuah cenote. Visualnya mengangkat mitologi Maya melalui sosok Ah Puch, figur dewa kematian, yang digambarkan menyambut seorang perempuan menuju alam setelah kehidupan. “Ceiba” juga menandai perkembangan proses kreatif TEMIC. Seluruh anggota berkontribusi langsung dalam penulisan materi, dengan ruang lebih besar untuk mengeksplorasi struktur lagu tanpa mengorbankan aspek emosional. TEMIC terbentuk dari pertemuan keyboardis Diego Tejeida dan gitaris Eric Gillette, yang sebelumnya sama-sama terlibat dalam Shattered Fortress milik Mike Portnoy. Formasi kemudian dilengkapi Sandnes, Klemp dan Pereira. Supergroup ini mencuri perhatian sejak debutnya pada 2023, dengan personel yang memiliki hubungan dengan sejumlah nama progressive metal seperti Devin Townsend, Neal Morse Band, Haken, Shining dan Maraton. Jika album pertama memperkenalkan formula TEMIC melalui pertemuan riff progresif, hook pop dan elektronik, " Ceiba " tampaknya membawa formula tersebut ke wilayah yang lebih konseptual. Di sini, kehilangan tidak ditempatkan sebagai titik akhir, melainkan sebagai bagian dari siklus kehidupan sebuah gagasan yang diterjemahkan TEMIC melalui musik yang semakin luas, kompleks, tetapi tetap berakar pada emosi.
02.10 Morbid Stench - Doom Metastasis
02.10 Ghøstkid - Follow The White Rabbit
02.10 Rană - Freamăt
02.10 Sgàile - Onwards To Embrace The Echo
02.10 Einvigi - Latent
02.10 Deathcult - Cult Of The Dog
Band Norwegian black metal Deathcult telah menyelesaikan persiapan album studio ketiga mereka, " Cult Of The Dog ", yang dijadwalkan dirilis pada 2 Oktober 2026 melalui Soulseller Records. Album ini menjadi babak penutup dari trilogi Cult yang dimulai melalui " Cult Of The Dog " pada 2007 dan dilanjutkan dengan " Cult Of The Dog " pada 2017. Setelah hampir dua dekade sejak album pertama, Deathcult kini menyelesaikan rangkaian tersebut dengan materi baru yang kembali berpegang pada karakter Norwegian black metal yang keras, gelap dan tanpa kompromi. Proses rekaman " Cult Of The Dog " berlangsung di Grieghallen, Bergen, studio yang memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan black metal Norwegia. Produksi ditangani oleh Pytten, produser yang telah terlibat dalam sejumlah rekaman penting dari era awal scene black metal Norwegia. Pemilihan Grieghallen dan Pytten bukan sekadar keputusan teknis. Deathcult berusaha mempertahankan atmosfer gelap dan karakter kasar yang menjadi bagian dari pendekatan mereka, sembari membawa trilogi Cult menuju kesimpulan. Dengan " Cult Of The Dog ", Deathcult tidak membuka mitologi baru, melainkan menutup lingkaran yang telah mereka bangun sejak 2007 sebuah trilogi yang membutuhkan hampir 20 tahun untuk mencapai bab terakhirnya.
02.10 Dumal - The Trials Of Existence
02.10 Feline Melinda - Duets II
02.10 Hippotraktor - Annihilist
02.10 Haunt - Setting Course
02.10 Spirit Possession - Cathedral Speech
Duo black metal eksperimental Spirit Possession bersiap memasuki fase baru melalui album ketiga mereka, " Cathedral Speech ". Beranggotakan Steve Peacock (vokal/gitar) dan Ash Spungin (drum), band asal Portland ini melanjutkan eksplorasi yang telah mereka bangun sejak album debut Spirit Possession (2020) dan Of the Sign… (2023). Jika dua rilisan sebelumnya memperkenalkan kombinasi riff yang liar, permainan gitar finger-picked yang cepat, serta permainan drum yang spontan namun presisi, Cathedral Speech membawa pendekatan tersebut ke wilayah yang lebih kompleks. Spirit Possession tetap mempertahankan intensitas mentah dari penampilan live mereka, tetapi memberikan ruang lebih besar bagi atmosfer, tekstur, dan eksperimen sonik. Secara musikal, album ini mempertemukan fondasi black metal lawas yang mengingatkan pada Bathory, Celtic Frost, dan era awal Immortal dengan nuansa psikedelik progresif yang memiliki jejak King Crimson. Perubahan tersebut tidak mengurangi agresivitas band; justru memperlebar kontras antara riff yang tajam dan bagian-bagian atmosferik yang lebih ganjil serta introspektif. Keterlibatan Ash Spungin juga menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter sonik Spirit Possession. Selain permainan drum yang cepat dan penuh perubahan tempo, Spungin dikenal membangun perangkat noise serta sumber synthesizer analog yang tidak konvensional untuk setiap album. Pada Cathedral Speech, elemen-elemen tersebut mendapatkan porsi lebih besar dan membantu menciptakan atmosfer yang semakin sulit ditebak. Lagu pembuka “Cathedral Speech” langsung menunjukkan sisi agresif album melalui riff tremolo yang tajam dan permainan drum yang bergerak liar. Namun band kemudian memberi lebih banyak ruang bagi komposisi yang lebih panjang dan berliku. “Hanged Angels as Patternwalls”, misalnya, mengembangkan riff yang repetitif sekaligus mudah melekat dalam struktur yang mendekati sembilan menit. Eksperimen tersebut mencapai bentuk paling ambisius pada tiga lagu penutup “First Levitation”, “Second Liturgy”, dan “Trinity Possessor” yang membentuk keseluruhan sisi kedua album. Ketiganya memperlihatkan kombinasi riff yang berkelok, lead gitar yang berputar, melodi progresif, serta perubahan struktur yang terus bergerak, dengan permainan drum Spungin menjadi jangkar di tengah kekacauan tersebut. Cathedral Speech dengan demikian tidak berhenti pada nostalgia black metal lawas. Spirit Possession mengambil bahasa ekstrem tersebut, kemudian membengkokkannya melalui pendekatan progresif, psikedelik, dan eksperimental. Hasilnya adalah fase baru bagi duo ini tetap kasar dan berbahaya, tetapi dengan ambisi komposisi yang jauh lebih luas dibanding sekadar mengulang formula masa lalu.
02.10 The Crawling - What We Leave Behind
02.10 Spider Kitten - God Don't Sleep
02.10 Dead Neanderthals - Flesh Is Fragile
02.10 Butcher Babies - Nightbloom
Butcher Babies akan merilis album studio terbaru mereka, Nightbloom, pada 2 Oktober 2026 melalui Judge & Jury Records. Album ini menandai fase baru bagi band asal Las Vegas tersebut, dengan materi yang disebut lebih terfokus, melodis, agresif, sekaligus jauh lebih personal. Produksi Nightbloom dipercayakan kepada produser ternama Howard Benson, yang sebelumnya menangani sejumlah nama besar rock dan metal seperti My Chemical Romance, Skillet, Daughtry, Dan Halestorm. Joe Rickard, Neil Sanderson, dan gitaris Butcher Babies Henry Flury bertindak sebagai co-producer, sementara Cameron Pierce Mizell dan Evan McKeever memberikan produksi tambahan untuk lagu “Songbird”. Frontwoman Heidi Shepherd mengungkap bahwa sebagian besar materi album lahir dari proses terapi yang membawanya kembali pada berbagai pengalaman traumatis dan persoalan personal yang selama bertahun-tahun ia pendam. Ia menulis mengenai perceraian, kehilangan, pengkhianatan, relasi masa lalu, kematian seorang mantan kekasih karena bunuh diri, konflik dengan lingkungan religius, hingga kehilangan sahabat selama dua dekade. Namun, Shepherd menegaskan bahwa Nightbloom tidak dimaksudkan sebagai album mengenai penderitaan. Baginya, album ini adalah tentang bertahan hidup dan menemukan sesuatu yang positif dari pengalaman paling gelap. Metafora “nightbloom” merujuk pada sesuatu yang justru mampu tumbuh dan mekar dalam kegelapan. “Album ini bukan tentang penderitaan; ini tentang bertahan hidup,” ujar Shepherd. Henry Flury menambahkan bahwa proses penulisan dilakukan dengan konsep “writing with purpose”. Setiap bagian, lapisan musik, dan lirik dirancang untuk memiliki fungsi dalam membangun cerita album. Menurutnya, Nightbloom merupakan karya terpenting yang pernah dibuat Butcher Babies. Single terbaru “Blame It On The Wind” menjadi salah satu pengantar menuju album tersebut dan telah mendapat dukungan dari radio rock Amerika, termasuk SiriusXM Octane. Secara musikal, materi baru ini mempertahankan agresi khas Butcher Babies, tetapi memperlebar ruang bagi melodi dan produksi modern. Nightbloom menjadi album pertama Butcher Babies setelah kepergian co-vocalist Carla Harvey. Harvey resmi meninggalkan band pada 2024, dan Butcher Babies kemudian melanjutkan aktivitas sebagai formasi dengan Heidi Shepherd sebagai vokalis utama. Sejak berdiri pada 2009, Butcher Babies telah merilis Goliath (2013), Uncovered (2014), Take It Like A Man (2015), Lilith (2017), serta album ganda Eye For An Eye... / ...'Til The World's Blind (2023). Kini, setelah lebih dari 15 tahun berkarier, Nightbloom menjadi penanda perubahan arah yang lebih personal tanpa meninggalkan karakter agresif yang selama ini membentuk identitas mereka. Butcher Babies juga akan melanjutkan rangkaian tur dunia 2026, termasuk tur Amerika Serikat bersama Chad Gray dari Mudvayne/Hellyeah serta penampilan di festival Louder Than Life.
02.10 Wraithstorm - Revenant
02.10 Eshtadur - In Darkness All Shadows Gone
Eshtadur Kembali dengan " In Darkness All Shadows Gone ", Memadukan Extreme Metal dan Orkestra Kolombia Dari Kolombia, Eshtadur kembali membawa atmosfer gelap extreme metal melalui album studio kelima mereka, " In Darkness All Shadows Gone ", yang dijadwalkan terbit pada 2 Oktober 2026. Dibentuk pada 2007, band ini telah membangun reputasi di skena metal ekstrem Amerika Selatan melalui perpaduan melodic death metal, black metal, serta elemen simfonik yang semakin dominan dalam materi terbaru mereka. Salah satu kekuatan utama album ini terletak pada penggunaan orkestrasi yang tidak sekadar menjadi lapisan dekoratif. Eshtadur berkolaborasi dengan Caldas Symphonic Orchestra, dengan bagian orkestra direkam di Batuta’s Theater, Manizales, Kolombia. Hasilnya memberikan dimensi lebih luas pada riff-riff agresif mereka, menciptakan atmosfer gelap, tegang, dan sinematik tanpa menghilangkan karakter ekstrem musiknya. “Umbra” menjadi salah satu contoh paling jelas pendekatan tersebut. Riff pembukanya membawa energi blackened death metal, tetapi kemudian berkembang melalui susunan orkestra berlapis yang mempertebal karakter melodis dan atmosferik lagu. Eshtadur bahkan memasukkan tiple, instrumen tradisional Kolombia, sebagai bagian dari tekstur musiknya. Alih-alih mengandalkan orkestrasi berlebihan, " In Darkness All Shadows Gone " menjaga setiap elemen tetap memiliki ruang. Produksi yang bersih memungkinkan gitar, vokal, ritme, dan instrumen orkestra terdengar terpisah namun tetap bekerja sebagai satu kesatuan. Pendekatan ini membuat album berdurasi sekitar satu jam tersebut terasa lebih seperti perjalanan musikal utuh daripada sekadar kumpulan lagu. Secara tematik, " In Darkness All Shadows Gone " bergerak di sekitar mistisisme, transformasi batin, serta gagasan bahwa menghadapi kegelapan merupakan bagian dari proses mengenali diri sendiri. Konsep tersebut berjalan searah dengan karakter musik Eshtadur yang gelap, atmosferik, agresif, sekaligus melodis. Setelah hampir dua dekade beraktivitas dan menghasilkan empat album penuh sebelumnya, Eshtadur kini memasuki babak baru dengan pendekatan yang semakin matang. " In Darkness All Shadows Gone " memperlihatkan bagaimana band Kolombia tersebut berusaha memperluas bahasa extreme metal mereka melalui orkestrasi nyata dan elemen budaya lokal, tanpa kehilangan fondasi agresif yang menjadi identitasnya.
02.10 Dissimulator - Artifice Dissolves
Band death-thrash asal Montreal, Kanada, Dissimulator, kembali memperluas batas musik ekstrem mereka melalui " Artifice Dissolves ". Album ini menjadi kelanjutan dari pendekatan yang dibangun lewat Lower Form Resistance, namun kali ini dibawa ke wilayah yang lebih kompleks, cepat, dan futuristik. Dissimulator mengembangkan formula death-thrash mereka menjadi konstruksi musik yang semakin rumit. Riff gitar tajam, perubahan ritme yang agresif, serta struktur lagu yang terus bergerak menciptakan atmosfer seperti mesin yang bekerja tanpa henti presisi tetapi selalu berada di ambang kehancuran. Lagu seperti “Alloyed” dan “Neon Metropolis” memperlihatkan karakter tersebut secara jelas. Permainan gitar bergerak dalam pola-pola patah dan bersilangan, sementara bagian ritmis mendorong komposisi melalui fase percepatan, keruntuhan, hingga kembali terbentuk. Kompleksitasnya tinggi, tetapi tetap mempertahankan momentum sehingga musik tidak tenggelam dalam sekadar unjuk teknik. Secara konseptual, " Artifice Dissolves " membawa Dissimulator ke dunia fiksi ilmiah yang dipenuhi dominasi teknologi, kecerdasan artifisial, dan keruntuhan peradaban. Album ini membayangkan kota-kota megapolis tanpa cahaya matahari, mesin yang memperoleh kendali semakin besar, serta dampak destruktif dari ketergantungan manusia terhadap teknologi. Namun, di balik seluruh presisi teknis dan agresi futuristik tersebut, Dissimulator tetap mempertahankan tema yang sangat manusiawi: pencarian terhadap keteraturan, makna, dan sesuatu yang melampaui dominasi teknologi. Dengan " Artifice Dissolves ", Dissimulator tidak sekadar mempercepat formula lama. Mereka mengubah death-thrash menjadi lanskap mekanis yang kompleks keras, teknis, penuh disorientasi, tetapi tetap memiliki arah. Jika Lower Form Resistance menjadi fondasinya, album baru ini terdengar seperti evolusi menuju dunia yang jauh lebih asing dan tidak stabil.
02.10 No Living Witness - Aeons Of Disintegration EP
Band metal No Living Witness mengumumkan Tim O’Brien dari Warforged sebagai vokalis baru mereka. O’Brien dipilih untuk mengisi posisi tersebut berbekal pengalaman tampil dalam tur dan proses rekaman, sekaligus kemampuan vokal yang dinilai sesuai dengan arah musikal No Living Witness. Dalam pengumumannya, band menyebut kontrol vokal dan karakter suara O’Brien sebagai tambahan penting bagi perkembangan mereka ke depan. Debut O’Brien bersama No Living Witness akan berlangsung dalam rangkaian pertunjukan selama empat hari di Oregon dan Northern California. Setelah rangkaian konser tersebut, No Living Witness akan kembali ke studio untuk menyelesaikan vokal bagi sebuah EP yang telah mereka rampungkan secara instrumental pada Desember lalu. Band menargetkan EP tersebut dapat dirilis sebelum akhir tahun. Masuknya O’Brien sekaligus membuka fase baru bagi No Living Witness, dengan formasi anyar ini akan menjadi bagian penting dalam proses memperkenalkan materi terbaru mereka kepada publik.
02.10 Escape The Fate - The Last Goodbye
02.10 Enterré Vivant - Kurogoku
02.10 Spere - Blotters In Saline Water
Spere, proyek black metal asal Jerman yang dibentuk pada 2023 oleh dua musisi dari band Horn dan Halphas, memperkenalkan album debut " Blotters In Saline Water ". Album ini dibangun dengan format minimalis dua personel, mengandalkan gitar, vokal, dan drum sebagai fondasi utama. Pendekatan tersebut membuat Spere lebih menitikberatkan pada struktur ritmis, groove, serta atmosfer yang dibangun melalui arpeggio bernuansa ganjil. Variasi fill drum dan lapisan efek gitar yang dialirkan melalui amplifier gitar maupun bass memperkaya karakter suara tanpa memperbesar jumlah instrumen. Secara konseptual, " Blotters In Saline Water " berkisah tentang delapan karakter fiktif yang dianggap telah kehilangan tempatnya di dunia dan akhirnya menemui ajal. Setiap lagu mengangkat kisah salah satu tokoh dengan karakter berbeda mulai dari figur yang mewakili kehendak, iman, dan energi hingga sosok dengan sifat tercela yang dianggap telah melampaui batas keberadaannya. Konsep visual album mengikuti atmosfer tersebut melalui pendekatan arkais yang didominasi warna perunggu, cahaya lampu minyak dan lilin, serta berbagai artefak berbahan logam. Identitas visual ini memperkuat kesan kuno dan misterius yang menjadi bagian dari narasi musik Spere. Untuk kolektor, " Blotters In Saline Water " juga tersedia dalam Collector’s Edition 8-panel Digipack yang dibatasi hanya 999 kopi. Dengan format duo dan konsep yang terstruktur, Spere menempatkan keterbatasan instrumen bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari identitas sonik mereka ritmis, atmosferik, dan gelap tanpa kehilangan energi fisiknya.
02.10 Stud - Live Bar Loose
02.10 Urisk - Call
02.10 Eoront - Песни Междумирья
02.10 Swans - Newly Sentient Being
03.10 Posthumous - Signs Carved In Flesh
03.10 Twintera - Zero
03.10 Hexer - A Black Flame In Cosmic Void
08.10 Amaseffer - When The Lions Leave Their Den
Hampir dua dekade setelah babak pertamanya, Amaseffer kembali melanjutkan proyek musikal mereka melalui " When the Lions Leave Their Den (Exodus Part II) ". Album ini menjadi kelanjutan perjalanan yang sempat terhenti selama 18 tahun, sekaligus menandai kembalinya Erez Yohanan dengan visi yang jauh lebih ambisius. Alih-alih sekadar meneruskan konsep lama, Yohanan membangun kembali dunia Exodus melalui perpaduan progressive metal, orkestrasi, pengaruh musik Timur Tengah, dan atmosfer sinematik. Dengan durasi sekitar 72 menit, album ini dirancang sebagai perjalanan naratif yang berkembang secara bertahap, bukan sekadar kumpulan lagu yang mengejar kompleksitas teknis. Nomor seperti “When the Lions Leave Their Den”, “Pathway to the Promised Land” dan “Valley of the Standing Sun and Moon” menggunakan struktur panjang untuk membangun cerita. Riff dapat muncul kembali dalam bentuk berbeda, melodi berubah makna setelah melewati bagian orkestral, sementara intensitas metal hadir setelah ketegangan dibangun secara perlahan. Pendekatan tersebut membuat musik Amaseffer lebih dekat dengan cara kerja sinema: musik tidak hanya mengiringi cerita, tetapi menjadi bagian dari cara cerita itu disampaikan. Kisah Exodus sendiri dikembangkan melalui tema ketakutan, keyakinan, kehilangan, kekerasan, dan harapan. Lagu seperti “A Flame Unbidden”, “Cloud of Smoke”, “Lady of Slaughter” dan “Foothills of Mount Sinai” memperlihatkan bagaimana elemen Timur Tengah digunakan untuk membangun atmosfer dan konteks, bukan sekadar ornamen eksotis. “Lady of Slaughter” tampil sebagai salah satu titik paling keras dan ritualistik, sementara “Miriam” membawa narasi menuju sisi yang lebih intim dan manusiawi. Vokal Lukky Sparxx dan Jessica Mercy turut memperluas dimensi emosional album. Keduanya berfungsi sebagai suara berbeda dalam satu narasi besar, memberi ruang bagi karakter dan konflik di balik skala orkestrasi yang monumental. Sementara itu, “Wooden Staff Part II” menjadi penghubung langsung dengan sejarah awal proyek tanpa berusaha mengulang masa lalu secara mentah. Kembalinya Amaseffer setelah 18 tahun membuat tema perjalanan dalam album ini terasa semakin relevan. Mereka tidak sekadar membuka kembali proyek yang pernah tertunda, tetapi menggunakan masa lalu sebagai fondasi untuk membangun sesuatu yang baru. " When the Lions Leave Their Den (Exodus Part II) " pada akhirnya lebih tepat dipahami sebagai satu karya utuh. Album ini membutuhkan waktu untuk dicerna karena kekuatannya terletak pada atmosfer, transisi, dan dunia yang perlahan dibangun. Amaseffer tidak menawarkan progressive metal yang mengejar kecepatan atau virtuositas semata; mereka menawarkan sebuah perjalanan sinematik menuju dunia Exodus yang gelap, monumental, dan penuh transformasi.
09.10 Hell-Born - VII
09.10 Tungsten - Ashes
09.10 Repentance - Retaliate
09.10 Signum Regis - Beyond Spacetime
09.10 Toundra - Siete
09.10 Graveyard - Fever
09.10 Cardinals Folly - Let The Posers Fall
09.10 Leper Colony - Back To Primal Sludge
Leper Colony kembali mengasah formula OSDM melalui album penuh ketiga mereka, Back to Primal Sludge. Materi terbaru ini melanjutkan pendekatan yang dibangun lewat Those of the Morbid (2025), dengan ambisi mempertahankan keseimbangan antara karakter death metal Florida dan Stockholm era klasik. Dibandingkan album sebelumnya, Leper Colony melakukan sejumlah perubahan kecil namun terarah. Pengaruh death metal Jerman yang sempat muncul dalam " Those of the Morbid " kini semakin dikurangi. Pola tersebut melanjutkan evolusi dari album debut Leper Colony (2023), ketika band mulai meninggalkan elemen thrash klasik dan semakin memusatkan perhatian pada akar death metal. Leper Colony lahir pada 2020 dari persahabatan panjang antara vokalis Jerman Marc Grewe dan gitaris Swedia Rogga Johansson, yang menyatukan kecintaan mereka terhadap death metal klasik ke dalam sebuah proyek rekaman. Grewe dikenal luas melalui kiprahnya bersama Morgoth, serta kemudian terlibat dalam Insidious Disease Dan Asinhell. Sementara Johansson merupakan salah satu figur produktif dalam skena death metal Swedia melalui Paganizer, Ribspreader, dan Revolting. Formasi awal Leper Colony melibatkan drummer Jon Skäre dari Consumption dan gitaris Kjetil Lyngahug dari Paganizer untuk pengerjaan album debut. Dalam perkembangan berikutnya, drummer Inggris Jon Rudin, yang dikenal melalui Monstrous dan Dead Sun, bergabung sebagai anggota tetap. Dengan Back to Primal Sludge, Leper Colony kembali menempatkan riff berat, struktur sederhana namun efektif, serta karakter kasar old school sebagai pusat musik mereka. Album ini menjadi kelanjutan konsisten dari perjalanan band dalam merawat dua tradisi besar death metal Florida dan Stockholm tanpa kehilangan identitas yang telah mereka bangun sejak 2023.
09.10 Witchthroat Serpent - Demons Left To Roam
09.10 Cultus Sanguine - Tears Painted Sky
09.10 Werewolves - You're Weak And You Know You're Weak
Band extreme metal Australia Werewolves memasuki tahun ketujuh perjalanan mereka dengan album penuh ketujuh, " You’re Weak And You Know You’re Weak ". Album ini menjadi bagian dari ambisi mereka untuk mempertahankan tradisi merilis satu album setiap tahun selama satu dekade. Werewolves dikenal melalui pendekatan death metal yang brutal, cepat, dan sengaja tidak memberikan banyak ruang untuk kompromi. Musik mereka menggabungkan blast beat, riff agresif, serta atmosfer kasar yang dibangun untuk menghasilkan serangan intens dan langsung. Band ini diperkuat musisi yang memiliki rekam jejak di sejumlah proyek extreme metal Australia, termasuk Psycroptic, The Berzerker, Abramelin, The Antichrist Imperium, Dan The Amenta. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi karakter Werewolves yang mengutamakan intensitas dibandingkan ornamen berlebihan. Artwork kembali dikerjakan oleh Mitchell Nolte, kolaborator visual yang telah menangani sejumlah rilisan Werewolves sebelumnya. Kali ini ia menghadirkan ilustrasi horor penuh kekerasan dengan citra penyaliban, tubuh manusia, dan pasukan werewolf sebagai representasi visual dari karakter ekstrem band. Proses mixing dan mastering dilakukan di Hobart oleh Joe Haley dari Psycroptic, yang juga memiliki hubungan panjang dengan skena death metal Australia. Selama kariernya, Werewolves telah membawa musik mereka ke berbagai panggung Australia dan tampil dalam rangkaian tur bersama nama seperti Archspire, Mayhem, Abbath, Ingested, Dan Ulcerate. Album ketujuh ini kembali mempertegas pola kerja mereka: cepat, kasar, brutal, dan tanpa keinginan untuk memperhalus sisi paling ekstrem dari musiknya. Dengan target sepuluh album dalam sepuluh tahun, " You’re Weak And You Know You’re Weak "menjadi langkah ketujuh dalam eksperimen panjang Werewolves untuk membuktikan seberapa jauh mereka dapat mempertahankan produktivitas tanpa mengurangi intensitas musik.
09.10 Goatburner - Time Of Danger
09.10 Thronehammer - Slay | Kill | Erase
09.10 Dawn Of Demise - Feed My Absurdity
Band death metal Denmark Dawn Of Demise akan kembali dengan album penuh keenam, " Feed My Absurdity ", melalui Unique Leader Records. Setelah hampir tujuh tahun tanpa rilisan baru, band asal Silkeborg ini menandai kembalinya mereka dengan single sekaligus title track yang memperlihatkan formula death metal berat dan groove yang telah menjadi identitas mereka. Bassis Bjørn Jensen menyebut " Feed My Absurdity " sebagai representasi paling lengkap dari karakter Dawn Of Demise. Slam, groove, riff tremolo death metal klasik, sentuhan thrash, serta vokal brutal Scott menjadi elemen utama yang membentuk lagu tersebut. Album ini juga menandai kembalinya gitaris original Jakob Nyholm, yang sebelumnya tampil dalam demo awal dan album debut Dawn Of Demise. Menurut Jensen, kehadiran kembali Nyholm menghidupkan energi kreatif band dan memperkuat proses penulisan materi baru. Secara musikal, " Feed My Absurdity " tetap berpegang pada fondasi US-style death metal dengan tambahan elemen slam. Namun, Dawn Of Demise memilih pendekatan produksi yang lebih organik dan terasa hidup dibandingkan karakter produksi metal modern yang sangat dipoles. Sepuluh lagu di dalamnya dikembangkan sebagai kerja kolektif seluruh anggota, dengan setiap personel memberikan kontribusi terhadap komposisi. Diproduseri Tue Madsen, yang pernah menangani Meshuggah Dan The Haunted, album ini mempertahankan ciri utama Dawn Of Demise: riff berat, groove kuat, struktur lagu yang mudah diikuti, dan hook gitar yang tetap melekat tanpa harus mengandalkan demonstrasi teknik berlebihan. Didirikan di Silkeborg pada 2003, Dawn Of Demise sejak awal memiliki tujuan sederhana: memainkan death metal yang berat dan catchy. Selama lebih dari dua dekade, mereka mempertahankan prinsip tersebut meski tren death metal berkembang menuju permainan semakin cepat, teknis, dan penuh teknik ekstrem. " Feed My Absurdity " menjadi rilisan keenam yang menegaskan konsistensi tersebut. Dengan kembalinya Nyholm dan energi baru setelah masa vakum panjang, Dawn Of Demise kembali menawarkan death metal Denmark yang tetap berpijak pada formula klasik berat, groovy, brutal, dan ditopang songwriting yang tidak melupakan daya ingat sebuah riff.
09.10 Ram - Against
09.10 Metal Church - Live At Rock Hard 2016
Metal Church akan merayakan 45 tahun perjalanan mereka melalui perilisan Live At Rock Hard 2016, yang dijadwalkan hadir pada 9 Oktober 2026 melalui MIG (Made In Germany Music) dalam format vinyl serta paket DVD/CD. Rilisan ini menghadirkan kembali penampilan Metal Church di Rock Hard Festival pada 2016. Konser yang berlangsung di Amphitheater Gelsenkirchen, Jerman, tersebut direkam oleh WDR Rockpalast dan untuk pertama kalinya akan diterbitkan secara resmi dalam format audio sekaligus video. Pendiri, gitaris, dan motor utama Metal Church, Kurdt Vanderhoof, menyebut Rock Hard Magazine dan Rock Hard Festival sebagai bagian penting dari perjalanan panjang band. Menurutnya, hubungan dengan penggemar dan dukungan komunitas metal menjadi salah satu fondasi yang menjaga Metal Church tetap bertahan selama lebih dari empat dekade. Metal Church dibentuk Vanderhoof pada 1981 di Amerika Serikat, awalnya menggunakan nama Shrapnel. Mereka muncul ketika thrash dan speed metal masih berada pada tahap awal perkembangan dan kemudian ikut membentuk arah awal kedua gaya tersebut. Album debut Metal Church dirilis pada 1984 melalui Ground Zero Records, sebelum band bergabung dengan Warner/Elektra untuk album kedua, The Dark, pada 1986. Sejak itu, Metal Church telah menghasilkan lebih dari 15 album studio serta sejumlah rilisan live. Live At Rock Hard 2016 kini menjadi dokumen penting dari salah satu periode perjalanan mereka sekaligus arsip visual dan audio yang merekam Metal Church di atas panggung Rock Hard Festival. “Kami berharap kalian menikmati pertunjukan dari Rock Hard Festival 2016 ini sebagaimana kami menikmatinya saat berada di atas panggung,” ujar Vanderhoof. Metal Church Live At Rock Hard 2016 akan dirilis 9 Oktober 2026 dalam format vinyl dan DVD/CD, bertepatan dengan perayaan 45 tahun eksistensi salah satu nama penting dalam sejarah heavy metal Amerika.
09.10 Hatesphere - Guillotine
Veteran thrash-death metal Denmark HateSphere kembali dengan “Guillotine”, materi yang mengangkat persoalan keadilan, vigilantisme, serta batas antara moralitas pribadi dan sistem hukum. Lagu ini mempertanyakan apakah keadilan yang dijalankan secara sistematis selalu mampu memenuhi rasa keadilan manusia. “Guillotine” berangkat dari gagasan bahwa sistem hukum yang dianggap tidak memuaskan atau tidak efektif dapat memicu dorongan untuk mengambil keadilan dengan tangan sendiri. Ketika mekanisme resmi gagal memberikan penyelesaian, rasa frustrasi tersebut berpotensi mendorong manusia menuju tindakan yang semakin brutal dan mengubah keyakinan moral yang sebelumnya mereka pegang. Secara musikal, HateSphere tetap mempertahankan formula thrash-death metal yang agresif, cepat, melodis, dan sarat groove. Namun dibandingkan Hatred Reborn (2023), materi terbaru ini bergerak ke atmosfer yang lebih gelap dan lebih luas, tanpa meninggalkan karakter keras yang telah menjadi identitas mereka. Pengaruh dari Slayer, At The Gates, The Haunted, Soilwork, Darkane, hingga Heaven Shall Burn menjadi referensi yang relevan untuk membaca spektrum musikal HateSphere. Pendekatannya tetap berakar pada metal yang terasa mentah dan langsung, tetapi dibangun dengan perpaduan riff cepat, melodi tajam, serta hentakan groove yang menjadi fondasi komposisinya.Secara tematik, “Guillotine” menjadi bagian dari narasi yang lebih besar mengenai kompas moral manusia. HateSphere tidak hanya mempertanyakan apa yang dianggap baik atau buruk, tetapi juga menyoroti niat, motif, dan konsekuensi di balik setiap tindakan. Gagasan tersebut membawa band pada pertanyaan yang lebih luas: ketika sifat dasar manusia berhadapan dengan aturan dan konstruksi sosial, pihak mana yang pada akhirnya akan lebih dulu runtuh manusia atau masyarakat? Melalui Guillotine, HateSphere kembali menggunakan agresi musik ekstrem sebagai medium untuk membongkar konflik antara hukum, naluri, moralitas, dan kekerasan. Bukan sekadar bahan bakar untuk headbanging, materi ini membawa pertanyaan yang lebih mengganggu: ketika keadilan gagal bekerja, siapa yang menentukan batas antara pembalasan dan keadilan?
09.10 Leach - Psychosomatic
09.10 Marea - A Caress Of Autumn For All The Lost
Marea, proyek one-man milik musisi Italia Matteo Balzarini, memperkenalkan " A Caress of Autumn for All the Lost ", sebuah karya yang menyelami kesepian, penyesalan, hubungan yang retak, dan pergulatan manusia dengan dirinya sendiri. Berbasis di Legnano, Italia Utara, Marea dibentuk pada 2023 dengan pendekatan yang memadukan atmospheric black metal, post-black metal, DSBM, dan doom metal. Karakter tersebut diperluas melalui bagian gitar akustik yang intim, atmosfer dreamy, serta sentuhan post-rock yang menciptakan kontras antara kekerasan dan ketenangan. " A Caress of Autumn for All the Lost " berangkat dari gagasan tentang bagaimana satu keputusan atau kata yang salah dapat menghancurkan sesuatu yang dibangun selama bertahun-tahun. Tema isolasi, penyesalan, mimpi yang kandas, egoisme, dan rapuhnya hubungan manusia menjadi pusat narasi, termasuk perasaan tidak layak menerima kebahagiaan yang pada akhirnya dapat mendorong seseorang menyakiti dirinya sendiri secara psikologis sekaligus melukai orang-orang yang masih peduli. Jika karya-karya Marea sebelumnya banyak menggunakan laut sebagai citra utama, album ini menggantinya dengan musim gugur. Perubahan simbol tersebut tidak mengubah inti emosional musiknya: kesepian, melankolia, nostalgia, dan perasaan kehilangan tetap menjadi fondasi. Namun album ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan. Marea justru membangun pertentangan antara keputusasaan dan keindahan, sebagaimana musiknya bergerak antara bagian yang berat dan momen-momen yang lembut. Di tengah pengakuan mengenai kelemahan dan ketakutan terdalam, judul album berfungsi sebagai bentuk pelukan bagi mereka yang merasa “tersesat”. Pesan tersebut mengarah pada gagasan tentang memaafkan diri sendiri, menghargai keindahan kecil dalam kehidupan, serta memberi ruang bagi kebahagiaan meski hanya sesaat. Penderitaan tidak dihapus, tetapi ditempatkan berdampingan dengan harapan. " A Caress of Autumn for All the Lost " pada akhirnya menjadi semacam pengakuan personal mengenai kesalahan, rasa bersalah, dan konflik dengan “iblis” di dalam diri. Marea tidak menawarkan jawaban mudah, melainkan menghadirkan musik sebagai ruang untuk menghadapi kelemahan dan mungkin menemukan sedikit alasan untuk tetap bertahan di tengah reruntuhan yang diciptakan oleh diri sendiri.
09.10 Orbita - Farewell To All We've Lost
09.10 Smoulder - Witch Wife In An Alien World
09.10 Crimson Coven - I - The Forge
09.10 Esoctrilihum - Annochiül Xar Sorthïlazur
09.10 Odious Spirit - The Sourceless Scourge
09.10 Mutation - Esoteric Order Of Debauchery
Stockholm, Swedia kembali mengirimkan amunisi death metal mentah. Mutation akan merilis album debut studio mereka, Esoteric Order of Debauchery, pada 9 Oktober 2026 melalui Hells Headbangers. Album ini akan tersedia dalam format CD, vinyl, dan kaset untuk pasar internasional. Menjelang perilisan, band tersebut juga melepas lagu terbaru, “Necromantical Holocaust”, yang kini tersedia untuk streaming. Mutation dibentuk sekitar 2019 oleh drummer S.N dan gitaris K.L, berangkat dari ketertarikan terhadap karakter death metal era awal yang kasar, primitif, dan belum terjebak pada tuntutan teknis. Formasi kemudian dilengkapi vokalis N.S, gitaris S.Q, dan bassist S.B pada 2022, sebelum mereka mulai mengerjakan demo perdana. Eksistensi awal Mutation terdokumentasi melalui Demo ’23, yang dirilis pada 2023 dan memperlihatkan pendekatan mereka terhadap death metal generasi pertama. Tidak lama setelah itu, Mutation bergabung dengan Hells Headbangers dengan arahan Gene Palubicki dari Perdition Temple, kemudian melanjutkan proses menuju album penuh pertama mereka. Esoteric Order of Debauchery sengaja menoleh ke periode ketika death metal masih terdengar seperti penyakit yang baru ditemukan: riff menjadi pusat gravitasi, blast beat menghantam tanpa basa-basi, sementara vokal agresif mempertahankan atmosfer busuk dan kacau. Lagu-lagunya dibuat relatif singkat dan langsung, memperlihatkan pilihan sadar untuk mengejar intensitas serta kekasaran ketimbang kompleksitas teknis. Sebelumnya Mutation telah memperkenalkan materi album melalui “Pestilent Whore”. Kini “Necromantical Holocaust” menjadi potongan terbaru dari debut tersebut, sekaligus memberi gambaran lebih jauh mengenai pendekatan mereka terhadap death metal yang kembali menggali akar primitif genre. Dengan Esoteric Order of Debauchery, Mutation tidak mencoba memperhalus masa lalu. Mereka justru membongkar kembali bentuk awal death metal ketika riff masih terdengar seperti ancaman, tempo tidak mengenal kompromi, dan kekacauan adalah bagian dari bahasa musik itu sendiri.
09.10 Wage War - Landfall[Studio]Metalcore
09.10 Wolfbrigade - Howl From Underground
Veteran punk-metal Swedia Wolfbrigade akan merilis album studio ke-12 mereka, Howl From Underground, pada 9 Oktober 2026 melalui Metal Blade Records. Album ini hadir setelah Life Knife Death (2024) dan menjadi salah satu perubahan penting dalam proses kreatif band yang telah beroperasi lebih dari tiga dekade. Wolfbrigade yang merilis tiga album pertama dengan nama Wolfpack pada 1996–1999 memutuskan meninggalkan metode produksi mandiri yang mereka gunakan selama sekitar satu dekade. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, proses rekaman, produksi, dan mixing dipercayakan kepada pihak eksternal. Tugas tersebut diberikan kepada Lawrence Mackrory di Necromorbus Studio, sebuah studio yang berlokasi di bekas gereja Baptis dan memiliki rekam jejak bersama Meshuggah, Katatonia, Paradise Lost, serta Bloodbath. Menurut band, keputusan ini dilakukan untuk mendapatkan perspektif baru sekaligus mempertahankan pemahaman terhadap karakter Wolfbrigade. Perubahan suasana kerja tersebut bertepatan dengan kembalinya drummer David “Dadde” Stark, yang sebelumnya menjadi penggerak d-beat Wolfbrigade dari 2002 hingga 2015. Band menyebut chemistry lama segera kembali terbentuk, memberikan energi baru selama proses pengerjaan album. Secara musikal, Wolfbrigade tetap menggunakan istilah “lycanthro punk” untuk menggambarkan perpaduan akar d-beat dan raw punk dengan agresi metal yang lebih buas. Bagi mereka, istilah tersebut bukan sekadar label genre, melainkan simbol dorongan liar yang menolak dikendalikan kekuatan yang mereka hubungkan dengan mitologi, folklor, filsafat, dan sisi manusia yang terus melawan keteraturan peradaban. Menjelang perilisan album, Wolfbrigade memperkenalkan single pertama, “Cold War Bootlicker.” Lagu tersebut membahas gagasan tentang false opposites pertentangan yang tampak berbeda tetapi tetap bergerak dalam mekanisme kekuasaan yang sama. Band menggambarkannya sebagai dua pihak yang saling berhadapan, sementara struktur yang mengendalikan keduanya tidak pernah benar-benar berubah. Dengan Howl From Underground, Wolfbrigade mempertahankan fondasi punk-metal yang telah menjadi identitas mereka sambil mengubah cara album tersebut dibentuk. Rekaman ini akan dirilis pada 9 Oktober 2026 melalui Metal Blade Records, membawa kembali energi d-beat, agresi metal, dan semangat liar yang selama ini mereka sebut sebagai lycanthro punk.
09.10 Heavy Temple - Live From The Inner Sanctum
09.10 Love Is Noise - The Space Between Happiness And Heartache
09.10 Sinister - Lucid Nightmares
Veteran death metal Belanda Sinister mengumumkan perubahan formasi sekaligus kabar serius mengenai kondisi kesehatan vokalis sekaligus figur sentral band, Adrie Kloosterwaard. Dalam pernyataan bassist Alesa Kloosterwaard, band mengungkap bahwa Francesco Ponga kini bergabung sebagai gitaris baru, mendampingi gitaris Stefano Rumich. Pergantian tersebut terjadi setelah Walter Tjwa memutuskan untuk kembali memusatkan perhatian pada band-nya, Radiathor. Sementara itu, formasi baru Sinister telah menghabiskan waktu untuk berlatih materi-materi klasik mereka sebagai persiapan menghadirkan set old-school yang selama bertahun-tahun diminta penggemar. Rencana pengumuman formasi baru pada April berubah drastis ketika Adrie Kloosterwaard mendadak jatuh sakit. Ia kemudian menjalani operasi darurat, namun menurut Alesa, kondisinya memburuk secara signifikan dan penyakit yang dideritanya telah menyebar. Keluarga dan band saat ini belum mengetahui bagaimana perkembangan kondisi Adrie ke depan. Situasi tersebut juga memengaruhi rencana penampilan Sinister di Maryland Deathfest (MDF). Setelah upaya mencari pengganti vokal, Danny dari Malignancy bersedia mengambil posisi tersebut. Namun karena kondisi Adrie memburuk dan membutuhkan perawatan sepanjang waktu, Alesa memilih tetap berada di sisinya. Atas usulan pihak MDF, sebagian personel Sinister tetap dijadwalkan tampil pada 23 Mei dalam sebuah set tribute untuk Adrie. Danny serta Alex dari Malignancy akan membantu mengisi posisi yang ditinggalkan Adrie dan Alesa dalam penampilan khusus tersebut. Kabar ini sekaligus menempatkan Sinister dalam situasi yang jauh lebih personal daripada sekadar pergantian personel. Berdiri sejak 1988 di Schiedam, Belanda, Sinister menjadi salah satu nama penting dalam perkembangan death metal Eropa dan telah melewati berbagai perubahan formasi sepanjang kariernya. Kini, perhatian mereka tertuju pada kondisi Adrie Kloosterwaard sementara band meminta penggemar untuk mengirimkan dukungan dan doa terbaik bagi sang vokalis.
09.10 Troyen - 45 Live[Live]Heavy metal
12.10 Veilburner - All That Glimmers Is Gloam
Belum genap setahun sejak merilis " Longing for Triumph, Reeking of Tragedy ", band avant-garde death/black metal Veilburner kembali dengan pengumuman album studio kesembilan mereka, " All That Glimmers Is Gloam ". Pengumuman tersebut menandai kelanjutan cepat dari perjalanan kreatif duo Mephisto dan Chrisom, sekaligus membawa tema yang jauh lebih gelap: ketika pencarian kemenangan justru berujung pada kehancuran. Secara konseptual, album ini menggambarkan setiap ambisi sebagai labirin yang terus membawa manusia menuju peluruhan. Kehancuran bukan lagi jalan menuju kebangkitan, melainkan fondasi rapuh yang hanya memantulkan bentuk-bentuk masa lalu. Identitas, pengetahuan, dan keyakinan kemudian terpecah menjadi rangkaian paradoks hingga batas antara kesadaran dan kegilaan semakin kabur. Musiknya mempertahankan pendekatan eksperimental Veilburner melalui perpaduan melodic dissonance, struktur avant-garde, dan atmosfer yang terasa seperti ritual yang sedang mengalami kerusakan dari dalam. Instrumen Mephisto menjadi lanskap penuh distorsi dan ketegangan, sementara vokal Chrisom hadir dalam lengkingan teatrikal yang memperkuat kesan seperti kesaksian dari ruang mental yang retak. " All That Glimmers Is Gloam " juga melanjutkan kecenderungan Veilburner menjadikan album sebagai pengalaman konseptual, bukan sekadar kumpulan lagu. Pendengar ditempatkan seperti hakim yang menyaksikan sebuah kesaksian tentang kegilaan, pengetahuan palsu, dan kehancuran identitas hingga pada akhirnya cermin diri pecah dan menyisakan sosok yang tidak lagi mampu membedakan satu suara dengan suara lainnya. Dengan fondasi avant-garde death/black metal, Veilburner kembali bergerak di wilayah ekstrem yang menolak bentuk konvensional. Nama-nama seperti Blut Aus Nord, Imperial Triumphant, Deathspell Omega, Oranssi Pazuzu, Akhlys, dan Akercocke menjadi rujukan yang relevan untuk membaca medan sonik yang hendak mereka jelajahi. Jika album sebelumnya berbicara tentang kerinduan terhadap kemenangan yang berbau tragedi, " All That Glimmers Is Gloam " tampaknya membawa gagasan tersebut lebih jauh: cahaya yang terlihat di ujung labirin mungkin bukan keselamatan, melainkan senja sebelum semuanya lenyap.
12.10 Generation Steel - Steelmachine
14.10 Ola Englund - The Neverending Story
Gitaris Swedia Ola Englund akan merilis album solo ketiganya, " The Neverending Story ", pada 15 Oktober 2026. Dikenal melalui kiprahnya bersama Feared, The Haunted, dan Six Feet Under, Englund kali ini menawarkan perjalanan instrumental metal bernuansa sinematik yang mengambil inspirasi dari fantasi klasik, video game retro, film petualangan era ’80-an, serta riff heavy metal modern. Sebagai pembuka menuju album tersebut, Englund telah memperkenalkan “The Ember Saga” sebagai single utama. Materi ini menjadi gambaran awal mengenai pendekatan instrumental yang menggabungkan permainan gitar berat dengan atmosfer yang terasa seperti soundtrack sebuah dunia fantasi. Album ini juga menghadirkan sejumlah kolaborator, termasuk Jeff Loomis, yang menyumbangkan solo gitar pada lagu “World Rift”. Formasi pendukung album melibatkan Johan Niemann pada bass dan Jon Skě dari Delta Empire sebagai drummer. Artwork dikerjakan oleh Sylvain Lucchina, sementara proses mixing dan mastering ditangani Jocke Skog. Kombinasi tersebut memperkuat proyek yang sejak awal menempatkan gitar dan komposisi instrumental sebagai pusat perhatian. " The Neverending Story " menjadi kelanjutan dari dua album solo Englund sebelumnya, Master of the Universe (2019) dan Starzinger (2021). Jika dua rilisan tersebut memperlihatkan karakter permainan gitar dan kecenderungan teknisnya, album baru ini membawa pendekatan tersebut ke wilayah yang lebih sinematik dan konseptual. Englund memulai perjalanan musiknya sejak usia muda di Stockholm dan kemudian membentuk Feared pada 2007 sebagai gitaris sekaligus penulis lagu utama. Ia juga pernah menjadi bagian dari The Haunted, Six Feet Under, Scarpoint, dan Sorcerer. Di luar aktivitas bermusik, namanya semakin dikenal melalui kanal YouTube yang membahas teknik gitar, perangkat musik, serta kehidupan sebagai musisi profesional. Dengan " The Neverending Story ", Ola Englund kembali menempatkan gitar sebagai narator utama. Tidak ada vokal untuk menjelaskan cerita; atmosfer, riff, melodi, dan permainan solo menjadi bahasa yang membawa pendengar melewati lanskap fantasi yang dibangun dari memori game dan film klasik hingga suara metal kontemporer.
14.10 Boguslaw Balcerak's Crylord - Birds Of Steel
15.10 Black Altar - XXX Years Ov Rituals Upon The Black Altar – 1996-2026
Band black metal Polandia Black Altar akan menandai tiga dekade perjalanan mereka melalui rilisan khusus bertajuk " XXX Years ov Rituals Upon the Black Altar – 1996–2026 ". Dirilis oleh Odium Records pada musim gugur 2026 dalam format CD, album ini merangkum perjalanan Black Altar sejak periode awal hingga materi terbaru mereka. Dengan durasi sekitar 80 menit, rilisan tersebut menggabungkan sejumlah lagu penting dari katalog Black Altar yang mendapatkan proses mastering baru, sekaligus menghadirkan beberapa komposisi yang direkam secara khusus untuk proyek perayaan ini. Format tersebut menjadikan album bukan sekadar kompilasi, melainkan dokumentasi perjalanan musikal yang mempertemukan materi lama dengan perkembangan sound mereka saat ini. Secara tematik, Black Altar tetap bergerak di wilayah yang sejak lama menjadi fondasi lirik dan atmosfer mereka: kematian, okultisme, ilmu sihir, ritual satanik, serta gagasan-gagasan esoterik. Materi lawas mendapatkan pendekatan produksi modern, sementara lagu-lagu baru menjadi penanda bagaimana karakter Black Altar berkembang selama tiga dekade tanpa meninggalkan identitas dasarnya. Black Altar berdiri pada 1996 dan kemudian berkembang menjadi salah satu nama yang bertahan cukup lama dalam lanskap black metal Polandia. Dengan label mereka sendiri sebagai “Unholy Orthodox Black Metal”, band ini membangun identitas melalui atmosfer gelap, tema ritualistik, dan pendekatan yang berakar kuat pada tradisi black metal. " XXX Years ov Rituals Upon the Black Altar – 1996–2026 " pada akhirnya berfungsi sebagai arsip tiga puluh tahun: mempertemukan rekaman masa lalu yang telah dipoles ulang dengan materi baru dalam satu perjalanan berdurasi panjang. Bagi Black Altar, tiga dekade bukan sekadar angka, melainkan rekam jejak dari sebuah estetika gelap yang terus dipertahankan sejak 1996.
15.10 Hatalom - Immanence
Band TDM asal Quebec, Kanada, memperkenalkan Immanence, album mendatang yang mereka klaim sebagai karya paling brutal sekaligus paling matang sepanjang perjalanan mereka. Sebagai pengantar, band tersebut telah merilis “ When Nothing Persists ”, yang disebut hanya menjadi gambaran awal dari materi yang akan hadir dalam album penuh ini. " Immanence " dibangun sebagai sebuah perjalanan konseptual mengenai eksistensi dimulai dari lahirnya kesadaran, berkembang melalui pengalaman bersama, hingga mencapai titik ketika tidak ada lagi sesuatu yang tersisa. Gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam delapan bagian yang membentuk satu rangkaian naratif: “The Occurrence”, “Shared Singularity”, “Singular Lucidity”, “When Nothing Persists”, “Concealed”, “Synchronicity”, “Conscient Reflections”, dan “The Blooming Sun”. Dalam proses produksinya, band menggandeng Christopher Rannou Poulin untuk menangani proses rekaman utama sekaligus mixing. Sementara bagian pembuka album dikerjakan melalui komposisi Émile Légaré-Turcotte, dirancang sebagai pintu masuk menuju pengalaman sonik yang lebih intens. Judul Immanence sendiri merujuk pada gagasan tentang keberadaan dan kesadaran dari perspektif yang terus bergerak menuju kehampaan. Band menggambarkan album ini sebagai hasil dari upaya menelusuri kembali jejak musikal mereka, tetapi kali ini dengan pendekatan yang jauh lebih agresif dan tanpa kompromi. Artwork album dipercayakan kepada Mark Erskine, sementara proses pre-order telah dibuka melalui Melogy, perusahaan berbasis Quebec yang secara khusus menangani rilisan musik keras. Dengan 8 komposisi yang tersusun sebagai satu konsep utuh, Immanence diposisikan sebagai fase baru bagi band tersebut: sebuah perjalanan dari munculnya kesadaran menuju lenyapnya eksistensi, dibungkus dalam musik ekstrem yang mereka anggap sebagai materi paling brutal dan dewasa yang pernah mereka hasilkan.
16.10 Carnation - Symphony In Flesh
Kekuatan death metal Belgia Carnation kembali dengan single dan video terbaru, “Blackmouth”, yang menjadi materi pengantar menuju album studio keempat mereka, " Symphony In Flesh ". Album tersebut dijadwalkan terbit pada 16 Oktober 2026, dengan Redefining Darkness Records menangani perilisan di Amerika Utara, sementara Carnation akan merilisnya secara independen di Eropa dan wilayah lainnya. “Blackmouth” secara langsung menggali fondasi death metal klasik melalui riff berat dan menghantam, blast beat tanpa henti, serta groove yang kuat. Carnation mempertahankan karakter agresif mereka, tetapi tetap memberi ruang bagi struktur lagu yang mudah ditangkap. Hasilnya adalah materi yang terdengar lugas tanpa kehilangan intensitas. Secara lirik, “Blackmouth” membahas dampak kritik dan negativitas yang terus-menerus, terutama dalam kehidupan yang semakin terhubung melalui media sosial. Lagu ini menggunakan gambaran burung pemakan bangkai yang mengitari kelemahan sebagai metafora bagi budaya penghakiman publik. Narasinya kemudian berputar penuh ketika sosok yang menjadi sasaran akhirnya berubah menjadi sesuatu yang sebelumnya memburunya sebuah gambaran mengenai siklus negativitas yang terus berulang. Melalui " Symphony In Flesh ", Carnation menyatakan keinginan untuk kembali pada energi mentah dan intensitas tanpa kompromi yang menjadi akar musik mereka. Namun pendekatan tersebut tidak berarti mundur. Band juga mendorong penulisan lagu, aransemen, atmosfer, serta aspek visual mereka ke tingkat yang lebih terarah. “Memasuki album ini, kami ingin kembali terhubung dengan akar kami bukan hanya secara musikal, tetapi juga dalam cara kami menampilkan band,” ujar Carnation. Mereka juga menekankan upaya memperketat komposisi dan menghasilkan lagu-lagu yang lebih kuat, sekaligus meningkatkan kualitas suara dan visual secara keseluruhan. Dengan “Blackmouth”, Carnation memperlihatkan arah yang lebih langsung dan terkonsentrasi menjelang " Symphony In Flesh ". Bagi pendengar yang mengikuti jejak Obituary, Entombed, Bloodbath, hingga Cannibal Corpse, rilisan ini memberikan petunjuk bahwa Carnation tengah mengembalikan death metal mereka pada wilayah yang paling keras, padat, dan tanpa basa-basi.
16.10 Fate Unburied - Neraspeme
Band progressive death metal asal Italia, Fate Unburied, kembali memperkenalkan materi baru melalui single “Expect Nothing”, yang diambil dari album mendatang mereka, " Neraspeme ". Album berisi 12 lagu tersebut dijadwalkan rilis pada 16 Oktober 2026 melalui Time To Kill Records. “Expect Nothing” memperlihatkan pendekatan Fate Unburied yang menggabungkan riff tajam, perubahan struktur yang tak mudah ditebak, serta pembukaan bernuansa melankolis. Komposisinya bergerak melalui pergantian tempo dan atmosfer tanpa terjebak pada pola konvensional, sekaligus mempertahankan keseimbangan antara daya hantam death metal dan sisi introspektif yang menjadi bagian penting dari karakter band. Secara tematik, lagu ini membahas sisi gelap dari harapan situasi ketika seseorang masih mempertahankan sesuatu meski hampir tidak ada lagi yang dapat dipegang. Fate Unburied menggambarkannya sebagai kondisi antara melepaskan dan bertahan, ketika ekspektasi perlahan menghilang tetapi kesadaran bahwa semuanya mungkin sudah berakhir belum sepenuhnya diterima. Konsep tersebut menjadi bagian dari narasi besar " Neraspeme ", sebuah album yang mengisahkan keruntuhan sebuah hubungan dari awal hingga titik akhirnya. 12 lagu disusun seperti bab-bab dalam proses kehancuran emosional, bergerak dari kemarahan yang membutakan menuju kegilaan dan disorientasi, sebelum berakhir pada bentuk harapan yang menyimpang dan tanpa jalan keluar. Secara musikal, Fate Unburied mengandalkan riff-riff kuat yang terkadang mengejutkan karena daya lekat melodinya, lalu membenturkannya dengan perubahan tempo mendadak, bagian instrumental kompleks, atmosfer yang menggantung, serta permainan drum yang mengedepankan groove. Pendekatan progresif tersebut membuat album bergerak terus tanpa memberikan ruang terlalu nyaman bagi pendengar. Neraspeme menjadi kelanjutan eksplorasi Fate Unburied terhadap progressive death metal yang menempatkan struktur rumit, kedalaman emosional, dan atmosfer dalam satu kerangka. Dengan “Expect Nothing”, mereka memberikan gambaran mengenai album yang tidak hanya mengejar kompleksitas teknis, tetapi menggunakan perubahan musikal sebagai bagian dari cerita tentang hubungan yang perlahan kehilangan bentuk. Pendengar yang mengikuti Between The Buried And Me, Cynic, Sadist, Alkaloid, atau Misery Signals memiliki alasan untuk memasukkan Fate Unburied ke dalam radar menjelang perilisan album ini.
16.10 A Secret Revealed - The Ruin I Summoned Forth
16.10 Gloryhammer - Space 1993: Wrath Of Kor-Virliath
16.10 Shores Of Null - Homesick
16.10 Elysion - Identity
16.10 Temperance - Arcani
Unit symphonic power metal Italia, Temperance, akan merilis album studio ketujuh mereka, Arcani, pada 16 Oktober 2026 melalui Napalm Records. Album ini menjadi babak baru bagi band dengan menjadikan praktik divinasi Tarot, khususnya 22 kartu Major Arcana, sebagai kerangka tematik bagi 13 lagu di dalamnya. Alih-alih menjadi konsep album dalam pengertian konvensional, Arcani menggunakan setiap lagu untuk menafsirkan kartu Tarot yang berbeda. Hasilnya adalah rangkaian materi yang mempertahankan ciri khas Temperance melodi simfonik, pendekatan power metal modern, serta pergantian karakter vocal sekaligus membuka sejumlah wilayah musikal baru. Album dibuka oleh “The Fool”, lagu yang sengaja tidak diberi subjudul. Seperti kartu The Fool yang tidak memiliki nomor tetap atau diasosiasikan dengan angka 0, lagu ini menempati posisi khusus sebagai pintu masuk menuju dunia Arcani. Setelahnya, “The Magician: Into the Fire” menghadirkan dominasi vokal pria dalam balutan anthem yang lebih membara. Sisi emosional muncul melalui “Death: Right Before We Die”, lagu bertempo menengah yang berangkat dari pengalaman personal para personel. Sebaliknya, “The Tower: Lean Into Fear” menjadi eksperimen penting karena membawa Temperance ke wilayah hard rock, sekaligus memberi ruang bagi Kristin Starkey untuk menunjukkan karakter vokalnya yang lebih agresif. Nuansa gelap berlanjut melalui “The Devil: Sin, Sin, Sin”, sebelum band memasuki “Temperance: Forgiveness”, sebuah lagu yang mengubah kartu Temperance menjadi narasi tentang keseimbangan dan harapan. “The Chariot: Alla Ricerca dell’America” kemudian memperluas spektrum album melalui lirik berbahasa Italia, satu bagian berbahasa Swedia, serta pendekatan vokal yang lebih operatik. Rangkaian berikutnya bergerak antara kemenangan, harapan, perubahan, dan bahaya tersembunyi. “Justice: Balance”, “The Star: Surrender Control”, “Wheel of Fortune: Come and Call Me”, dan “The Moon: The Man of Moonlight” memperlihatkan kemampuan band memainkan kontras tempo, atmosfer, dan warna vokal. Salah satu materi paling eklektik adalah “The Hanged Man: Petrichor”, yang bergerak dari gitar akustik menuju metal berat dan opera. Sementara itu, Arcani ditutup oleh “The World”, komposisi gitar akustik dengan dominasi vokal perempuan yang merefleksikan kartu terakhir Major Arcana: pencapaian, penutupan, sekaligus kemungkinan untuk kembali melangkah. Dengan Arcani, Temperance tidak sekadar memakai Tarot sebagai ornamen visual atau tema lirik. Setiap kartu menjadi titik berangkat untuk mengeksplorasi karakter musik dan emosi yang berbeda. Band menyebut album ini memuat lirik paling personal sepanjang karier mereka, termasuk bagian-bagian yang direkam melalui sesi bersama untuk memperkuat rasa kebersamaan di antara personel. Arcani akan dirilis pada 16 Oktober 2026 melalui Napalm Records. Bagi Temperance, ini adalah upaya memperbesar skala symphonic metal mereka tanpa mengorbankan fondasi melodis, dinamika vokal, dan keberagaman musikal yang telah menjadi identitas utama band.
16.10 Firebreather - Blood That I Spill Turns To Fire
16.10 Insomnium - Netherworlds
Raksasa MDM Finlandia Insomnium kembali membuka pintu menuju album terbaru mereka melalui single dan video “Gleam In The Black”. Lagu ini menjadi materi kedua yang diperkenalkan dari album studio kesepuluh mereka, Netherworlds, yang dijadwalkan terbit pada 16 Oktober 2026 melalui Century Media Records. “Gleam In The Black” bergerak di antara melodi melankolis, atmosfer muram, dan hentakan death metal yang berat. Menurut vokalis sekaligus bassist Niilo Sevänen, lagu ini termasuk salah satu materi yang lebih cepat dalam album dan membawa kembali “spirit” klasik Insomnium, sehingga dirancang untuk mendapatkan respons kuat ketika dimainkan secara langsung. Secara lirik, lagu tersebut mengisahkan cinta yang gelap dan misterius. Narasinya menggambarkan sosok yang tersesat di hutan malam, mencari sesuatu yang telah lama hilang dan hanya dapat dijangkau melalui mimpi. “Gleam” atau kilau cahaya dalam kegelapan menjadi metafora bagi sesuatu yang masih dicari di tengah kehilangan dan keputusasaan. Video musiknya disutradarai dan diproduksi Patric Ullaeus dari rEvolver Film Company AB, yang menerjemahkan atmosfer suram lagu ke dalam pendekatan visual sinematik. Materi ini mengikuti single pertama Netherworlds dan semakin membuka gambaran mengenai dunia emosional yang dibangun Insomnium untuk album barunya. Berasal dari Joensuu, North Karelia, Insomnium selama lebih dari dua dekade mengembangkan perpaduan khas antara melodic death metal, melodi sendu, atmosfer luas, dan tema introspektif. Netherworlds menjadi album studio kesepuluh mereka dan disebut membawa eksplorasi emosional serta musikal yang lebih dalam, tanpa meninggalkan karakter yang telah melekat pada nama Insomnium. Album ini juga menandai perubahan penting di balik meja produksi. Miiro Varjus mengambil peran besar dalam proses produksi dan menjadi mitra kreatif utama band sepanjang pengerjaan album. Untuk tahap akhir, Insomnium kembali bekerja dengan tim Fascination Street Studios, bersama produser/mixer Jens Bogren dan mastering engineer Tony Lindgren. Dengan “Gleam In The Black”, Insomnium memperlihatkan bahwa melankolia mereka masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Di sini, keindahan tidak berdiri berlawanan dengan kehancuran keduanya justru hidup dalam lanskap yang sama, seperti secercah cahaya yang hanya terlihat karena dunia di sekelilingnya begitu gelap.
16.10 Janvs - Fatum Est
16.10 Vredensdal - Mystery & Power
16.10 Stoned Jesus - Songs To Moon
16.10 Iapetus - The Mother Void
Duo progressive/melodic death metal asal Amerika Serikat Iapetus akan kembali dengan album studio baru, The Mother Void, pada 16 Oktober 2026 melalui Willowtip Records. Album ini menjadi kelanjutan dari The Body Cosmic (2019) sekaligus menandai babak terakhir dari trilogi konseptual mereka mengenai hubungan manusia dengan alam semesta. Digawangi Matthew Cerami dan Jordan Navarro, Iapetus memperluas formasi kreatif album ini melalui sejumlah musisi tamu. Fabienne Erni menyumbangkan vokal, sementara drummer Brody Taylor Smith (Invent Animate), gitaris Benji Baret (Ne Obliviscaris), dan vokalis Frank Harper (Caelestra) turut ambil bagian dalam materi baru tersebut. Sebagai pengantar, Iapetus telah memperkenalkan single pertama “Red Giant” melalui video resmi. Lagu tersebut dijadwalkan tersedia di platform digital pada 7 Agustus, bersamaan dengan dibukanya pre-order album. “Red Giant” menjadi potongan awal dari narasi yang kembali membawa pendengar ke persimpangan antara keberadaan manusia dan skala kosmik yang jauh lebih besar. The Mother Void melanjutkan pendekatan konseptual Iapetus yang menjadikan kosmos bukan sekadar latar, melainkan bagian dari narasi tentang eksistensi manusia. Band menggambarkan album ini sebagai cerita mengenai umat manusia, alam semesta, dan perasaan bahwa kegagalan mungkin telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan. Album tersebut sekaligus menjadi penutup trilogi yang mengeksplorasi ketegangan antara kehidupan fana dan ruang angkasa yang tak berujung. Dari sisi produksi, album direkam melalui Fascination Street Studios, dengan proses mixing ditangani Jens Bogren dan mastering oleh Tony Lindgren. Artwork dipercayakan kepada seniman Vanessa Lemen. The Mother Void akan tersedia dalam format CD, gatefold 2xLP, edisi terbatas Longbox CD, serta digital. Setelah jeda tujuh tahun sejak The Body Cosmic, Iapetus kembali dengan proyek yang dirancang sebagai penutup perjalanan kosmik mereka. The Mother Void bukan sekadar album baru, melainkan titik akhir dari trilogi yang sejak awal menempatkan manusia sebagai makhluk kecil di hadapan keluasan semesta dan mempertanyakan apa arti keberadaan ketika segala sesuatu pada akhirnya menuju kehampaan.
16.10 Night Hag - Great Dismal Darkness
16.10 Streamer - Into The Void
16.10 Master - Among The Seeds Of Death
Master, salah satu nama yang ikut membentuk fondasi death metal sejak era 1980-an, kembali dengan album studio ke-16, Among the Seeds of Death. Dipimpin Paul Speckmann, rilisan ini melanjutkan pendekatan yang telah menjadi identitas Master selama lebih dari empat dekade: death metal tua yang bercampur thrash, sikap punk, dan penolakan keras terhadap tren. Setelah Saints Dispelled pada 2024, Among the Seeds of Death hadir hampir tiga tahun kemudian tanpa ambisi untuk mengubah formula. Justru di situlah daya tariknya. Riff kasar, tempo agresif, vokal garang, serta struktur lagu yang lugas tetap menjadi pusat musik Master. Tidak ada upaya mengejar produksi modern atau eksperimen berlebihan; Speckmann kembali melakukan apa yang telah ia lakukan sejak awal memainkan musik ekstrem dengan caranya sendiri. Pendekatan tersebut mengingatkan pada karakter death metal akhir ’80-an hingga awal ’90-an, ketika pengaruh thrash dan punk masih begitu kuat dalam tubuh genre. Bedanya, materi baru ini direkam dengan produksi yang lebih tebal dan berat, sehingga atmosfer primitifnya tetap terjaga tanpa terdengar seperti rekaman yang kehilangan tenaga. Master berawal pada 1983 dan menjadi bagian dari generasi awal yang membantu membentuk bahasa death metal sebelum genre tersebut berkembang menjadi berbagai cabang teknis dan ekstrem. Selama perjalanan panjangnya, Paul Speckmann mempertahankan prinsip sederhana: tidak perlu mengikuti perubahan zaman jika identitas sendiri masih memiliki alasan untuk bertahan. " Among the Seeds of Death " juga menegaskan bahwa aktivitas Master tidak berhenti di studio. Band ini masih menjalani tur internasional dengan rata-rata 50–100 pertunjukan per tahun, termasuk agenda sebagai pendukung langsung Napalm Death pada November 2026. Artwork album dikerjakan Richard Schouten, seniman yang juga pernah menangani karya untuk sejumlah nama ekstrem seperti Pentagram, Acrostichon, Napalm Death, dan Wolves in the Throne Room. Edisi LP akan dilengkapi poster A2, sedangkan versi CD hadir dalam deluxe slipcase. Bagi pendengar yang mengenal Death era awal, Massacre, Venom, Motörhead, Autopsy, Repulsion, atau Obituary, Among the Seeds of Death menawarkan sesuatu yang justru semakin langka dalam metal modern: Master tidak merasa perlu menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Selama riff masih bisa menghantam dan Speckmann masih bersedia berteriak, formula lama itu belum selesai.
16.10 Blind Illusion - Stage Flight: Live At The UC Theatre
16.10 Fervence - Constructs
16.10 Urarv - Nychta Psychis
16.10 Joe Stump - Lord Of The Strings
16.10 The Number Twelve Looks Like You - Howls From The Holographic Heart
16.10 Mother Of Graves - The Light That Keeps Us
16.10 Urna - The Great Jihad
16.10 Morgue - Herald The Dawn
Nama Morgue mungkin cukup umum dalam arsip musik ekstrem, tetapi salah satu representasinya berasal dari Prancis dan digerakkan oleh dua musisi yang juga menjalankan proyek Corrupter. Jika Corrupter bergerak dalam jalur yang lebih tradisional, Morgue menawarkan pendekatan yang sedikit lebih eksperimental dengan karakter musik yang berbeda dari proyek utama mereka. Duo Max dan Jérôme kini memperkenalkan Herald The Dawn, album keempat Morgue. Meski membawa pendekatan yang lebih bebas dibandingkan Corrupter, materi Morgue tidak secara dominan menonjolkan pengaruh brutal death metal maupun grindcore. Eksplorasi mereka justru terasa melalui cara penyusunan komposisi dan atmosfer yang lebih variatif. Perilisan Herald The Dawn juga mendapat dukungan dari label Polandia Gods of War, yang selama bertahun-tahun dikenal melalui katalog musik ekstrem dan underground. Kehadiran label tersebut memberikan konteks tersendiri bagi album baru Morgue, terutama karena proyek ini masih relatif kurang dikenal di luar lingkaran pendengar yang mengikuti musik ekstrem Prancis. Dibandingkan Corrupter, Morgue memperlihatkan sisi kreatif Max dan Jérôme yang lebih berani keluar dari formula tradisional. Herald The Dawn menjadi bukti bahwa satu pasangan musisi dapat membangun dua identitas musikal berbeda tanpa harus saling mengulang. Dengan album keempat ini, Morgue perlahan keluar dari bayang-bayang proyek lainnya. Herald The Dawn menawarkan sebuah pendekatan yang lebih eksperimental, namun tetap berpijak pada karakter gelap musik ekstrem cukup berbeda untuk menarik perhatian, tanpa harus memaksakan label brutalitas yang sebenarnya tidak menjadi pusat musik mereka.
16.10 Mannveira - Vesold
16.10 Zero Hour - No Man's Land
16.10 Lugubrious Garment - In The Wide Vale Of Uncreated Night
Setelah memperkenalkan intensitas awal melalui " Demo MMXXV " pada 2025, musisi Milan Gabriele Gramaglia kini membawa proyek Lugubrious Garment ke album penuh pertamanya, " In The Wide Vale Of Uncreated Night ". Dikenal melalui Cosmic Putrefaction, Vertebra Atlantis, dan sejumlah proyek ekstrem lainnya, Gramaglia menggunakan Lugubrious Garment sebagai ruang untuk mengeksplorasi death metal yang lebih liar, naluriah, dan agresif. Jika demo sebelumnya menjadi deklarasi awal, album ini memperluas gagasan tersebut dalam bentuk yang jauh lebih kompleks. Lugubrious Garment tetap mempertahankan kemampuan Gramaglia dalam menyusun komposisi berlapis, tetapi seluruh kompleksitas tersebut diarahkan menuju kekacauan sonik. Gitar kasar dan abrasif bergerak melalui pola ritmis yang padat, vokal terdengar seperti jeritan dari pusat badai, sementara lead gitar melengking memotong setiap ruang yang tersisa. Kekacauan tersebut sebenarnya dibangun dengan perhitungan. Riff berbelok dan bertabrakan dalam kecepatan tinggi, tempo dapat berpindah dari hantaman berat menuju akselerasi mendadak, sementara serpihan pengaruh heavy metal dan speed metal klasik muncul sesaat sebelum kembali ditelan oleh pusaran death metal yang brutal. " In The Wide Vale Of Uncreated Night " pada akhirnya mempertemukan dua sisi yang berlawanan: presisi teknis dan keganasan primitif. Kemampuan musikal Gramaglia tidak digunakan untuk memamerkan kerumitan, melainkan sebagai perangkat untuk memperbesar daya rusak komposisi. Melalui album perdana ini, Lugubrious Garment menunjukkan identitas yang lebih liar dibandingkan sejumlah proyek Gramaglia lainnya. " In The Wide Vale Of Uncreated Night " berdiri sebagai serangan death metal yang cepat, kasar, dan penuh energi destruktif sebuah langkah pertama yang tidak berusaha membuka jalan dengan sopan, tetapi merobeknya sampai terbuka.
16.10 Minenfeld - Instruments Of Industrialized Warfare
Setelah tujuh tahun sejak album perdana mereka, Minenfeld kembali dengan album penuh kedua, Instruments of Industrialized Warfare. Rilisan ini hadir dengan delapan lagu yang mengusung death metal era awal ’90-an dalam bentuk yang kasar, berat, dan tanpa kompromi. Album tersebut membawa kembali estetika death metal klasik ketika riff masih menjadi senjata utama, tempo menghantam secara langsung, dan atmosfer dibangun dari kekotoran suara ketimbang kemewahan produksi. Minenfeld tidak menawarkan pendekatan modern atau eksperimentasi berlebihan; mereka memilih menggali periode ketika death metal terdengar lebih liar dan mematikan. Namun " Instruments of Industrialized Warfare " tidak berhenti pada rekonstruksi musikal masa lalu. Tema utamanya berangkat dari realitas perang dan konsekuensinya, ditempatkan dalam konteks munculnya kembali nasionalisme ekstrem yang menurut band dapat membentuk cara pandang masyarakat secara berbahaya. Alih-alih mengglorifikasi konflik, materi album diarahkan pada sisi perang yang paling brutal: kehancuran, darah, penderitaan, dan keputusasaan yang ditinggalkannya. Judul " Instruments of Industrialized Warfare " sendiri memperkuat gagasan tersebut perang dipandang sebagai sebuah mesin industri yang mengubah manusia menjadi bagian dari proses penghancuran berskala besar. Delapan komposisi album menjadi soundtrack muram bagi kenyataan tersebut. Setelah perjalanan pertama yang meninggalkan “debu, darah, dan keputusasaan”, Minenfeld kini kembali ke medan yang sama dengan amunisi baru. " Instruments of Industrialized Warfare " adalah death metal yang menatap perang tanpa romantisasi: perang bukan kemenangan, melainkan neraka yang selalu meninggalkan korban.
16.10 Throneum - Love Is The Law But Death Is The Frame
16.10 The Keening - Devotion
16.10 Les Bâtards Du Roi - Ici Meurt Ma Joie
16.10 Great Falls - The Bite That Grows Up
16.10 Skywings - Deep Forest Carnival
17.10 Fugit - Where Foxes Say Goodnight
20.10 Estoner - Black Metal Uus Lõpp
21.10 Chaos Control - Chaos Control
22.10 Shedfromthebody - We Fly Into Windows
23.10 Ignea - Monumental
Band modern metal asal Ukraina, Ignea, memperkenalkan single ketiganya, “Prefab”, sebagai bagian dari album studio terbaru Monumental yang dijadwalkan terbit pada 23 Oktober 2026 melalui Napalm Records. Lagu ini menghadirkan sentuhan industrial metal yang kuat dengan keterlibatan Andy LaPlegua, vokalis sekaligus figur utama Combichrist, yang memberikan karakter aggrotech dan electro-industrial pada komposisinya. “Prefab” menjadi salah satu representasi paling jelas dari konsep Monumental: nostalgia terhadap masa lalu yang ternyata menyimpan sisi gelap. Lagu tersebut mengambil inspirasi dari bangunan prefabrikasi era sosialis blok-blok beton seragam yang dibangun atas nama kemajuan dan pemerataan, tetapi kemudian menjadi simbol kehidupan urban yang monoton, keterasingan, serta kegagalan sebuah utopia politik. Vokalis Helle Bohdanova menjelaskan bahwa pengalaman tumbuh di Ukraina pasca-Soviet membuat tema tersebut memiliki dimensi personal. Sisa arsitektur era tersebut masih berdiri di berbagai wilayah Eropa, sementara ingatan terhadapnya sering bercampur antara kenangan masa kecil dan realitas kemiskinan serta otoritarianisme. Video “Prefab” menerjemahkan gagasan itu melalui gambaran ruang apartemen sempit dan seragam, seolah penghuni boleh berganti tetapi struktur kehidupannya tetap sama. Monumental sendiri merupakan album kedua Ignea dan ditulis selama periode perang skala penuh di Ukraina. Sebagian besar proses rekaman berlangsung sepanjang musim dingin 2025–2026 di Kyiv, di tengah suhu ekstrem dan pemadaman listrik berkepanjangan. Kondisi tersebut menjadi latar nyata bagi album yang membicarakan nostalgia, kehilangan, memori kolektif, dan masa depan yang pernah dijanjikan tetapi tidak pernah benar-benar tiba. Mengikuti Dreams of Lands Unseen (2023), Monumental memuat sembilan lagu yang menelusuri berbagai bentuk nostalgia dari ambisi luar angkasa era Perang Dingin hingga keruntuhan arsitektur modernis dan beban memori personal. Seluruh lirik ditulis Bohdanova, sementara komposisi utama dikerjakan keyboardist Yevhenii Zhytniuk bersama Bohdanova. Proses mixing dan mastering ditangani produser nominasi Grammy Jacob Hansen. Dengan “Prefab”, Ignea tidak menjual nostalgia sebagai kenangan manis. Mereka justru membongkar bagian yang biasanya disembunyikan: beton yang membusuk, mimpi kolektif yang gagal, dan kerinduan terhadap masa lalu yang bahkan mungkin tidak pernah benar-benar seindah yang diingat.
23.10 Messier 16 - Shouts From The Cliffs Of Heterodoxy
23.10 Entheos - Empty On The Inside
Band progressive metal asal Amerika Serikat, Entheos, akan merilis album studio terbaru Empty On The Inside pada 23 Oktober 2026 melalui Metal Blade Records. Sebagai pembuka menuju album tersebut, mereka meluncurkan single perdana “Golden Crown” beserta video musik resminya. Vokalis Chaney Crabb mengungkapkan bahwa “Golden Crown” melewati proses penulisan dan penulisan ulang selama beberapa tahun. Bagian chorus lagu tersebut bahkan telah dibuat sejak 2020, jauh sebelum proses album dimulai. Secara musikal, Entheos sengaja menarik pengaruh rock dan metal era 1990-an, lalu menggabungkannya dengan synth bernuansa gelap, chorus besar, serta breakdown eksplosif. Secara lirik, “Golden Crown” membahas keterikatan destruktif yang perlahan melebur dengan identitas seseorang. Hubungan yang awalnya terasa memberdayakan berubah menjadi beban sekaligus penjara. Metafora “mahkota emas” menggambarkan sesuatu yang terus dikenakan selama bertahun-tahun hingga penderitaan tersebut justru menjadi bagian dari cara seseorang mendefinisikan dirinya. Empty On The Inside disebut sebagai karya paling ambisius dan matang dalam perjalanan Entheos. Crabb dan multi-instrumentalis Navene Koperweis menjadi inti band bersama gitaris Scott Carstairs dan Michael Stancel. Formula progressive mereka tetap mempertahankan permainan teknis dan perubahan ritme yang kompleks, tetapi album ini diarahkan pada songwriting yang lebih rapat, hook yang lebih kuat, serta porsi melodi yang lebih menonjol. Alih-alih mengejar produksi yang terlalu dipoles, Entheos menempatkan performa dan karakter personal masing-masing musisi sebagai bagian penting dari rekaman. Energi mentah rock dan metal 1990-an menjadi titik berangkat, tetapi diterjemahkan melalui pendekatan modern yang tetap mempertahankan identitas progressive mereka. Album ini diproduksi Mark Lewis, sementara proses mastering ditangani Justin Sturtz di Sterling Sound. Artwork dikerjakan Zac Shiffer, yang sebelumnya terlibat dalam proyek visual untuk Nine Inch Nails, Behemoth, dan Soundgarden. Empty On The Inside akan tersedia dalam format CD, digital, serta vinyl. Saat album baru tersebut menuju perilisan, Entheos juga tengah menjalani tur Amerika Utara bersama Jinjer dan Crystal Lake dalam rangkaian Duél Tour. Tur ini menjadi salah satu perjalanan terbesar mereka setelah tur headlining Amerika Utara pertama pada 2025 yang mencatat sejumlah pertunjukan sold-out dan peningkatan kapasitas venue.
23.10 Hostilia - The Curse Of Khamun
23.10 Forbidden - Forbidden
Veteran thrash metal Bay Area Forbidden memasuki fase baru dengan formasi yang direstrukturisasi dan materi yang membawa ambisi musikal mereka jauh melampaui sekadar menghidupkan kembali masa lalu. Gitaris Craig Locicero dan bassist Matt Camacho menjadi poros utama dalam karya terbaru yang menawarkan lebih dari satu jam musik penuh agresi thrash, dinamika emosional, serta eksplorasi progresif. Materi tersebut dibuka melalui “Single Point Failure”, sebuah trek yang langsung memperlihatkan intensitas baru Forbidden. Di ujung album, “Flower of Life” berdiri sebagai komposisi berdurasi sembilan menit dengan pendekatan lebih filosofis dan atmosferik. Jarak musikal antara kedua lagu tersebut menggambarkan arah baru band yang kini tidak lagi terpaku pada formula klasik. Forbidden memang memiliki fondasi kuat dalam sejarah thrash Bay Area. Forbidden Evil (1988) memperkenalkan karakter agresif mereka, sebelum Twisted Into Form (1990) memperluas pendekatan teknis dan komposisional. Namun materi terbaru ini mencoba melihat warisan tersebut sebagai titik awal, bukan batas kreativitas. Produksi ditangani Zach Ohren, yang dikenal melalui pekerjaannya bersama Machine Head. Rekaman ini juga merefleksikan sejarah panjang Forbidden yang sepanjang perjalanannya pernah melibatkan musisi yang kemudian terkait dengan nama-nama seperti Machine Head, Voivod, dan Imagika. Karena itu, kembalinya Forbidden lebih tepat dibaca sebagai reinvigorasi ketimbang sekadar reuni nostalgia. Mereka membawa kembali DNA thrash Bay Area, tetapi memperlakukannya sebagai bahan mentah untuk membangun musik yang lebih luas, progresif, emosional, dan ambisius sebuah bab baru bagi institusi metal yang telah bertahan sejak akhir 1980-an.
23.10 Goat Major - Death Comes Twice
23.10 Iommi - From The Dark[Studio
23.10 Turmion Kätilöt - Resodance
23.10 Abyssus - The Reign
23.10 Dragonland - Prophecies
23.10 Beaten To Death - Vntrve
23.10 Fvneral Fvkk - Indecent Idols
23.10 Armory (SWE) - Echoes Of The Astrolith
23.10 Mental Cruelty - Echoes Of A Forlorn Land
23.10 Crystal Ball - Reset[Studio]Power metal
23.10 The Flower Kings - Hope
23.10 Savage Grace - Underworld
23.10 Half Me - Dogma
23.10 Wolves In The Throne Room - Estuary
Pelopor atmospheric black metal Wolves in the Throne Room memperkenalkan " Estuary ", lagu kedua dari album terbaru mereka yang juga berjudul " Estuary ". Album ini dijadwalkan terbit pada 23 Oktober 2026 melalui Century Media Records dan Relapse Records, sekaligus menjadi kelanjutan dari Primordial Arcana (2021). Lewat materi terbarunya, band kembali mengembangkan perpaduan black metal, mitologi, dan narasi lingkungan, tetapi kali ini ditempatkan dalam sebuah dunia pasca-apokaliptik. " Estuary " berlatar 1.000 tahun di masa depan, ketika para penyintas sebuah bencana besar hidup di antara reruntuhan peradaban manusia. Vokalis/gitaris Nathan Weaver menjelaskan bahwa dalam dunia yang dibangun untuk album tersebut, kawasan estuari menjadi titik pertemuan penting tempat kekuatan magis mengambil bentuk fisik. Jika alam liar akhirnya mengalahkan kota-kota, wilayah tersebut berubah menjadi ruang yang dikuasai kekuatan misterius, sementara roh baik dan jahat kembali berkeliaran di bumi. Konsep album memperluas gagasan tersebut melalui gambaran tentang makhluk mutan, portal terbuka, reruntuhan berhantu, dan agama pasca-apokaliptik yang tumbuh di tengah lanskap yang kembali dikuasai alam. Manusia bukan lagi penguasa lingkungan, melainkan bagian kecil dari dunia yang telah berubah secara ekstrem. Wolves in the Throne Room memproduksi album ini secara mandiri. Video untuk " Estuary " memperkuat narasi tersebut dengan menampilkan figur-figur mitologis yang bergerak di antara beton lapuk, rel kereta api terbengkalai, serta reruntuhan industri yang perlahan ditelan vegetasi. Secara visual maupun konseptual, " Estuary " memperlihatkan dunia ketika peradaban manusia tinggal sebagai fosil, sementara alam mengambil kembali ruang yang pernah direbut darinya. Album ini akan dirilis pada 23 Oktober 2026, melanjutkan eksplorasi Wolves in the Throne Room terhadap hubungan antara black metal, mitologi, dan kehancuran ekologis.
23.10 Anagnorisis - Caregriever
Setelah menghilang dari aktivitas publik selama hampir delapan tahun, band post-black metal asal Louisville, Kentucky, Anagnorisis kembali mengerjakan materi baru yang akan menjadi album penuh keempat mereka. Band yang aktif sejak 2003 hingga 2016 ini dikenal melalui pendekatan extreme metal yang teatrikal, introspektif, dan sangat personal. Lirik serta atmosfer musik mereka kerap menggali tema trauma masa kanak-kanak, depresi, kehilangan, duka, dan proses menghadapi luka batin. Nama Anagnorisis mendapat perhatian lebih luas melalui album " Beyond All Light " (2013) dan " Peripeteia " (2016). Setelah menjalankan sejumlah tur terbatas untuk mendukung Peripeteia dan kepergian keyboardist lama Sam Hartman, aktivitas band perlahan terhenti dan memasuki hiatus panjang. Kembalinya Anagnorisis berawal dari proyek personal vokalis Zachary Kerr. Pada 2023, Kerr mulai menulis materi dengan nama " Caregriever ", sebuah proyek yang lahir dari pengalaman menghadapi kelelahan emosional dan fisik ketika menjadi pengasuh penuh waktu bagi ayah mertuanya yang kemudian meninggal dunia. Materi tersebut kemudian mempertemukan kembali Kerr dengan gitaris sekaligus rekan kreatif lamanya, Zak Denham. Apa yang semula dirancang sebagai proyek solo berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar dan akhirnya menjadi fondasi bagi album keempat Anagnorisis. Materi baru itu selanjutnya diberikan kepada bassist Josh Mumford dan drummer Cody McCoy, sekaligus mempertemukan kembali inti formasi band. Proses rekaman Caregriever dimulai pada musim panas 2024, menandai lahirnya materi baru Anagnorisis untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Dengan demikian, " Caregriever " bukan sekadar proyek sampingan atau nostalgia terhadap masa lalu. Ia menjadi titik temu antara pengalaman kehilangan, kelelahan sebagai " caregiver ", dan hubungan kreatif yang kembali menyala setelah bertahun-tahun terputus. Jika dua album sebelumnya menjadi penanda penting perkembangan Anagnorisis, album keempat ini berangkat dari pengalaman hidup yang jauh lebih personal dan barangkali lebih gelap.
23.10 Cursebinder - Psychohazard
23.10 Polyphia - Be Not Afraid
23.10 Frontierer - Ultraviolet Parasite
23.10 Sathanas - Black Earth
Veteran black/death metal Amerika, Sathanas, akhirnya akan membuka kembali salah satu bagian paling awal dari sejarah mereka melalui perilisan versi orisinal album debut " Black Earth ". Rekaman tersebut sebelumnya ditolak oleh label pada masanya, yang justru meminta band melakukan proses rekaman ulang sebelum album diterbitkan. Akibat keputusan tersebut, versi pertama " Black Earth " tidak pernah resmi beredar dan selama bertahun-tahun hanya menjadi bagian yang nyaris hilang dari arsip perjalanan Sathanas. Kini, rekaman orisinal itu akhirnya akan diterbitkan melalui Moribund Records, memberikan kesempatan untuk mendengar materi dalam bentuk sebagaimana pertama kali direkam. Versi asli " Black Earth " akan tersedia dalam format CD dan digital pada 23 Oktober 2026, sementara edisi vinyl terbatas sebanyak 250 kopi dijadwalkan menyusul pada 6 November 2026. Perilisan ini bukan sekadar pengulangan album debut, melainkan upaya membuka kembali dokumen awal Sathanas yang sebelumnya tersisih oleh keputusan industri rekaman. Dengan mempertahankan versi yang dahulu ditolak label, " Black Earth " kini berfungsi sebagai arsip langsung mengenai bagaimana band tersebut terdengar pada fase awal karier mereka. Kehadiran rekaman ini juga memperlihatkan sisi lain sejarah musik ekstrem: tidak semua materi yang dianggap layak oleh sebuah band akhirnya sampai ke publik pada bentuk aslinya. Dalam kasus Sathanas, sebuah rekaman yang pernah ditolak justru bertahan sebagai artefak yang akhirnya mendapatkan kesempatan kedua beberapa dekade kemudian. " Black Earth " versi orisinal akan hadir melalui Moribund dalam format CD dan digital pada 23 Oktober, disusul vinyl edisi terbatas pada 6 November 2026.
23.10 Obscura Qalma - Immortality Through Ashes
Band orchestral blackened death metal asal Venice, Obscura Qalma, akan merilis album penuh terbaru mereka, Immortality Through Ashes, pada 23 Oktober 2026 melalui Dusktone. Pengumuman ini hadir bersamaan dengan peluncuran “Obsidian Numen”, yang kini tersedia sebagai single digital sekaligus video visualiser. Berisi delapan lagu, " Immortality Through Ashes " dibangun di atas gagasan tentang potensi yang tak pernah diwujudkan pengetahuan, kreativitas, dan kebenaran yang tersimpan dalam diri manusia tetapi gagal diterjemahkan menjadi sesuatu yang nyata. “Obsidian Numen” menghadirkan sisi paling gelap dari konflik tersebut, menggambarkan kompromi dan jalan pintas destruktif yang dapat muncul ketika proses penciptaan mulai menemui jalan buntu. Secara konseptual, Obscura Qalma mengembangkan album ini melalui reinterpretasi kontemporer terhadap kisah Faust, dengan inspirasi dari pemikiran Goethe, Immanuel Kant, dan Charles Baudelaire. Hasrat, penderitaan, egoisme, kesombongan, serta keinginan untuk melampaui batas manusia menjadi fondasi narasi yang membedah sisi kontradiktif kondisi manusia. Secara musikal, band memperluas formula orchestral blackened death metal yang telah dibangun melalui rilisan sebelumnya. Kali ini, mereka memasukkan elemen deathcore, industrial metal, technical death metal, dan blackgaze, menciptakan spektrum suara yang lebih lebar tanpa meninggalkan karakter ekstrem mereka. " Immortality Through Ashes " menjadi kelanjutan dari EP Veils Of Transcendence yang dirilis pada 2024, sekaligus rilisan terbaru Obscura Qalma di bawah Dusktone. Mantan vokalis She Must Burn, Joe Sinclair, turut tampil sebagai vokalis tamu dalam lagu “Hollow Bastion”. Seluruh proses recording, mixing, dan mastering ditangani Leopoldo Santoro, sementara artwork album dikerjakan langsung oleh Obscura Qalma. Fotografi dipercayakan kepada Miriam Brigge, dengan desain logo band oleh Marcelo Vasco. Dengan " Immortality Through Ashes ", Obscura Qalma tidak sekadar mempertebal lapisan orkestrasi dan ekstremitas musiknya. Mereka menjadikan ambisi, kegagalan mencipta, dan hasrat manusia untuk melampaui dirinya sendiri sebagai bahan bakar utama sebuah tema yang terdengar klasik, tetapi tetap relevan di dunia yang semakin dipenuhi potensi yang tidak pernah benar-benar diwujudkan.
23.10 Nasty - Trauma
23.10 Boss Keloid - Float & Aperture
23.10 Soliloquium - Upheaval
23.10 After Infinity - Beyond Eternity
23.10 Kat - Death Is Not Enough
23.10 Regiment - The Art Of Arson
23.10 The Scars In Pneuma - Cursed Songs From The Garden Of Twilight
Berakar pada perpaduan doom-infused melodic black metal yang muram, tragis, sekaligus epik, The Scars In Pneuma menghadirkan pendekatan yang sulit ditempatkan dalam bayang-bayang satu band tertentu melalui album " Cursed Songs from the Garden of Twilight ". Proyek yang digagas Lorenzo Marchello, mantan bagian dari Kolony Records, ini membangun musik melalui melodi dramatis, atmosfer menghantui, serta struktur lagu yang terus bergerak antara tempo lambat dan cepat. Alih-alih mengandalkan formula black metal yang repetitif, The Scars In Pneuma membiarkan setiap komposisi berkembang secara bertahap. Interlude yang mencekam, perubahan ritme, dan detail melodis saling bertaut membentuk perjalanan musikal yang terasa seperti satu narasi panjang. Vokal growl yang dalam dan bergema ditempatkan di atas arus instrumental tersebut, mempertebal intensitas emosional tanpa menenggelamkan karakter melodinya. Secara tematik, " Cursed Songs from the Garden of Twilight " bergerak di antara alam dan peradaban, sekaligus mempertanyakan kebutuhan manusia terhadap keduanya. Marchello juga membawa refleksi yang lebih luas mengenai makna kehidupan dan kekosongan budaya yang semakin terasa di zaman modern. Salah satu gagasan sentral album adalah seni sebagai bentuk perlawanan terhadap kehampaan tersebut. Warisan artistik masa lampau, khususnya karya seni kuno dan peninggalan para kreator besar, dipandang sebagai sumber yang mampu menjaga manusia tetap terhubung dengan makna, sejarah, dan kapasitasnya untuk mencipta. Secara produksi, album ini direkam, mixing, dan mastering oleh Carlo Meroni di ADSR Decibel Studio, Busto Arsizio, Italia. Identitas visualnya diperkuat lukisan “Night Song” karya Yaroslav Gerzhedovich sebagai artwork sampul. " Cursed Songs from the Garden of Twilight " pada akhirnya bukan sekadar album tentang kegelapan. Ia menggunakan kegelapan sebagai ruang kontemplasi tempat alam, peradaban, seni, dan krisis makna manusia saling berhadapan dalam lanskap musik yang lambat, megah, dan terus menghantui.
25.10 Venegence - B-Side Rejects
28.10 Anthenora - Divine
Punishment 18 Records memperluas katalog rilisan mereka dengan menghadirkan dua album baru sekaligus sejumlah reissue dari nama-nama penting dalam sejarah metal internasional. Dua rilisan terbaru yang menjadi fokus utama adalah AnthenorA " Divine " dan Ibridoma Sangue Innocente. Keduanya membawa fondasi heavy metal klasik dengan karakter yang enerjik, penuh attitude, dan tetap berpijak pada formula metal tradisional. Punishment 18 Records menggambarkan kedua album tersebut sebagai rilisan yang dirancang untuk mempertahankan spirit heavy metal tanpa kehilangan tenaga dan agresivitas. Di saat bersamaan, label ini juga menyiapkan rangkaian penerbitan ulang sejumlah album yang memiliki jejak penting dalam perkembangan berbagai cabang musik metal. Daftar tersebut mencakup Rotting Christ – Genesis, Rotting Christ – Sanctus Diavolos, Aborted – Strychnine 213, Syl – The New Black, Terravore – Apocalyptic Impact, Angel Dust – Bleed, Sacred Steel – Wargods of Metal, serta Cro-Mags – Alpha Omega. Pilihan katalog tersebut memperlihatkan rentang musikal yang cukup luas, dari black metal dan death metal hingga groove, thrash, heavy metal, serta crossover. Album-album tersebut berasal dari periode dan latar berbeda, tetapi sama-sama memiliki rekam jejak dalam membentuk atau merepresentasikan perkembangan scene metal pada generasinya. Bagi Punishment 18 Records, proyek reissue ini bukan sekadar menghidupkan kembali katalog lama. Rangkaian tersebut menjadi upaya membawa kembali album-album yang dianggap memiliki arti historis dan artistik bagi pendengar lintas generasi, sekaligus mempertemukannya dengan dua rilisan baru yang tetap mengusung semangat heavy metal klasik. Dengan kombinasi rilisan anyar dan katalog lama, Punishment 18 Records kembali menempatkan arsip sejarah metal dan regenerasi musik dalam satu jalur yang sama.
30.10 Avaland - Chemical Poetry
Band metal opera asal Prancis, Avaland, akan merilis album studio terbaru, " Chemical Poetry ", pada 30 Oktober melalui Storytium. Album berisi 12 lagu ini menjadi bab ketiga dari rangkaian metal opera yang mereka mulai melalui Theater Of Sorcery (2021) dan dilanjutkan dengan The Legend Of The Storyteller (2023). Menjelang perilisan, Avaland telah memperkenalkan tiga materi awal. “Destiny Calls” dirilis pada Mei, disusul “Faded Away” pada Juni dan “Face The Eternal” pada 28 Agustus. Rangkaian single tersebut menjadi pengantar menuju album yang kembali mempertemukan heavy metal melodis dengan narasi teatrikal khas Avaland. Salah satu lagu yang mengalami perubahan terbesar selama proses pengerjaan adalah “Face The Eternal.” Menurut vokalis Adrien G. Gzagg, materi tersebut pada tahap demo justru dianggap sebagai salah satu lagu terlemah dalam sesi awal. Situasinya berubah setelah band memasukkan riff dan atmosfer yang terinspirasi dari melodic death metal, mengubah karakter lagu menjadi jauh lebih berat dan agresif. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Avaland tidak sepenuhnya terikat pada formula metal opera yang mereka bangun sejak album debut. Elemen melodis dan teatrikal tetap menjadi fondasi, tetapi riff yang lebih ekstrem memberikan kontras baru terhadap struktur musik mereka. Produksi " Chemical Poetry " dipercayakan kepada Joost van den Broek, produser yang memiliki rekam jejak bersama sejumlah nama besar metal Eropa seperti Epica, Powerwolf, Sabaton, Ayreon, dan Blind Guardian. Keterlibatannya menjadi salah satu aspek penting dalam membentuk skala produksi album ketiga Avaland. Di dalam konsep pertunjukan, vokal juga menjadi bagian penting dari identitas Avaland. Adrien G. Gzagg dan Jeff Kanji menjadi dua vokalis utama dengan format twin lead vocals, sementara pertunjukan langsung mereka dapat melibatkan antara dua hingga lima suara, termasuk vokalis tamu. Secara musikal dan teatrikal, Avaland menyebut The Alan Parsons Project, Avantasia, Winger, dan Savatage sebagai sejumlah referensi utama. Pengaruh tersebut tercermin dalam pendekatan mereka yang menggabungkan heavy metal, melodisme, vokal berlapis, serta konsep naratif berskala besar. Dengan " Chemical Poetry ", Avaland memasuki bab ketiga dari perjalanan metal opera mereka. Album ini akan dirilis 30 Oktober melalui Storytium, membawa kesinambungan cerita dari dua album sebelumnya sekaligus memperlihatkan keberanian band memperluas spektrum musikalnya melalui riff melodic death metal dan produksi yang lebih ambisius.
30.10 Xentrix - Allied With The Enemy
Veteran thrash metal Inggris Xentrix kembali mempertegas eksistensinya dengan merilis video musik resmi “Nil By Mouth”, salah satu materi dari album terbaru mereka, " Allied With The Enemy ", yang dijadwalkan terbit 30 Oktober 2026 melalui Listenable Records. Menariknya, lagu tersebut bukan materi yang sepenuhnya baru. Musik “Nil By Mouth” awalnya didemokan untuk album Seven Words (2022), tetapi kemudian tenggelam di antara berbagai gagasan baru dan nyaris terlupakan. Materi itu ditemukan kembali ketika Xentrix mulai mengerjakan album berikutnya. Dengan lirik serta vokal yang ditulis ulang dari awal, lagu tersebut akhirnya memperoleh kehidupan kedua dan berkembang menjadi salah satu komposisi tercepat dalam album baru. Secara tematik, “Nil By Mouth” membahas terputusnya komunikasi secara involunter kondisi ketika pikiran bergerak terlalu cepat, saling bertumpuk dan kusut, hingga seseorang tidak mampu mengolahnya menjadi kata-kata. Gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam perpaduan riff thrash klasik, presisi metal modern, hentakan double-time snare, serta chorus berat yang mengarah pada beatdown. " Allied With The Enemy " berisi 10 lagu dan disebut sebagai salah satu pernyataan paling keras Xentrix hingga kini. Album ini direkam sepanjang akhir 2025 hingga 2026 di Backstage Studios, Inggris, dengan produksi kembali ditangani Andy Sneap. Artwork dikerjakan seniman Inggris Dan Goldsworthy. Secara musikal, Xentrix mempertahankan fondasi thrash mereka sembari memberi ruang bagi melodi dan atmosfer. Sementara itu, materi liriknya menyoroti disinformasi, popularitas buta, keruntuhan sosial dan personal, hingga bias terhadap diri sendiri. Pendekatan tersebut membuat album baru ini tidak hanya mengandalkan kecepatan dan agresi, tetapi juga membawa gagasan yang menuntut perhatian pendengarnya. Perjalanan Xentrix sendiri berakar pada ledakan thrash Inggris akhir 1980-an. Demo mereka mendapat ulasan five-K dari Kerrang!, yang kemudian menarik perhatian Roadrunner Records dan membawa mereka menuju debut Shattered Existence (1989). Album berikutnya, " For Whose Advantage? " (1990), kemudian menjadi salah satu rilisan yang paling dihormati dalam katalog thrash Inggris. Xentrix juga dikenal luas lewat interpretasi mereka terhadap “Ghostbusters”. Sepanjang periode awal, Xentrix berbagi panggung dengan nama-nama seperti Slayer, Testament, Sepultura, Annihilator, Sabbat, Tankard, dan Skyclad, sebelum mengakhiri aktivitas pada 1996. Band ini beberapa kali kembali ke panggung, termasuk reuni formasi awal pada 2006 dan kembalinya mereka bermain secara reguler pada 2013. Sejak 2017, posisi gitaris/vokalis Chris Astley digantikan Jay Walsh dari Bull-Riff Stampede. Kini, dengan " Allied With The Enemy ", Xentrix kembali membawa formula lama mereka ke medan yang lebih modern: thrash yang cepat, berat, tajam, tetapi tetap memiliki sesuatu untuk dikatakan.
30.10 Sarcator - The Ones We Follow
30.10 Rattlesnakes - Shadows In The Night
30.10 Ministry - Hate To Go - Take Out Or Delivery
30.10 Cryptorium - Through The Bowels Of Ceaseless Dissonance
Band death metal Swedia Cryptorium mengumumkan album studio kedua mereka, " Through the Bowels of Ceaseless Dissonance ", yang dijadwalkan rilis 30 Oktober 2026. Bersamaan dengan pengumuman tersebut, mereka juga meluncurkan video musik resmi untuk lagu utama album. Album ini menjadi kelanjutan dari debut Descent into Lunacy dan menunjukkan ambisi Cryptorium untuk memperdalam pendekatan mereka terhadap Swedish death metal klasik. Kali ini, band menjanjikan penulisan lagu yang lebih kuat serta produksi yang lebih matang, tanpa mengorbankan karakter mentah dan kotor yang menjadi identitas mereka. Pengaruh dari pionir seperti Dismember, Entombed, Carnage, dan Grave tetap terasa, tetapi Cryptorium tidak sekadar mengulang formula lama. Mereka justru mempertahankan sisi kasar dan agresif death metal Swedia, menghindari kecenderungan produksi modern yang terlalu bersih atau terlalu bergantung pada melodi. Dengan 10 lagu, " Through the Bowels of Ceaseless Dissonance " diposisikan sebagai langkah lebih besar dari debutnya, baik dari sisi produksi maupun konsep visual. Artwork album dikerjakan oleh Slimeweaver (Retching), melengkapi estetika yang sengaja mempertahankan nuansa busuk, gelap, dan tidak kompromistis. Cryptorium menawarkan death metal yang langsung menghantam: riff berat, distorsi kotor, atmosfer membusuk, dan eksekusi yang tetap terkontrol. Di tengah banyaknya band yang mencoba memoles death metal klasik agar terdengar lebih modern, mereka mengambil arah sebaliknya mengikis lapisan polesan dan membiarkan kebusukan genre tersebut berbicara sendiri. Bagi penggemar Dismember, Entombed, Carnage, Grave, Crawl, Feral, dan Vomitheist, album ini menjadi salah satu rilisan Swedish death metal yang patut diperhatikan pada akhir 2026.
30.10 Northlane - Anemoia
30.10 Black Royal - Abyssian
30.10 Lumsk - Einsemda
Kolektif folk/progressive metal Norwegia Lumsk akan kembali dengan album studio kelima, " Einsemda ", yang dijadwalkan terbit pada 30 Oktober melalui Karisma Records. Album ini mengambil sejumlah puisi karya penyair Norwegia Tor Jonsson (1916–1951) sebagai fondasi utama, menghasilkan perpaduan musik yang gelap, emosional, dan sarat atmosfer Nordik. Rilisan ini melanjutkan perjalanan Lumsk setelah comeback mereka melalui Fremmede Toner. Jika sebelumnya band mempertegas kembali identitas antara progressive metal, folk rock, dan tradisi penceritaan Nordik, " Einsemda " bergerak lebih jauh ke wilayah emosional. Musik dibangun untuk memperkuat ketegangan, kerentanan, keindahan, sekaligus sisi gelap yang terkandung dalam puisi Jonsson. Single pembuka sekaligus lagu pertama album, “Daudmannhaugen,” menjadi gambaran awal arah tersebut. Lumsk menyebut lagu ini sebagai titik temu antara lirik Jonsson dan musik mereka dalam lanskap yang gelap namun indah. Band juga menilai materi terbaru memiliki variasi dan kompleksitas musikal yang lebih besar, tanpa meninggalkan karakter khas Lumsk. Tujuh puisi Jonsson menjadi bagian dari album: “Einsemda,” “Vona,” “Mogning,” “Haust på Torget,” “Å Dikte,” “Eg er liv av ei kvinnes død,” dan “Daudmannhaugen.” Karya Jonsson dikenal melalui bahasa puitis yang lugas namun intens, serta kontras antara harapan dan keputusasaan, kedekatan dan jarak, kehidupan dan kematian tema yang menemukan padanan alami dalam pendekatan musik Lumsk. Menurut band, kedalaman emosional puisi Jonsson menjadi alasan utama mereka memilih materi tersebut. Lumsk berusaha mempertahankan ketegangan asli puisinya, bukan menghaluskannya, melainkan menerjemahkannya ke dalam musik yang lebih hidup dan langsung. Sebagian besar musik ditulis oleh Espen W. Godø, dengan “Å Dikte” digubah oleh Roar Grindheim. Rekaman utama dikerjakan di home studio para personel, sementara vokal, organ, piano, dan gitar tambahan direkam di Autumnsongs Recording Studio. Godø dan Espen Hammer bekerja bersama Rhys Marsh dalam proses produksi dan mixing untuk mempertahankan keseimbangan antara keintiman dan bobot musikal album. Formasi Lumsk saat ini terdiri dari Mari Klingen (vokal), Espen Warankov Godø (keyboard/Hammond/piano), Eystein Garberg dan Roar Grindheim (gitar), Siv Lena Laugtug Sæther (violin), Espen Hammer (bass), serta Vidar Berg (drum). " Einsemda " akan dirilis pada 30 Oktober, sementara Lumsk akan merayakan peluncurannya melalui konser khusus di Rockheim, Trondheim, pada 7 November. Album ini menempatkan puisi Tor Jonsson bukan sekadar sebagai sumber lirik, tetapi sebagai inti narasi yang kemudian diterjemahkan Lumsk ke dalam bahasa folk, progressive metal, dan atmosfer Nordik yang semakin matang.
30.10 Eldfödd - The Night Belongs To The Dead
Nama baru dengan wajah-wajah lama akan memasuki medan death metal tahun ini. Eldfödd, formasi death metal Swedia yang baru terbentuk dan dihuni sejumlah musisi berpengalaman dari skena ekstrem negara tersebut, akan merilis album debut " The Night Belongs To The Dead " pada 30 Oktober 2026 melalui Edged Circle Productions. Berisi 9 lagu, album ini direkam dan diproduksi di Studiocave Fagersta oleh Pontus Ekwall, sementara proses mixing dan mastering ditangani Gord Olson. Dari materi yang diperkenalkan, Eldfödd mengusung death metal yang brutal, gelap, dan sengaja dibiarkan terdengar membusuk ditopang drum tanpa ampun, riff berat, serta vokal growl yang kasar. Namun daya tarik utama Eldfödd terletak pada pengalaman para personelnya. Band ini dihuni musisi yang telah terlibat dalam sejumlah rilisan penting dan aktivitas panggung dalam sejarah Swedish metal, dengan rekam jejak yang mencakup nama-nama seperti Necrophobic, Dismember, Deströyer 666, Nifelheim, Darkened, Dreadful Fate, General Surgery, Under the Church, In Aphelion, Maze of Torment, dan Witchery. Kolektif tersebut membuat Eldfödd bukan proyek yang muncul dari ruang hampa. Para anggotanya telah membawa pengalaman dari berbagai album dan panggung besar sebelum menyatukannya dalam formasi baru ini. Kendati demikian, " The Night Belongs To The Dead " tetap menjadi titik awal Eldfödd sebagai entitas tersendiri. Dengan formula yang menekankan kekerasan riff, drum agresif, growl yang menggeram, dan atmosfer kematian, album ini tampaknya tidak berusaha memperhalus sisi ekstrem musik mereka. Sebaliknya, Eldfödd memilih pendekatan yang langsung dan ganas: death metal yang terdengar seperti bangkai lama yang baru saja digali Kembali lebih busuk, lebih liar, dan siap menyeret pendengarnya ke dalam kegelapan.
30.10 Bloedmaan - Circle Of The Moon
30.10 Enslaved - Mið
Veteran progressive black metal Enslaved mengumumkan album studio ke-18 mereka, " Mið ", yang akan dirilis pada 30 Oktober 2026 melalui Nuclear Blast Records. Pengumuman tersebut disertai peluncuran single baru “Solar Will”, lengkap dengan video musik garapan Kolibri Media dari Bergen, mitra visual lama band. Judul Mið berasal dari bahasa Old Norse yang berarti “pusat” atau “tengah”, sekaligus menjadi konsep utama album. Setelah lebih dari tiga dekade mengeksplorasi hubungan antara mitologi Nordik, sejarah kuno, dan musik progresif, Enslaved kali ini memusatkan perhatian pada gagasan tentang titik tengah sebagai asal sekaligus ruang dengan jangkauan tak terbatas. “Solar Will” menjadi salah satu gambaran paling jelas dari konsep tersebut. Gitaris Ivar Bjørnson menggambarkan lagu ini sebagai refleksi atas pemujaan terhadap Matahari sumber kehidupan sekaligus kekuatan yang mampu menghancurkan kehidupan. Riff besar, groove drum bergaya John Bonham, dan ledakan melodi digunakan untuk menerjemahkan dualitas tersebut ke dalam musik. Vokalis sekaligus bassist Grutle Kjellson menambahkan bahwa lirik “Solar Will” mengeksplorasi konflik arketipal yang muncul dalam alam, kosmos, mitologi, dan terutama pikiran manusia. Alih-alih menawarkan penyelesaian yang tegas, lagu tersebut justru membuka ruang bagi interpretasi, menerima kekacauan dan mimpi sebagai bagian penting dari pengalaman manusia. Secara konseptual, Mið melanjutkan ketertarikan Enslaved terhadap gagasan transisi yang sebelumnya tampak dalam Utgard (2020) dan Heimdal (2023). Namun album baru ini bergerak menuju gagasan yang lebih luas: dialog antara masa lalu dan masa kini, potongan kebenaran dengan gambaran universal, serta proses kreatif yang dibangun melalui insting dan kepercayaan antaranggota band. Dibentuk oleh Bjørnson dan Kjellson pada 1991, Enslaved merilis demo Yggdrasill pada 1992, mini-album Hordanes Land pada 1993, dan debut penuh Vikingligr Veldi pada 1994. Dari akar Norwegian black metal, mereka kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok paling konsisten dalam memperluas batas antara black metal dan progressive metal. Setelah 35 tahun perjalanan dan 17 album, Mið menjadi fase terbaru dari evolusi tersebut. Bukan sekadar kembali ke akar, Enslaved kembali menggunakan masa lalu sebagai bahan bakar untuk membaca masa kini dengan “Solar Will” sebagai pintu pertama menuju pusat baru yang sedang mereka bangun.
30.10 Dawn Of Destiny - Ashes Over Tomorrow
Veteran power metal Jerman Dawn of Destiny akan kembali dengan album studio ke-10 mereka, " Ashes Over Tomorrow ", yang dijadwalkan rilis pada 30 Oktober 2026 melalui El Puerto Records. Album baru ini membawa judul yang mengisyaratkan babak lebih gelap dan berorientasi pada masa depan. Dawn of Destiny tetap mempertahankan karakter musik mereka melalui perpaduan power metal, vokal kuat, aransemen dramatis, dan elemen symphonic metal yang menjadi bagian penting dari identitas band. Salah satu daya tarik utama " Ashes Over Tomorrow " adalah keterlibatan dua vokalis tamu dari nama besar heavy dan power metal Eropa. Album ini menghadirkan Fabio Lione, mantan vokalis Rhapsody of Fire dan Angra, serta Ralf Scheepers dari Primal Fear. Kehadiran kedua musisi tersebut memperluas dimensi vokal album sekaligus menambah bobot pada rilisan terbaru Dawn of Destiny. Dengan format female-fronted yang menjadi ciri band, materi baru ini diposisikan sebagai kelanjutan perjalanan mereka setelah sembilan album studio sebelumnya. Sejak berdiri di Bochum, Dawn of Destiny berkembang sebagai salah satu nama yang konsisten menggabungkan kekuatan power metal dengan pendekatan simfonik dan aransemen berskala besar. " Ashes Over Tomorrow " akan melanjutkan garis musikal tersebut, tetapi dengan nuansa yang disebut lebih gelap dan reflektif. " Ashes Over Tomorrow " akan resmi dirilis pada 30 Oktober 2026 melalui El Puerto Records, menawarkan babak baru Dawn of Destiny melalui kombinasi power metal melodis, atmosfer simfonik, vokal dramatis, dan kolaborasi dua nama penting dari skena metal Eropa.
30.10 Crystal Eyes - Thunder God
Veteran metal Swedia Crystal Eyes akan kembali dengan album studio kesembilan, " Thunder God ", yang dijadwalkan rilis pada 30 Oktober 2026 melalui Massacre Records. Album ini mempertahankan fondasi musik yang telah menjadi identitas mereka selama lebih dari tiga dekade: perpaduan traditional heavy metal dan power metal dengan melodi kuat, struktur epik, serta riff yang menjadi pusat komposisi. Menjelang perilisan album, Crystal Eyes memperkenalkan single “Metal Bound”. Lagu tersebut digambarkan sebagai anthem heavy metal bergaya klasik dengan karakter marching riff dan chorus yang dirancang untuk dinyanyikan bersama penonton. Pendiri sekaligus mastermind Mikael Dahl menjelaskan bahwa liriknya berangkat dari gambaran tentang umat manusia yang meninggalkan Bumi setelah kehancurannya untuk mencari tempat tinggal baru di antara bintang. Pada saat yang sama, lagu tersebut menjadi metafora mengenai upaya mempertahankan warisan heavy metal. Didirikan Dahl pada 1992, Crystal Eyes memilih jalur yang relatif konsisten dengan akar heavy metal tradisional. Alih-alih mengikuti perubahan tren, band mempertahankan formula berbasis riff gitar yang mudah dikenali, vokal melodis, serta pengaruh kuat dari era klasik heavy metal. " Thunder God " merangkum pendekatan tersebut melalui sembilan lagu baru, dengan materi yang bergerak dari heavy metal langsung hingga sisi melodis dan epik mereka. Dalam proses produksinya, Dahl kembali menangani vokal dan gitar, sementara keseluruhan produksi dikerjakan di Studio Fredman. Fredrik Nordström bertanggung jawab atas mixing dan mastering, melanjutkan kerja sama yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun. Artwork album dikerjakan seniman Hungaria Gyula Havancsák. Untuk mendapatkan karakter suara yang merujuk pada heavy metal era 1980-an, Crystal Eyes menggunakan amplifier, cabinet, dan pedal gitar Marshall vintage berusia lebih dari 40 tahun. Pendekatan tersebut menghasilkan karakter gitar yang hangat dan organik, tetapi tetap memiliki tenaga yang diperlukan untuk menopang komposisi album. Dahl menyebut " Thunder God " sebagai tantangan lanjutan setelah Starbourne Traveler, album yang dianggap oleh sebagian penggemar dan kritikus sebagai salah satu pencapaian terkuat Crystal Eyes. Kali ini, fokus penulisan diarahkan pada melodi kuat, chorus yang mudah diingat, hook yang efektif, serta memastikan setiap lagu memiliki identitas tanpa terasa sebagai materi pengisi. Secara musikal, Crystal Eyes tetap berpijak pada tradisi Judas Priest, Iron Maiden, Accept, Black Sabbath, Helloween, dan Running Wild. Dengan " Thunder God ", mereka tidak mencoba mengubah fondasi yang telah dibangun sejak 1992. Album ini justru menjadi kelanjutan dari pendekatan yang selama ini mereka pertahankan: heavy metal melodis, riff-driven, klasik, dan berkarakter Skandinavia, dengan produksi modern yang tetap mengejar rasa old-school.
30.10 Genital Shame - Wellness Plan
Musisi eksperimental Dawson kembali mengeksplorasi wilayah gelap antara keinginan untuk menghilang dan naluri tubuh untuk tetap bertahan hidup. Kontradiksi tersebut menjadi benang merah dalam materi terbarunya, yang mempertanyakan seberapa besar kendali manusia sebenarnya terhadap dorongan untuk mempertahankan hidup. Musiknya bergerak dalam kabut disosiatif, tempat teror, kepasrahan, dan determinasi saling bertumpuk hingga sulit dibedakan. Dalam single “Wellness Plan”, Dawson memperluas lanskap tersebut dengan mempertemukan black metal dan noise, lalu menyisipkan momen-momen hening yang rapuh sebagai kontras terhadap intensitasnya. Dawson menjelaskan bahwa lagu tersebut berangkat dari pengamatan mengenai bagaimana peristiwa kecil atau pikiran yang terus tertinggal dapat menghasilkan dampak besar di kemudian hari. Bahasa yang menyerupai istilah medis digunakan untuk menggambarkan efek berantai tersebut, termasuk perubahan pada keterikatan emosional, dorongan untuk mempertahankan hidup, dan kecenderungan merusak diri. Pendekatan eksperimental Dawson tidak lahir tanpa fondasi. Latar belakangnya dalam pendidikan musik dan gitar klasik turut membentuk cara ia menyusun materi yang berakar pada black metal tetapi menolak batas-batas konvensional genre tersebut. Album ini memiliki kepadatan harmonis yang tinggi, dengan riff dan melodi yang saling melipat melalui struktur yang tidak mudah ditebak. Alih-alih memperlakukan black metal sebagai bahasa musik yang sudah selesai, Dawson menggunakannya sebagai materi yang dapat dibongkar, dipelintir, dan dirakit kembali. Hasilnya adalah bentuk eksperimental yang ganjil dan atmosferik musik yang tidak menawarkan kenyamanan, tetapi justru memaksa pendengar berada di dalam ketegangan antara kehancuran dan keinginan untuk bertahan.
30.10 Acherontas - For The Blood Of Tiamat - Praxis I - XXX Years Anniversary Of Magick And Metamorphosis
30.10 Queens Of The Stone Age - Perfecth
30.10 Absolute Power - Needs Must When The Devil Drives
30.10 Deathwards - Realms Of Sin
Band death metal asal Chile, Deathwards, akhirnya merilis album debut mereka, " Realms of Sin ", melalui Sepulchral Voice Records. Album ini mengambil pendekatan yang sengaja menengok kembali masa ketika death metal masih merupakan mutasi liar dari thrash dan speed metal, sebelum genre tersebut berkembang menjadi berbagai bentuk modern. Deathwards membangun Realms of Sin dengan fondasi akhir 1980-an: riff tajam, vokal beracun, solo gitar yang liar, serta permainan yang mengutamakan agresi dan kesinambungan riff. Alih-alih mengejar produksi steril atau struktur yang terlalu dipoles, materi album mempertahankan karakter kasar dan atmosfer gelap yang mengingatkan pada periode awal kelahiran death metal. Namun, nostalgia bukan satu-satunya bahan bakar album ini. Realms of Sin menggali tema dosa, rasa bersalah, nafsu, kerakusan, amarah, bidah, penipuan, hingga hukuman kekal. Liriknya banyak mengambil inspirasi dari Inferno karya Dante Alighieri, gambaran biblis mengenai neraka, serta visi abad pertengahan tentang penghakiman dan kebinasaan. Hasilnya adalah narasi tentang keruntuhan spiritual dan penderitaan metafisik, tanpa bergantung sepenuhnya pada klise horor. Secara musikal, atmosfer album dibangun dalam suasana yang berat, suram, dan tanpa kompromi. Riff bergerak rapat dari satu bagian ke bagian berikutnya, sementara solo gitar dan drum berfungsi sebagai bagian integral dari komposisi, bukan sekadar ruang untuk unjuk teknik. Pengaruh thrash tetap terasa kuat di bawah lapisan death metal yang lebih gelap dan ganas. Menariknya, karakter purba tersebut tidak berarti Realms of Sin terdengar buruk secara produksi. Album direkam dengan produksi Equinox Studio yang kuat dan jernih, memungkinkan detail permainan tetap terdengar tanpa menghilangkan sisi mentah dari performanya. Artwork album berupa lukisan minyak karya Jorge Olavarria turut memperkuat atmosfer religius-gelap dan tema penghakiman yang menjadi fondasi visual rilisan ini. Di tengah produksi musik ekstrem yang semakin bergantung pada presisi digital, kuantisasi, dan formula komposisi yang mudah dipertukarkan, Deathwards memilih jalur berbeda. Realms of Sin menempatkan karakter permainan, atmosfer, dan identitas sebagai prioritas utama. Album ini memang berdiri di atas fondasi 1980-an, tetapi Deathwards tidak sekadar membuat replika masa lalu. Mereka mencoba menghidupkan kembali roh death metal ketika thrash masih menjadi bahan bakar utamanya liar, gelap, berbahaya, dan tidak tertarik meminta izin.
30.10 Noothgrush - Man Is His Own Tormentor
30.10 Pantheïst - Uncanny Times
30.10 Hurakan - Eternal Scars
Band deathcore Prancis Hurakan kembali memperlihatkan sisi tergelap mereka melalui “Disgrace”, single ketiga dari album studio keempat, Eternal Scars. Album tersebut dijadwalkan dirilis pada 30 Oktober 2026 secara independen. Produksi album dipercayakan kepada Niko “HK”, yang dikenal melalui pekerjaannya bersama Betraying The Martyrs, Sinsaenum, dan Vented. Seluruh proses produksi, mixing, dan mastering dikerjakan di Vamacara Studio, dengan format fisik turut disiapkan, termasuk edisi vinyl hitam dengan splatter emas. Secara konseptual, Eternal Scars menggambarkan manusia yang perlahan dikonsumsi “parasit” dari dalam dirinya sendiri. Hurakan menggunakan album ini untuk membedah manipulasi agama, runtuhnya keyakinan, kemunafikan sosial, serta orang-orang yang begitu lama bersembunyi di balik topeng hingga akhirnya topeng tersebut menjadi bagian dari identitas mereka. Tema tersebut juga memiliki dimensi personal. Menurut Hurakan, materi album ditulis melewati periode paling gelap dalam perjalanan mereka, dibentuk oleh pergulatan, pengorbanan, dan berbagai persoalan yang mereka hadapi demi mempertahankan keberlangsungan band. “Disgrace” menjadi potongan terbaru dari narasi tersebut setelah dua single sebelumnya. Alih-alih sekadar menawarkan agresi khas deathcore, Hurakan menjadikan Eternal Scars sebagai ruang untuk mengubah kemarahan, luka, dan pengalaman pahit menjadi ekspresi musikal yang nyata. Dengan perilisan yang mereka tangani sendiri, Hurakan memasuki fase baru tanpa mengurangi karakter ekstrem yang telah menjadi fondasi mereka lebih personal, lebih gelap, dan secara konseptual jauh lebih terbuka.
30.10 Paara - Laulut Tulen Ja Jään
30.10 Darkest Hour - Suffer Divine
Veteran metalcore Darkest Hour akan merilis album studio ke-11 mereka, " Suffer Divine ", pada 30 Oktober 2026. Berisi 11 lagu, album ini diproduseri Mark Lewis, sosok yang sebelumnya menangani produksi untuk Whitechapel, The Black Dahlia Murder, dan Cannibal Corpse. Lagu utama sekaligus single pertama, " Suffer Divine ", membawa tema tentang keadilan dan pertanggungjawaban. Vokalis John Henry menyebut lagu tersebut ditujukan kepada mereka yang menyebarkan kebencian dan perpecahan serta merendahkan orang lain demi memenuhi ego mereka. Secara musikal, Darkest Hour kembali menggabungkan energi dan urgensi hardcore dengan kecintaan mereka terhadap riff melodis, hentakan death metal, tempo cepat, serta harmoni dua gitar. Hasilnya adalah materi yang agresif namun tetap kaya secara musikal, mempertemukan intensitas hardcore dengan akar melodic death metal yang telah menjadi bagian penting identitas band selama puluhan tahun. Gitaris Mike Schleibaum menggambarkan " Suffer Divine " sebagai salah satu album paling istimewa dalam perjalanan mereka. Di balik kemarahan, thrash, agresi, dan kepadatan aransemennya, terdapat gagasan mengenai bagaimana seseorang dapat menemukan nilai atau rasa berharga melalui pengalaman penderitaan. Menurut Schleibaum, proses menciptakan album tersebut sendiri menjadi cerminan gagasan itu. Kemarahan, rasa sakit, dan frustrasi dituangkan ke dalam musik, tetapi berjalan berdampingan dengan harapan dan empati. Darkest Hour terbentuk di kawasan Washington, D.C. Maryland Virginia (DMV) pada 1995 dan selama lebih dari tiga dekade menjadi salah satu nama penting dalam persinggungan melodic death metal dan hardcore. Mereka telah menjalani tur di berbagai penjuru dunia, mengumpulkan puluhan juta stream, serta membangun basis penggemar yang solid. Album Godless Prophets & The Migrant Flora (2017) bahkan menjadi debut No. 1 mereka di Billboard Heatseekers Albums, sekaligus masuk Top 10 Top Vinyl Albums. Setelah perilisan album, Darkest Hour juga akan menjalani rangkaian tur Amerika Serikat sebagai pendukung langsung Fear Factory, dimulai 12 November di Springfield, Missouri, dan ditutup melalui dua pertunjukan di Whisky A Go Go, Los Angeles, pada 28 dan 29 November. Lewat Suffer Divine, Darkest Hour kembali membawa formula yang telah mereka bangun selama tiga dekade: agresi hardcore, ketajaman death metal, dan melodi yang tetap menjadi jantung komposisi mereka kali ini dibentuk oleh pengalaman, kemarahan, sekaligus harapan.
30.10 Rev3rent - She Let The World Run Rampant
Pendatang baru deathcore Rev3rent kembali menghantam dengan single terbaru " She Let the World Run Rampant ", sekaligus mengumumkan album debut dengan judul yang sama. Album tersebut dijadwalkan rilis pada 30 Oktober 2026 melalui Deep Love Records. Beranggotakan enam musisi asal California, Rev3rent langsung menggeber “She Let the World Run Rampant” tanpa basa-basi. Ledakan drum, riff yang brutal, breakdown berat, sub-drop yang menghantam, serta vokal ekstrem dari vokalis remaja Josh Bailey Guard menjadi fondasi utama lagu yang kemudian ditutup dengan finale yang kacau dan agresif. Single tersebut juga hadir bersama video musik yang disutradarai Derek Rathbun. Mengambil konsep rooftop performance, visualnya memperlihatkan energi liar Rev3rent, termasuk gerakan panggung yang mengingatkan pada era crabcore, sebelum memasukkan elemen horor dan gore melalui kisah seorang seniman ekstrem yang menggunakan darah pasangan yang diculiknya sebagai medium untuk melukis. “She Let the World Run Rampant” menjadi single kedua Rev3rent pada 2026 setelah “Last One Here”, dan keduanya dipastikan masuk dalam album debut. Rilisan ini mengikuti Decimate EP yang memperkenalkan band tersebut pada 2025. Album dikerjakan bersama produser Drew Fulk, sosok yang pernah masuk nominasi Grammy dan dikenal melalui pekerjaannya bersama Knocked Loose serta Motionless in White. Secara tematik, album berisi 13 lagu yang mengeksplorasi kehilangan, patah hati, serta sisi gelap emosi manusia, termasuk pemikiran bunuh diri yang pernah menjadi bagian dari materi awal band. Bagi Guard, musik tidak berhenti pada persoalan memainkan lagu di atas panggung. Ia melihatnya sebagai ruang untuk membantu pendengar keluar sejenak dari tekanan kehidupan dan menemukan pelarian melalui musik. Pernyataan tersebut memberi konteks pada materi Rev3rent yang meski tampil brutal secara sonik, berangkat dari pengalaman dan emosi yang lebih personal. She Let the World Run Rampant akan dirilis 30 Oktober 2026 melalui Deep Love Records. Setelah album debutnya hadir, Rev3rent juga akan menjalani rangkaian tur Amerika Utara sebagai support act untuk Slaughter to Prevail, membawa gelombang deathcore mereka ke panggung yang lebih luas.
30.10 Traumatomy - Ascension Of The Ineffable
Band slamming brutal death metal Traumatomy akan merilis album studio keempat mereka, " Ascension Of The Ineffable ", pada 30 Oktober 2026 melalui Gore House Productions. Album ini merupakan hasil pengerjaan selama dua tahun dan disebut sebagai materi paling mentah, tajam, serta brutal dalam perjalanan mereka. Kualitas sonik album dipercayakan kepada Konstantin Ogarkov, yang menghadirkan produksi dengan karakter agresif dan kasar, mempertegas setiap hantaman riff, blast beat, breakdown, serta groove yang menjadi fondasi Traumatomy. Album ini membawa evolusi menuju pendekatan yang lebih cepat dan brutal tanpa meninggalkan tema lirik yang telah menjadi ciri band. Setiap lagu menawarkan bentuk ekstremitas berbeda. “Entropic Obliteration” membuka serangan dengan intensitas penuh, sementara “Pervigilium of the Obsolesced Xenolith” menggeber kecepatan dan blast beat. “Endoneural Parasitosis” kemudian mengandalkan breakdown yang berat dan menjijikkan. Di sisi lain, “Repugnant Coalescence” menampilkan permainan drum yang lebih seimbang, sedangkan lagu utama “Ascension Of The Ineffable” menjadi representasi konsep dan atmosfer album. “Visceral Maceration” membawa energi slam dengan groove dominan, “Autognathic Avulsion” mencampurkan groove, blast beat dan atmosfer, sebelum “Xeno-Homeostasis” menutup album dengan struktur yang dirancang sebagai klimaks. Single pertama, “Visceral Maceration”, secara khusus ditujukan kepada penggemar true slamming brutal death metal. Gitaris Constantine menyebut lagu tersebut sebagai salah satu komposisi paling groovy dalam album sekaligus bukti bahwa Traumatomy masih menemukan pendekatan baru dalam menyusun struktur musik mereka. Identitas visual " Ascension Of The Ineffable "dipercayakan kepada seniman Jon Zig, yang menerjemahkan atmosfer cosmic horror sesuai visi band ke dalam artwork album. Dengan materi yang semakin cepat, kasar dan berat, Traumatomy kembali menegaskan prinsip sederhana yang menjadi slogan mereka: “SLAM IS THE ONLY WAY!”
30.10 Electric Guitars - What Are We Waiting For
30.10 Cirith Ungol - All The Shadow
Veteran heavy metal legendaris Cirith Ungol kembali menghadirkan album penuh terbaru bertajuk All the Shadows. Rilisan ini menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang band dalam mempertahankan sekaligus mengembangkan karakter true metal yang telah menjadi identitas mereka sejak awal karier. All the Shadows dibangun sebagai representasi dari keinginan Cirith Ungol untuk terus memperluas gaya musikal mereka tanpa meninggalkan fondasi yang membuat nama mereka bertahan di tengah perubahan zaman. Pendekatan tersebut menjadikan album ini terasa sebagai kelanjutan alami dari estetika heavy metal mereka: berat, gelap, melodis, dan tetap berpegang pada karakter klasik. Seluruh proses engineering, mixing, dan mastering ditangani Armand John Anthony, yang juga bertindak sebagai co-producer bersama Cirith Ungol. Posisi executive producer dipercayakan kepada Jarvis Leatherby, sementara identitas visual album kembali diperkuat oleh karya ilustrator legendaris Michael Whelan. Keterlibatan Whelan memiliki arti tersendiri bagi penggemar Cirith Ungol. Gaya ilustrasi fantasi gelapnya telah lama menjadi bagian penting dari citra visual band dan membantu membangun dunia imajinatif yang selalu mengiringi musik mereka. Dengan All the Shadows, Cirith Ungol tidak mencoba mengejar tren atau menyesuaikan diri dengan perkembangan heavy metal modern. Mereka justru kembali pada prinsip yang telah menjadi fondasi perjalanan mereka: mengembangkan true metal dengan caranya sendiri. Album ini menjadi bukti bahwa bagi Cirith Ungol, klasik bukan berarti terjebak di masa lalu melainkan sebuah bahasa yang masih dapat terus dikembangkan.
30.10 Trolldom - Tronen
Proyek black metal Swedia Trolldom resmi bergabung dengan Debemur Morti Productions dan akan merilis album studio ketiga mereka, Tronen, pada 30 Oktober 2026. Album ini menjadi langkah terbaru proyek yang dibangun oleh musisi multi-instrumentalis Swartadauþuz, sosok yang juga dikenal melalui berbagai proyek seperti Bekëth Nexëhmü, Muvitium, Azelisassath, dan Greve. Selama lebih dari satu dekade, Swartadauþuz membangun semesta musikal yang bergerak relatif jauh dari arus utama black metal. Melalui Ancient Records/Mysticism Productions serta berbagai proyek pribadinya, ia mengembangkan pendekatan black metal yang berorientasi pada atmosfer kuno, kemuraman, melankolia, dan nuansa musim dingin yang pekat. Trolldom sendiri mulai dikonsepsikan pada 2004, sebelum akhirnya muncul ke permukaan melalui demo Av gudablod röd... pada 2016. Pada periode tersebut, Lik dari Bekëth Nexëhmü bergabung untuk menangani lirik. Enam tahun kemudian, Trolldom kembali dengan dua album debut yang dirilis secara bersamaan, I nattens sken (Genom hemligheternas dunkel) dan Av gudars ätt.... Secara musikal, Trolldom berakar kuat pada semangat second-wave Scandinavian black metal, tetapi tidak berhenti pada reproduksi formula klasiknya. Gitar yang intens, keyboard bernuansa spectral, serta dorongan ritmis yang agresif membentuk atmosfer yang gelap sekaligus melankolis. Di dalamnya terdapat rasa kerinduan yang kuat, membuat musik Trolldom terdengar lebih atmosferik daripada sekadar mengejar keganasan. Kini formula tersebut diarahkan menuju Tronen, album yang disebut memiliki materi lebih hook-laden dan menjadi perkembangan berikutnya dari karakter Trolldom. Album ini akan dirilis 30 Oktober, sementara single perdana dijadwalkan hadir pada 2 September, bertepatan dengan dibukanya masa pre-order. Dengan bergabungnya Trolldom ke Debemur Morti Productions, Tronen menandai fase baru bagi proyek yang selama bertahun-tahun membangun dunianya sendiri di balik kabut underground Swedia tetap berpegang pada akar black metal Skandinavia, tetapi dengan atmosfer dingin, mistis, dan melankolis yang menjadi ciri khas Swartadauþuz.
30.10 Philip Lynott - Fatalistic Attitude
30.10 Scarblade - Guardians Of Time
30.10 Insania - Neo-Noe
30.10 Velnias - Substrate Haruspex
30.10 Michael Schinkel's Eternal Flame - Man Or God
30.10 Master Boot Record - Computer Metal
30.10 Sea Bastard - Cyclopean
30.10 Somnent - Heirloom
30.10 Vigil (USA-VA) - Primordial Rites
30.10 Dungeon Serpent - Lamentations Of The Shadowkingdoms
Band melodic death metal Dungeon Serpent asal Vancouver, British Columbia, mengumumkan album studio kedua mereka, Lamentations Of The Shadowkingdoms, yang dijadwalkan rilis 30 Oktober 2026 melalui Profound Lore Records. Album ini menjadi tindak lanjut dari debut World Of Sorrows (2021) sekaligus menandai rilisan pertama mereka bersama label tersebut. Pengumuman album disertai peluncuran single utama “Rainland’s Elegy”, yang dipilih sebagai representasi pendekatan musikal terbaru Dungeon Serpent. Menurut mastermind Arawn, lagu tersebut merupakan salah satu komposisi paling kreatif yang pernah mereka kerjakan dan menjadi gambaran paling jelas mengenai arah musikal band. Bagian tengah “Rainland’s Elegy” menjadi titik eksplorasi utama, mempertemukan pola permainan gitar bergaya Dismember dengan pergerakan akor yang mendapat pengaruh modal jazz, ditambah permainan bass yang mengikuti perubahan tonalitas. Perpaduan tersebut memperlihatkan upaya Dungeon Serpent memperluas fondasi melodic death metal mereka tanpa menghilangkan karakter ekstremnya. Proses mixing dan mastering ditangani Damian Herring dari Horrendous di Subterranean Watchtower Studios, studio yang juga pernah menangani rilisan dari Blood Incantation, Ripped to Shreds, dan Sentient Horror. Sementara artwork album dikerjakan seniman dark art Marc Potts. Untuk video “Rainland’s Elegy”, Dungeon Serpent memilih pendekatan yang jauh dari produksi megah. Video tersebut dibuat secara DIY dengan anggaran nyaris nol, sebuah keputusan yang menurut Arawn justru membuat visualnya terasa lebih dekat dengan semangat kultus underground yang menjadi bagian dari identitas band. Dengan Lamentations Of The Shadowkingdoms, Dungeon Serpent membawa melodic death metal mereka ke wilayah yang lebih eksperimental dan teknis, tetapi tetap mempertahankan fondasi riff, atmosfer gelap, serta energi death metal yang menjadi akar utama musik mereka.
30.10 Dream Unending - Certain Uncertainties
30.10 Temple Nightside - Cenotaph Severance
Setelah hampir 6 tahun tanpa rekaman baru, band death metal Australia Temple Nightside akan kembali melalui album studio kelima, " Cenotaph Severance ". Album ini dijadwalkan dirilis pada 30 Oktober 2026 melalui Iron Bonehead Productions dalam format CD dan vinyl. Salah satu perubahan penting dalam formasi terbaru adalah bergabungnya gitaris Ignus Fatuus, musisi yang dikenal melalui keterlibatannya bersama Portal, Impetuous Ritual, dan Grave Upheaval. Kehadirannya memperkuat jajaran Temple Nightside dan menjadi bagian dari perkembangan musikal band setelah album sebelumnya, Pillars of Damnation (2020). Temple Nightside dibentuk pada 2010 oleh IV dengan gagasan membawa death metal tradisional ke wilayah yang lebih kuat dipengaruhi black metal. Mereka menyebut pendekatan awal tersebut sebagai “Ritualistic Death Metal Necromancy”, sebelum berkembang menjadi musik yang semakin atmosferik, gelap, dan terasa seperti direkam dari kedalaman ruang bawah tanah. Karakter tersebut semakin menonjol pada The Hecatomb (2016), sementara Recondemnation (2018) kembali meninjau materi debut Condemnation (2013). Dirilis pada 2020, Pillars of Damnation memperlihatkan Temple Nightside dengan struktur lagu yang lebih rapat dan langsung, menempatkan riff sebagai pusat komposisi. Cenotaph Severance melanjutkan fondasi tersebut, tetapi tidak sekadar mengulang formula sebelumnya. Album baru ini juga disebut menghidupkan kembali sisi lebih buas dari periode awal band, terutama pendekatan yang terdengar pada demo Prophecies of Malevolence (2011). Pertemuan antara agresi death metal awal dan atmosfer black metal yang semakin matang menjadi salah satu karakter utama album baru. Produksinya memadukan gitar yang padat dan menghantam dengan atmosfer luas serta gema yang mempertebal kesan ritualistik musik mereka. Dengan demikian, Cenotaph Severance tampaknya bukan sekadar album comeback setelah jeda panjang. Materinya justru mempertemukan beberapa fase penting Temple Nightside keganasan demo awal, struktur riff yang lebih terkontrol dari Pillars of Damnation, serta atmosfer black metal yang telah menjadi bagian kuat dari identitas mereka. Hasil akhirnya menempatkan album kelima ini sebagai titik temu antara masa lalu dan evolusi terbaru Temple Nightside.
31.10 Dread Witch - Cult
31.10 Arckanum - Beswærilsin
31.10 Trick Or Treat - Evil Needs Candy Too 20th Anniversary Edition
Dua dekade setelah debutnya, band power metal Italia Trick or Treat kembali ke titik awal perjalanan mereka dengan menghadirkan " Evil Needs Candy Too: 20th Anniversary Edition ". Dirilis pertama kali pada 2006 dan telah lama sulit ditemukan di pasaran, album debut tersebut kini dihidupkan kembali melalui rekaman ulang penuh bersama formasi Trick or Treat saat ini. Alih-alih sekadar menerbitkan ulang album lama, edisi peringatan ini merekam kembali seluruh materi " Evil Needs Candy Too " dengan performa baru dan standar produksi masa kini. Lagu-lagu yang menjadi fondasi awal karier mereka tetap dipertahankan, tetapi mendapatkan energi, detail, serta karakter sound yang lebih modern. Proses mixing dan mastering ditangani Simone Mularoni di Domination Studio, menghasilkan produksi metal yang lebih kuat, padat, dan detail tanpa menghilangkan identitas asli komposisinya. Dengan pendekatan tersebut, " Evil Needs Candy Too: 20th Anniversary Edition " berfungsi sebagai interpretasi baru atas materi debut, bukan sekadar nostalgia terhadap rekaman 2006. Perubahan juga hadir pada sisi visual. Edisi baru ini mendapatkan cover artwork sepenuhnya baru yang dikerjakan oleh Alessandro Conti, membawa dunia visual " Evil Needs Candy Too " ke era sekarang sambil tetap mempertahankan semangat yang melekat pada album awal tersebut. Selama 20 tahun perjalanan, Trick or Treat berkembang dari bagian skena power metal Italia menjadi band yang dikenal melalui perpaduan power metal melodis, atmosfer creepy, humor, dan permainan cepat. Perjalanan tersebut membawa mereka tampil di berbagai panggung internasional, termasuk Eropa, Amerika Latin, dan Jepang, serta sejumlah festival dan rilisan yang memperkuat identitas mereka. Kini, setelah dua dekade, Trick or Treat memilih tidak sekadar melihat kembali masa lalu. Mereka merekam ulang bab pertama sejarahnya dengan tangan dan suara dari formasi masa kini sebuah cara untuk mempertemukan energi debut 2006 dengan standar produksi 2026.
31.10 Odious Sanction - Overwhelming Hatred For Humanity
Duo death metal Odious Sanction asal Painesville, Ohio, memperkenalkan single terbaru bertajuk “Ignition Sequence”, lengkap dengan lyric video. Lagu ini menjadi bagian dari album penuh mendatang mereka, Overwhelming Hatred for Humanity, yang dijadwalkan beredar pada 31 Oktober 2026. Odious Sanction digawangi Scott Bryant bersama drummer Steve Shalaty, musisi yang dikenal melalui kiprahnya bersama Immolation. Untuk “Ignition Sequence”, keduanya memperluas formasi duo dengan menghadirkan Devin Swank dari Sanguisugabogg sebagai kontributor tamu. Kolaborasi tersebut mempertemukan dua nama dari lanskap death metal Ohio dalam satu materi yang menjadi pengantar menuju album baru Odious Sanction. Kehadiran Swank memberikan tambahan karakter vokal pada “Ignition Sequence”, sementara fondasi musik tetap bertumpu pada pendekatan death metal yang menjadi identitas duo tersebut. Overwhelming Hatred for Humanity akan menjadi rilisan terbaru Odious Sanction dan dijadwalkan tersedia secara resmi pada 31 Oktober 2026. “Ignition Sequence” sekaligus membuka gambaran awal mengenai materi yang mereka siapkan untuk album tersebut. Dengan formasi ringkas namun diperkuat pengalaman dari skena death metal Ohio, Odious Sanction kini menempatkan Overwhelming Hatred for Humanity sebagai langkah berikutnya dalam perjalanan mereka sebuah rilisan yang sejak judulnya saja sudah memberi sinyal bahwa band ini tidak sedang menawarkan musik untuk mereka yang mencari kenyamanan.
31.10 Heimdalls Wacht - Heimdalls Wacht









































































0 Komentar