RILISAN MENDATANG DIBULAN APRIL 2026
Ditulis oleh Herry SIC
April 2026. Bulan yang katanya “panen rilisan”, tapi ya seperti biasa lebih banyak yang numpang lewat daripada yang benar-benar layak diputar ulang. Dari sekian banyak yang beredar di timeline, grup WhatsApp, sampai tongkrongan kopi yang penuh opini setengah matang, inilah daftar rilisan yang berhasil gue kumpulin. Bukan hasil riset akademis, jelas. Ini hasil nyaring dari info yang simpang siur, setengah valid, dan sebagian lagi cuma nebeng hype. Perlu digarisbawahi dari awal: nggak semuanya bakal gue kupas panjang lebar di sini. Kenapa? Karena nggak semua rilisan layak dibedah. Simpel. Ada yang cuma numpang eksis, ada yang modal artwork doang tapi isi kosong, dan ada juga yang sebenarnya bagus tapi tenggelam karena kalah berisik sama yang viral. Sebagian rilisan yang masuk list ini memang udah lebih dulu “famous” di skena tanah air minimal sering disebut, sering di-share, atau minimal pernah lewat di story anak-anak yang sok update. Tapi lagi-lagi, terkenal itu bukan jaminan bagus. Kadang cuma jago marketing, bukan jago musik. Di sisi lain, ada juga rilisan yang informasinya setengah samar. Antara belum resmi rilis, atau cuma beredar di lingkaran tertentu. Jadi ya, kalau pembahasannya terasa nanggung, bukan karena males tapi karena datanya juga setengah matang. Daripada sotoy, mending gue sajikan apa adanya.
Formatnya juga nggak usah berharap terlalu “high end”. Nggak ada bahasa berbunga-bunga ala media sok eksklusif yang lebih peduli gaya daripada isi. Di sini semuanya disajikan lugas, langsung ke poin, tanpa pretensi jadi kritikus paling benar se-Indonesia. Kita di sini cuma berbagi, bukan menggurui. Intinya, daftar rilisan April 2026 ini adalah potret kecil dari apa yang lagi bergerak di skena saat ini acak, berisik, kadang menarik, kadang juga ya… skip aja. Lo bebas mau setuju atau nggak, karena pada akhirnya selera tetap subjektif. Tapi minimal, dari sini lo punya referensi: mana yang layak didengar, mana yang cukup lewat saja di feed tanpa rasa bersalah. Karena di tengah banjir rilisan seperti sekarang, satu hal yang pasti nggak semuanya harus didengerin. Rilisan-rilisan yang “katanya” ditunggu juga mulai bermunculan. Tapi begitu didengar? Ya… standar. Nggak jelek, tapi juga nggak ninggalin kesan. Aman, terlalu aman malah. Seolah takut keluar jalur, takut nggak diterima. Padahal justru di situ letak masalahnya scene ini kebanyakan main aman, tapi pengen dianggap berbahaya.
Gaya penyajiannya juga tetap sama: sederhana, lugas, tanpa kemasan sok eksklusif. Karena pada akhirnya, yang lo butuhin itu informasi, bukan pamer diksi. Kita bukan lagi di era di mana tulisan ribet bikin orang keliatan pintar sekarang justru yang jelas dan jujur lebih kepake. Kesimpulannya? April 2026 ini bukan soal siapa yang paling keras teriak, tapi siapa yang benar-benar punya isi. Dan sejauh ini, masih banyak yang lebih sibuk terdengar daripada didengar. Silakan lo pilah sendiri. Karena di tengah kebisingan ini, kemampuan buat memilih jauh lebih penting daripada sekadar ikut hype.
01.04 - 16 - Forgeries Vol 1, 1972
01.04 - Sun Dont Shine - From Birth To Death
03.04 - Gus Drax - Theories Of Imperfection
03.04 - Akem Manah - Threnodies 7
03.04 - Vanir - Wyrd
03.04 - Upiór - Forefathers’ Eve (Damnation)
03.04 - Schattenvald - Alle Hernach
03.04 - Lantlôs - Nowhere In Between Forever
03.04 - Sunn O))) - Sunn O)))
03.04 - Michael Sweet - The Master Plan
03.04 - Apolaustic - No Plenitude Without Suffering
03.04 - Unearthly Rites - Tortural Symphony Of The Flesh
03.04 - Nervosa - Slave Machine
Unit Female Thrash/Death Metal asal Brazil ini memperkanalkan eksistensinya lewat album studio full yang ke- 6 nya " Slave Machine " dengan lebih dulu memperkenalkan 2 Official video clip " Slave Machine " dan " Ghost Notes " yang rilis via Napalm Records. band yang masih solid dikomandani oleh Gitaris/Vocalis Prika Amaral, satu satunya member orisini yang tersisa ditubuh band sejak 2010. ada wajah baru adalah penampilan bassis Emmelie Herwegh. masih menggandeng produser dan enjiner Martin Furia nya " Destruction " (Jerman) seperti materi sebelumnya di Jurassic Studio selain melibatkan Frontman Prika Amaral dan Drummer Michaela Naydenova
03.04 - Non Est Deus - Blessings And Curses
03.04 - Splendidula - Absentia
03.04 - Malauriu - The Third Nail
03.04 - Green Carnation - A Dark Poem, Part II: Sanguis
Gothic/Progressive Metal/Rock Veteran dari era 90 an dari Norwegia ini memperkenalkan full album terbaru mereka " A Dark Poem, Part II: Sanguis " yang menjadi kelanjutan dari yang pertama " A Dark Poem Part I: The Shores of Melancholia " tahun 2025 via Season of Mist. hadir dengan Digipak deluxe dengan cetakan Pantone silver dan buku kecil 16 halaman. album penuh ketujuh Green Carnation sebelumnya memang menetapkan arah yang ambisius ke depan. Seperti yang disarankan oleh judulnya, A Dark Poem, Pt. I: The Shores Of Melancholia adalah yang pertama dalam trilogi yang direncanakan untuk mengangkat tragedi Shakespeare. Presentasinya mungkin sekompak pendahulunya dengan durasi empat puluh dua menit dan menampilkan perpaduan serupa dari prog gotik, tetapi Anda pasti merasakan bahwa ada tujuan yang lebih besar yang mempengaruhi eksekusinya. Pacing band ini belum pernah secepat ini, menggabungkan campuran pengaruh yang eklektik menuju dinamika yang berfluktuasi yang mempertahankan rasa kemewahan sambil tidak pernah kehilangan suasana musim gugur tersebut. Musikalisasi sangat seimbang karena gitar memberikan riff yang kaya dengan nada penuh sementara bass mendapatkan beberapa hiasan yang bersinar dan keyboard memberikan lapisan tambahan. Vokal juga menjadi konstan yang menenangkan, menyampaikan melodi dengan bariton yang menenangkan yang mengangkat segmen-segmen lembut namun tidak pernah terdengar kewalahan oleh ekstremitas. Secara keseluruhan, bagian pertama dari A Dark Poem oleh Green Carnation menawarkan trajektori yang menjanjikan untuk eklektisisme gotik mereka. Meskipun band ini telah mewujudkan beberapa ambisi yang lebih luas di masa lalu, sulit untuk mengingat kapan lagu-lagu mereka terasa begitu kuat dan mudah untuk melihat bagaimana semua ini akan terakumulasi ketika cakupannya sepenuhnya dipahami. Sementara itu, variasi dalam penulisan lagu dan keahlian musik yang hidup sangat menguntungkan album ini. Jika dua bagian lainnya keluar sekuat ini, kita mungkin melihat salah satu yang terkuat dalam genre goth metal.
03.04 - Sisyphean - Divergence
03.04 - Corrosion Of Conformity - Good God / Baad Man
Rilisan terakhir " No Cross No Crown " tahun 2018 menjadi jeda yang sangat membosankan bagi salah satu veteran Crossover/Sludge/Southern Metal dari amrik. Band ini dimulai sebagai band punk. Para anggotanya semua masih remaja ketika band ini dibentuk pada bulan Juni 1982. Pada rilis-rilis berikutnya, band ini menjadi band crossover/thrash metal, kemudian berubah menjadi suara modernnya, yang menggabungkan heavy metal dengan southern rock dan blues. Corrosion of Conformity telah hiatus berkali-kali, sebagian besar karena para anggotanya telah berkonsentrasi pada proyek lain. Jeda terakhir mereka terjadi dari tahun 2006 hingga 2010. Pada saat band tersebut kembali aktif pada tahun 2010, mereka belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai status Pepper di band tersebut. Ketika lineup Mike/Woody/Reed merilis single baru berjudul "Your Tomorrow" dan merekam album baru, tampaknya Pepper masih berada di band tetapi tidak berpartisipasi secara aktif. C.O.C. sendiri bahkan menyatakan bahwa Pepper tidak pernah meninggalkan band tersebut. Band ini mengumumkan reuni mereka dengan dia pada bulan Desember 2014. lebih dulu menyita perhatian fans dengan melempar 2 video promo-nya, " You or Me " dan " Gimme Some Moore " dari album barunya " Good God / Baad Man " via Nuclear Blast Recods. Corrosion of Conformity memiliki sejarah yang rumit, untuk sedikitnya. Dimulai sebagai trio hardcore pada awal tahun '80-an, band ini akhirnya menjadi band metal beranggotakan lima orang, sebelum mempromosikan gitaris Pepper Keenan menjadi vokalis utama untuk album " lanark Deliverance pada tahun 1994. Dalam beberapa tahun terakhir, trio asli tersebut telah berkumpul kembali tanpa Keenan, memulai dengan kuat tetapi akhirnya kehabisan tenaga dengan IX yang kurang memuaskan pada tahun 2014. Atas permintaan banyak orang, "No cross No Crown "menampilkan kembalinya Keenan ke dalam kelompok dan merupakan album pertama dalam 18 tahun yang mencakup dia dan drummer asli Reed Mullin. Bisakah mereka ini menangkap kembali apa pun yang membuat Deliverance dan sekuelnya Wiseblood begitu menarik? Meskipun kembalinya Keenan jelas menjadi daya tarik utama di sini, Sound-nya sudah tidak sebaik dulu. Pria itu terdengar cukup lelah di sebagian besar rekaman, dan rentang vokalnya yang menurun menghasilkan beberapa melodi yang tidak sepenuhnya berhasil. Dia tampaknya mengkompensasi hal ini dengan berteriak lebih banyak daripada bernyanyi, yang merupakan pemborosan dari sound-nya yang khas. Demikian pula, kemampuan drumming Mullin tidak seperti dulu lagi, dan ada beberapa contoh di mana dia terdengar terlalu memaksakan diri. Jarang sekali saya berharap seorang produser atau label rekaman melakukan kontrol kualitas, tetapi " No Cross ... " mungkin akan mendapat manfaat dari intervensi semacam itu.
03.04 - SolNegre - Anthems For The Grand Collapse
03.04 - Throne Of Evil - La Noche Más Oscura
03.04 - The Last Knell - Præterhuman II: Apokathistemi
03.04 - Ain Sof Aur - Theos-Vel-Samael
03.04 - Anasarca - Achlys
Album baru " Achlys " milik Death metal veteran, Emden, Lower Saxony, Jerman ANASARCA. Nama Anasarca adalah bentuk edema yang parah dan umum dengan pembengkakan jaringan subkutan yang luas. Band ini telah mendedikasikan album ini untuk semua anggota keluarga dan teman-teman mereka yang telah meninggal dalam beberapa tahun terakhir. serperti Paul Leyting dan Markus Fährmann. Tema materi kalia ini secara umum adalah "duka." menyajikan konsep yang masih menjadi kelanjutan materinya sebelumnya. Yang satu itu dimulai sedikit disonan dan lebih lambat daripada lagu-lagu lainnya (mungkin Morbid Angel selama "Covenant" adalah kesamaan yang baik) tetapi berubah menjadi bola penghancur dalam evolusinya. Dalam lagu ini terdapat banyak perubahan tempo, dengan serangan blast beat yang berat dan vokal berlapis ganda. karya solid dari death metal yang tak kenal kompromi. Mungkin sedikit anachronistic dan dengan banyak nuansa tahun 90-. Album baru ini menjadi debut awal dengan Selfmadegod Records.
03.04 - Hubris - Acts Of Sedition
03.04 - Forlorn Citadel - An Oath Undone
03.04 - Bloody Valkyria - Requiem: Reveries Of The Dying
03.04 - Chariots Overdrive - The End Of Antiquity
03.04 - Vertige - Chute - Libre
04.04 - VintergatA - Зверобой
08.04 - Attila - Concrete Throne
09.04 - Anifernyen - Ex Tenebris Lux
10.04 - Archspire - Too Fast To Die
Ada band yang bermain cepat. Lalu ada band yang bermain sangat cepat. Dan kemudian ada ARCHSPIRE, yang tampaknya menganggap batas kecepatan sebagai sekadar mitos yang diciptakan manusia biasa untuk merasa lebih baik tentang keterbatasannya. Album gress " Too Fast To Die " ini, seperti judulnya yang tidak tahu malu, adalah semacam pernyataan: kalau kamu masih bisa mengikuti, berarti mereka belum cukup cepat. Dan ya, fans technical death metal sudah menunggu cukup lama untuk sajian penuh ini bukan karena bandnya malas, tapi mungkin karena mereka harus memastikan setiap nada bisa dimainkan lebih cepat dari denyut jantung normal manusia. Secara konsep, ARCHSPIRE memang sudah kadung menarik. Mereka bukan sekadar menjual brutalitas; mereka menjual matematika dalam bentuk suara. Riff gitar yang lebih mirip soal kalkulus, drum yang seperti mesin industri kehilangan rem, dan vokal yang… jujur saja, terdengar seperti seseorang mencoba membaca kamus dalam mode fast-forward. Tapi justru di situlah letak pesonanya. Ini bukan musik yang “enak” dalam arti konvensional ini musik yang menantang ego pendengarnya. " Too Fast To Die " terasa seperti ujian. Bukan ujian apakah kamu suka musik ekstrem, tapi apakah otakmu cukup tangguh untuk memprosesnya. Setiap track seperti berlomba untuk membuktikan bahwa lagu sebelumnya masih terlalu santai. Tidak ada ruang bernapas, tidak ada kompromi, dan jelas tidak ada niat untuk menjadi “ramah pendengar baru”. Kalau kamu tersesat di tengah lagu, ya itu masalahmu, band ini sudah bergerak tiga langkah lebih jauh. Namun, di balik semua kecepatan absurd itu, ada presisi yang hampir tidak masuk akal. Ini bukan chaos tanpa arah. Ini chaos yang direncanakan dengan sangat teliti, seperti arsitektur suara yang dibangun oleh orang-orang yang mungkin lebih nyaman berbicara dalam BPM daripada bahasa manusia. " Kalau kamu tidak paham, mungkin kamu saja yang kurang cepat. " Dan anehnya, banyak yang setuju. Pada akhirnya, " Too Fast To Die " bukan sekadar album ini adalah pengalaman. Pengalaman yang melelahkan, membingungkan, sekaligus memuaskan bagi mereka yang berhasil bertahan sampai akhir. Bagi fans technical death metal, ini adalah pesta. Bagi yang lain? Mungkin ini hanya terdengar seperti badai suara tanpa jeda. Dan ARCHSPIRE? Mereka jelas tidak peduli. Mereka terlalu sibuk berlari lebih cepat dari semua orang. Band ini telah kembali setelah 5 tahun hibernasi karena tidak menemukan pengganti gilanya drummer Spencer Prewett, ntah gimmick atau bukan, Spencer Prewett akhirnya memutuskan untuk comeback dan pilihan Independent dalah opsi saat ini setelah selesai kontrak dengan Season of Mist. Archspire is a technical death metal band known for their inhuman technicality. Playing at lightning speeds while not turning into an incoherent mess, this band is a collective of some of the best musicians around at the time of newest and best release.
10.04 - Nukem - The Grave Remains
10.04 - Lord Of The Lost - Opvs Noir Vol 3
10.04 - Abrams - Loon
10.04 - Inferi - Heaven Wept
Di dunia technical death metal yang makin padat oleh band yang ingin terdengar “pintar”, INFERI tampaknya tidak sekadar numpang lewat. Mereka pelan-pelan atau justru cukup agresif membangun nama, merilis materi yang cukup solid untuk membuat para penikmat riff rumit dan tempo absurd merasa: “Oh, ini band tahu apa yang mereka lakukan.” Sebuah pencapaian langka di genre yang seringkali terdengar seperti lomba siapa paling sibuk tanpa arah. Memang, mereka belum sebesar Archspire, atau seprestisius Beyond Creation dan Obscura. Tapi jujur saja, perbandingan itu sekarang terasa semakin tidak dipaksakan. Inferi sudah berada di titik di mana mereka bisa duduk di meja yang sama bukan sebagai tamu undangan, tapi sebagai peserta yang sah. Album terbaru mereka " Heaven Wept ", datang tanpa basa-basi. Tidak ada upaya untuk terdengar “lebih ramah” atau “lebih luas jangkauannya”. Ini tetap technical death metal yang padat, cepat, dan penuh detail jenis musik yang lebih cocok dianalisis daripada sekadar didengarkan santai. Tapi justru di situlah kekuatannya: mereka tidak mencoba jadi sesuatu yang bukan mereka. " Heaven Wept " seperti pernyataan dingin: INFERI tahu standar genre ini, dan mereka memilih untuk tidak sekadar memenuhi mereka mendorongnya sedikit lebih jauh. Komposisinya tajam, eksekusinya presisi, dan atmosfernya cukup epik untuk membuat banyak band lain terdengar seperti latihan pemanasan. Di genre yang sering terasa seperti kompetisi intelektual terselubung, INFERI berhasil tampil tanpa terdengar seperti sedang pamer berlebihan meskipun jelas mereka punya banyak hal untuk dipamerkan. Ironisnya, saat band lain sibuk membuktikan betapa teknisnya mereka, INFERI justru terlihat santai… sambil tetap menghajar pendengar dengan kompleksitas yang tidak main-main. Pada akhirnya, “Heaven Wept” bukan sekadar rilisan kuat ini semacam pengingat halus bahwa INFERI bukan lagi band yang “hampir besar”. Mereka sudah sampai di titik di mana mengabaikan mereka justru terasa seperti keputusan yang salah. The Artisan Era perlahan-lahan menetapkan dirinya sebagai salah satu label terkemuka untuk technical death metal. Meskipun w tidak mendengarkan semua band mereka, saya menikmati Equipoise, Flub, dan Warforged di antara yang lainnya. Band mereka yang paling sukses sejauh ini adalah INFERI dari NASHVILLE. materi kali tanpa kehadiran Gitaris Mike Low yang lebih konsep di proses Mixing dan masteringnya bareng Injiner Erik Johnson.
10.04 - Immolation - Descent
Kalau bicara death metal New York tanpa menyebut IMMOLATION, Suffocation, dan Incantation, itu bukan opini itu kelalaian. Tiga nama ini sudah lama jadi semacam “trinitas brutal” dengan resep yang jelas: teknis, gelap, dan vokal guttural yang terdengar seperti berasal dari perut bumi. Menariknya, mereka semua muncul hampir bersamaan di awal ‘90-an, mencapai puncak di era yang sama, dan yang lebih mengesankan tetap konsisten selama tiga dekade. Ya, konsisten. Kata yang di genre lain berarti “profesional”, tapi di death metal seringkali berarti “tidak banyak berubah, tapi untungnya masih relevan.” Album terbaru " Descent " (rilis via Nuclear Blast), adalah contoh sempurna dari dilema klasik band veteran: bagaimana tetap terdengar seperti diri sendiri tanpa terdengar seperti mengulang diri sendiri. Dan ya, mereka berhasil dengan cara yang hampir terlalu rapi. " Descent " ditulis dengan cerdas, dimainkan dengan presisi tinggi, dan tetap membawa nuansa gelap khas IMMOLATION. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sulit diabaikan: ini bukan lagi band yang sedang menjelajah wilayah baru. Ini band yang sudah tahu peta, tahu jalur aman, dan memilih untuk tidak tersesat. Keputusan yang masuk akal dan sedikit membosankan, kalau mau jujur. Album ini seperti veteran yang tampil sempurna di atas panggung, tapi tidak lagi membuat penonton bertanya, “Apa lagi yang bisa mereka lakukan?” karena jawabannya sudah cukup jelas: tidak banyak yang benar-benar baru. Dan memang, ini bukan masalah yang unik. Hampir semua band besar menghadapi hal yang sama. Masa di mana mereka dulu berani mengambil risiko dan mendefinisikan ulang suara mereka sudah lewat. Sekarang, mereka mempertahankan warisan dengan sangat baik, tapi tetap sebagai penjaga, bukan penjelajah. Hasilnya, “Descent” jatuh ke kategori yang agak canggung: hampir klasik. Terlalu bagus untuk diabaikan, terlalu aman untuk benar-benar monumental. Tapi jujur saja, untuk band yang sudah berjalan selama 30 tahun lebih, status “hampir klasik” itu bukan kegagalan itu pencapaian yang, secara sarkastik, masih jauh di atas kebanyakan band lain. Seperti dewa yang penuh dendam, IMMOLATION sekali lagi siap menghancurkan bumi dengan kemarahan yang dahsyat. Sebuah geraman dari bawah yang meskipun akrab tetap mematikan seperti biasa, karena mencerminkan salah satu sisi tergelap yang ditawarkan oleh genre ini. Lebih dari sekadar bab baru yang berhasil, " Descent " siap menjadi monolit death metal yang diukir untuk bertahan menghadapi ujian waktu dan perubahan, tidak berubah dalam esensi dan bentuk. Tak tergoyahkan. Karena, bagi semua teman-temanku, ada hal-hal yang memang ditakdirkan untuk tetap tidak berubah.
10.04 - Witch Ripper - Through The Hourglass
10.04 - Resurrected - Perpetual
Ada band yang mencoba jadi inovatif. Ada juga band yang tahu persis apa yang fans mau lalu memberikannya tanpa basa-basi. Perpetual jelas masuk kategori kedua, dan entah kenapa, itu justru yang membuat mereka menonjol di tengah lautan band yang sibuk “mencari identitas”. Nama mereka sudah cukup dikenal di skena lokal, terutama sejak rilisan sebelumnya yang berhasil memadukan death metal dengan grind tanpa terdengar seperti eksperimen gagal. Dan sekarang, lewat debut terbaru mereka, " Perpetual " (rilis via Testimony Records), mereka kembali dengan satu pesan sederhana: brutalitas tidak perlu dipersulit. Secara musikal, ini seperti membuka buku resep lama dan memang sengaja begitu. Pengaruh Sinister, Deicide, dan Cannibal Corpse terasa kental, lengkap dengan sentuhan Terrorizer, era awal Morbid Angel, hingga aroma Napalm Death di fase " Harmony Corruption ". Ya, daftar referensinya Panjang dan ya, mereka tidak berusaha menyembunyikannya. Hasilnya? Persis seperti yang bisa ditebak. Geraman vokal dalam dan kasar, riff gitar berat yang dituning rendah, dan drum yang tampaknya tidak pernah diajarkan arti kata “pelan”. Lagu-lagunya bergerak antara kecepatan liar dan bagian mid-tempo yang menghantam, seolah memberi jeda hanya supaya pendengar bisa menarik napas… sebelum dihantam lagi. Ini bukan sesuatu yang revolusioner. Tidak ada formula baru, tidak ada eksperimen aneh, tidak ada ambisi untuk “mengubah wajah genre”. Tapi justru di situlah kekuatannya. Di saat banyak band mencoba terdengar cerdas, Perpetual memilih terdengar kejam dan itu bekerja. Produksinya pun sengaja dibuat sederhana. Tidak ada lapisan berlebihan, tidak ada polesan digital yang terlalu bersih. Gitar terdengar garang, vokal tetap kasar, dan semuanya terasa mentah dengan cara yang… jujur. Seolah mereka bilang, “Kalau kamu mau sesuatu yang halus, kamu salah alamat.” Setelah penantian sejak 2017, debut “Perpetual” ini memang bukan jawaban yang mengejutkan. Tapi itu bukan tujuan mereka. Ini adalah ledakan death/grind yang solid, langsung, dan tanpa kompromi jenis rilisan yang tidak mencoba jadi lebih dari apa adanya, dan justru karena itu terasa tepat sasaran. Kadang, dalam genre sekeras ini, menjadi efektif jauh lebih penting daripada menjadi orisinal. Dan " Perpetual " tampaknya sangat paham itu.
10.04 - Warsenal - Endless Beginnings…
10.04 - Mire - Pale Reflection
10.04 - Bodysnatcher - Hell Is Here, Hell Is Home
10.04 - Uada - Interwoven
10.04 - Truckfighters - Masterflow
10.04 - Skaphos - The Descent
10.04 - Metal Church - Dead To Rights
Ada band yang hancur setelah kehilangan vokalis penting. Lalu ada METAL CHURCH yang tampaknya memilih opsi ketiga: tetap jalan, sambil membawa beban sejarah dan sedikit amarah tambahan. Setelah kepergian tragis figur-figur vokal yang pernah jadi wajah mereka, band veteran ini tidak mencoba jadi “lebih lembut” atau “lebih modern”. Tidak, mereka justru kembali ke sesuatu yang lebih tua, lebih keras, dan lebih jujur: akar USPM yang dulu sempat mereka sentuh… lalu sempat mereka tinggalkan, mungkin demi bertahan hidup di era ‘90-an yang tidak terlalu ramah pada metal tradisional. Fakta menarik atau sekadar trivia yang suka diulang adalah bahwa Metal Church pernah disinggahi Lars Ulrich di masa-masa awal. Ya, Metallica punya jejak kecil di sini. Tapi mari jujur: itu lebih sering jadi catatan kaki sejarah daripada sesuatu yang benar-benar relevan dengan apa yang mereka lakukan sekarang. Album terbaru mereka, " Dead to Rights " , terdengar seperti band yang akhirnya berhenti mencoba menyenangkan semua orang. Sound-nya lebih berat, lebih gelap, dan secara mengejutkan lebih fokus. Ini bukan METAL CHURCH yang “menyesuaikan diri”, ini METAL CHURCH yang menerima identitasnya sendiri, meskipun butuh puluhan tahun untuk sampai ke titik itu. Pengaruh era Mike Howe masih terasa, terutama dalam cara mereka membangun atmosfer yang lebih agresif tanpa kehilangan struktur klasik mereka. Bedanya sekarang, tidak ada usaha untuk “mengencerkan” suara demi aksesibilitas. Pelajaran dari tahun ‘90-an tampaknya sudah cukup mahal. Perlu waktu lebih dari tiga dekade, kehilangan personel kunci, dan mungkin sedikit krisis identitas, hanya untuk akhirnya menyadari: “Oh, ternyata jadi diri sendiri itu lebih masuk akal." Dead to Rights " bukan revolusi. Ini bukan album yang akan mengubah wajah heavy/power/thrash metal. Tapi ini adalah pernyataan keras dari band yang sudah terlalu lama berputar-putar: mereka tahu siapa mereka sekarang dan untuk sekali ini, mereka tidak mencoba jadi hal lain. Dan jujur saja, untuk band seusia mereka, itu sudah lebih dari cukup.
Lahir dari scene metal Pantai Barat yang meledak pada awal tahun '80-an, METAL CHURCH dengan cepat menetapkan diri mereka sebagai salah satu band paling tangguh dan musikal yang paling canggih dalam genre tersebut. Setelah menandatangani kontrak dengan Elektra Records, grup ini merilis dua album penting debut mereka yang berjudul Metal Church dan album susulannya The Dark yang keduanya tetap menjadi wajib dengar dalam kanon heavy metal. Saat gelombang metal AS meningkat, METAL CHURCH melakukan tur bersama rekan label mereka Metallica, semakin memperkuat reputasi mereka untuk presisi, kekuatan, dan intensitas yang tak tergoyahkan. Band ini terus berkembang hingga akhir tahun '80-an dan awal '90-an, menangani tema-tema politik dan sosial dengan vokalis Mike Howe pada album-album terkenal Blessing in Disguise dan The Human Factor. Sementara banyak rekan sejawat beralih ke tren komersial era tersebut, METAL CHURCH tetap setia pada akar berat mereka sebuah komitmen yang membuat mereka mendapatkan pengikut setia di seluruh dunia. Pada tahun 2016, band ini bersatu kembali dengan Howe untuk album studio kesebelas mereka, XI, yang debut di peringkat #57 di Billboard Top 200 dan meraih tangga lagu internasional, menandai salah satu comeback terkuat dalam metal modern. Penerusnya pada tahun 2018, Damned If You Do, melanjutkan momentum tersebut dengan kesuksesan tambahan di tangga lagu internasional dan menegaskan kembali relevansi abadi band ini. dan mungkin baru adalah penampilan bassis veteran terkenal, David Ellefson Ex. Megadeth.
10.04 - Doedsvangr - Within The Flesh
10.04 - Melechesh - Sentinels Of Shamash ' EP
MELECHESH yang berarti "Raja Api" dalam bahasa Ibrani. Ini diucapkan sebagai "Meh-lek-esh" oleh band tersebut, meskipun pengucapan bahasa Ibrani modern untuk "ch" akan mirip dengan yang ada dalam "loch" Skotlandia. Masalah antara MELECHESH dan orang-orang yang sangat religius di Yerusalem, serta alasan profesional dan pribadi lainnya, mendorong band ini untuk pindah, dengan anggota-anggotanya pergi ke Belanda, di mana mereka bisa melanjutkan pekerjaan tanpa gangguan dari otoritas agama. Band Internasional Black/Death/Middle Eastern Folk Metal. Dibentuk pada tahun 1993 di kota Yerusalem, MELECHESH berusaha menciptakan apa yang mereka sebut Mesopotamian Metal; sebuah band metal ekstrem bertema kosmik, okultis, Sumeria/Mesopotamia yang berakar pada black metal dan thrash dengan suara Mediterania dan Timur Tengah yang menyatu dengan mulus. MELECHESH sejak itu telah menjadi fenomena musik dan budaya internasional dan merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan. Memperkenalkan rilisan barunya berupa EP " Sentinels Of Shamash " Tahun 2026 via Reigning Phoenix Music. Perpaduan antara elemen metalik yang khas dengan bahan-bahan oriental masih bekerja dengan cara yang menarik, dan tingkat intensitas, seperti yang telah disebutkan di atas, sebagian besar tak tertandingi. Namun demikian, kita juga tahu bahwa para musisi berpengalaman memiliki lebih banyak yang bisa ditawarkan daripada sekadar kegilaan semata. Dengan cara yang aneh, MELECHESH sangat mirip dengan peradaban kuno Mesopotamia yang mendominasi lirik dan citra band tersebut. Meskipun banyak suku dan kerajaan yang datang untuk menguasai Mesopotamia, dari Sumeria hingga Asiria, dari Akkadia hingga Babilonia, masing-masing dengan perbedaan budaya yang unik, mereka semua terikat oleh sistem keagamaan, gaya arsitektur, dan (kecuali Sumeria) bahasa yang serupa. Selama periode dua setengah ribu tahun antara kebangkitan Sumer dan jatuhnya Babilonia, budaya Mesopotamia berubah cukup halus sehingga kalian harus menjadi seorang sejarawan periode tersebut untuk benar-benar melihat perbedaan antara kerajaan-kerajaan ini. Hal yang sama dapat dikatakan tentang karir musik MELECHESH yang kini telah berlangsung selama 22 tahun. Meskipun mereka mungkin memiliki beberapa variasi di sana-sini, beralih dari menjadi band black metal yang sederhana menjadi memiliki sound thrash yang lebih gelap pada rilis terbaru mereka, elemen inti dari sound mereka, seperti melodi dan ritme Timur Tengah, lirik yang terobsesi dengan esoterisme, dan citra Mesopotamia, lebih atau kurang tetap sama.
10.04 - Boisson Divine - Eretatge
10.04 - Battlegrave - Enslavement
10.04 - Vomitory - In Death Throes
Jawara Death Metal Swedia Death Metal punya informasi terbaru dengan debut album barunya " In Death Throes " via Metal Blade Records. Vomitory menyajikan berbagai hidangan OSDM yang luar biasa, terutama dari Swedia, tetapi dengan beberapa rasa Amerika untuk menambah variasi. Meskipun mereka adalah salah satu band death metal tertua dari Swedia, mereka tidak sepopuler band-band lain ketika negara ini mengukuhkan statusnya sebagai pusat musik ultra berat, tetapi lebih merupakan sebuah keingintahuan bawah tanah. Sejak saat itu, lanskap metal di Swedia telah berubah dan Vomitory sekarang mungkin adalah band terbaik di negara ini untuk mewakili gaya ini. Seperti anggur berkualitas, ikan fermentasi, atau mayat yang membusuk, tahun-tahun hanya tampaknya menambah bobot pada produk mereka yang penuh tubuh. Ketika berbicara tentang death metal "murni" (karena itu mengecualikan bentuk "prototipikal" atau "terhibridasi", seperti death/thrash atau black/death), Vomitory selalu menjadi band favorit kita sepanjang masa. Soundmereka adalah sintesis sempurna dari semua bahan yang tentang genre ini secara keseluruhan, mengambil yang terbaik dari setiap aliran dan akhirnya menciptakan resep death metal yang sempurna pada album seperti "Blood Rapture" dan "Revelation Nausea" berkat riffing mereka yang fasih, cerdas, dan kadang-kadang hampir "dramatis" serta kepekaan penulisan lagu yang tak tertandingi. masih kerja bareng Musisi, Enjiner, pemilik Rorysound Studios, Uppsala, Swedia, sebelumnya Obey Mastering, Lawrence Mackrory.
10.04 - Sicarius - Nex
10.04 - Goatpsalm - Beneath
10.04 - Abrogation - Widerschein
10.04 - Caustic - Inner Deflagration
10.04 - Astral Spectre - Cosmic Mirage
12.04 - Ildfar - Der Ligger Et Land
13.04 - Evil Warriors - Evil Warriors
13.04 - Exorcizphobia - Neurosis Unbound
14.04 - Preludio Ancestral - Guardians Of Twilight
15.04 - Adgar - Máscaras Y Demonios
17.04 - Skindred - You Got This
17.04 - Rise Of Kronos - Slaves Of Time
17.04 - Victorius - World War Dinosaur
17.04 - The Last Ten Seconds Of Life - The Dead Ones
17.04 - Anthea - Beyond The Dawn
17.04 - The Moon And The Nightspirit - Seed Of The Formless
17.04 - Thundermother - Live'N'Alive
17.04 - Crippled Black Phoenix - Sceaduhelm
17.04 - Muerto - Eclipsed Realms
17.04 - Vanderlust - The Human Farm
17.04 - Doodswens - Doodswens
17.04 - Godsnake - Inhale The Noise
17.04 - Nekrogoblikon - The Boiling Sea
17.04 - Thunderor - Bleed For It
17.04 - Reeking Aura - On The Promise Of The Moon
17.04 - Crimson Glory - Chasing The Hydra
Salah Satu veteran Progressive Heavy/Power Metal dari daratan Amrik yang eksis sejak tahun 1983, CRIMSON GLORY ini awalnya dibentuk dengan nama Pierced Arrow pada tahun 1979, sebelum mengganti namanya menjadi Beowulf pada tahun 1982 dan akhirnya Crimson Glory pada tahun 1983. Ben Jackson dan Dana Burnell adalah satu-satunya anggota Crimson Glory yang diakui yang muncul dalam susunan asli, yang juga termasuk Tony Lee Wise pada vokal, Bernardo Hernandez pada gitar, dan Glen Barnhardt pada bass. Jeff Lords mengambil tempat Barnhardt untuk sementara sebelum pergi digantikan oleh John Colemorgan dan kemudian bergabung kembali. Gitaris Chris Campbell sempat menggantikan Jon Drenning sebagai pengganti Hernandez, Dirk Van Tilborg sempat menjadi bassist dengan nama panggung sebelumnya, dan Wise digantikan oleh Mark Ormes sebelum band tersebut menemukan Midnight pada tahun 1983. Info terbarunya mereka mempersiapkan album baru setelah lama banget menunggu penantian Panjang pasca rilis " Astronomica " Tahun 1999, kini di 2026 via BraveWords Records siap melepas " Chasing the Hydra " dengan masih menampilkan 3 member aslinya, Bassis Jeff Lords, Drummer Dana Burnell dan Gitaris Ben Jackson. bagaimanapun, mereka telah melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada usaha sebelumnya meskipun isyarat-isyarat menuju tren 90-an yang sudah memudar itu bisa dilewatkan, atau setidaknya dikurangi. Mereka terlalu ekspresif seolah-olah para pria itu ingin menunjukkan kepada penonton bahwa mereka bisa menguasai dekade itu jika mereka terjun ke dalamnya secara penuh waktu. Syukurlah itu tidak pernah terjadi; sebagai gantinya kita memiliki acara ini yang merupakan pengingat bermartabat tentang eksploitasi masa lalu band tersebut, para musisi sangat menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa melampaui dua penampilan pertama mereka. Dan mereka tidak berusaha terlalu keras untuk menghasilkan apa yang mereka anggap relevan pada waktu dan lingkungan itu. Partisipasi mereka dalam gelombang kebangkitan old school ditunda tanpa batas waktu ketika Midnight dengan tragis meninggal dunia pada tahun 2009, tak lama setelah dia didekati untuk terlibat kembali dengan rekan-rekan lamanya; sebuah gangguan buruk dari takdir yang mengakhiri segala antusiasme dan motivasi yang telah terkumpul di kamp band tersebut. Tidak banyak yang diketahui tentang tindakan mereka saat ini, tetapi bintang-bintang pasti akan menunjukkan jalan di masa depan meskipun itu berarti meninggalkan legenda yang terkubur selamanya di bawah langit merah darah. kalian bisa mencicipi materi barunya dalam format video clip " Chasing The Hydra " yang lebih dulu diperkenalkan.
17.04 - Northern Graves - Derelict Heart
17.04 - Mylingar - Út
17.04 - Vargrav - Dimension: Daemonium
17.04 - Wage War - It Calls Me By Name
17.04 - The Fals - Where Cold Steel Gleams
17.04 - Sabiendas - Puppeteer Of Doom
17.04 - Pilori - Sans Adieu
17.04 - Lungburner - Dogma
17.04 - Warside - Cognitive Extinction
18.04 - Deafheaven - Under The Blue Valley
20.04 - Effluence - Anticholinergic Derangement
20.04 - Kõdu - Kirjad Sõgedate Külast
20.04 - Tons - Stoned Villains
22.04 - Concerto Moon - Between Live And Death
22.04 - Homophobic Fecalpheliac - A Grotesque Display Of Brutality
23.04 - Ural - Anthropic Genetic Involution
24.04 - Cnoc An Tursa - A Cry For The Slain
24.04 - The Order - Empires
24.04 - Mission In Black - Divinity Of Lies
24.04 - Armed For Apocalypse - The Earth Is Breathing Beneath Me
24.04 - The Amity Affliction - House Of Cards
24.04 - Golgotha - Hubris
Dari Sekian banyak sekali yang menggunakan nama GOLGOTHA, mungkin yang satu ini dari Palma, Balearic Islands, Spanyol di Scene Tanah air lebih dikenal Namanya sejak memperkenalkan materi album " Melancholy " Tahun 1995. mendapatkan cukup dari metal doom/death/gothic tahun 90-an, dengan karakteistik komposisi jarang berakhir dengan prediktabel dan dengan demikian, Melancholy terdengar cukup petualang, meskipun jarang epik dalam penyampaiannya. Debut album " Hubris " yang siap dirilis oleh Abstract Emotions, GOLGOTHA masih dikomandani frontman Gitaris Vicente J. Paya sejak terbentuk tahun 1992. dan untuk kali awal, band ini kerja bareng dengan produser Davide Billia, Drummer band Brutal Death Vomit the Soul dan Beheaded asal Italy. karena mereka memiliki Sound yang khas. Sangat direkomendasikan jika kalian menyukai Doom Metal dengan vokal brutal, ritme berat, dan pada saat yang sama beberapa melodi dan atmosfer. Perubahan yang baik jika sudah terlalu bosan dengan peniru Goth-Doom dan band-band yang sangat lambat dan membosankan.
24.04 - Dyecrest - Defying Gravity
24.04 - Blindead 23 - Deuterium
24.04 - Xorsist - Aberrations
24.04 - Toxikull - Turbulence
24.04 - Archaic Oath - Determined To Death And Beyond
24.04 - Whirlwind - 1640
24.04 - Lynx - Trinity Of Suns
24.04 - Blood Countess - Imperatrix Sanguinis
24.04 - Necrotted - We Are The Gods That Tear Ourselves Apart
24.04 - Wrang - Verwording
24.04 - At The Gates - The Ghost Of A Future Dead
Entah bagaimana kelanjutan salah satu MDM Legendaris asal Swedia ini dapat menggantikan sosok karismatik almarhum vocalis Tomas Lindberg. At The Gates memberikan komentar berikut tentang "The Ghost of a Future Dead": “Kami bangga akhirnya bisa membagikan beberapa berita tentang album studio kedelapan kami, ‘The Ghost of a Future Dead’.” Album ini akan dirilis pada 24 April 2026 - lebih dari dua tahun setelah selesai di studio. Seperti yang kalian semua tahu, Tomas Lindberg meninggal tahun lalu karena komplikasi dari pengobatan kanker yang dia jalani. Selama beberapa tahun terakhir, kami bekerja sama dengan Tomas, mendiskusikan dan menyempurnakan setiap detail untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan. Sesuai dengan keinginan Tomas; termasuk judul album, campuran suara, urutan lagu, karya seni, dan presentasi keseluruhan, 'The Ghost of a Future Dead' tetap setia pada bentuk aslinya. Ini menggabungkan energi ganas dan melodi kuat yang menghantam yang merupakan inti dari At The Gates. Album ini adalah warisan Tomas. "The Fever Mask' adalah salah satu lagu terakhir yang ditulis untuk album ini dan dengan cepat menonjol sebagai pilihan alami untuk lagu pembuka dan single pertama dari 'The Ghost of a Future Dead'." Ini dengan sempurna menangkap esensi At The Gates, memadukan energi mentah, melodi yang kuat, dan lirik indah oleh Tomas. Semua instrumen direkam di Fascination Street Studios di Örebro, Swedia pada Februari-Maret 2024. Semua vokal Tomas Lindberg direkam di Welfare Sounds di Gothenburg, Swedia. Vokal-vokal ini diklaim direkam dalam satu hari, sehari sebelum operasi kanker Lindberg, sebelum sisa album. dimixing dan dimaster di Fascination Street Studios di Örebro, Swedia pada musim semi tahun 2024. At the Gates adalah band yang selalu setia pada akar mereka. Meskipun mengalami hiatus yang panjang, band ini melakukan comeback yang tepat dengan At War with Reality, yang sudah dianggap sebagai klasik melodic death metal, dan setelah itu mereka terus menawarkan musik berkualitas tinggi. The Nightmare of Being tidak terkecuali. Sebaliknya, band ini banyak bereksperimen pada album ini sambil tetap tidak kehilangan identitasnya selama proses tersebut. Pengaruh progresif pada At the Gates selalu ada, kadang kurang, kadang lebih, tetapi rilis ini kemungkinan memiliki pengaruh progresif terkuat dari semuanya.
24.04 - Witch Piss - The Devil Doesn’t Burn
24.04 - Gus G. - Steel Burner
24.04 - Aversio Humanitatis - To Become The Endless Static
24.04 - Pure Wrath - Bleak Days Ahead
Indonesiaan Black Metal PURE WRATH akan merilis album keempat mereka "Bleak Days Ahead". Senatiasa Membangun dengan indah di atas melodi panoramik dan menyentuh dari "Hymn to the Woeful Hearts" yang terluka pada tahun 2022, otak di balik band ini, Frontman Ryo, bareng drummer Yurii Ciel (Sauroctonos, ex-Somnolent, Entfärbt durch Morgengrauen, Hunt, Kaotick, My Personal Murderer, Yotsuya Kaidan, Елена Войнаровская, ex-Schattenfall, ex-Stoned Jesus, ex-White Ward, ex-Suicide Nation, ex-Pulatova, ex-Septa ) telah mengurangi elemen sinematik serta peningkatan kualitas dinamika yang memungkinkan palet sound yang bervariasi termasuk organ, mellotron, nyanyian tenggorokan, piano, dan saksofon untuk mengekspresikan kesedihan dalam depresi atas fungsional dan rutinitas menyesakkan di kehidupan modern. Ryo mengomentari lagu dan video yang telah dirilis " Haven of Echoes " : " Saya mencoba menggambarkan rutinitas sehari-hari di dunia yang sangat terindustrialisasi, di mana manusia menjadi instrumen produksi, terpisah dari keberadaan mereka di bumi. Mesin, manusia, dan alam yang tercemar saling berjalin, membentuk kekacauan simbolis di mana kehidupan perlahan-lahan larut. Bahkan di saat-saat istirahat, dikelilingi oleh kenyamanan dan suara-suara yang akrab, tidak ada jeda sejati, hanya beban tenang dari sebuah sistem yang mengkonsumsi Anda dan mengubah Anda menjadi bagian dari hasilnya. Untuk memvisualisasikannya, Yurii dan saya merekam footage dengan cara yang tidak biasa. Jaka merekam wajahku sebagai pembawa pesan, dan semuanya kemudian dimanipulasi dan digabungkan dengan mulus dengan rekaman yang ditemukan oleh Dimas. Lagu ini juga memiliki komposisi yang tidak biasa untuk PURE WRATH. Saya menulis riff dengan cara yang berbeda, mengubah pendekatan saya terhadap beberapa akor tertentu, menciptakan suara dengan menggaruk senar gitar, dan ini mungkin adalah lagu terlama dalam katalog kami. Dibuat selama jam-jam magis yang sempurna, ketika saya mengabaikan keinginan tubuh saya untuk istirahat. Ini berfungsi sebagai pembuka yang sempurna untuk sisi B album, di mana kata pengantar disampaikan dengan ganas oleh Dany Tee di atas nada hantu yang menenangkan yang dimainkan oleh Yurii. Lagu tersebut kemudian berkembang menjadi karakter utamanya dan diakhiri dengan bagian berat, rendah, di bawah, seperti lumpur. ". Tentu saja, meskipun kita sering kali diserang oleh dinding blastbeat dengan garis melodi tremolo-picking, ini benar-benar musik yang lembut. Sisipan melankolis yang didasarkan pada gitar akustik, biola dan piano, serta nyanyian dengan sound yang jelas secara organik cocok dengan narasi metal, membuatnya semakin atmosferik.
24.04 - Terror (USA-LA) - Still Suffer
24.04 - Drudkh - Відлига (Thaw) ' EP
Menyebarkan Epidemi klasik black atmosferik lainnyam Ukraine Atmospheric Black Metal DRUDKH, terinspirasi oleh trauma perang, dengan suasana yang sangat suram dan gelap, lebih depresif, dicampur dengan banyak kemarahan. Dan kombinasi ini membuat album ini menjadi album yang cukup solid. Tahun 2026 siap meluncurkan debut gress-nya format EP " Відлига (Thaw) " via Season of Mist Underground Activists, anak label dari Season of Mist. Secara lirik juga, w beberapa kali menangkap bahwa lagu-lagu ini berfokus pada perjuangan orang-orang Ukraina untuk tanah mereka, yang membuat album ini lebih mendalam dan lebih realistis, yang bagi saya adalah keuntungan besar. w suka ketika para artis black metal berusaha untuk berbicara tentang masalah nyata dan perasaan nyata. Instrumen-instrumennya tercampur dengan baik, gitar-gitar memiliki nada yang sangat menyenangkan, keyboard menambahkan lapisan atmosfer tambahan ke album, dan drum menambah kekuatan lebih pada lagu-lagu. Mendengarkan album ini membuat saya mendengarkan lebih banyak karya lama DRUDKH karena pada suatu titik saya merindukan emosi apa pun yang ada dalam rilis lama DRUDKH membuat w terkesan dengan cara yang baik untuk menawarkan segala sesuatu yang DRUDKH kuasai dan kuasai sepanjang karier mereka. Sebuah keharusan untuk semua yang tertarik dengan black metal atmosferik. tahun 2026 memperkenalkan EP " Відлига (Thaw) ", well kita tunggu lagu baru ditulis dan dikomposisikan dengan sangat baik; dengan riff-nya sangat mudah diingat dan terkadang terinspirasi oleh black metal yang lebih mentah. Drum memiliki suara yang solid, menambahkan kekuatan dan kemarahan ekstra pada setiap lagu.
24.04 - Pig's Blood - Destroying The Spirit
24.04 - Volcandra - Beyond The Will Of Mortals
24.04 - Sepultura - The Cloud Of Unknowing
24.04 - Powerrage - Beast
24.04 - Demon Spell - Blessed Be The Dark
24.04 - Atreyu - The End Is Not The End
24.04 - Anubis (USA) - Anthromorphicide
24.04 - Undercroft - The Killer Sword
24.04 - Omnivortex - Throne Of Absolute Chaos
24.04 - Portrayal Of Guilt - …Beginning Of The End
24.04 - Infernal Angels - As The First Blood Fell...
24.04 - Devoid Of Thought - Devoid Of Thought
24.04 - Battleroar - Petrichor
24.04 - Six Feet Under - Next To Die
SIX FEET UNDER, Sebuah band proyek sampingan yang dibentuk oleh Chris Barnes (ex. vocalis Cannibal Corpse) dan Allen West (dari Obituary). SIX FEET UNDER awalnya dimaksudkan untuk tetap menjadi proyek sampingan, tetapi setelah Barnes dikeluarkan dari Cannibal Corpse, SIX FEET UNDER menjadi prioritasnya, yang kemudian mengubah band tersebut dari proyek sampingan menjadi grup yang telah berjalan lama seperti sekarang. Penampilan tamu melalui berbagai album SIX FEET UNDER termasuk Ice-T di lagu "One Bullet Left" dari True Carnage dan Karyn Crisis yang terkenal dari Crisis di lagu True Carnage "Sick and Twisted." Banyak yang menganggap ini sebagai duet death metal pertama antara pria dan wanita. Menginformasikan debut full album ter-gress nya via Metal Blade Records, " Next to Die " yang sudah memperkenalkan video " Unmistakable Smell of Death ", Meski pernah pihak label menginformasikan standar baru dalam hal penampilan yang mengerikan dan menyedihkan. Saking buruknya, Metal Blade bahkan menonaktifkan komentar di streaming album resmi mereka, karena siapa pun yang memiliki pendengaran yang baik mengkritik album tersebut secara keseluruhan; riff yang repetitif tanpa variasi sama sekali, permainan yang biasa saja, dan yang terburuk, penampilan Barnes sangat buruk dan konyol sehingga menjadi lucu tanpa disengaja. perlu diingat bahwa, pada titik ini, album sebelumnya " Torment ", sudah dihujat karena penampilan vokal yang mengerikan, jadi diyakini bahwa tidak mungkin lebih buruk dari itu, sampai ternyata lebih buruk. Dan drama yang menyusul setelah pernyataan Barnes tentang apa yang "telah menjadi genre ini" tidak banyak menenangkan penggemar dan komunitas yang kecewa. semoga " Next to Die " menjadi harapan besar band karyanya bisa mengulang sukses sebelumnya.
24.04 - Konquest - Dark Waters
24.04 - Elegant Weapons - Evolution
24.04 - Aurora Borealis - Disillusioned By The Illusion
Aggressive Blackened Death Metal with hooks and technical finesse that invokes the Ancient Gods! AURORA BOREALIS ! beberapa drummer hebat memang lahir dari band ini, seperti Tony Laureano, Derek Roddy, dan Tim Yeung, yang menunjukkan kualitas dan tingkat yang kita bicarakan di sini. Aurora Borealis memainkan Black/Death Metal, tetap kasar tidak berbeda jauh dengan Angelcorpse, tetapi lebih dinamis secara komparatif. Ini memiliki tema-tema unik dan sampul album mencerminkan hal tersebut. Seperti yang disarankan oleh nama band tersebut, mereka menunjukkan fenomena Aurora Borealis meskipun band ini telah berkembang untuk melibatkan citra sci-fi yang tidak jauh berbeda dari Nocturnus, terkait dengan karya seni. Secara musikal, band ini tetap setia pada suara Black/Death aslinya tetapi melakukannya dengan potensi dan kompetensi yang jauh lebih besar daripada yang lain. Band ini jelas memiliki rasa death metal AS yang solid, tidak terlalu bermain-main dengan gaya death metal yang dipenuhi melodi ala Eropa seperti yang mungkin terlihat. Seseorang akan terkejut menemukan bahwa musiknya sangat keras dan berbatu, namun dipenuhi dengan aktivitas yang paling bersemangat dan penuh dorongan. Ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis (yang dalam beberapa hal memang demikian) tetapi juga bervariasi dan mudah diingat. Band-band Death Metal Floridian memiliki banyak kesamaan dengan cara Aurora Borealis menyusun lagunya dan ada pengaruh Morbid Angel yang selalu ada, terinfeksi dengan beberapa kegilaan awal Malevolent Creation. Inilah yang membuat death metal begitu bagus, sedikit yang bisa membantahnya. Aurora Borealis mengambil vitriol dari Black Metal terutama di bagian vokal dan memberikan musiknya keunggulan yang sulit untuk dilewatkan. Di sini ada bumbu khusus, kualitas mendesis yang berasal dari suara serak, menambahkan sedikit nuansa Thrash juga. Hook membuat album ini istimewa, karena menulis lagu-lagu bagus bisa dengan aman diserahkan kepada anggota pendiri Ron Vento. Mungkin wajar untuk sedikit tersesat dalam musik, tetapi mereka datang sebagai pengingat konstan akan kualitas musik band ini, tidak pernah membiarkan perhatianmu melenceng terlalu jauh. “Disillusioned By The Illusion” siap menjadi sebuah usaha lanjutan yang berhasil, di mana band ini telah menggunakan hampir tiga dekade pengalaman mereka untuk memastikan bahwa mereka tetap sekuat dulu, mungkin bahkan lebih baik. Di masa-masa di mana kebrutalan yang membius adalah hal yang biasa, Aurora Borealis jelas menonjol, jauh di atas yang lain. sejak memperkenalkan single " Millisecond Pulsar " menjadi awal baru mereka kerja bareng label asal Netherland, Non Serviam Records yang dikomandani oleh Ricardo Gelok aka Schmerz, gitaris band black metal Winter of Sin dan Embraced by Darkness.
24.04 - A Dream Of Poe - Katabasis: A Marriage Among Ashes
24.04 - Plini - An Unnameable Desire
27.04 - Hrob - Brána Chladu
27.04 - Dysemblem - Buried By The Weight Of Light
30.04 - Grond - The Temple
30.04 - Malhkebre - B.A.M.N.
Sampe ketemu dirilisan upcoming di Bulan Mei 2026 !
























0 Komentar