Kalau masih ada yang mengira band dedengkot itu identik dengan nostalgia doang, materi belakangan sekadar formalitas, mungkin belum kena hantaman single terbaru dari Grausig. Karena di usia band yang sudah hampir menyentuh empat dekade, iya 37 tahun gess, bukan angka kaleng-kaleng buat mereka, justru merilis sesuatu yang terdengar seperti ancaman baru, bukan kenangan lama. Single gress bertajuk " Chant of Blight " datang bukan sebagai update status, tapi sebagai ritual. Judulnya saja sudah cukup jelas: ini bukan lagu buat nemenin rebahan, ini semacam ode kehancuran yang sengaja dipanggil kembali dari sesuatu yang sudah lama dikubur. Dramatis? Ya iyalah. Ini death metal, bukan podcast motivasi pagi.
Di balik komando Drummer Denny Zahuri, yang ironisnya bukan member original sih namun generasi ke-2 yang tersisa, tapi sekarang jadi poros utama, Grausig justru terdengar makin solid. Ini menarik, karena biasanya band yang terlalu sering bongkar pasang personel itu identik dengan krisis identitas. Tapi di sini? Mereka tetap tahu siapa mereka, bahkan ketika wajah-wajah di dalamnya berubah. Jadi mungkin masalahnya bukan di pergantian personel, tapi di band lain yang memang dari awal tidak punya arah.
Proses produksinya juga tidak setengah-setengah. Tracking rekamannya di K-Studio yang bagi anak jawa barat terkenal legendaris, lalu mastering harus terbang jauh dulu Amrik, Mammoth Sound Mastering yang di tangani oleh enjiner handalnya, Dan Randall, yang juga dikenal mantan member band Old School Death/Thrash Metal/Grindcore, Ghoul dan ini menjadi materi ke-2 setelah remastering EP " Feed the Flesh to the Beast ", Materi Gems yang diproduksi ulang oleh Zim Zum Entertainment karena banyak permintaan setelah EP ini menjadi rilisan Rare ! Dan Randall juga menggarap materi Death Metal/Goregrind Swedia, General Surgery, yang lainnya? wew ga bakal muat artikel ini kalo ditulis. Jadi kalau ada yang masih nanya kenapa sound-nya terasa lebih " berat tapi bersih ", ya mungkin karena memang dikerjakan oleh orang yang tahu caranya bikin kekacauan terdengar presisi.
Yang bikin makin tambah Keren (dalam standar brutal tentunya), Single " Chant of Blight " juga jadi closing eksistensi bagi gitaris Robby Agam sebelum dirinya hengkang dari Grausig yang sampai saat ini masih belum diumumkan siapa penggantinya setelah melalui proses Audisi-nya. di saat banyak band baru sibuk branding, konten, dan estetika biar kelihatan " Gelap ", Grausig cukup datang dengan satu single dan langsung mengingatkan kegelapan itu tidak perlu dibuat-buat, cukup dimainkan dengan benar. Dan ya, kalau ini cuma single pembuka, mungkin yang perlu diwaspadai bukan cuma eksistensi mereka, tapi apa yang akan mereka hancurkan berikutnya.
" Chant of Blight ", Kalau masih ada yang berharap harap cemas, Grausig tiba-tiba jadi " ramah pendengar " di single baru ini, sepertinya ekspektasinya perlu diservis dulu. Karena yang terjadi justru sebaliknya: materi sekarang makin gelap, makin pekat, dan anehnya makin menyegarkan. Iya, segar dalam arti seperti udara kuburan habis hujan. Jejak aroma busuk khas era EP " Feed the Flesh to the Beast " masih jelas terasa, terutama di lini vokal. Karakter guttural yang kotor dan Scream Insane masih menjadi perpaduan dramatis band, dan itu bukan cuma dipertahankan, tapi dipertebal. Tidak ada usaha untuk " memperhalus " biar lebih marketable dan untungnya memang tidak perlu. Karena justru di situlah identitas mereka berdiri: brutal, mentah, dan jujur. Di sektor guitar, riff-nya sekarang terdengar lebih padat dan berisi. Bukan sekadar hantaman lurus, tapi ada percikan melodi gelap yang disisipkan hampir di tiap sudut komposisi. Jadi kalau telinga cukup sabar, akan terasa ada layer yang lebih dalam dari sekadar kebisingan meski ya, tetap saja kebisingan yang niat. Sementara itu, gebukan Denny Zahuri di belakang drum masih jadi tulang punggung utama yang tidak kenal kompromitas. Power-nya tetap konsisten, intensitasnya stabil, dan yang paling penting: tidak terdengar seperti orang yang sedang " Melemah ". Ini tipe permainan yang lebih cocok disebut serangan daripada pengiring. Yang menarik, penambahan elemen choir vocal justru memberi dimensi baru. Bukan buat terdengar megah ala orkestra sok epik, tapi lebih ke arah mempertebal nuansa abstrak dan kelam yang sudah jadi DNA mereka. Hasilnya? Dramatis, tapi tetap liar. Artistik, tapi tidak kehilangan taring. di saat banyak band sibuk cari cara terdengar " berbeda " dengan menambahkan ini-itu sampai kehilangan arah, Grausig cukup memperdalam kegelapan mereka sendiri. Dan ironisnya, itu sudah lebih dari cukup untuk terdengar lebih hidup daripada kebanyakan yang cuman statis dikarakter itu-itu saja, The Monster still back !!! "






0 Komentar