ALBUM METAL KLASIK TERBAIK SEPANJANG MASA VERSI LOSTINCHAOS Mediazine (PART # 1)
Ditulis oleh Herry SIC
Menyusun daftar “album terbaik sepanjang masa” itu ibarat mencoba merangkum isi lautan dengan gelas plastik yang niatnya memang mulia sih, hasilnya pasti kurang. Tapi ya sudahlah, daripada cuma jadi penonton yang sibuk mengangguk-angguk di kolom komentar orang lain, lebih baik w tulis saja apa yang benar-benar menempel di kepala. Bukan daftar hasil browsing, bukan juga hasil konsensus pura-pura intelektual dari forum musik yang isinya debat tanpa ujung. Ini murni rekaman memori. Yang pernah diputar, diulang, dicerna, dan yang paling penting : bertahan. Mari kita luruskan dulu satu hal: “terbaik” di sini bukan soal angka penjualan, penghargaan, atau validasi dari media besar. Kalau itu patokannya, ya kita tinggal buka daftar dari webzine internasional yang femes atau platform streaming, selesai. Tapi masalahnya, musik bukan spreadsheet. Musik itu pengalaman. Dan pengalaman itu tidak bisa diukur pakai algoritma yang sok tahu selera kita.
Mari kita luruskan satu hal yang sering disalahpahami: kata “terbaik” di sini tidak ada hubungannya dengan angka penjualan, sertifikasi platinum, atau validasi dari media besar macam Rolling Stone yang tiap beberapa tahun sekali memperbarui daftar “terbaik sepanjang masa” seolah-olah sejarah bisa di-edit seperti caption Instagram. Kalau ukuran “terbaik” hanya sebatas itu, ya kita tinggal buka daftar mereka atau platform streaming, selesai. Tidak perlu berpikir, tidak perlu merasa, cukup konsumsi. Praktis, tapi ya… dangkal. Masalahnya, musik bukan spreadsheet. Ia bukan kumpulan data yang bisa diurutkan berdasarkan angka tertinggi. Musik itu pengalaman. Dan pengalaman tidak pernah tunduk pada algoritma, bahkan yang dibuat oleh Spotify sekalipun, yang dengan percaya diri menyodorkan “lagu yang mungkin Anda suka” berdasarkan kebiasaan klik kita. Seolah-olah hidup kita sesederhana pola dengar. Padahal, kadang satu album bisa melekat bukan karena sering diputar, tapi karena ia hadir di waktu yang tepat atau justru di waktu yang paling kacau. Di titik ini, kita harus jujur: sebagian besar daftar “album terbaik” di luar sana sebenarnya bukan tentang musik, tapi tentang citra. Tentang bagaimana seseorang ingin terlihat punya selera “tinggi”, “berkelas”, atau minimal tidak dianggap receh. Akhirnya, yang muncul adalah daftar yang aman. Isinya itu-itu lagi. Nama-nama yang sudah disepakati bersama agar tidak memicu perdebatan terlalu panas. Ironis, karena musik justru lahir dari ketidaknyamanan, dari gesekan, dari keberanian untuk tidak sepakat. Di sinilah letak sarkasnya: kita hidup di era di mana akses terhadap musik begitu mudah, tapi kedalaman pengalaman justru makin tipis. Orang bisa mendengarkan ribuan lagu dalam sebulan, tapi tidak benar-benar mengingat satu pun. Playlist jadi panjang, tapi memori jadi pendek. Semua serba cepat, serba instan, serba lewat. Dan anehnya, kita bangga dengan itu.
Dulu, satu album bisa didengar berulang-ulang sampai hafal tiap detailnya dari intro sampai fade out. Sekarang? Baru tiga lagu, sudah lompat ke yang lain. Bukan karena tidak bagus, tapi karena perhatian kita sudah dilatih untuk cepat bosan. Industri menyebutnya “variasi”. w menyebutnya distraksi yang dikemas rapi. Jadi ketika w menyusun daftar " album terbaik ", yang w cari bukanlah yang paling populer, paling sering dibahas, atau paling tinggi rating-nya. Yang w cari adalah yang bertahan. Yang tetap relevan meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Yang masih bisa diputar tanpa terasa basi. Yang, entah kenapa, selalu berhasil membawa kembali potongan-potongan memori yang mungkin sudah lama terkubur. Dan ya, daftar seperti ini tidak akan pernah final. Ia akan berubah, bergeser, bahkan mungkin bertambah atau berkurang. Bukan karena kita tidak konsisten, tapi karena kita hidup. Selera berkembang, pengalaman bertambah, perspektif berubah. Yang dulu terasa “biasa saja” bisa jadi bermakna di kemudian hari. Dan yang dulu terasa “luar biasa” bisa saja perlahan memudar.
w mulai dari sesuatu yang terlalu sering disebut, tapi tetap tidak bisa dihindari: " Master of Puppets " dari Metallica. Ya, klise. Tapi kalau Kalian menyangkal pengaruh album ini, mungkin hanya alergi terhadap fakta. Album ini bukan sekadar kumpulan lagu ini adalah standar. Struktur lagu kompleks, riff yang menggigit, dan tema yang tidak sekadar soal " keras itu keren ". Ini adalah titik di mana metal berhenti jadi sekadar bising, dan mulai jadi bahasa. Lalu kita lompat ke ranah yang lebih gelap dan ekstrem. Mungkin kebanyakan orang masih menyebut " De Mysteriis Dom Sathanas " dari Mayhem. Album ini bukan hanya musik, tapi artefak sejarah. Kontroversial? Jelas. Bermasalah? Sangat. Tapi justru di situlah letak bobotnya. Ia tidak dibuat untuk menyenangkan, tapi untuk mengganggu. Dan anehnya, justru itu yang membuatnya abadi. Banyak yang mencoba meniru atmosfernya, tapi kebanyakan berakhir seperti cosplay yang terlalu serius. namun tidak dengan w pribadi. atau coba beranjak ke sesuatu yang lebih " ramah " tapi tetap menggigit: " Nevermind " dari Nirvana. Ini album yang secara tidak sengaja menghancurkan industri musik mainstream saat itu. Ironisnya, ia menjadi mainstream itu sendiri. Kurt Cobain mungkin tidak pernah berniat jadi ikon generasi, tapi ya begitulah kadang yang paling jujur justru yang paling keras menggema. Sekarang, mari sedikit keluar dari zona " yang sering disebut orang pintar ". " Far Beyond Driven " dari Pantera. Album ini seperti tamparan keras bagi siapa saja yang masih berpikir metal harus selalu teknis atau progresif. Tidak. Kadang yang dibutuhkan cuma groove yang tepat dan amarah yang jujur. Dan Pantera melakukannya tanpa basa-basi. Kalau Kalian pikir daftar ini akan penuh dengan band luar saja, ya jangan sok global dulu. Skena lokal juga punya memori kolektif yang tidak kalah kuat.
Di titik ini, biasanya akan ada yang protes: " Kok nggak ada ini? Kok nggak masuk itu? " Nah, di sinilah letak lucunya. Kita terlalu terbiasa mencari validasi kolektif untuk sesuatu yang seharusnya personal. Seolah-olah selera harus disahkan dulu sebelum dianggap sah. Padahal, kalau semua daftar harus sama, untuk apa kita punya preferensi? Faktanya, playlist terbaik itu bukan yang paling lengkap, tapi yang paling jujur. Yang mungkin hanya berisi 10 - 20 album, tapi setiap track-nya punya cerita. Mungkin didengar saat perjalanan malam, mungkin jadi latar belakang fase hidup tertentu, atau bahkan jadi pelarian saat dunia terasa terlalu berisik secara ironis, dengan musik yang lebih berisik lagi. Dan ya, daftar seperti ini akan selalu berubah. Bukan karena kita plin-plan, tapi karena kita berkembang. Apa yang dulu terasa " paling dalam " bisa saja tergeser oleh sesuatu yang lebih relevan hari ini. Tapi bukan berarti yang lama jadi tidak penting. Mereka tetap ada sebagai fondasi. Jadi, daripada sibuk berdebat soal " mana yang terbaik sepanjang masa ", mungkin lebih masuk akal kalau kita bertanya: mana yang paling bertahan dalam hidup kita? Kita ini aneh. Untuk sesuatu yang seharusnya paling personal masalah selera musik, kita justru sibuk mencari cap " sah " dari luar. Seolah-olah telinga kita butuh stempel resmi sebelum berani bilang, " ini bagus. " Dan yang lebih lucu, stempel itu sering datang dari daftar-daftar kolektif yang dibuat oleh media besar dunia atau dari algoritma Spotify yang merasa lebih kenal kita dibanding diri kita sendiri. Praktis, iya. Akurat? Belum tentu. Tapi entah kenapa, banyak yang lebih percaya itu daripada pengalaman sendiri. Seolah-olah kalau selera kita tidak align dengan daftar global, kita salah. Harus dikoreksi. Harus di-upgrade. Padahal, sejak kapan menikmati musik jadi kompetisi intelektual? Sejak kapan playlist harus lulus uji kelayakan publik dulu baru boleh diputar dengan percaya diri? Masalah utamanya sederhana: kita terlalu terbiasa mencari validasi kolektif untuk sesuatu yang seharusnya personal. Kita ingin diakui " punya selera bagus ", bukan benar-benar menikmati apa yang kita dengar. Akibatnya, playlist berubah fungsi dari ruang intim jadi etalase. Isinya bukan lagi apa yang kita rasakan, tapi apa yang terlihat " benar " di mata orang lain. Padahal kalau semua daftar harus sama, untuk apa kita punya preferensi?
Album yang pernah menemani perjalanan malam ketika jalanan kosong tapi kepala penuh. Album yang jadi latar belakang fase hidup tertentu baik yang ingin diingat maupun yang ingin dilupakan. Atau album yang jadi pelarian saat dunia terasa terlalu berisik… dengan cara yang ironis: kita memilih musik yang lebih berisik lagi untuk menenggelamkan semuanya. Dan di situlah nilai sebenarnya. Bukan pada seberapa " benar " pilihan kita menurut orang lain, tapi seberapa dalam ia terhubung dengan pengalaman kita sendiri. Masalahnya, di era sekarang, kejujuran itu kalah cepat dengan distraksi. Kita didorong untuk terus mencari yang baru, yang trending, yang sedang ramai dibicarakan. Playlist jadi panjang, tapi dangkal. Banyak lagu lewat, sedikit yang menetap. Kita tahu banyak, tapi tidak benar-benar mengenal. Dulu, satu album bisa diputar berulang-ulang sampai tiap detailnya terasa akrab. Sekarang, baru masuk track ketiga, sudah tergoda untuk skip. Bukan karena albumnya buruk, tapi karena perhatian kita sudah dikondisikan untuk tidak betah. Industri menyebut ini " kemudahan akses ". w menyebutnya latihan untuk tidak pernah benar-benar terhubung. Dan ya, daftar personal seperti ini akan selalu berubah. Tapi perubahan itu bukan tanda kita plin-plan. Itu tanda kita hidup. Apa yang dulu terasa " paling dalam " bisa saja tergeser oleh sesuatu yang lebih relevan hari ini. Bukan karena yang lama kehilangan nilai, tapi karena kita sudah berada di fase yang berbeda. Kita bukan orang yang sama seperti lima atau sepuluh tahun lalu kenapa selera harus tetap sama? Namun, yang lama tidak pernah benar-benar hilang. Mereka tetap ada sebagai fondasi. Seperti arsip emosi yang sewaktu-waktu bisa dibuka kembali. Kadang satu lagu saja cukup untuk membawa kita kembali ke versi diri yang sudah lama kita tinggalkan. Dan di momen itu, kita sadar: oh, ternyata ini masih bagian dari w sendiri.
Karena pada akhirnya :
" album terbaik bukan yang paling sering disebut orang tapi yang paling sering kita putar, bahkan saat tidak ada yang melihat-nya sekalipun. "
DYING FETUS - KILLING ON ADRENALINE
Memang agak ironis di saat banyak orang baru sibuk mengangkat nama Dying Fetus (DF) sebagai " band brutal yang wajib didengar ", justru w sudah lebih dulu nyemplung dari era yang bahkan sekarang mulai dianggap " jadul ". Bukan karena ingin terlihat lebih dulu tahu, tapi ya memang begitu faktanya: pertama kali kenal DF itu dari rekomendasi teman di Malang, lewat album " Purification Through Violence ". Dan setelah diputar? Ya jelas: Damn. Langsung kena. Album kedua mereka ini bukan sekadar brutal. Ini adalah paket lengkap dari Brutal Death Metal yang dikawinkan dengan sentuhan Hardcore Metal yang menawan, cepat, tapi tetap punya groove yang bikin kepala refleks angguk tanpa izin. Band asal Baltimore, Maryland ini waktu itu belum banyak basa-basi. Tidak ada overproduksi, tidak ada gimmick modern yang sok teknis. Semua terasa mentah, langsung, dan jujur. Kalau diputar hari ini? Jujur saja, mungkin terdengar agak " redup " dibanding produksi band modern yang serba klinis dan super rapih. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Komposisinya sederhana, riff-nya tidak ribet, tapi nempel. Tidak butuh 10 kali dengar untuk paham sekali putar saja sudah cukup untuk masuk ke kepala. Dan anehnya, justru yang seperti ini yang bertahan lebih lama dibanding materi yang terlalu sibuk pamer teknik. Lalu datang rilisan-rilisan setelahnya " Grotesque Impalement ", " Destroy the Opposition ", sampai " Stop at Nothing " yang secara kualitas jelas bukan main. Lebih matang, lebih agresif, lebih " niat ". Dan ya, tetap w dengar, tetap w idolakan. Tapi kalau jujur? Justru itu jadi playlist terakhir yang w putar. Bukan karena jelek. Bukan karena kehilangan taring. Tapi karena ada satu hal yang mulai terasa: orisinalitasnya tidak lagi se-segar dulu. Sejak terbentuk tahun 1991, DF sudah menetapkan standar mereka sendiri dan masalahnya, ketika standar itu terlalu kuat, lama-lama mereka seperti terjebak di dalamnya. Evolusi tetap ada, tapi tidak lagi mengejutkan. Ini bukan kritik kosong, ini realita yang sering terjadi pada banyak band besar. Ketika identitas sudah terlalu solid, ruang eksplorasi jadi sempit. Fans ingin " yang dulu ", band ingin berkembang akhirnya yang lahir adalah kompromi. Tidak buruk, tapi juga tidak benar-benar baru. Dan di sinilah sarkasnya: banyak pendengar baru menganggap rilisan-rilisan " tengah ke atas " sebagai puncak, sementara yang benar-benar jadi fondasi justru mulai dilupakan. Padahal, kalau mau jujur, tanpa " Purification Through Violence ", mungkin tidak akan ada standar DF seperti yang sekarang dipuja-puja. Jadi ya, kadang yang pertama kali kita dengar memang bukan yang paling sempurna secara teknis, tapi justru yang paling jujur secara rasa. Dan anehnya, itu yang paling susah tergantikan meskipun bandnya sendiri sudah merilis banyak " versi yang lebih baik " setelahnya.
" Killing on Adrenaline " bagi w adalah Paket Komplit yang memiliki semua yang kalian inginkan dalam sebuah album death metal: vokal guttural, vokal agresif, riff cepat, riff lambat, blast beat brutal, bass yang keren, dll. Untuk merincinya, aspek terkuat dari album ini adalah riff-nya, mereka benar-benar gila dan mengejutkan, beberapa riff terbaik yang akan kalian temukan di seluruh death metal. Begitu banyak riff berbeda yang menendang pantat sekali, dan meskipun itu kacau, itu juga terorganisir dan masuk akal. Riff-nya catchy, menyenangkan, dan teknis, mereka menggunakan banyak teknik seperti pinch harmonics, tapping, dan sweep picking...untuk riff. John Gallagher berada di puncaknya di sini dalam hal kreativitas dan keterampilan, tingkat riff di sini benar-benar tak tertandingi. Ini adalah serangan mutlak pada indera Anda dan pemahaman kalian tentang riffing metal. Mereka juga menerapkan solo yang berkelas dan teknis, beberapa di antaranya brutal sementara yang lainnya bahkan melodius. Simplenya, permainan gitar di sini adalah salah satu yang terbaik dalam genre ini, w tidak akan mengubah satu pun nada yang mereka mainkan di sini. Permainan drum juga harus disebutkan sendiri, sound snare drummer jago groovy, Kevin Talley sangat indah secara brutal. tajam membuat blast beat-nya semakin menghancurkan dan mengagumkan meski banyak perubahan tempo yang konstan, begitu banyak perubahan secara umum di seluruh lagu. Lagu-lagu terus berubah dan memperkenalkan part part menarik baru serta sejumlah riff yang luar biasa dan tak terlupakan, beberapa lagu di sini adalah beberapa lagu terbaik yang pernah mereka buat. Lagu-lagu pada dasarnya terdiri dari bagian-bagian cepat yang teknis dan brutal, di padu dengan part part lambat yang groovy. yang lebih lambat ini kadang-kadang menunjukkan pengaruh yang dimiliki oleh skena hardcore New York terhadap mereka. Perpaduan itu dengan bagian-bagian teknis cepat yang kompleks menghasilkan album yang sangat unik, keren, segar, dan menyenangkan dengan banyak nilai untuk didengarkan kembali. Lagu-lagunya lebih panjang daripada di sebagian besar album mereka, tetapi mereka memanfaatkan panjangnya dengan maksimal, tidak menyia-nyiakan satu detik pun dan mengisinya dengan brutal death metal teknis yang luar biasa. Semua lagu luar biasa. Dying Fetus showed their incapabilities on their first album, and they had to make up for it. I'd say that they were successful. Killing on Adrenaline is full of flavorful riffs that are unique to Dying Fetus as well as technical flourishes that progress the music beyond acts like Suffocation or Internal Bleeding.
MISERY INDEX - OVERTHROW
Lucunya, setiap kali Misery Index dibahas, yang muncul bukan musiknya dulu tapi gosip silsilahnya. Seolah-olah band ini tidak sah berdiri sendiri sebelum disahkan sebagai " anak pecahan " dari Dying Fetus. Ya, memang faktanya begitu: hampir 90% personelnya adalah eks DF. Tapi apakah otomatis ini sekadar reinkarnasi? Nah, di sinilah publik mulai terlalu kreatif… dalam berspekulasi. Narasi " band pecahan = versi baru dari band lama " itu memang enak dikonsumsi. Sederhana, tidak perlu mikir panjang. Padahal realitanya tidak sesederhana itu. Ketika beberapa member keluar secara bersamaan dan membentuk entitas baru, yang lahir bukan sekadar kelanjutan tapi juga reaksi. Ada kemarahan, ada dorongan untuk membuktikan sesuatu, dan yang paling penting: ada kebutuhan untuk keluar dari bayang-bayang lama. Nama " Misery Index " sendiri saja sudah memberi sinyal kalau mereka tidak sedang main aman. Istilah ini diambil dari konsep ekonomi yang diperkenalkan oleh Arthur Melvin Okun pada era 1970-an yang menggambarkan indikator sederhana tapi brutal: tingkat pengangguran ditambah inflasi. Artinya? Penderitaan yang bisa dihitung. Dan seperti belum cukup berat, nama ini juga merujuk ke rilisan terakhir dari Assück. Jadi kalau ada yang masih berharap musiknya santai, mungkin dari awal sudah salah alamat. Debut perdana mereka adalah pembuktian segera jika mereka tidak berhenti sampai disini, " Overthrow " dirilis lewat label mandiri mereka sendiri, Anarchos Records. Dari sini saja sudah kelihatan arah geraknya: mandiri, kasar, dan tidak terlalu peduli validasi industri. Mereka menyebut pendekatan mereka sebagai " modern grindcore " yang pada praktiknya adalah campuran antara agresi grind, struktur death metal, dan energi hardcore yang tidak dibuat-buat. Dan ya, Baltimore, Maryland, kota asal mereka memang punya " warna tongkrongan " yang kental. Satu circle, satu ekosistem, satu pola pikir yang kurang lebih sejalan. Jadi wajar kalau karakter musikalnya terasa beririsan. Tapi menyederhanakan Misery Index sebagai " DF versi lain " itu seperti bilang semua band dari satu kota pasti sama. Dangkal, dan sedikit malas berpikir. Memang tidak bisa dipungkiri, DNA Dying Fetus masih terasa riffing, struktur, bahkan approach vokal. Tapi Misery Index punya fokus yang berbeda: lebih politis, lebih lugas, dan dalam banyak kasus, lebih " terarah " secara konsep. Mereka tidak sekadar melanjutkan, tapi menggeser sudut pandang. Jadi kalau masih ada yang bersikeras menyebut ini sebagai reinkarnasi tidak langsung, mungkin bukan bandnya yang kurang jelas tapi cara dengarnya yang terlalu sempit. Karena pada akhirnya, band baru bukan soal " dari mana mereka berasal ", tapi " ke mana mereka membawa suara itu ". Dan dalam kasus ini, Misery Index jelas tidak sekadar jalan di tempat.
EP "Overthrow". memainkan death metal dengan beberapa pengaruh punk dan grindcore di sepanjang lagu. w sangat menyukai Misery Index awal, dan masih sangat menikmati EP ini hingga bertahun-tahun kemudian, meski materi mereka udah bejibun. Sound Khas Misery Index pada era ini memiliki beberapa kesamaan dengan materi awal Dying Fetus, yang masuk akal karena bassist/vokalis Jason Netherton adalah member asli, dan drummer Kevin Talley juga merupakan rekan bandnya di sana. Jadi tidak hanya ada beberapa kesamaan dalam vokal, tetapi beberapa elemen groove juga mirip. Misery Index menggunakan beberapa groove power chord chunky ala NYDM, yang tentu saja mudah untuk dinikmati, tetapi mereka menyeimbangkannya dengan berbagai gaya riff dan pendekatan ritmis lainnya. Mereka sering melakukan bagian blastbeat penuh dengan garis tremolo yang masuk ke wilayah melodi, tetapi ada ketegangan dalam melodi ini yang membuat riff ini terdengar sangat tajam. Double kicks yang menyengat dan ketukan cepat pada umumnya mendominasi bagian-bagian lagu yang tidak bergoyang, memberikan karakter unik mereka sendiri, dan yang benar-benar meledak. Secara lirik, Misery Index lebih berakar pada grindcore, mirip dengan sesama death/grinders pantai timur kayak Brutal Truth. Topik-topik seperti konsumerisme, perang kelas, kekuasaan, dan kontrol berada di garis depan. w selalu mengagumi kemampuan lirik Jason Netherton, karena dia memiliki banyak hal untuk dikatakan, tetapi menggunakan bahasa dengan cara yang bijaksana. Tidak perlu mengambil kamus, karena dia menjelaskan maksudnya dengan jelas menggunakan metafora perjuangan dan kesulitan yang mudah dipahami. Penyampaian vokalnya berani, kuat, namun cukup mudah dipahami, dan dia mampu menciptakan hook di sepanjang lagu dengan cukup efektif. Salah satu hal yang bisa w keluhkan (pada awal namun, shit sampai sekarang terasa memorable banget dech! ) tentang EP ini (dan Misery Index awal secara umum) adalah bagaimana ini menjadi korban produksi drum yang dipicu awal 2000-an. Yaitu, suara kick-nya sangat jelas terdengar dipicu, tetapi itu sudah menjadi standar untuk tahun 2001. Semua terdengar keras dan jelas, tetapi setidaknya gitar-gitar tersebut memiliki sedikit kotoran yang membuatnya tidak terdengar terlalu klinis. Bersama dengan empat lagu asli yang disajikan di EP ini, ada juga cover super keren dari lagu Terrorizer "Dead Shall Rise." Lucunya, w akhirnya check balik Terrorizer karena cover ini, dan dengan demikian w pikir ini adalah sebuah versi yang hebat. Ini adalah 15 menit yang ramping dan menyenangkan, sempurna untuk rilis pertama sebuah band, dan tentu saja sesuatu yang membawa w kembali ke masa remaja w ketika w mulai menyukai musik yang lebih ekstrem. Lagu-lagu di "Overthrow" telah dirilis ulang dalam bentuk CD kompilasi bersama beberapa EP/split mereka yang lain, yang juga merupakan cara yang bagus untuk menikmati dan mencintai lagu-lagu awal Misery Index ini.
GORGUTS - CONSIDERED DEAD
Awal kenal nama Gorguts itu bukan dari zine keren, bukan dari forum elit yang sok kurator, tapi justru dari siaran radio lokal Minggu pagi daerah w. waktu yang secara logika harusnya diisi ceramah atau lagu santai. Yang tertangkap di telinga? Bukan " Gorguts ", tapi " Gorglit ". Iya, " Gorglit ". Hasilnya? Berburu kaset ke sana-sini, bongkar rak toko, dan tentu saja… nihil. Karena ya jelas, bandnya bukan itu namanya. Ironisnya, nama Gorguts terpampang jelas, tapi otak sudah kadung salah tangkap. Klasik. Begitu akhirnya ketemu dan diputar, baru sadar: ini bukan sekadar death metal biasa. Ini adalah bentuk awal dari Technical Death Metal yang tidak cuma cepat dan brutal, tapi juga " berpikir ". Komposisinya padat, struktur lagunya tidak manja, dan permainan drumnya ini yang paling mengena banget ke w, benar-benar jadi tulang punggung. Bukan sekadar pengiring, tapi penggerak utama. Ditambah kualitas rekaman yang, entah kenapa, punya karakter khas yang justru bikin nagih. Tidak terlalu bersih, tapi justru itu yang bikin memorable. Puncaknya, setidaknya buat w, ada di " The Erosion of Sanity ". Album kedua ini seperti titik temu antara teknik, agresi, dan komposisi yang masih " bisa dinikmati " tanpa harus pura-pura jadi analis musik. Kompleks, tapi masih punya arah. Rumit, tapi tidak kehilangan rasa. Dan yang paling penting: masih terasa manusia. Lalu… ya, kita sampai di fase yang biasanya dipuja-puja oleh kalangan tertentu: era Avant-garde Metal. Di sinilah Gorguts mulai bereksperimen lebih jauh lebih abstrak, lebih bebas, lebih " seni ". Dan di titik ini juga, jujur saja, w mulai turun dari kereta. Bukan karena tidak bagus, tapi karena arahnya sudah terlalu jauh dari apa yang pertama kali bikin jatuh cinta. Ini bukan kritik asal beda. Ini soal preferensi. Ketika sebuah band bergerak ke arah yang lebih avant-garde, mereka memang membuka ruang baru tapi di saat yang sama, menutup akses bagi pendengar yang terikat pada fase sebelumnya. Dan ya, itu sah-sah saja. Band berhak berkembang, pendengar juga berhak berhenti. Makanya, buat w, Gorguts cukup berhenti di dua album awal. Bukan karena setelahnya tidak layak, tapi karena koneksi personalnya sudah selesai di situ. Sisanya? w skip tanpa rasa bersalah. Ketika banyak orang terlalu sibuk memaksakan diri menikmati semua fase sebuah band demi terlihat " paham ", padahal dalam hati sudah tidak nyambung. Seolah-olah berhenti mendengar itu dosa. Padahal, tidak semua evolusi harus kita ikuti. Kadang, tahu kapan berhenti justru bentuk kejujuran paling sederhana. Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa jauh band itu berkembang tapi seberapa jauh kita masih mau ikut berjalan.
Seperti yang kita semua fans diehard death metal tahu, Gorguts adalah salah satu pelopor dalam genre ini, khususnya dalam skema tech-death. Faktanya, mereka adalah salah satu pelopor untuk genre musik yang sangat khusus tersebut. Terkadang dibutuhkan beberapa langkah ke arah yang benar sebelum jalur tersebut mulai benar-benar jelas dan mendefinisikan trajektori yang berbeda. Dan dalam kasus usaha yang begitu kompleks dan ambisius, itu tidak akan terjadi dalam semalam. Kita berbicara tentang tahun 1991, ketika hanya segelintir rekaman signifikan yang telah dirilis dalam kategori radikal ini dan industri baru saja mulai bangkit. Siapa pun yang mengharapkan produk yang sehalus atau sebanding dengan versi Gorguts yang lebih baru jelas belum meluangkan waktu untuk memahami sejarah scene death metal. Apa yang diberikan di sini mirip dengan Deicide rilis pertama dengan riff yang marah dan ketegangan tinggi yang konstan selama bagian-bagian, tetapi menggantikan beberapa kemarahan dengan komponen yang lebih atmosferik, antara melodi dan jelas menakutkan, kadang-kadang canggung dan menyeramkan. Ada jeda akustik yang aneh di sana-sini, atau akor power yang ditangguhkan dengan solo yang menghias di atasnya, dengan permainan lead yang umumnya terasa penuh kesedihan. Beberapa karya gitar yang lebih eksperimental terjadi: ada di sana pada riff not tunggal yang dipadukan dengan jeritan pinch-harmonic. Ini bisa dibilang sejelas itu dalam hal komposisi seperti yang akan terdengar oleh Gorguts, meskipun ada keanehan yang melekat dan kualitas yang sudah tidak konvensional dalam hal ini. Dan dari segi produksi, ini lebih banyak bass dan berat di bagian bawah dibandingkan dengan sound Deicide yang lebih klinis/rapat, tetapi tidak se-subterranean Suffocation di era awal 90-an. Ada kejernihan yang baik pada drum, tetapi gitar terdengar khususnya raw namun menggigit, sebagai cara untuk menerjemahkan penderitaan bawah sadar yang tampaknya menjadi inti dari musik ini. Vokalnya lebih ke tipe teriakan musik ini adalah eksekusi yang solid dari suara DM dari awal tahun 90-an, dan meskipun bukan materi yang benar-benar revolusioner, ini membantu mendorong batasan pada masa ketika scene berada pada titik paling mengesankan dan baru dalam pembentukan. Komposisi mereka akan berkembang seiring waktu, menghasilkan suara yang membedakan mereka dari yang lain, menciptakan karakteristik yang cukup unik bagi Album terbaik sepanjang masa bagi fans fanatiknya.
SUFFOCATION - EFFIGY OF THE FORGOTTEN
Surprise? Iya, lumayan. Karena waktu pertama kali benar-benar " ketemu " dengan yang namanya Suffocation, rasanya bukan seperti menemukan band tapi seperti dihentakkan tanpa ampun ke dinding sound yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Dan anehnya, band yang sekarang dielu-elukan sebagai salah satu inovator utama death metal ini dulu justru bikin bingung: ini musik apaan, sih? Bukan tanpa alasan. Struktur musikal mereka jelas " lain dari yang lain ". Tidak linear, tidak ramah, dan jelas tidak dibuat untuk langsung dicerna sekali dengar. Tapi justru di situlah jebakannya. Semakin diputar, semakin terasa pola di balik kekacauan itu. Semakin dipahami, semakin kelihatan kalau ini bukan sekadar brutal ini terstruktur. Dan dari situ, ya… jatuh hati pelan-pelan, tanpa banyak drama. Secara objektif, pengaruh Suffocation terhadap perkembangan death metal modern itu bukan sekadar besar tapi fundamental. Mereka bukan cuma ikut arus brutalitas, tapi ikut membentuknya. Keseimbangan antara sound yang ganas dan teknis yang presisi yang sekarang jadi " standar wajib " di death metal? Ya, salah satu fondasinya dari sini. Tidak bisa dilewatkan juga sosok Frank Mullen, vokalis dengan growl yang bukan cuma dalam, tapi seperti datang dari ruang bawah tanah yang tidak pernah kena cahaya. Di era ketika banyak band masih mencari bentuk vokal ekstrem, gaya " death growl " yang ia bawa jadi semacam blueprint. Sekarang terdengar umum? Ya jelas, karena sudah ditiru ke mana-mana. Tapi di masanya, itu bukan hal yang biasa. Dan tentu saja, bagian yang sering bikin orang bengong: permainan drum mereka. Kompleks, cepat, dan terasa seperti tidak manusiawi untuk ukuran saat itu. Bahkan ada momen " kaget " tersendiri ketika melihat siapa yang ada di balik kit yang, kalau jujur saja, di skena death metal saat itu memang tidak terlalu umum. Bukan soal stereotip atau apa, tapi lebih ke fakta bahwa representasi di genre ini memang sempit. Dan ketika ada yang muncul dengan kemampuan segila itu, ya wajar kalau reaksi pertama: " serius ini? " Di sinilah letak sarkasnya: sekarang semua orang dengan santai menyebut Suffocation sebagai legenda, pionir, atau apapun istilah besar lainnya. Tapi kalau diputar ke orang yang belum terbiasa, reaksi awalnya kemungkinan besar masih sama seperti dulu: bingung. Karena musik seperti ini memang tidak dibuat untuk langsung dimengerti ia harus " dikerjakan ". Dan mungkin itu yang membedakan. Di saat banyak musik hari ini berlomba-lomba jadi mudah dicerna, Suffocation justru berdiri di sisi sebaliknya: tidak peduli apakah kalian langsung paham atau tidak. Mau masuk? Silakan pelan-pelan. Tidak kuat? Ya sudah, bukan untuk semua orang. Tapi buat yang bertahan, biasanya tidak akan balik lagi ke titik awal. Karena sekali paham struktur di balik brutalitas itu, standar kalian terhadap " keras " akan berubah selamanya.
" Effigy of the Forgotten " Memang album wajib serta terbaik sepanjang masa pokoknya. ini adalah primata yang super canggih dieranya. Mereka mengayunkan tongkat itu (bukan, bukan Golf) dengan banyak tetapi juga bisa menghasilkan karya emas. Dan di situlah terletak estetika di balik urusan aneh ini: keseimbangan antara menghancurkan tengkorakmu tetapi juga memperluasnya dengan ide-ide teknis yang rumit. Memanfaatkan orangutan yang terjangkit rabies untuk menggonggong ke mikrofon, di atas riff gorila yang menghancurkan dengan chug yang tertekan dan kapasitas lobus frontal yang tinggi, serta seorang yang benar-benar gila di ambang serangan jantung di belakang kit drum, yah, sekawanan binatang liar yang tidak terkendali ini semacam menciptakan genre brutal death metal dan mungkin salah satu pelaku utama di balik gerakan slam saat ini. Biasanya w akan memilih untuk tidak mengomentari sampul album (meski pada waktu ini sihir artwork masih begitu kuat melekat hahaha), karena w merasa itu sebagian besar tidak relevan - tetapi w akan membuat pengecualian di sini karena karya seni Seagrave tampaknya relevan dan secara spektakuler menangkap rasa ketidakberdayaan yang juga tercermin dalam musik. Sebuah lanskap neraka distopia yang menggambarkan kuburan massal, dikumpulkan secara sembarangan dalam tumpukan, tidak hanya dipenuhi dengan tubuh tetapi juga berbagai artefak dan sisa-sisa era manusia yang kini hampir terlupakan. Monolit yang didirikan menjulang di latar belakang berbicara tentang keantikan yang jelas dari scene tersebut, mengesankan kepada penonton kemungkinan bahwa abominasi artilect yang liar yang terlihat dalam proses merobek seseorang baik karena rasa ingin tahu atau murni kejahatan tidak hanya memadamkan seseorang, tetapi juga memadamkan sisa-sisa terakhir dari kemanusiaan secara keseluruhan. " Effigy of the Forgotten " bisa jadi adalah album yang sulit untuk direview. Apa yang bisa dikatakan yang belum pernah diulang-ulang ratusan kali sebelumnya? Mudah untuk menumpuk pujian karena itu benar-benar pantas. Dalam hal apapun, ia dengan tepat berdiri sebagai baik monumen maupun pelopor death metal pada tingkat yang paling ambisius dan ekstrem. Begitu definitif dampaknya, " Effigy ... " hampir mustahil untuk merilis sebuah album dengan intensitas dan/atau teknis yang nyata tanpa selalu dibandingkan dengan Suffocation. Ini menetapkan standar. Pertimbangkan bagaimana sound band DM lainnya pada tahun '91 ketika ini dirilis dan bagaimana sound mereka sekarang. Apakah ada yang mendekati pencapaian album ini? Tidak butuh waktu lama bagi pengaruh mereka untuk mulai menyebar seperti api, tidak hanya dalam bentuk scene NYDM; Internal Bleeding, Pyrexia, etc. tetapi juga band-band yang sudah mapan seperti Gorguts atau Deicide. Jika kalian mengernyitkan dahi pada yang terakhir itu.
Tidak cukup banyak yang bisa dikatakan tentang jenius duo gitar Doug Cerrito dan Terrance Hobbs. Mereka adalah Hanneman dan King dari death metal, hanya saja kimia antara Cerrito dan Hobbs berbeda dan, w berpendapat dalam beberapa hal, lebih unik. w selalu merasa bahwa para gitaris Slayer lebih kurang memiliki style yang sangat mirip satu sama lain, yang memiliki manfaat tersendiri dan tentu saja memungkinkan salah satu dari mereka dengan mudah mengambil alih ketika yang lainnya mengalami kebuntuan dalam penulisan lagu dan meneruskan obor dengan perasaan yang serupa, tetapi kontras antara permainan Cerrito dan Hobbs saling melengkapi satu sama lain sejauh untuk mencakup berbagai konsep yang lebih luas yang sempurna menyatu, menekankan, dan membangun fondasi bagi satu sama lain untuk berkembang tanpa bertabrakan atau terkesan memiliki terlalu banyak ide parsial yang tidak cukup dikembangkan. Mereka tidak terjebak dalam batasan parameter yang linier. Di bawah vokal Mullen yang keras, meresap rasa ritme dan groove yang aneh dan tak tertandingi yang menyediakan tulang punggung, tanpa henti menggerakkan serangan kromatik rendah yang bertindak sebagai kanvas di mana mereka kemudian melukis gambar yang lebih besar dan menciptakan setengah-melodi yang tidak seimbang dan aneh yang berputar dengan mulus ke dalam dirinya sendiri; entah bagaimana sekaligus belum terselesaikan dan namun tidak pernah tidak lengkap. Contoh utama dari ini adalah riff tremolo siklik utama yang menggugah dalam lagu "Liege of Inveracity." Ada perpadian nyata dari sound dan konsep di sini yang keduanya orisinal dan sangat maju untuk zamannya. Ini adalah bukti betapa komprehensifnya komposisi tersebut sehingga mereka mungkin telah melahirkan 3 sub-genre yang berbeda dan kemungkinan merupakan " sound " yang paling banyak mempengaruhi dalam metal ekstrem. Dengan brutalitas yang tak kenal kompromi, tajam, dan teknis pada tingkat yang melampaui instrumen itu sendiri dan meresap ke dalam struktur lagu (yang bahkan sekarang merupakan beberapa yang paling ahli dalam death metal), menjadikannya jauh di atas aksi kontemporer pada era tersebut seperti Death atau Morbid Angel, yang jika dibandingkan cenderung mengikuti struktur yang agak membosankan mirip rock. Suffocation bukanlah sekadar satu trik. Pengaruh tampaknya diambil dari setiap spektrum musik dan tidak ada band tertentu secara khusus. Pendengaran berulang kali tidak pernah berhenti menghasilkan wawasan baru ke dalam jalinan mutlak keahlian musik dan kedalaman. Mengingat usia mereka dan ini adalah album debut mereka, cakupan dan eksekusinya terasa jauh melampaui usia mereka.
SUFFOCATION - PIERCED FROM WITHIN
Sejak pertama kali jatuh cintrong sama Suffocation, logika langsung mundur teratur, yang ada cuma satu: buru semua rilisan mereka, apa pun caranya. Masalahnya, ini bukan era klik-klik lalu streaming. Distribusi kaset luar negeri di Indonesia waktu itu? Tipis. Nyaris mitos. Jadi ya, seperti kebanyakan " pejuang musik ekstrem ", opsi awalnya jatuh ke versi bajakan. Ketemulah " Breeding the Spawn ". Harapan tinggi, realita pahit. Kualitas duplikasi? Hancur. Suara seperti direkam ulang dari radio butut yang baterainya mau habis. Tapi tetap didengar. Kenapa? Karena materi di dalamnya terlalu penting untuk dilewatkan, meskipun kuping harus sedikit " disiksa ". Lalu datang momen pencerahan ditunjukkan ke " Pierced from Within ". Tanpa banyak mikir, langsung beli. Bahkan dobel sekaligus. Bukan karena kolektor, tapi karena trauma kualitas sebelumnya. Kali ini tidak mau ambil risiko. Dan begitu diputar? Edan. Ini bukan sekadar lanjutan, ini lonjakan. Dengan ekspektasi nostalgia ke era " Effigy of the Forgotten ", ternyata Suffocation justru tampil lebih buas dan lebih matang. Tanpa kehadiran drummer sebelumnya yang sempat bikin banyak orang melongo, mereka tetap bahkan mungkin lebih menggila. Permainan drum tetap kompleks, presisi, dan terasa " menghantam ", seolah tidak memberi ruang napas. Dari sisi vokal, Frank Mullen memang tidak lagi sedalam dan " segelap " di era awal. Tapi justru di situlah menariknya. Gaya vokalnya terasa lebih natural, lebih lepas, dan anehnya… lebih emosional. Growl-nya tidak sekadar berat, tapi punya artikulasi rasa yang lebih jelas. Tidak lagi sekadar " dalam ", tapi juga " hidup ". Di titik ini, dua album " Breeding the Spawn " dan " Pierced from Within " langsung menggeser cara pandang w soal death metal. Yang sebelumnya w kira sudah " brutal maksimal ", ternyata baru pemanasan. Suffocation menunjukkan bahwa brutalitas bukan cuma soal cepat dan keras, tapi juga soal struktur, presisi, dan identitas yang kuat. Dan di sinilah sarkasnya: sekarang banyak yang dengan santai menyebut mereka pionir brutal death metal, seolah itu pengetahuan umum sejak dulu. Padahal, untuk sampai ke titik itu, dulu butuh usaha nyari kaset, tahan kualitas jelek, dan mencerna musik yang jelas tidak ramah pendengar baru. Tapi mungkin justru itu yang bikin semuanya terasa lebih " berharga ". Karena ketika akhirnya paham dan terhubung, Suffocation bukan cuma jadi band favorit tapi jadi standar. Standar tentang bagaimana death metal seharusnya terdengar: brutal, teknis, dan tidak peduli apakah semua orang siap menerimanya.
Album ini terdengar sepenuhnya gelap. Ada kilasan cahaya sesekali dengan bagian yang kadang-kadang berwarna melodi, tetapi sebagian besar album ini menyesakkan dan kacau. Produksi itu sendiri tentu saja terinspirasi oleh konsep menenggelamkan pendengar. Ini sengaja dibungkam dan gelap, sambil tetap memancarkan warna dan meningkatkan frekuensi dinamis. Gitar terdengar klinis dan energik, dan bass terdengar jelas serta menambahkan tekstur ekstra yang kasar dan membantu keseluruhan sound menjadi lebih teknis dan rumit. Solo-soloannya secara konsisten cukup menarik karena merupakan perpaduan antara bentuk neoklasik yang lebih formal (dihiasi dengan penggunaan reverb latar belakang untuk kedalaman) dan shredding kromatik death metal AS yang benar-benar gila dengan pola yang tidak merata dan kegilaan whammy. Riffing-nya, jika seseorang dapat melihat ini dengan pikiran terbuka, kadang-kadang mengingatkan pada jazz: jenis eksplorasi fret-board yang petualang, seperti tikus yang mencium bau dengan marah, yang diakhiri dengan akor terbuka (disonan) penuh, kehadiran bass, dan drumming breakdown yang tidak teratur. Ada semacam tulang punggung jazz dalam musik ini dengan pendekatan freestyle dalam membuat materi yang kompleks dan lebih mengutamakan musikalitas daripada kepadatan penulisan lagu, meskipun tentu saja ia dilengkapi dengan gitar hi-gain berat, sound bass yang jauh lebih agresif, ketukan blast yang sering, dan geraman guttural seperti beruang, dll. Tapi sekali lagi, jika dibandingkan dengan band death metal murni seperti Morbid Angel, kalian dapat melihat bagaimana Suffocation umumnya lebih dekat dengan jazz. Tidak banyak album yang secara historis berfungsi sebagai karya dasar untuk seluruh genre, dan di mana rekaman pertama Suffocation memiliki identitas seminal, " Pierced From Within " menunjukkan kepada dunia bagaimana cara melakukannya dengan lebih jelas dan terdefinisi. Ini tidak diragukan lagi teknis, dan ini tidak diragukan lagi brutal. Dan kalian mungkin akan meninggalkan tempat dudukmu dengan sedikit benjolan di kepalamu, tapi itu selalu menjadi bagian dari risikonya, maksudku, apa yang bisa kalian lakukan. Ada gaya abstrak tertentu pada tech death awal dan Suffocation mungkin telah menjadi yang teratas dengan " Pierced From Within ", struktur lagu menyimpang dari norma konvensional. Sebuah bagian chugging lambat sama mungkin diikuti oleh bagian chugging lambat yang berbeda seperti halnya oleh festival shred kecepatan tinggi, yang pada gilirannya akan diikuti oleh jeda tempo lain dan kemungkinan besar kembali ke riff chugging lambat. Tidak ada rima atau alasan yang sepenuhnya jelas dalam apa pun yang dimainkan band ini, tetapi semuanya mengalir tanpa arah. Ini menciptakan keseimbangan yang aneh hampir paradoks, riff dan ketukan yang kasar dan sederhana disusun dengan cara yang sangat terstruktur dan rumit yang juga memberikan kesempatan bagi band untuk menambahkan lead dan solo yang mengesankan untuk membuktikan keahlian musik mereka. Bukan berarti tidak ada beberapa poin lemah. Solo-solo tersebut tidak ada yang istimewa, tidak buruk sama sekali, hanya ada untuk menambahkan sedikit sentuhan teknis tambahan. Pelakunya yang sebenarnya adalah pekerjaan produksi yang agak kurang berani yang berhasil menekankan bass dan bagian rendah gitar dalam campuran tetapi tetap menyampaikannya dengan jauh kurang tenaga daripada yang dibutuhkan, mungkin itulah sebabnya album ini tidak pernah tampak berhasil di kalangan penggemar deathcore yang biasanya menyukai fokusnya pada riff chug yang groovy dan breakdown.
GRIND CRUSHER COMPILATION
Bisa dipastikan, kalau bicara soal " racun pertama " yang bikin ketagihan musik paling berisik di muka bumi, ingatan w tidak goyah. Jawabannya satu: Grind Crusher ! Kompilasi yang secara ajaib masuk ke toko kaset Indonesia era 90-an, tapi tentu saja tidak datang dengan identitas aslinya. Karena ya, kenapa harus jujur kalau bisa diganti jadi lebih " menjual "? Maka lahirlah versi lokal dengan titel yang lebih " ramah pasar ": Thrash Generation ! Masalahnya, judulnya bilang " Thrash ", isinya? Jauh dari itu. Ini bukan sekadar meleset, ini nyasar. Tapi justru di situlah keindahannya. Tanpa sadar, kompilasi ini jadi pintu masuk ke berbagai cabang ekstrem, grindcore, death metal, sampai bentuk-bentuk kebisingan yang waktu itu bahkan belum punya label jelas di kepala w. Jadi ya, salah nama? Iya. Menyesatkan? Banget. Tapi efektif? Tidak usah ditanya. Di dalamnya, berjejer nama-nama yang waktu itu terdengar seperti ancaman, bukan band. Beberapa bahkan kemudian jadi fondasi genre ekstrem, tapi saat pertama kali didengar? Yang ada cuma satu reaksi: " ini serius musik? " Tidak ada intro manis, tidak ada chorus yang gampang diingat. Yang ada cuma serangan tanpa kompromi cepat, kasar, dan seperti tidak peduli apakah pendengarnya siap atau tidak. Dan di sinilah album kompilasi yang secara branding saja sudah " ngaco ", justru berhasil melakukan hal yang tidak bisa dilakukan banyak rilisan lain memperkenalkan spektrum luas musik ekstrem dalam satu paket. Tanpa kurasi sok idealis, tanpa penjelasan panjang lebar. Cukup putar, dan biarkan kuping yang bekerja keras. Versi fisiknya sekarang? Sudah jadi kenangan. Hilang entah ke mana, karena dipinjam lalu tidak kembali, nasib klasik koleksi era kaset. Tapi yang tertinggal justru lebih penting: memori. Dari situlah w mulai mengenal nama-nama yang dulu terasa " sangar ", yang kemudian hari berubah status jadi legenda. Lucunya, banyak orang sekarang mengenal band-band besar dari playlist digital yang rapi dan direkomendasikan algoritma. Sementara kita dulu? Dapat kompilasi dengan judul salah, genre tidak jelas, kualitas kadang meragukan tapi justru dari situ belajar memahami kebisingan sebagai bentuk ekspresi. Jadi ya, kalau ada yang tanya dari mana awalnya kenal musik ekstrem, jawabannya bukan dari daftar " best of " atau rekomendasi pintar. Tapi dari sebuah kaset dengan identitas setengah benar yang justru membuka jalan ke dunia yang sepenuhnya tidak masuk akal… dan entah kenapa, sangat menyenangkan.
Kalau hari ini orang sibuk kurasi playlist rapi, pakai algoritma, lalu sok kaget menemukan band " ekstrem ", w cuma bisa senyum tipis. Karena dulu, tanpa bantuan teknologi sok pintar, ada satu kompilasi yang dengan santainya menampar telinga kita tanpa permisi: " Grind Crusher - The Ultimate Earache " Rilisan dari Earache Records label asal UK yang waktu itu bukan cuma " panas ", tapi memang lagi membakar skena ekstrem dari akarnya diawal karir kemunculannya. Ini bukan kompilasi biasa. Ini semacam paket teror musikal yang isinya bukan sekadar band, tapi fondasi. Dan lucunya, dulu kita tidak sadar sedang dicekoki sejarah. Kita kira cuma dengar musik keras. Padahal, ini semacam " kurikulum tidak resmi " buat siapa saja yang ingin paham kenapa musik ekstrem bisa jadi sebrutal sekarang.
Mari kita mulai dari nama yang tidak mungkin dilewatkan: MORBID ANGEL. Band ini bukan cuma pionir death metal, tapi juga salah satu yang paling inovatif baik dari segi komposisi, atmosfer, sampai kontroversi yang mengelilinginya. Mereka bukan sekadar keras, tapi juga " berpikir ". Dan di era itu, kombinasi ini jelas bukan hal umum. Lalu ada REPULSION nama yang mungkin dulu terdengar asing, tapi pengaruhnya? Gila. Mereka adalah salah satu pilar grindcore coy ternyata, bahkan sebelum istilah itu benar-benar mapan. Tanpa mereka, nama-nama seperti CARCASS, NAPALM DEATH, atau TERRORIZER mungkin tidak akan terdengar seperti sekarang. Ngomongin CARCASS, ini band yang evolusinya bikin banyak orang bingung sekaligus kagum. Dari goregrind yang menjijikkan secara konsep, mereka berubah jadi fondasi melodic death metal dan death ‘n’ roll. Jadi kalau hari ini ada yang sok puritan soal genre, mungkin lupa kalau band idolanya sendiri dulunya juga " belok ". Masuk ke ranah yang lebih eksperimental, ada GODFLES, Bersama Ministry, mereka membawa industrial metal ke level yang lebih dingin, mekanis, dan… tidak manusiawi. Gitar berat dipadu dengan ritme mesin yang lambat hasilnya bukan sekadar musik, tapi suasana. Tidak nyaman, tapi nagih. Lalu TERRORIZER lagi-lagi muncul, kali ini dengan koneksi penting ke Scott Burns, produser yang lewat album " World Downfall " membantu membentuk standar produksi death metal. Jadi kalau sekarang banyak band terdengar " rapi brutal ", ya salah satu akarnya dari sini. Tidak ketinggalan HELLBASTARD, yang memperkenalkan istilah " crust " lewat demo " Ripper Crust " untuk pertama kalinya. Meskipun Amebix sering disebut pelopor sound-nya, Hellbastard-lah yang memberi nama. Dan seperti biasa, yang memberi nama justru sering lebih diingat. Dari Swedia, ada CARNAGE, cikal bakal dari DISMEMBER yang membantu membentuk sound khas death metal Swedia yang kotor dan chainsaw-like itu. Sementara itu, ENTOMBED juga ikut mengukuhkan identitas tersebut. Lalu tiba-tiba… boom. Masuk NAKED CITY Band-nya John Zorn ini seperti troll di tengah kompilasi. Dari jazz ke noise ke grind dalam hitungan detik. Tidak ada transisi, tidak ada peringatan. Ini bukan sekadar musik ini eksperimen yang dilempar ke pendengar tanpa pelampung. Belum cukup? Tambahkan NAPALM DEATH, BOLT THROWER, sampai NOCTURNUS yang sudah berani main keyboard dan tema sci-fi saat death metal lain masih sibuk di kubangan horor klasik. Bahkan MIGHTY FORCE ikut nyelip dengan gaya Disco Electronic-nya, seperti ingin memastikan kalau batas genre memang cuma ilusi. Dan jangan lupakan nama-nama klasik inovator seperti FILTHY CHRISTIANS, OLD LADY DRIVERS, INTENSE DEGREE dan SORE THROAT ikut menyusun puzzle kebisingan ini. kompilasi ini lebih jujur daripada banyak " daftar terbaik sepanjang masa " yang beredar hari ini. Tidak ada pencitraan, tidak ada kurasi aman. Semua dilempar jadi satu UK, Amerika, berbagai subgenre dan pendengar dipaksa untuk menyimpulkan sendiri. Ini bukan playlist untuk terlihat keren. Ini ujian. Kalau tahan, lanjut. Kalau tidak, ya silakan kembali ke zona nyaman. Dan mungkin itu yang hilang hari ini. Dulu, kita tidak memilih musik berdasarkan kenyamanan. Kita menemukan, tersesat, lalu belajar. " Grind Crusher - The Ultimate Earache " bukan sekadar kompilasi ini adalah gerbang. Gerbang menuju dunia yang tidak ramah, tidak rapi, tapi justru membentuk cara kita memahami musik ekstrem sampai hari ini. Jadi kalau sekarang ada yang sok kaget dengan brutalitas modern, mungkin mereka cuma belum pernah " ditampar " oleh kompilasi seperti ini. Karena sekali masuk, standar " keras " kalian akan berubah… selamanya, yearrgghh !!
MORBID ANGEL - ALTARS OF MADNESS
Kalau ada yang masih menganggap Morbid Angel itu " sekadar band death metal ", mungkin dia baru dengar kemarin sore. Karena sejak dibentuk tahun 1983 oleh Mike Browning dan Trey Azagthoth, band ini bukan cuma ikut membentuk genre mereka ikut menentukan arahnya. Dan seperti biasa, sesuatu yang menentukan arah itu jarang datang dengan cara yang sopan. Di era ketika death metal masih mencari bentuk, Morbid Angel sudah terdengar seperti entitas dari dimensi lain. Riff mereka tidak sekadar berat, tapi juga " aneh " dalam arti yang tepat struktur tidak konvensional, atmosfer gelap, dan pendekatan komposisi yang jelas tidak dibuat untuk menyenangkan semua orang. Ini bukan musik yang ingin Anda pahami sekali dengar. Ini musik yang menantang kalian untuk bertahan. Dan ya, di tengah semua kekacauan artistik itu, mereka justru berhasil melakukan sesuatu yang ironisnya tidak terlalu " underground ": sukses secara komersial. Lebih dari satu juta album terjual sepanjang karier mereka. Angka yang, untuk ukuran death metal, bukan cuma besar tapi hampir terdengar seperti kesalahan sistem. Apalagi ketika mereka jadi salah satu band death metal pertama yang menembus label besar seperti Giant Records yang berafiliasi dengan Warner Bros. Records. Jadi kalau ada yang masih percaya death metal itu selalu " tidak laku ", mungkin perlu cek ulang sejarahnya. Tapi tentu saja, tidak lengkap rasanya kalau Morbid Angel hanya dibahas dari sisi musik dan pencapaian. Kontroversi? Sudah pasti. Di era awal perkembangan musik ekstrem yang memang sedang " panas-panasnya ", mereka bukan cuma ikut dalam arus, mereka memperkeruhnya. Lirik, imagery, sampai pendekatan estetika mereka sering memicu reaksi keras. Tapi ya, kalau semua orang nyaman, berarti ada yang salah. Satu hal unik yang mungkin terdengar sepele tapi justru jadi identitas adalah tradisi penamaan album mereka berdasarkan urutan alfabet. Dimulai dari " Altars of Madness ", lalu " Blessed Are the Sick ", lanjut ke " Covenant ", dan seterusnya. Lucunya, menurut mereka sendiri, ini bukan konsep besar dari awal cuma kebetulan yang keterusan. Tapi seperti banyak hal dalam musik ekstrem, sesuatu yang awalnya tidak direncanakan justru jadi ciri khas yang melekat. Namun di balik semua itu, ada satu elemen klasik yang hampir tidak pernah absen dari band besar: ego. Dan Morbid Angel tidak kebal dari itu. Pergantian formasi, konflik internal, sampai pecah kongsi jadi bagian dari perjalanan mereka. Nama-nama datang dan pergi, meninggalkan jejak masing-masing. Dan pada akhirnya, yang tersisa sebagai poros utama hanyalah Trey Azagthoth, figur sentral yang bisa dibilang adalah roh dari band ini. banyak orang memuja " kejayaan " sebuah band, tapi lupa kalau di balik itu ada dinamika yang tidak selalu indah. Kita menikmati hasil akhirnya, tapi jarang melihat proses yang penuh gesekan. Dan dalam kasus Morbid Angel, gesekan itu bukan sekadar bumbu tapi bagian dari identitas mereka. Jadi ketika kita bicara tentang mereka sebagai pelopor death metal, itu bukan hanya soal siapa yang lebih dulu. Tapi siapa yang berani mendorong batas, mengambil risiko, dan tetap berdiri meski harus kehilangan banyak hal di tengah jalan. Dan mungkin itu alasan kenapa nama Morbid Angel tetap relevan sampai sekarang. Bukan karena mereka sempurna tapi justru karena mereka tidak pernah mencoba untuk jadi itu.
Album " Altars of Madness ", Dianggap sebagai klasik death metal, signifikansi album ini dalam musik ekstrem bawah tanah dianggap oleh beberapa orang sebagai momen penting dalam perkembangan subgenre tersebut. Sifat kacau dan kecepatan riff dan drumming tanpa diragukan lagi telah membentuk sound-nya Vader, Nile, Krisiun, dan banyak lainnya. Namun, meskipun pencapaian ini oleh Trey dan grupnya, album ini adalah contoh rekaman yang telah menua dengan mengerikan. Apa artinya adalah bahwa banyak usaha rekaman lainnya oleh band-band lain sejak itu telah menjatuhkan album dari posisinya yang tinggi dan diidam-idamkan. Seperti banyak album kultus, rekaman ini mungkin terkenal bukan karena bentuk akhirnya yang selesai, tetapi karena apa yang dipikirkan banyak orang seharusnya terdengar atau seharusnya terdengar. Dapat diperkirakan bahwa banyaknya nostalgia dan hype seputar album tersebut diselimuti oleh pengalaman subjektif para pendengarnya saat itu. Mereka mungkin mendengarkan rekaman itu sambil terpengaruh oleh ramuan halusinogen yang mungkin telah melebih-lebihkan keunggulan album tersebut.
Anehnya, ada beberapa rintangan besar yang harus diatasi oleh pendengar sebelum dia bisa sepenuhnya menghargai album tersebut. Yang pertama dari ini jelas adalah karakteristik produksi sound yang mengerikan di era-nya. Untuk lanskap sound death metal, nada gitar di rekaman ini begitumenggigit dan tidak memiliki rasa pukulan yang diperlukan untuk jenis musik ini. Juga, riff yang ditampilkan di sini adalah massa amorf dari kebisingan abstrak, beberapa dengan inspirasi yang tak terbantahkan dan ide-ide orisinal di baliknya sementara sebagian besar lainnya hanyalah Trey yang melakukan penyalahgunaan tremolo masturbasi dari instrumennya. Untuk adil, ketika riff dieksekusi dengan benar, mereka tidak dapat disangkal berat dan brutal sambil juga menyampaikan kualitas yang tidak berasal dari dunia ini ("Lovecraftian"). Sebagian besar waktu, riffing di sini terdengar kuat dan menonjol karena Trey tampaknya memiliki bakat bawaan untuk menghasilkan riff yang luar biasa dengan lebih terfokus pada aspek-aspek yang berlebihan dari musik, mengingat salah satu idola utamanya adalah Eddie Van Halen (Seperti Yngwie Malmsteen, gaya "shredding" Eddie. w cukup yakin orang lain mendapatkan orgasme telinga dari hal-hal itu tetapi w merasa bahwa pameran yang mencolok seperti itu hanya mengkompensasi meledak-nya substansi dalam materi. Itu bukan selera w karena w memang lebih suka dengan permainan gitar yang mencoba membangkitkan emosi dan suasana hati. Yang mengerikan keseluruhan adalah permainan drum Pete Sandoval yang kuat dan tanpa henti. Orang ini adalah mesin blast beat hidup dan ketahanannya dengan alat perkusi, bisa dibilang, tidak manusiawi. Selain dari ketenaran gaib dari konten lirik dan konsep musik album tersebut, keahlian perkusi Sandoval dengan mudah menjadi kunci warisan abadi dari rekaman ini sebagai opus ekstrem di antara para penggemar death metal. Di bidang vokal, David Vincent menyanyi dengan gaya vokalisasi serak, hampir seperti black metal; ini membuatnya unik karena sebagian besar vokalis dalam death metal jelas merupakan alumni dari perguruan tinggi growling guttural. Meskipun w lebih suka serangan tenggorokan Steve Tucker di " Gateways to Annihilation " karena itu semacam melengkapi atribut musik yang lebih berat. Vokal Vincent kadang-kadang dapat dilihat dalam cahaya positif karena mereka kadang-kadang menambah nuansa dan getaran etereal yang coba disalurkan Trey dan rekan-rekannya ke dalam speaker. Namun, lebih sering daripada tidak, nyanyiannya juga secara tidak langsung melemahkan dampak dan intensitas keseluruhan musik yang dimaksudkan, karena Vincent sering terdengar seperti kucing yang dikebiri, yang merugikan sound yang ingin dicapai oleh grup tersebut. Ini karena jika kalian benar-benar ingin memproyeksikan aura kejahatan dan keburukan supranatural dalam musik kalian.
KATAKLYSM - TEMPLE OF THE KNOWLEDGE
Ada fase dalam hidup di mana kita merasa sudah " paham " musik metal. Sudah dengar yang cepat, yang brutal, yang dinamis pokoknya merasa sudah cukup jauh. Lalu datang satu nama yang tanpa basa-basi meruntuhkan semua asumsi itu. Dalam kasus w: Kataklysm ! Awalnya cuma lewat serpihan lagu-lagu dari kompilasi yang diambil dari EP " The Mystical Gate of Reincarnation " sampai full album pertama " Sorcery ". Tidak langsung asli bikin kesan " wah ", tapi cukup untuk bikin penasaran. Dan begitu benar-benar dicerna, baru terasa: " ini beda. Bukan sekadar death metal cepat dan brutal ", tapi punya identitas yang bahkan mereka sendiri berani kasih label " Northern Hyperblast ". Istilah yang, jujur saja, terdengar seperti jargon marketing kalau tidak dibuktikan. Tapi Kataklysm tidak cuma jual nama. Mereka benar-benar memainkan sesuatu yang terasa seperti badai tanpa jeda lewat blast beat yang tidak kenal kompromi, tempo yang nyaris tidak memberi ruang napas, dan komposisi yang tetap punya arah di tengah kekacauan itu. Dan di garis depan kekacauan tersebut, berdiri sosok yang sulit dilupakan: Sylvain Houde. Penampilannya? Garang. Vokalnya? Lebih dari itu. Seperti singa mengamuk yang tidak diberi alasan untuk berhenti. Di era di mana banyak vokalis masih mencari identitas, dia sudah datang dengan karakter yang jelas tidak sekadar growl, tapi ekspresi liar yang terasa hidup. Lalu masuk ke fase yang, buat w pribadi, jadi titik penting: " Temple of Knowledge (Kataklysm Part III) ". Di sini, dengan masuknya drummer baru Nick Miller (ex. Anal Blast), Kataklysm seperti menemukan bentuk yang lebih solid. Atmosfernya lebih padat, lebih terarah, tapi tetap mempertahankan kegilaan khas mereka. Ini bukan sekadar evolusi, ini lebih mengarah ke fase penyempurnaan. Meski sayangnya, seperti banyak cerita klasik di skena ekstrem, fase ini tidak bertahan lama. Kolaborasi dengan Nick Miller dan Sylvain Houde hanya berujung sampai pada rilisan live " Northern Hyperblast Live ". Setelah itu? Perubahan besar ! Masuklah era yang bagi sebagian orang disebut " kematangan ", tapi bagi yang lain terasa seperti " kompromi ": " The Prophecy (Stigmata of the Immaculate) ". Arah musik bergeser ke melodic death metal dan groove metal. Vokal diambil alih oleh Maurizio Iacono, yang sebelumnya mengisi posisi bass. Sound jadi lebih rapi, lebih terstruktur, dan tidak bisa dipungkiri lebih mudah diterima. Kataklysm yang dulu terdengar seperti badai liar dari utara, perlahan berubah jadi mesin yang lebih terkontrol. Tidak jelek, jelas tidak. Bahkan secara produksi dan komposisi, mereka justru naik kelas. Tapi buat yang jatuh cinta di era awal, rasanya seperti melihat sesuatu yang dulu liar sekarang belajar " bersikap ". Namun, kalau mau jujur secara objektif, perubahan ini juga tidak lepas dari sosok penting di balik layar sekaligus di depan: Jean-François Dagenais. Sebagai gitaris, produser, engineer, dan otak produksi, dia membawa Kataklysm ke level profesional yang lebih tinggi. Lewat studionya, JFD Studio, ia membentuk sound yang lebih modern, lebih tajam, dan lebih " siap jual ". Prestasinya juga bukan main-main. Dua penghargaan GAMIQ untuk album " Prevail " dan " Heaven's Venom ", plus pengakuan sebagai " Best Metal Group " di Canadian Indie Music Awards. Jadi kalau ada yang bilang mereka " melemah ", ya mungkin perlu dilihat lagi dari sudut pandang industri karena faktanya mereka justru makin besar. Tapi kembali lagi, ini bukan soal siapa yang paling sukses. Ini soal koneksi. Buat w, Kataklysm akan selalu berhenti di tiga fase awal itu : EP " The Mystical Gate of Reincarnation ", " Sorcery ", dan " Temple of Knowledge (Kataklysm Part III) ". Bukan karena setelahnya tidak layak, tapi karena di situlah rasa pertama itu terbentuk. Yang liar, yang mentah, yang tidak peduli apakah enak didengar atau tidak. Dan di situlah ironi terbesar dalam musik: kadang yang paling kita cintai bukan versi terbaiknya tapi versi pertamanya yang paling jujur.
Kataklysm memiliki sejarah yang cukup menarik... evolusi mereka agak unik, dan meskipun tidak setiap album dari karir panjang dan bersejarah mereka adalah berlian dan hal-hal mungkin telah sedikit membosankan seiring waktu, w pikir mereka layak mendapatkan penghormatan atas pendekatan kerja keras mereka dengan tur yang konstan dan kemampuan untuk mempertahankan tingkat kualitas yang cukup konsisten. Cukup mengesankan memang 3 rilisan pertama tentu saja juga fantastis, dan bisa dengan mudah dianggap sebagai klasik sejati dari apa yang disebut " zaman kegelapan " death metal (penggemar death metal sejati tentu akan mencemooh frasa itu, tetapi begitulah adanya). Tetapi bagi Kataklysm, yang terbaik belum datang - band ini belum sepenuhnya menemukan sound mereka, dan apa yang dicapai band ini hanya setahun kemudian pada rilis ini adalah sesuatu yang benar-benar belum pernah dilakukan sebelumnya, dan belum pernah direplikasi sejak saat itu " Sebuah karya sejati dari kegilaan dan jenius yang bekerja sama ". Mari kita mulai dengan masalah yang jelas...bintang pertunjukan di sini adalah Sylvain Houde. Suka atau tidak suka, dia benar-benar salah satu sound paling unik dalam sejarah death metal - tidak ada yang melakukannya seperti dia, dan dia mencapai puncaknya di album ini. Sikapnya yang aneh dan skizofrenia membuatnya bisa dibilang sebagai vokalis paling intens dan kacau yang pernah ada dalam sejarah death metal. Sementara vokalis death metal "normal" biasanya terkunci dalam groove dan menggunakan pola vokal mereka sebagai instrumen perkusi, Houde lebih suka menyerang pendengar dengan aliran lirik yang konstan, yang meledak dari dirinya dengan kecepatan gila... kalian hampir tidak bisa menyebut apa yang dia lakukan sebagai " pola vokal " melainkan sebagai " vortex geraman " yang seolah-olah melanda musik daripada secara aktif cocok dengan musik tersebut. Itulah cara terbaik untuk melihat Houde, menurut pendapat w. Dia bukan manusia. Dia adalah kekuatan alam, badai death metal yang sama sekali tidak bisa ditahan. Dan ya, ada banyak lirik aneh di album ini. Meskipun Houde berhenti dan membiarkan musik bernapas (sesuatu yang sering dia kritik secara tidak adil, menurut w, adalah bahwa dia "tidak pernah berhenti berbicara"...dia melakukannya, cukup dengarkan bagian belakang "Maelstrom 2010"), mendengarkan secara santai akan menunjukkan bahwa dia tidak masalah bahkan melakukan "dosa besar" seperti bernyanyi melalui solo gitar. Kemudian kalian punya momen-momen aneh dan bizar yang penuh dengan kegilaan yang membahagiakan (jeritan di "Beckoning of the Xul")...apa yang bisa e katakan? Ini bukan untuk semua orang, tetapi e rasa musik yang intens memerlukan kehadiran yang intens untuk menangkapnya dengan baik. Liriknya...meskipun hampir tidak mungkin untuk diikuti bahkan dengan buku kecil CD di tangan, ditulis dengan baik dan menarik, sebagian besar membahas topik-topik tentang kiamat serta tema-tema mistis dan esoteris.
Riff-nya, seperti biasa untuk Kataklysm, sangat luar biasa. J.F. Dagenais selalu menjadi salah satu pencipta riff yang paling diremehkan dalam death metal, dan LP ini adalah saat di mana jeniusnya benar-benar mulai terbentuk yaitu variasi, bumbu kehidupan itu sendiri. Meskipun tidak kekurangan riff fenomenal di " Mystical Gate... " dan " Sorcery ", itu lebih atau kurang seperti death metal old school yang terpacu. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi perjalanan baru saja dimulai, pada dasarnya. Di sini, kalian bisa mendengar sound itu ditambah dengan sedikit melodi yang muncul ke dalam riffing kadang-kadang...beberapa elemen groove juga, menambah variasi pada bagian breakdown. Biasanya, ini adalah hal-hal yang dikeluhkan orang terkait dengan death metal, tetapi w berpendapat bahwa tambahan ini membantu band ini membedakan diri mereka, dan memberikan "napas" yang menyenangkan dari semua intensitas tersebut. Style J.F. (dan secara luas, Kataklysm itu sendiri) adalah menggabungkan ketiga elemen ini untuk membentuk suatu kesatuan yang kohesif. Rilisan selanjutnya seperti " The Prophecy: Stigmata of the Immaculate " dan " Epic: Poetry of War " akan menyempurnakan dan menyesuaikan perpaduan ini, dan pada akhirnya band ini akan menyederhanakan gaya ini menjadi sound khas yang lebih dikenali antara " Serenity in Fire " dan " In the Arms of Devastation ", tetapi di sini pada tahap awalnya di mana melodi & groove berfungsi lebih sebagai konterpoint terhadap brutalitas yang manik, w pikir ini memiliki efek terbesar. Lagu-lagu seperti " In Parallel Horizons " dan " Fathers from the Suns " yang fenomenal menunjukkan ini dengan sangat baik, menurut w. Tetapi ekstremitas juga tidak boleh diabaikan, yaitu "Exode of Evils" yang merupakan salah satu lagu death metal paling intens dan brutal yang pernah w dengar, dengan riff pembuka yang benar-benar menghancurkan tengkorak pembawaannya.
METALLICA - MASTER OF PUPPETS
W bukan pengagum militan thrash metal, apalagi sampai bela mati-matian tiap rilis baru seolah itu kitab suci. Tapi kalau bicara soal racun awal yang merusak cara pandang w tentang musik keras, ya tidak bisa menghindari nama Metallica. Ironis, karena band yang sekarang sering jadi bahan debat " masih relevan atau tidak " ini dulu justru jadi pintu masuk paling brutal ke dunia yang sama sekali tidak ramah. Perkenalan itu sederhana dan klise. Dari almarhum abang w, waktu w masih duduk di bangku sekolah dasar. Tidak ada teori, tidak ada analisis. Cuma diputar. Dan langsung kena. Album seperti " Kill Em All " dan " Ride the Lightning " bukan sekadar musik cepat dan keras, tapi terasa seperti pemberontakan yang punya arah. Riff-nya tajam, energinya mentah, dan yang paling penting: jujur. Tidak ada basa-basi, tidak ada pencitraan. Ini metal yang belum sempat jadi industri. Lalu datang pukulan telak berikutnya: " Master of Puppets ". Di titik ini, semua yang w kira sudah " maksimal " dari thrash metal, hancur total. Album ini bukan cuma agresif, tapi juga kompleks. Struktur lagunya panjang, penuh dinamika, dan tidak takut untuk keluar dari pola. Ini bukan sekadar musik keras ini komposisi serius yang kebetulan sangat brutal. Dan ya, tanpa perlu jadi fanboy garis keras, sulit untuk menyangkal bahwa ini adalah salah satu puncak thrash metal. Kalau ditarik ke belakang, cerita terbentuknya Metallica sendiri juga tidak kalah menarik atau kalau mau jujur, agak absurd. Lars Ulrich, seorang imigran dari Denmark yang awalnya datang ke Amerika untuk main tenis, malah berujung membentuk band metal. Bertemu dengan Brian Slagel dari Metal Blade Records, lalu nekat mencari personel demi bisa masuk kompilasi Metal Massacre. Masuklah James Hetfield, yang saat itu masih bermain di Leather Charm. Mereka rekam " Hit the Lights ", dengan segala keterbatasan bahkan sebagian besar instrumen diisi sendiri oleh Hetfield. Lalu datang Dave Mustaine, yang nanti kita tahu akan jadi cerita tersendiri sebagai Megadeth, serta Ron McGovney yang awalnya bahkan belajar bass hanya supaya band ini bisa tampil live. Serius, ini band besar yang lahir dari improvisasi dan nekat. Kemudian takdir mempertemukan mereka dengan band Exodus dan gitarisnya, Kirk Hammett, serta band Trauma yang membawa nama Cliff Burton. Sisanya? Sejarah. Formasi ini yang kemudian melahirkan karya-karya yang sampai hari ini masih dijadikan patokan. Bahkan dari sisi " kontroversi ringan ", " Master of Puppets " punya caranya sendiri untuk menyindir moral panic era itu dengan stiker sarkas yang menyinggung label " explicit lyrics " ala PMRC. Sindiran yang cerdas, tanpa perlu teriak-teriak. Tapi seperti semua cerita besar, selalu ada fase di mana arah berubah. Dan di sinilah hubungan w dengan Metallica mulai… renggang. Masuk ke era " Metallica " (alias Black Album), band ini memang mencapai puncak komersial yang tidak terbantahkan. Produksi lebih bersih, lagu lebih pendek, lebih " ramah radio ". Secara bisnis? Jenius. Secara musikal? Nah, di sinilah debat tidak pernah selesai. " Buat sebagian orang, ini evolusi. Buat yang lain, ini kompromi. " Dan w? Cukup realistis untuk bilang: ini bukan lagi band yang sama yang dulu memporak-porandakan kepala w. Ini sudah jadi entitas besar dan mesin industri dengan brand yang terlalu kuat untuk gagal. Setiap rilisan baru bukan lagi soal eksplorasi, tapi ekspektasi. Bukan lagi tentang membuktikan sesuatu, tapi mempertahankan posisi. band yang dulu lahir dari keterbatasan dan keberanian, sekarang justru terlalu mapan untuk mengambil risiko yang sama. Dan ketika risiko hilang, biasanya " keajaiban " ikut menghilang. Apakah berarti mereka harus bubar? Itu pertanyaan yang selalu dilempar dengan nada emosional. Tapi mungkin bukan soal bubar atau tidak. Ini soal menerima kenyataan bahwa tidak semua band bisa atau mau terus menciptakan masterpiece. Karena pada akhirnya, Metallica sudah melakukan apa yang banyak band bahkan tidak pernah mendekati: " Metallica menciptakan karya yang benar-benar mengubah generasi ". Sisanya? Ya, mungkin memang tinggal bisnis, nostalgia, dan upaya mempertahankan warisan. Dan jujur saja, tidak semua legenda harus terus terdengar relevan meski kadang cukup mereka pernah jadi alasan kenapa kita jatuh cinta pada musik itu sendiri.
" Kill Em All " adalah sebuah karya thrash metal yang sangat bagus, sebuah karya perintis yang menetapkan varian sound yang lebih berat dibawa oleh gerakan NWOBHM. " Ride the Lightning " melampaui batasan yang tersirat dengan keahlian musik yang lebih luas, lebih dari sekadar mampu menyertakan balada ala " Fade to Black " daripada sekadar memainkan riff Diamond Head dengan sedikit unsur Bad Religion. Akhirnya datang " ...and Justice for All " yang juga merupakan karya pionir thrash metal yang tidak hanya memberi izin lebih besar bagi thrash metal untuk menjadi teknis jika tidak epik, tetapi akhirnya mempengaruhi album metal terhebat sepanjang masa, " Rust in Peace ". Jadi, di mana posisi " Master of Puppets ", album yang terletak di antara kedua album tersebut dalam diskografi mereka? Singkatnya, ini secara efektif adalah " Ride the Lightning Pt II ", karena memiliki bagian-bagian NWOBHM yang diperpanjang dan diperkeras dengan riff Diamond Head/Iron Maiden/Satan dimainkan lebih keras dan lebih cepat daripada yang ditawarkan oleh para veteran tersebut pada tahun 1986. Tetapi, untuk memasak omelet ou framage yang lezat yang akhirnya menjadi " ...and Justice for All ", beberapa telur harus dipecahkan, yang mengarah ke " Master of Puppets ", dan dalam retrospeksi, jelas di mana album ini berhasil dan di mana album ini gagal. Pada tingkat dasar, instrumennya mengalami banyak kemajuan. Bukan hanya dengan produksi yang lebih penuh dengan bagian bawah yang lebih berkembang, tetapi juga dengan permainan yang sebenarnya. Bagian ritme dari teman lama Hetfield telah meningkat secara khusus karena vokalnya tidak hanya berkembang menjadi gentleman selatan dari yang besar empat, tetapi riff-nya lebih ketat daripada jebakan jari Cina yang paling jahat sekalipun. "Battery" menampilkan ketepatan ritmisnya yang ketat di kedua departemen – riff-nya terikat bersama untuk menciptakan pertukaran energi tinggi dari susunan thrash, dan vokalnya, yang berkembang dari teriakan semangat menjadi bentuk primitif dari yarl selatan yang kita semua kenal dan cintai, dengan tegas mengukuhkan mereka ke dalam melodi abadi bahkan sekarang. Ini semakin meluas ke finale yang eksplosif " Damage Inc ". Damn, lagu ini mengakhiri album dengan sangat luar biasa, gila banget! Bahkan dalam lagu-lagu yang lebih rendah dan repetitif seperti " Disposable Heroes" dan " Leper Messiah," James tetap menunjukkan yang terbaik saat dia menguatkan bagian ritme dengan sangat hebat. Apakah dia menggunakan lengan mesin jahit yang sangat kuat di lagu sebelumnya atau Cliff membuatnya cenderung ke arah bounce menengah yang catchy dan langsung berdampak seperti di lagu berikutnya, jelas bahwa gitar James adalah bintangnya, dan melodi vokalnya yang mengikuti ritme serupa adalah sesuatu yang luar biasa dengan caranya sendiri. Meskipun begitu, ada pendekatan yang lebih tinggi untuk album ini. Ini tidak sepenuhnya berhasil. w sudah menunjukkan repetisi dalam "Disposable Heroes" dan "Leper Messiah", dan di situlah sebagian besar kesalahan relatif album ini terjadi. Yang pertama memiliki beberapa riff yang cukup ganas menurut standar Metallica, tetapi intro-nya bisa dilakukan tanpa beberapa repetisinya karena hal itu sudah sangat membosankan. Yang terakhir pasti bisa dipangkas beberapa menit dan ritme dasarnya yang abadi akan mendapatkan keadilan lebih. Seperti adanya, lagu ini pada dasarnya sudah terlalu lama. Tapi… kalau begitu kita tidak akan punya "The Thing that Should Not Be" dan "Sanitarium", dan itu bukanlah kenyataan yang w terlalu nyaman untuk dijalani. Riffing yang sangat sabar dari yang pertama, dikombinasikan dengan tempo yang lebih berat dan bahkan lebih sabar dari yang kedua yang menciptakan suasana yang cukup gelap, adalah hal-hal yang pasti Metallica berani eksplorasi dengan album ini, dan dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi, w tambahkan! w bertanya-tanya apakah Dave Mustaine telah mengembangkan "Peace Sells" selama waktu yang sangat singkat ketika dia mungkin berada di sekitar selama penulisan lagu "Sanitarium" dengan menukar kecenderungan atmosferik penuh yang ditawarkan lagu ini dengan kegelapan yang lebih langsung dan lebih padat dari lagu itu. Ketiga lagu yang baru saja disebutkan di sini benar-benar keren, itulah yang akan w katakan di sana.
Dari sudut pandang konseptual, kenaikan tertinggi adalah " Orion " secara efektif, jika " The Call of Ktulu " memiliki tingkat instrumen yang lebih tinggi daripada apa yang mereka lakukan bahkan hanya sepanjang album ini. Untuk memberikan konteks tambahan, "The Call of Ktulu" menampilkan semua yang telah mereka pelajari dari " Kill Em All " hingga " Ride the Lightning " dengan pengukuran yang diperpanjang pada riffing dan pengaturan yang lebih kompleks. w akan memberi banyak pujian kepada Cliff dan anggota band lainnya bahwa "Orion" memang memberikan cukup variasi dalam ukurannya untuk mencegahnya menjadi instrumen yang membosankan dan redundan. Perpaduan riff thrashy, ritme rock, dan banyak sentuhan atmosferik yang memberi "The Thing that Should Not Be" dan "Sanitarium" keunggulannya. Sayangnya, seluruh aransemen kurang memiliki kehalusan yang dimiliki oleh "The Call of Ktulu." Ambisinya jauh lebih besar daripada pelaksanaannya. Di antara riff yang ketat dan bagian gelap yang bergetar, terdapat komposisi yang menggantung seperti tamu pesta yang tidak mau pulang. Secara paradoks, komponen atmosferik memungkinkan hal itu meresap seperti gas yang merobek daging; sementara itu, komponen yang lebih langsung, baik itu pengaturan riff atau melodi sepanjang durasinya, tidak sepenuhnya menyampaikan pernyataan yang dimaksudkan. Pada dasarnya, ini sedikit seperti jeda melodi dari lagu berjudul tersebut yang terlalu panjang untuk kebaikannya sendiri, meskipun ada kualitas metalik berkualitas tinggi di sekitarnya. memang pada dasarnya, " Master of Puppets " adalah evolusi dari " Ride the Lightning ", jika bukan visi yang sepenuhnya terwujud dari hal tersebut. Dengan cara yang hampir sama seperti kita memiliki kenangan abadi dari " Kill Em All " melalui klasik-klasiknya dan " Ride the Lightning " secara keseluruhan, " Master of Puppets " telah sepenuhnya diabadikan selama 40 tahun pada titik ini melalui kekuatannya. Bukan hanya melalui kepekaan ritmis Hetfield yang lebih kuat, tetapi juga bagaimana mereka bersinergi dengan penulisan lagu band yang lebih kuat sejak " Ride the Lightning ", setidaknya selama potongan-potongan kuat dari album ini. Tapi ya, kualitas-kualitas " Master of Puppets " yang lebih diabadikan seperti kekuatan riff-nya, keketatan ritmisnya, dan kualitas atmosferiknya benar-benar memberikan status klasik padanya.
" Master Of Puppets " Terpilih pada tahun 2015 oleh Perpustakaan Kongres untuk dilestarikan dalam Registri Rekaman Nasional karena dianggap 'signifikan secara budaya, sejarah, atau estetika' album metal pertama yang dianugerahi ini.
CRYPTOPSY - NONE SO VILE
Rasa penasaran itu kadang datang dari hal paling sepele, bukan dari review majalah, bukan dari rekomendasi kritikus, tapi dari kaos. Ya, kaos. Dalam kasus w, semuanya bermula dari satu t-shirt dengan artwork yang tidak ramah dimata, milik seorang teman, dengan art album " None So Vile " dari Cryptopsy yang justru banyak yang bilang ga sesuai dengan materi isinya. Dan seperti biasa, ketika sesuatu terlihat terlalu ekstrem, pasti ada satu " pakar penolong Informasi " di tongkrongan yang langsung memberi label: " Itu band paling brutal sejagad. " Ditambah bumbu: liriknya menghujat, artwork-nya menyindir agama, pokoknya paket lengkap untuk bikin orang penasaran sekaligus was-was. Lucunya? Yang make kaos itu justru teman yang cukup fanatik secara religius. Jadi ya, ini bukan soal analisis mendalam lebih ke kombinasi antara asumsi, mitos, dan sedikit dramatisasi. Klasik. kemudian tanpa banyak teori, akhirnya w dengar juga. Bukan dari rilisan resmi, tentu saja era 90-an, jalurnya jelas: kompilasi bajakan. Dan begitu diputar? Satu kata: edannn !!! Cryptopsy bukan sekadar brutal. Mereka seperti membongkar ulang definisi " keras " itu sendiri. Tempo gila, struktur yang nyaris tidak memberi ruang bernapas, dan intensitas yang terasa seperti tidak pernah turun. Dan di tengah semua itu, ada satu elemen yang langsung mencuri perhatian: drum ! Permainan drum mereka di era itu terutama yang dimainkan oleh Flo Mounier bukan cuma cepat, tapi presisi dalam kekacauan. Power-nya brutal, tapi tetap terkontrol. Tidak heran kalau namanya sering jadi bahan diskusi, bahkan jadi standar bagi drummer ekstrem generasi berikutnya. Ini bukan sekadar pengiring, ini mesin utama. Kalau ditarik ke belakang, perjalanan band ini juga tidak kalah " ribet ". Berdiri sejak 1988 dengan nama Obsessive Compulsive Disorder, lalu berubah jadi Necrosis, kemudian Gomorrah, sampai akhirnya menetapkan nama Cryptopsy. Nama yang ironisnya justru paling " nempel " dan paling merepresentasikan kekacauan musikal mereka. Bahkan logo khasnya pun dirancang langsung oleh sang drummer. Multitalenta? Atau sekadar tidak mau orang lain salah menerjemahkan visinya? Silakan pilih sendiri modelnya yang fenomenal sampai hari ini selain musikalnya. Tentu saja, seperti band ekstrem pada umumnya, formasi mereka tidak pernah benar-benar stabil. Bongkar pasang personel jadi bagian dari perjalanan. Tapi anehnya, di tengah semua perubahan itu, satu hal tetap konsisten: identitas mereka sebagai salah satu band paling ekstrem di generasinya. Dan di antara semua rilisan mereka, " None So Vile " tetap berdiri sebagai monumen. Bukan karena yang lain tidak lebih teknis atau lebih brutal, bahkan beberapa rilisan setelahnya bisa dibilang lebih " gila " secara komposisi tapi karena album ini datang di waktu yang tepat. Ia bukan cuma album, tapi pernyataan. Pernyataan bahwa batas ekstrem masih bisa didorong lebih jauh. Di sinilah sarkasnya mulai terasa: banyak orang sekarang membicarakan Cryptopsy sebagai " band brutal Pionir ", tapi lupa bahwa dulu, untuk sampai ke titik itu, mereka harus melewati fase dianggap terlalu berisik, terlalu ekstrem, bahkan terlalu " tidak layak didengar ". Sekarang? Dipuja. Waktu itu? Dipertanyakan. Dan kalau itu belum cukup aneh, coba cerna fakta ini: band yang dulu dianggap terlalu liar dan kontroversial ini akhirnya jadi salah satu band ekstrem yang pertama kali bisa tampil di Arab Saudi pada 1 Desember 2023. Ya, kalian memang tidak salah baca. Dunia yang dulu terasa sangat tertutup terhadap musik seperti ini, sekarang justru membuka panggungnya. Ironi tingkat tinggi. Jadi kalau ditanya apa yang membuat Cryptopsy begitu melekat, jawabannya bukan cuma soal brutalitas atau teknik. Tapi soal momen. Soal bagaimana sebuah band datang di waktu yang tepat, dengan sound yang terlalu keras untuk diabaikan. Dan seperti banyak hal dalam musik ekstrem, yang awalnya terasa " terlalu berisik " justru yang paling lama bertahan di kepala.
Ketika membahas album ini, kita harus membicarakan setiap aspeknya. Pertama, mari kita mulai dengan vokal Lord Worm, yang memang memiliki keunikan tersendiri, luar biasa, dan inovatif untuk seluruh genre, apalagi dengan style bernyanyinya seperti orang yang sedang bernyanyi tanpa pattern lirik yang konstanm. Pada album ini, dia menyampaikan salah satu penampilan vokal terbaik dalam death metal, menggunakan low guttural dan Scream, terutama screamnya karakteristik banget untuk band, yang dilakukan dengan sangat baik. dan mereka membuatnya lebih gelap, lebih jahat, dan sangat brutal. Bagian kedua adalah penampilan Flo, yang, menurut pendapat w, adalah penampilan drum terbaik oleh seorang drummer di sebuah album BDM. Hanya Mike Smith dari Suffocation yang bisa berdiri di sampingnya, tetapi w pikir permainan drum Flo di sini tidak bisa disaingi oleh siapa pun karena saking gokill-nya. Dia menggunakan teknik yang sangat cepat, breakdown, dan blast beats yang luar biasa. Pahlawan berikutnya adalah gitaris Jon Levasseur, yang melakukan riffing luar biasa sepanjang album, menyuguhkan riff- riff menyeramkan dan pedas dengan keterampilan teknis tinggi. Semua sudah pada tempatnya, tidak ada riff death metal yang meniru di sini; semuanya tersusun dengan baik dan dipilih dengan tepat. Pahlawan terakhir adalah penampilan bassist Eric Langlois, yang juga tampil menonjol dengan betotan powerfully mematikan di album ini. Terutama sound bass dan permainannya melengkapi permainan drum Flo semakin sempurna. Secara umum, setiap anggota band memberikan penampilan terbaik dalam karier mereka, yang tentu saja menjadikan album ini sebagai klasik brutal death metal yang luar biasa.
Seluruh materi " None So Vile " dan maksud w setiap detiknya adalah kesempurnaan, tetapi w ingin menyoroti dua paling lagu favorit . Yang pertama adalah "Graves of the Fathers." Dulu, ini adalah lagu brutal death pertama yang pernah w dengar, dan lagu ini pada dasarnya memicu minat w pada genre ini dan membuka pintu bagi sejumlah besar musisi dan band bagi w pribadi. Lagu ini dimulai dengan riff yang lebih cepat dan nuansa death metal yang lebih klasik, tetapi guttural rendah Lord Worm mengubahnya menjadi wilayah yang lebih brutal. Pada saat yang sama, riff gitar menjadi lebih groovy dan lebih lambat, dan di tengah lagu, kita mendapatkan apa yang w pikir adalah breakdown terbaik yang pernah ada, termasuk solo drum dari Flo yang membuat lagu ini menjadi pengalaman death metal yang benar-benar berbeda. Yang kedua adalah "Phobophile," yang memiliki pembukaan piano klasik yang sangat eksperimental untuk periode itu. Ini berubah menjadi kegilaan brutal, pembantaian tanpa henti dengan solo death teknis murni dan diakhiri dengan outro yang sempurna. Dan w yakin bahwa "Phobophile," hanya lagu ini saja, telah memberikan inspirasi kepada band-band brutal tech death modern yang menerapkan bagian neoklasik dalam musik mereka. Dua lagu ini menonjol bagi w tapi swear, semua materinya sangat mematikan, terbukti disetiap penampilan live selalu mereka usung, tetapi secara umum, ada banyak lagu menarik lainnya di sini yang layak mendapatkan lebih banyak perhatian. Saran w tentang album ini adalah selalu mendengarkannya secara keseluruhan dan kontinyu karena konsep dan soundnya memerlukan lebih banyak fokus dari pendengar metal. Ya, w tahu album ini sangat dihargai oleh komunitas death metal, tetapi untuk ke depannya, siapa pun yang mencoba masuk ke Cryptopsy harus mengalami klasik murni ini dari awal hingga akhir untuk merasakan kekuatan dan jiwa penuhnya. Ini adalah salah satu album brutal death metal tergelap yang pernah direkam, dan ini akan sepenuhnya mengubah perspektif setiap pendengar musik. Semua orang dari band ini mengharapkan kelanjutan dari " None So Vile ", tetapi w rasa itu tidak akan pernah terjadi lagi. Para member band tidak bisa menciptakan kembali jenis kesempurnaan ini karena itu mustahil. Ya, mereka merilis beberapa rekaman yang cukup bagus setelahnya, bahkan dengan Lord Worm, tetapi tidak ada yang bisa mendekati " None So Vile ". Ini adalah album brutal death terbaik yang pernah ada dalam sejarah musik death metal !
OBITUARY - CAUSE OF DEATH
Kalau ada yang bilang vokal death metal itu cuma soal " teriak-teriak tanpa arah ", kemungkinan besar dia belum pernah ketemu band bernama Obituary atau kalaupun sudah, mungkin belum siap menerima kenyataan bahwa suara manusia bisa terdengar seperti penderitaan yang diproduksi massal. Pertama kali dengar band ini, yang bikin berhenti bukan riff, bukan drum tapi gairah vokalnya. John Tardy datang bukan dengan growl standar, tapi dengan sesuatu yang terasa " sakit ". Bukan dalam arti teknis yang rapi, tapi seperti seseorang yang benar-benar sedang disiksa lalu dipaksa bernyanyi. Power-nya liar, phrasing-nya tidak konvensional, dan yang paling penting: emosinya terasa tidak " dibuat-buat ". Ini bukan vokal yang ingin terdengar bagus, ini vokal yang ingin terasa. Dan ya, efeknya jelas: mood langsung diacak-acak. Tidak ada ruang nyaman. Tidak ada hook manis. Yang ada cuma atmosfer muram yang perlahan menyerap semuanya. Tapi tentu saja, Obituary bukan cuma soal vokal. Secara musikal, mereka adalah salah satu pilar awal death metal. Berangkat dari pengaruh Venom dan Celtic Frost, mereka mengambil esensi gelap dan berat, lalu mempercepat dan memperkasarnya. Ketika mereka mulai mendengar Possessed, arah mereka jadi jelas: bukan sekadar berat, tapi " gila ". Dan seperti banyak band besar lainnya, perjalanan mereka dimulai dengan identitas yang belum matang. Tahun 1984, mereka masih bernama Executioner. Karena nama itu sudah dipakai band lain, berubah jadi Xecutioner, sebelum akhirnya menetapkan nama yang paten dengan Obituary pada 1988, tepat saat mereka menandatangani kontrak dengan Roadrunner Records. Nama yang, jujur saja, jauh lebih cocok dengan suasana musik mereka : dingin, gelap, dan final. Masuk ke era emas mereka, tidak bisa dilewatkan kontribusi gitaris seperti James Murphy. Permainan gitarnya membawa dimensi lain, solo yang bukan cuma cepat, tapi juga punya rasa yang begitu mendayu-dayu. Di tengah kebrutalan, ada momen-momen yang justru terasa " indah " dalam cara yang aneh. Kontras ini yang membuat sound mereka tidak monoton. Lalu meski datang salah satu tonggak penting: " The End Complete ". Album ini bukan cuma sukses secara musikal, tapi juga secara komersial menjadi salah satu album pure death metal terlaris sepanjang masa. Lebih dari 100.000 kopi di AS, dan lebih dari seperempat juta di seluruh dunia. Angka yang, untuk genre sekeras ini, jelas bukan hal kecil. Bahkan logo baru mereka di era ini jadi salah satu desain kaos terlaris dalam sejarah Roadrunner Records. Ya, bahkan kematian bisa dijual… asal dikemas dengan benar. Yang menarik, di balik semua atmosfer gelap dan kesan " serius ", John Tardy sendiri pernah mengakui bahwa di awal, lirik mereka tidak benar-benar punya makna dalam. Hanya kumpulan kata, tema kematian, dan sisanya? Hanya Geraman ! Baru setelah materi " The End Complete ", mereka mulai menulis lirik yang lebih " benar " meskipun tetap fiksi dan tidak untuk dianggap serius. Jadi kalau ada yang terlalu dalam menganalisis makna filosofisnya, mungkin perlu sedikit santai. Seperti banyak band yang bertahan lama, perjalanan Obituary juga tidak selalu mulus. Mereka sempat hiatus selama lima tahun (1998 - 2003). Alasannya? Sesuatu yang terdengar sangat tidak metal: keluarga dan pekerjaan nyata. Ya, di tengah semua citra brutal, ternyata mereka juga manusia biasa yang harus bayar tagihan. Reuni mereka pun datang dengan cara yang hampir absurd. Ketika Donald Tardy bermain dengan Andrew W.K., beberapa anggota lama hadir di sebuah show di Florida. Iseng main beberapa lagu Obituary di panggung… dan dari situ, lahir reuni penuh. Jadi ya, kadang sejarah besar dimulai dari " iseng ". Di sinilah terasa paling jelas: band yang identik dengan kematian, kegelapan, dan suara penderitaan, ternyata punya perjalanan yang sangat manusiawi. Dari gonta-ganti nama, sukses besar, hiatus karena kehidupan nyata, sampai reuni karena kebetulan. Dan mungkin itu yang membuat Obituary tetap relevan. Bukan karena mereka paling eksis atau paling brutal, tapi karena mereka punya identitas yang sulit bisa ditiru. Vokal John Tardy saja sudah cukup jadi pembeda antara yang sekadar keras, dan yang benar-benar terasa. Karena pada akhirnya, dalam dunia yang penuh band ingin terdengar ekstrem, Obituary tidak hanya terdengar mereka terasa. Dan itu jauh lebih sulit dicapai.
Kalian bisa membayangkan sendiri betapa senangnya w yang masih muda menemukan ini di toko dalam kota sendiri dan bisa membelinya seharga 6 ribu perak, terutama karena apa pun dengan art cover yang " Keren " dan mengkhawatirkan seperti ini pasti akan menjadi favorit seorang metalhead muda. Ini juga cukup berat bagi w pada saat membelinya, ketika w baru saja mulai memahami Megadeth atau Metallica, karena ada lebih banyak brutalitas dan bobot di sini, meskipun solo ultra-melodik James Murphy membuat semuanya sedikit lebih mudah diterima. Apa yang bisa dikatakan tentang Obituary? Sudah diketahui bahwa para musisi dari Florida menumpuk kekuatan pada gitar dalam rekaman ini dan menciptakan nada yang kental dan menghancurkan yang terdengar sangat berat tetapi tidak sama sekali seperti sound death metal dari daratan Swedia yang berbatu. Sound Berat dari " Body Bag " memiliki kapasitas pemotongan yang nyata, siap untuk menghancurkan pendengar dengan alunan lebar dan nada lembut yang mengalir. Drumnya mendapatkan reverb yang sangat baik pada bagian-bagian kit, seperti tom fills yang luar biasa yang digunakan Donald Tardy selama cover " Circle of the Tyrants " nya Celtic Frost, meskipun ada sedikit blasting karena Obituary cenderung berlama-lama dengan tempo lambat untuk sebagian besar waktu, menciptakan suasana yang menjijikkan tetapi tidak mampu mengubah ini menjadi sesuatu yang sebrutal atau seasyik Cannibal Corpse. Ketika tempo meningkat untuk " Find the Arise ", tidak bertahan lama, dengan banyak bagian merayap yang suram yang seharusnya membuat penggemar Asphyx dan Autopsy tertarik, meskipun di sini tidak selalu ada eksekusi yang diperlukan untuk menjaga bagian-bagian lambat itu tetap menarik, akor besar berdentang di atas kerja drum yang melelahkan dan hanya raungan sakit John Tardy yang menjadi pengalihan dari bentuk-bentuk yang cukup datar. w sudah bilang sendiri, menyebutkan kehadiran James Murphy di album ini dan itu adalah fitur yang cukup penting bagi band, gaya shredding dinamisnya membuatnya menonjol jauh, begitu juga dengan nada melodi yang jernih yang digunakannya, dengan mudah memotong melalui audio sludge di tempat lain namun tidak benar-benar menjadikan petualangan whammy bar-nya bagian integral dari atmosfer, lebih sebagai penyimpangan menarik dari atmosfer tersebut. Itu benar-benar menjadi kelemahan besar bagi " Cause of Death ", karena album death metal lambat seharusnya sepenuhnya tentang suasana, terutama jika riff yang lebih lambat tidak terlalu berkesan, tetapi band ini tidak bekerja sama dengan baik untuk menciptakan lagu-lagu dengan perasaan tertentu, hanya aura gelap umum yang muncul dan menghilang dari riff yang lebih kreatif. Dengan kata lain, ketika lagu judulnya berhasil menyatukan semua elemen untuk menyelidiki riff terbaik, Gitaris Trevor Peres dan beberapa ledakan kecepatan yang tiba-tiba, hiasan Murphy membuat lagu itu terasa sangat seperti produk jadi, yang tidak bisa dikatakan untuk yang lainnya. Akhir album ini lebih kuat daripada pembukaannya, dengan " Memories Remain " dan " Cause of Death " yang sangat berpengaruh, berbeda dengan " Infected " dan " Body Bag " yang sedikit berantakan (meskipun masih sangat menarik). Memang, tidak ada struktur konkret yang ditemukan sepanjang 40 menit mendengarkan, dan John Tardy juga tidak memberikan titik referensi yang berguna dengan menolak membuat vokalnya terdengar, jadi akan memakan waktu sedikit untuk menyesuaikan diri dengan album ini, tetapi meskipun begitu, lagu-lagu yang lebih pendek cenderung lebih menyatu dengan baik daripada yang lebih panjang.
Penilaian untuk album ini jelas menarik bagi w untuk dijelaskan. w menikmati setiap lagu di album ini, dan hampir setengahnya adalah klasik sejati. w ingat ini dan itu, tetapi tidak ada yang terukir dalam pikiran w seperti beberapa aksi Florida lainnya. Musiknya juga sangat mirip dari lagu ke lagu, menggunakan formula Celtic Frost dengan bagian-bagian lambat dan suram yang kontras dengan bagian-bagian yang relatif cepat untuk memberikan nuansa yang sangat berat. Setiap lagu secara individu luar biasa, tetapi bisa cukup melelahkan jika disusun bersama. Ini masih sangat layak didengar, ini pada dasarnya wajib bagi penggemar death metal. w juga mungkin akan merekomendasikannya kepada penggemar doom yang lebih agresif, thrash, dan penggemar Celtic Frost. Sebagai catatan terakhir, ini benar-benar terdengar sangat baik dari segi produksi, terutama untuk album yang akan berusia 36 tahun. And perfect is the word to tell a newbie to death metal about Cause of Death. Years ago when I looked at this album I knew right away I was in for something different, something much, much more edgy than the average record. And that's exactly what I got. I got Florida's most brutal band: Obituary.
DEATH JUST BEGINNING END VOL. II
Kalau bicara soal " Album campuran " istilah lokal yang jauh lebih jujur daripada " kompilasi kurasi elit " maka ada satu nama yang tidak perlu debat panjang: " DEATH JUST BEGINNING END " ! Bukan karena ini yang paling rapi, bukan juga yang paling " berkelas ", tapi karena efeknya paling terasa: sekali dengar, langsung kecanduan. w sendiri tidak dimulai dari jilid pertama. Ironis, ya selalu telat tapi sok nostalgia. Justru kenalnya dari volume berikutnya dulu, sebelum akhirnya dapat versi awal dalam format kaset pita. Dan tentu saja, ceritanya tidak lengkap tanpa drama: hujan sore, naik sepeda BMX, uang pas-pasan, sekitar 9 ribu rupiah dan kondisi kaset masih tersegel. Tidak bisa dicoba. Jadi beli berdasarkan nekat dan iman cuman berdasarkan pada listing band di belakang cover. Dan di situlah spekulasi-nya. Begitu lihat daftar nama band di sampul belakang ditambah booklet yang lipatannya panjangnya seperti mau bikin origami level dewa langsung tahu ini bukan kompilasi biasa. Ini katalog teror musikal mematikan lewat musikal. Nama-nama yang sebelumnya cuma terbaca dan w hafal lewat catatatn " thanks list "Album cover band lain, tiba-tiba berdiri sendiri di depan mata. Mulai dari Monstrosity, Brutality, Pungent Stench, Benediction, Dismember, Hypocrisy, sampai Mortification semuanya seperti dikumpulkan dalam satu paket tanpa rasa bersalah. Dan tentu saja, masih banyak nama lain yang ikut memperkaya kekacauan ini. Di titik itu, fungsi kompilasi ini jadi sangat jelas: bukan sekadar untuk didengar, tapi untuk dijadikan peta. Dari sini, perjalanan dimulai, berburu rilisan penuh masing-masing band, menyisir toko kaset, dan kadang berakhir dengan kualitas rekaman yang… ya sudahlah, yang penting ada (ada yang 1 pengalaman seperti ini?). Dan memang, efeknya mujarab. Ini bukan cuma " album campuran ", ini pintu gerbang. Dari satu kaset, lahir puluhan pencarian baru. Dari satu listing, muncul obsesi. Perlu diingat juga, konteks zamannya memang sedang " panas-panasnya " alias banyak membanjiri rak toko kaset di daerah w. Era awal 90-an adalah masa di mana death metal bukan cuma berkembang tapi meledak. Band-band seperti Carcass, Morbid Angel, Death, Napalm Death, dan Obituary sudah lebih dulu merilis karya-karya fundamental yang jadi pondasi. Jadi ketika Nuclear Blast Records merilis kompilasi ini di akhir tahun 1992, mereka tidak sekadar ikut tren, mereka mendistribusikan " virus "-nya. Dan ya, ini bukan kompilasi pendek yang bisa didengar sambil lalu. Hampir 80 menit, 21 band, tanpa kompromi. Ini bukan playlist santai sore hari. Ini serangan sonik barbar yang tidak peduli apakah kalian siap atau tidak. Artwork-nya? Jangan harap minimalis. Desainnya gelap, spektral, penuh simbol kematian : iblis bersayap, salib berdarah, kuburan terbengkalai, langit biru yang tidak menenangkan tapi justru terasa seperti pertanda bencana. Intinya jelas: kalau kalian masih berharap sesuatu yang " ramah ", sebaiknya berhenti di cover. di era sekarang, orang butuh algoritma untuk menemukan musik baru. Dulu? Cukup satu kaset kompilasi seperti " Death Is Just the Beginning ", dan hidup kalian sudah tidak sama lagi. Tidak ada skip track. Tidak ada preview. Tidak ada " kalau tidak suka, next ". Semua harus dilalui. Semua harus dicerna. Dan justru karena itu, semuanya terasa lebih dalam. Kompilasi ini bukan sekadar kumpulan lagu. Ini adalah kurikulum tidak resmi bagi siapa saja yang ingin memahami death metal dari akarnya. Kasar, tidak terstruktur, tapi efektif. Dan mungkin itu yang hilang hari ini. Karena kadang, untuk benar-benar jatuh cinta pada musik, kita tidak butuh kemudahan, kita butuh tersesat dulu.
Mungkin Scene Austria yang terdegradasi dengan penampilan menawan Pungent Stench, memiliki kehormatan untuk memulai perlombaan gila ini, segera diikuti oleh Monstrosity dan Death mereka yang rumit dimainkan dengan kecepatan yang mengesankan. Segera, kalian akan melihat produksi yang jauh lebih halus, dengan sound semua instrumen yang terdengar; sebuah langkah besar dari kegilaan suara kompilasi pertama yang dirilis beberapa tahun sebelumnya. Sinister, Benediction, Brutality: sebuah triplet yang menakutkan, serangkaian nada yang tidak meninggalkan satu pun yang tersisa. Selain itu, kita menghadapi tiga band yang telah membuat sejarah genre ini. Tidak ada waktu untuk bernapas saat kalian sampai di lagu " Immortal Cessation " oleh band Amerika, Incantation. Hanya lebih dari tiga menit Death-Doom dengan gerakan yang megah, dengan raungan Graig Pillard yang mencekik dan mengoyakmu, begitu juga dengan sound gitar yang gelap dan diturunkan. Sebuah lagu yang benar-benar menakutkan. Dan ini belum berakhir karena masih ada monster genre lainnya yang hilang: Dismember, Gorefest, Amorphis. Tapi di sini w berhenti: w serahkan kepada kalian semuanya deh untuk menemukan keindahan licik dari lagu-lagu ini.
Adalah satu strategi lama di industri musik yang sampai hari ini masih relevan, meskipun sering diremehkan oleh generasi serba instan: album kompilasi. Ya, benda yang dulu dianggap " album campuran " yang isinya macam-macam, kadang tidak nyambung, tapi justru di situlah kekuatannya. Kalau mau jujur, kompilasi bukan sekadar kumpulan lagu. Ini adalah alat propaganda paling halus yang pernah dibuat label rekaman. Dan mereka tahu persis cara kerjanya. Ambil contoh bagaimana label seperti Nuclear Blast Records atau Earache Records menggunakan kompilasi sebagai " etalase berjalan ". Mereka tidak perlu menjelaskan panjang lebar siapa saja band di roster mereka. Cukup lempar satu rilisan kompilasi, isi dengan berbagai nama dari yang sudah besar sampai yang masih asing dan biarkan pendengar yang bekerja. Sederhana, tapi menampar biji peler kalian. Karena begitu satu atau dua lagu terasa " kena ", sisanya akan ikut diseret. Rasa penasaran muncul. Nama-nama yang sebelumnya tidak dikenal tiba-tiba jadi target pencarian. Dan di titik itu, label tidak perlu promosi lagi konsumen sudah berubah jadi pemburu. Inilah yang sering tidak disadari: kompilasi itu bukan untuk memuaskan, tapi untuk menggoda. Ia tidak memberikan pengalaman utuh seperti album penuh, justru sebaliknya ia sengaja memberi potongan-potongan. Cuplikan. Teaser sebelum era teaser jadi budaya. Dan manusia, seperti biasa, tidak suka setengah-setengah. Jadi ya, lanjut cari. Sarkasnya, ini adalah bentuk manipulasi yang paling elegan. Bayangkan: kalian membeli satu kaset atau CD, berharap dapat banyak variasi. Yang terjadi? kalian malah dibuat tidak puas. Bukan karena jelek, tapi karena terlalu banyak yang menarik. Akhirnya, satu kompilasi berubah jadi daftar belanja baru. Dari satu rilisan, bisa berujung ke sepuluh album lain. Efektif? Jelas. Murah? Relatif. Cerdas? Sangat. Di sisi lain, kompilasi juga berfungsi sebagai dokumentasi pergerakan sebuah label. Ia seperti snapshot potret sesaat dari apa yang sedang " panas " di roster mereka. Dari situ, kita bisa membaca arah, kecenderungan, bahkan strategi jangka panjang mereka. Mau dorong genre tertentu? Masukkan lebih banyak band dengan sound serupa. Mau memperkenalkan sesuatu yang baru? Selipkan satu-dua nama yang " beda sendiri " di tengah barisan. Dan anehnya, metode ini jauh lebih jujur dibanding promosi modern yang terlalu dipoles. Kompilasi tidak menjanjikan apa-apa. Ia hanya menyajikan. Mau suka atau tidak, itu urusan pendengar. Masalahnya, di era sekarang, pola seperti ini mulai tergeser. Orang tidak lagi " menemukan " musik mereka " direkomendasikan ". Algoritma menggantikan rasa penasaran. Playlist menggantikan proses pencarian. Semuanya cepat, rapi, dan… terasa hambar. Karena yang hilang bukan akses, tapi pengalaman. Karena dulu, satu kompilasi bisa jadi awal perjalanan panjang. Dari satu lagu, kita gali band-nya. Dari band itu, kita cari rilisan lain. Dari situ, masuk ke jaringan yang lebih luas. Prosesnya lambat, kadang menyebalkan, tapi justru di situlah keterikatannya terbentuk. Sekarang? Satu klik, semua tersedia. Tapi justru karena terlalu mudah, tidak ada yang benar-benar " diperjuangkan ". Jadi ketika kita bilang album kompilasi adalah strategi paling ampuh, itu bukan sekadar nostalgia. Itu fakta. Ia adalah cara paling efektif untuk memperkenalkan, menggoda, dan tanpa disadari mengendalikan arah konsumsi musik. Dan ya, label rekaman sudah tahu itu sejak dulu. Mereka tidak sekadar menjual musik, Mereka menjual rasa penasaran. Dan seperti yang kita tahu, rasa penasaran itu jauh lebih mahal daripada sekadar satu album.
CANNIBAL CORPSE - THE BLEEDING
Kalau ada band yang namanya saja sudah cukup untuk bikin orang tua menghela napas panjang dan guru BK langsung siaga satu, maka Cannibal Corpse adalah kandidat utamanya. Bukan karena mereka paling teknis, bukan juga karena paling kompleks tapi karena mereka tahu persis bagaimana cara jadi terlalu berlebihan dan justru itu yang bikin mereka bertahan. Perkenalan w dengan band ini juga tidak datang dari jalur yang " benar ". Bukan dari rilisan terbaru, bukan dari hype media, tapi dari kaset lawas " Eaten Back to Life " yang w temukan sendirian di sebuah toko kaset kecil. Tidak ada duplikat, tidak ada pilihan lain. Seperti takdir yang agak dipaksakan. Dan dari situ, semuanya berubah. Padahal sebelumnya, nama Cannibal Corpse sudah sering muncul di thank list beberapa band Amerika lain. Tapi ya, seperti biasa kita sering baca tanpa benar-benar peduli. Sampai akhirnya dipaksa untuk peduli. Band ini sendiri terbentuk tahun 1988, dengan nama yang dicetuskan oleh Bassis-nya, Alex Webster. Deskripsinya? " Mayat Pemakan Manusia " Tidak ada metafora puitis, tidak ada filosofi berlapis langsung ke inti. Dan anehnya, justru kesederhanaan yang brutal itu yang membuat mereka begitu ikonik. Di era awal, sosok Vocalis Chris Barnes jadi wajah utama band ini. Sebagai vokalis dan penulis lirik di empat album pertama, kontribusinya tidak bisa dianggap remeh. Karakter vokalnya yang dalam, raw, dan tidak manusiawi jadi standar baru di scene death metal. Tapi seperti banyak cerita klasik, kejayaan tidak selalu berjalan lurus. Barnes akhirnya keluar atau lebih tepatnya "dikeluarkan "dengan berbagai alasan yang beredar. Dari performa vokal yang menurun, masalah sikap, sampai isu terlalu sibuk dengan proyek sampingan Six Feet Under. Mana yang benar? Mungkin semua ada benarnya. Karena dalam dunia musik ekstrem, drama internal itu hampir jadi bagian dari paket. Ada juga rumor menarik soal logo. Konon, Barnes sebagai pencipta awal logo tersebut mengklaim hak atas desain tersebut, sehingga setelah kepergiannya, band harus menggunakan versi logo baru. Itulah kenapa beberapa rilisan ulang dengan era Barnes menampilkan logo berbeda. Detail kecil, tapi cukup untuk bikin kolektor ribut panjang lebar. Tapi kalau bicara soal kontroversi, Cannibal Corpse jelas bukan pemain baru. Di Jerman, mereka sempat " dianggap terlalu berbahaya " untuk dikonsumsi publik terutama anak-anak. Beberapa rilisan seperti " Tomb of the Mutilated ", " Eaten Back to Life ", " Hammer Smashed Face ", hingga " Worm Infested " masuk daftar pembatasan. Bahkan ada yang benar-benar dilarang untuk dijual. Alasannya? Klasik. Lirik eksplisit, artwork yang terlalu ekstrem, dan kekhawatiran moral yang jujur saja sudah jadi langganan genre ini sejak dulu. Band ini bahkan sempat tidak diperbolehkan membawakan lagu dari tiga album awal mereka dalam konser di sana. Larangan yang akhirnya dicabut sekitar 2006, tapi tetap meninggalkan jejak panjang dalam sejarah mereka. Lucunya, di tengah semua citra " berbahaya " itu, mereka justru sempat muncul di film komedi mainstream Ace Ventura: Pet Detective. Ya, film Jim Carrey yang absurd itu. Mereka tampil membawakan " Hammer Smashed Face ", dengan scene tambahan di mana karakter Ace ikut naik ke panggung dan " bernyanyi ". Tentu saja, karena liriknya terlalu eksplisit, versi TV hanya menampilkan Barnes " menggeram " tanpa teks jelas. Dan sebagai bonus sarkas: di kredit film, mereka ditulis sebagai " band thrash " Cannibal Corpses. Salah genre, salah penulisan nama. Lengkap sudah. Padahal, fakta menarik lainnya: awalnya yang direncanakan tampil di film itu adalah Napalm Death. Tapi entah bagaimana, Cannibal Corpse yang akhirnya muncul. Mungkin karena mereka memang lebih " visual ". Di balik semua itu, ada satu fakta yang tidak bisa diabaikan: hubungan mereka dengan Metal Blade Records. Sejak awal hingga sekarang, mereka bisa dibilang adalah " anak emas " label tersebut. Loyalitas yang jarang terjadi di industri musik, apalagi di genre yang penuh pergeseran tren. Dan di sinilah poin pentingnya. Cannibal Corpse bukan sekadar band paling brutal, atau paling kontroversial. Mereka adalah contoh bagaimana konsistensi bisa mengalahkan segalanya. Mereka tidak banyak berubah, tidak mencoba jadi lebih " ramah ", dan tidak peduli apakah dunia menerima atau menolak. di saat banyak band sibuk berevolusi demi relevansi, Cannibal Corpse justru bertahan dengan formula yang sama dan tetap sukses secara komersial. Jadi mungkin bukan mereka yang aneh. Mungkin kita saja yang terlalu sering berubah.
Menurut w Pribadi memang " The Bleeding " menandai momen yang sangat penting dalam karier Cannibal Corpse. Itu adalah album yang terjual paling banyak di seluruh diskografi mereka, berdiri sejajar dengan "Covenant" nya Morbid Angel sebagai salah satu album death metal terlaris sepanjang masa. Album ini juga menandai masuknya gitaris Rob Barrett dan yang terakhir dengan vokalis Chris Barnes. Dengan album ini, band ini berencana untuk lebih fokus pada penulisan lagu daripada intensitas total, jelas album ini masih sangat intens tetapi juga cerdas. "The Bleeding" adalah kelanjutan dari konsistensi luar biasa Cannibal Corpse dalam hal produksi musik mereka. Dan dianggap oleh banyak orang sebagai album terbaik Cannibal Corpse dan rekaman terbaik yang pernah dibuat oleh Chris Barnes. Salah satu ciri khas dari "The Bleeding" adalah betapa ketat dan teknisnya penulisan lagu dibandingkan dengan 3 album Cannibal Corpse sebelumnya. Musiknya jelas-jelas bertransisi ke wilayah yang lebih teknis, dengan pengaruh thrash metal yang sepenuhnya dihapus. Ada juga sedikit melodi dalam lagu-lagu tersebut, halus tetapi tetap terasa. Album ini penuh dengan hook dan mudah diingat sepanjang durasinya, sepenuhnya mengasah groove lezat yang dilakukan Cannibal Corpse dengan sangat baik. Ketika berbicara tentang tempo, ini lebih kepada groove yang sedang-sedang saja daripada kebrutalan total, tetapi kebrutalan musiknya selalu menonjol. Paul Mazurkiewicz benar-benar meningkatkan permainan drum-nya di album ini, ketukan/ledakan tepatnya yang sangat cepat menciptakan variasi dan dinamika yang hebat. Vokal Chris Barnes sedikit lebih tinggi (tapi masih rendah) dibandingkan dengan penampilannya yang ultra-guttural di "Tomb of the Mutilated", tetapi vokalnya masih serbaguna dan efektif. Liriknya yang menjijikkan terus tetap primitif dan sadis, menyelami kedalaman kebejatan dan darah seperti biasa. Penampilan perdana Rob Barrett memperketat formasi band, permainannya lebih tepat dan kuat dibandingkan gitaris sebelumnya, Bob Rusay. Menunjukkan mengapa dia membuat band ini lebih baik dalam hal penulisan lagu dan groove. Dari keempat album Chris Barnes Cannibal Corpse, album ini diproduksi dengan sangat baik. Bass Alex Webster benar-benar bersinar sepanjang album ini, transparan dan bersih sambil tetap memiliki kekuatan. Hal yang sama dapat dikatakan untuk gitar, mereka diproduksi dengan sangat baik tetapi kekasaran dan ketajamannya tidak pernah benar-benar dilupakan atau didorong ke belakang. Solo-solo juga lebih berkesan, menunjukkan bagaimana Rob Barrett dan Jack Owen bekerja dengan sempurna ketika datang ke ritme dan sinkopasi mereka.
Dengan semua perbaikan ini pada penulisan lagu dan musik secara keseluruhan. Hasil dari ini adalah beberapa lagu paling catchy dan berkesan dari band ini. Secara khusus lagu "Stripped Raped and Strangled", lagu ini dimulai dengan riff pembuka yang menggugah sebelum turun ke tremolo yang menyeramkan yang hingga hari ini masih membuat bulu kudukku merinding, pola vokal dan lirik cerdas Chris Barnes juga bersinar terang di lagu ini. " Fucked with a Knife " menampilkan intensitas Cannibal Corpse yang luar biasa, dengan lirik Barnes yang mendorong kebejatan hingga batas maksimal. " Fucked with a Knife " mungkin adalah lagu yang paling langsung di " The Bleeding ". Sementara "Return to Flesh" menunjukkan pendekatan lambat Cannibal Corpse di bagian pembuka, riff yang merayap menciptakan suasana menyeramkan yang sulit untuk ditiru. Sorotan lainnya adalah lagu utama, " Pulverized ", " Staring Through the Eyes of the Dead " yang juga merupakan kali pertama Cannibal Corpse merekam video musik, dan " Force Fed Broken Glass ". Semua tampak cocok sempurna di album ini, hal yang sama bisa dikatakan tentang "Tomb of the Mutilated". Menunjukkan mengapa kedua album tersebut adalah yang terbaik di era Barnes dari Cannibal Corpse. Tetapi "The Bleeding" adalah album yang lebih profesional dan lebih rapat secara musikal dibandingkan "Tomb of the Mutilated". Meskipun w akan selalu lebih menyukai "Tomb of the Mutilated", secara keseluruhan album ini berada di peringkat kedua dalam penilaian w tentang Era Chris Barnes di Cannibal Corpse " The Bleeding " adalah tetap menjadi sample yang bagus dari Cannibal Corpse yang terus berkembang sebagai penulis lagu dan semakin nyaman dengan kerajinan mereka. Setelah rilis "The Bleeding," kita akan melihat Barnes keluar dari band karena alasan yang jelas. Memberi jalan bagi George Corpsegrinder Fisher, vokalis yang jauh lebih baik untuk bergabung, mengangkat band ini ke tingkat yang lebih tinggi. Selalu ada perdebatan besar tentang siapa vokalis yang lebih baik, beberapa lebih suka Barnes sementara yang lain lebih suka George. Bagi w, w tidak bisa membuat keputusan secara pribadi, kedua era tersebut sama-sama penting dan konsisten. Tapi jika kita melihat siapa yang suaranya telah teruji oleh waktu, George Fisher jelas merupakan vokalis yang lebih unggul, tapi w melenceng. Terserah padamu untuk memutuskan dan membentuk pendapatmu sendiri. Album ini luar biasa, benar-benar menjadi bukti nyata dari death metal bersama dengan rilisan Cannibal Corpse yang lainnya. Jika seseorang meminta w untuk memberikan mereka sebuah album untuk memulai dengan genre ini, w akan memberikan album ini Sebuah slab death metal yang fantastis. Bukan seolah-olah lagu-lagu itu ditakdirkan untuk gagal hanya saja, antara album-album sebelumnya yang luar biasa dan beberapa lagu luar biasa di sini, ada beberapa harapan tinggi yang tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh " The Bleeding ". Tapi bahkan tanpa ekspektasi tersebut, lagu-lagu yang lebih lemah di sini sangat berkembang. Entah mereka memulai sebuah groove dan kemudian tidak benar-benar ke mana-mana, atau hasil akhirnya tidak sebanding dengan buildup yang lambat. Sungguh, album ini mencapai status favorit penggemar berkat lagu-lagu terbaiknya. Tapi izinkan w memberitahu kalian semua, lagu-lagu itu pasti sebaik lagu-lagu di dua album sebelumnya. Besarnya bagian-bagian yang lebih lambat, yang dipadukan dengan riff cepat yang menghantam, menghasilkan beberapa lagu yang sangat catchy yang mungkin telah menempati ruang di pikiranmu selama hampir 32 tahun sekarang dan tidak ada yang bisa kalian lakukan tentang itu.
Will Be Continue Part # 2 ....



















0 Komentar